Ki Surya pernah mengatakan bahwa kematian adalah takdir yang tidak bisa dicegah. Namun, benarkah demikian? Benarkah takdir benar-benar di luar kendali manusia yang tidak bisa diubah dan dicegah?
Setelah percakapan terakhir, Sarah dan Mia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Kota Indahpura pada hari jumat sore setelah kelas terakhir selesai.
Hari itu juga merupakan hari keenam bagi jimat yang diberikan oleh Ki Surya untuk melindungi mereka. Dan mereka harus berhasil menemukan asal usul cermin kematian itu sebelum jimat perlindungan tidak lagi bekerja.
"Besok kita langsung berangkat dari kampus, kan?" tanya Mia yang baru saja menutup buku catatannya.
Sarah menghela napas. Wajahnya terlihat ragu. "Maunya gitu, sih. Tapi kayaknya gue mau pulang dulu sebentar buat mandi."
"Ya ampun segala mandi. Gak usah lah. Mandinya sabtu pagi aja."
Sarah menggeleng. "Gak betah. Pokoknya gue mau mandi dulu di rumah."
Mia hanya bisa menghela napasnya sambil menggelengkan kepala heran.
"Menurut lo, kita bisa gak ketemu keluarga dari pemilik asli cermin ini sebelum jimat perlindungan gak berfungsi lagi?" tanya Sarah tiba-tiba, sambil memandang cermin kecil yang biasanya ia takuti itu.
Mia terdiam sejenak. Sejujurnya, ia sendiri pun ragu. "Kita harus coba dulu sih, Sar. Semoga aja dikasih jalan yang mudah sama Tuhan. Siapa tau pas sampai sana bisa langsung ketemu."
Sarah menghela napas berat, lalu bergumam, "Semoga."
"Ngomong-ngomong, soal target yang dipilih makhluk itu... lo tau gak? Mungkin om Mauro dapet bocoran dari Ki Surya gitu?"
Sarah menggeleng. "Sejak kejadian itu, Ki Surya gak pernah mau ikut campur lagi, katanya. Paling kalau sekedar minta jimat dan nasihat, beliau masih mau bantu." Sarah melirik Mia dari pantulan cermin, tatapannya sinis. "Lagian bukannya Ki Surya udah bilang ya kalau lo gak boleh tau soal itu?"
Mia cengengesan. "Hehe gue cuma penasaran aja. Soalnya sejak hari itu, kayaknya tenang banget deh. Atau jangan-jangan... dari awal makhluk itu belum milih siapa pun?"
Sarah menampar paha Mia pelan. "Jangan ngomong sembarangan deh. Ganti topik ah. Males ngomongin itu, nanti malah susah tidur karena kepikiran."
"Hahaha yang bahas duluan siapa coba?"
"Ya... gue sih haha."
Keduanya kemudian bercanda tawa, seolah tidak ada lagi beban yang membuat mereka kewalahan. Mereka tidak pernah tahu bahwa ucapan candaan yang baru saja mereka lontarkan, memancing makhluk itu untuk segera melakukan tindakan.
Keesokan harinya.
Matahari sudah condong ke barat, warnanya keemasan. Langit luas di sekelilingnya juga mulai berganti warna menjadi oranye keabuan.
Sesuai dengan rencana awal untuk mengunjungi Kota Indahpura, Sarah dan Mia hendak bergegas pergi meninggalkan kelas yang baru saja selesai.
"Lo jadi mau mandi dulu, Sar?" tanya Mia sambil mengenakan tasnya.
Sarah mengangguk. "Gak lama kok, setengah jam paling. Nanti naik kereta aja biar gak macet. Lo mau ikut ke rumah dulu atau langsung ke stasiun?"
"Ikut aja deh biar gak ribet nyari lagi."
Sarah mengangguk mengiyakan.
Namun, saat keduanya hendak beranjak dari tempat duduk, tiba-tiba saja salah satu teman sekelas mereka spontan berdiri hingga kursinya terjatuh.
BRAK!
Tentu saja hal itu membuat orang-orang di sekelilingnya terkejut dan bingung, termasuk Sarah dan Mia.
"Ki! Kenapa sih?!" tanya Mia yang kini menghampirinya.
Kiki menoleh cepat dan menurunkan telapak tangannya yang tadi menutupi mulutnya. "Tari... Mi, Tari..."
Mia mengernyitkan alisnya. "Kalau ngomong jangan setengah-setengah deh. Tari kenapa?"
"Tari... meninggal."
Ucapan Kiki barusan membuat seisi kelas kembali riuh. Beberapa ada yang menerka-nerka alasan kematian Tari, beberapa ada yang langsung datang mendekat mencari informasi, sementara sisanya terlihat tidak terlalu peduli.
"Hah?! Jangan bercanda deh, Ki. Kemarin lo bilang dia udah keluar dari rumah sakit dan dalam masa pemulihan."
"Gak ada yang mau bercanda soal hidup dan mati, Mia. Gue juga baru dikabarin sama kakak gue. Dan gilanya lagi, Nana terlibat buat yang kedua kalinya."
Sarah membeku. "Ini… gak mungkin, kan?" gumamnya, tak percaya.
Ia pun berjalan perlahan mendekati Kiki. "Bisa ceritain lebih detail gak, Ki?"
Kiki menghela napas panjang, lalu mulai bercerita. "Kalian tau kan kalau Tari udah pulang dari rumah sakit dua hari setelah dia pingsan di toilet itu?"
Sarah dan Mia, serta beberapa teman sekelasnya yang ikut mendengarkan, mengangguk secara bersamaan.
"Kakak gue kan perawat di rumah sakit tempat Tari di rawat inap. Jadi udah pasti info dari dia akurat." Kiki menarik napas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan. "Tiga puluh menit yang lalu, dia ngabarin kalau Tari masuk rumah sakit lagi. Tapi kali ini lebih parah."
Sarah mengernyitkan alisnya. "Lebih parah gimana?"
"Kepalanya berdarah banyak banget. Dia bilang kayak habis dipukul pakai palu." Kiki menutup mulutnya dengan tangan. "Duh gue gak tega lanjutinnya..."
Sarah merasa napasnya tercekat. Mendengar bagaimana Tari meninggal secara tragis, mengingatkannya pada Dilla dan Reza. Ia pun sempoyongan dan hampir terjatuh kalau saja Mia tidak menangkapnya.
"Jangan bilang yang mukul kepala Tari pakai palu itu... Nana?" tanya Mia melanjutkan.
Kiki terkejut mendengar pertanyaan Mia. Begitu pula dengan yang lainnya.
"Kok lo tau?"
Mia menyuruh Sarah untuk duduk. "Gue cuma nebak aja. Soalnya barusan lo bilang Nana terlibat lagi."
Kiki menghela napas berat, lalu mengambil kembali kursinya yang jatuh. "Kasian banget ya Tari. Gue gak pernah nyangka orang yang deket banget sama dia, malah berani bunuh dia dua kali."
"Dua kali?" Sarah kembali bersuara.
Kiki mengangguk. "Waktu di toilet itu, bisa dibilang itu percobaan pembunuhan."
Sarah mengernyitkan dahinya bingung. "Tunggu, kalau itu dibilang percobaan pembunuhan, harusnya Nana di kantor polisi, kan? Dia gak mungkin bisa nyentuh Tari."
"Gue juga awalnya ngira begitu. Tapi ternyata, Nana dibebasin waktu Tari keluar dari rumah sakit. Tari bilang kalau Nana gak sengaja, makanya dia gak mau Nana dipenjara dan akhirnya kasus itu dianggap selesai sama polisi." Kiki menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.
"Gue gak habis pikir sama Nana, kenapa dia bisa setega itu. Padahal Tari udah baik banget dan percaya sama dia kalau kejadian pertama karena dia gak sengaja. Tapi dia malah nusuk Tari dari belakang," tambahnya.
Sarah terdiam. Pikirannya kini bercabang.
Tari.
Tari yang dulu menyindirnya habis-habisan saat mendengar kabar kematian Ken dan Dilla.
Tari yang bilang bahwa Sarah adalah pembawa sial.
Tari yang… tidak pernah suka dengannya sejak awal masuk kuliah.
Dan kini Tari mati dalam pola yang sama... dengan Dilla.
Sementara Nana… dipenjara.
Seperti Reza dulu.
Sarah perlahan beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan meninggalkan kelas tanpa mengucapkan satu patah kata pun kepada teman-teman sekelasnya. Mia yang melihatnya langsung menyusul Sarah dan berpamitan dengan mereka.
"Sarah, tunggu." Mia setengah berlari sambil membenarkan tali tasnya yang hampir melorot.
Saat langkahnya sudah sejajar dengan Sarah, Mia memandangnya dengan wajah yang sama pucatnya. "Sar… apa lo juga mikir apa yang gue pikir?"
Sarah tidak menjawab.
Tidak perlu.
Karena jawabannya sudah jelas.
Takdir mereka, takdir yang Ki Surya bilang telah berpindah, tidak menghilang begitu saja.
Ia bergerak.
Memilih.
Dan kini…
"Mungkin takdir itu berpindah ke Tari," gumam Sarah akhirnya. "Dan Nana… ikut terseret."
Mia menutup mulutnya. "Sar… kalau bener… berarti kita penyebabnya."
Sarah menggeleng cepat. "Bukan kita. Makhluk itu. Takdir itu. Kita cuma… kita cuma—"
"—korban," Mia menyelesaikan kalimatnya dengan suara patah.
Mereka terdiam lama.
Sampai akhirnya Sarah kembali berucap, "Kita harus segera ke Kota Indahpura, sebelum ada korban selanjutnya."
Mia mengangguk setuju.
Keduanya kemudian berjalan dengan langkah yang dua kali lebih cepat menuju stasiun. Sarah bahkan lupa dengan tujuan awalnya kembali ke rumah terlebih dahulu untuk membasuh diri.
Baginya, yang terpenting saat ini adalah mengetahui bagaimana cara menghancurkan cermin kematian itu.