Mata Queen langsung berbinar ketika pintu ruangan tempat ia dikurung selama ini terbuka. Ia sudah menunggu, menghitung jam, bahkan sempat mau ngamuk kalau pintu itu tak juga dibuka. Tapi begitu pintunya benar-benar terbuka, yang ia lihat hanya tembok putih.
Queen mengerjap. “Hah? Kok kaya, ruangan rumah sakit mahal?”
Baru setelah itu Deko muncul, lalu disusul Gar dari belakangnya. Ternyata ia memang berada di lorong putih panjang yang sunyi, bersih, dan terlampau mewah untuk disebut “tempat dikurung”.
Dengan bingung, Queen mengikuti kedua laki-laki itu menyusuri lorong masuk ke sebuah lift. Deko menekan tombol.
Lantai 107 → Lantai 1.
Queen langsung menoleh cepat, wajahnya shock sejadi-jadinya.
“Jadi, SELAMA INI kau mengurungku di lantai seratus tujuh?!” serunya dengan nada antara marah dan tidak percaya.
Gar melirik kecil, santai. “Ya. Ini gedungku. Perusahaanku. Sekaligus rumahku.”
“Rumah???? Perusahaan???? Seratus tujuh LANTAI?!” Queen sudah mau megangi kepalanya sendiri.
Lift mulai bergerak turun. Queen menatap Gar tajam, curiga. “Tapi…, bukankah gedung perusahaan punya jaringan internet? Kenapa HP-ku ‘No Service’ terus?”
Gar tersenyum tipis, hampir seperti menikmati reaksi Queen. “Karena aku yang mengatur koneksinya. Hanya ponselku yang bisa.”
Queen melongo. “Astaga, LICIK sekali!”
Gar hanya mengangkat bahu. “Aku menyebutnya, proteksi.”
Queen semakin gemas ingin melempar tas ke wajahnya, tapi belum sempat ia lanjut protes, HP-nya berbunyi.
TING!
Satu notifikasi masuk.
Queen langsung memandang layar dengan cepat, seakan menerima kabar dari dunia luar setelah disekap alien.
Begitu ia melihat nama pengirimnya, mata Queen terbelalak.
Itu pesan dari abangnya.
Notifikasi di HP Queen baru saja muncul ketika jarinya hendak menyentuh layar, tapi Gar tiba-tiba meraih ponselnya.
Cepat. Tanpa izin. Tanpa lihat wajah Queen dulu. Langsung ambil.
Queen membelalak. “Heh! APA-APAAN SIH?!” serunya spontan. “Itu HP aku! Kenapa kau ambil?!”
Gar tampak hendak menjawab, tapi bibirnya menahan kata-kata, seperti ragu harus jujur atau tidak.
Dan itu makin membuat Queen panas.
“Astaga, Tuan Gar!” Queen mencoba merebut HP-nya. “Ini pesan dari Abangku! Aku harus kasih kabar kalau aku nggak apa-apa! Dia cuma punya aku, ngerti?!”
Suasananya panas, emosional, tapi Queen buru-buru meredam nada suaranya. Ia tahu ia juga butuh kontrol.
“Lagipula,” Queen mendengus, melipat tangan. “Aku juga nggak bakal kabur.”
Gar menatapnya, jelas tidak percaya.
Queen makin emosi. “Serius! Aku nggak bakal kabur sampai aku dapat motorku kembali. Dan uang. Banyak. Yang itu juga, iya, aku mau.”
Mendengar itu, Gar hampir terlihat, kehabisan kata.
“Jadi percuma aku kabur,” lanjut Queen sambil mendecak. “Uangmu aja belum aku ambil masa aku mau lari? Gengsi dong.”
Deko yang berdiri di sisi lift hanya menghela napas kecil, tidak berkomentar. Ia memilih diam, menunggu lift mencapai lantai dasar, seolah sudah terbiasa menghadapi drama majikan dan “calon majikan wanita”-nya.
Tapi satu hal jelas:
Queen ingin menenangkan abangnya. Dan Gar jelas tidak suka itu.
Gar menatap layar HP Queen yang masih ia genggam. Ia mengembuskan napas pelan, seakan berperang dengan dirinya sendiri.
“Aku akan mengembalikan,” ucapnya akhirnya. “Tapi, aku ingin lihat dulu apa isi pesan abangmu.”
Queen langsung melotot. “APA?!” Ia sampai setengah maju, merebut udara di sekitar Gar.
“Ini PRIVASI, Tuan Gar!” Ia menepuk dadanya sendiri dramatis. “Pri-va-si! Masa kau mau lihat isi chat aku dengan Abangku?!”
Gar tidak gentar. Rahangnya mengeras. “Aku hanya memastikan dia tidak curiga. Kalau dia tahu kau di sini, itu masalah besar untukmu.”
Queen menghela napas panjang, gemas tapi tidak sepenuhnya marah lebih ke frustrasi menghadapi pria super-kontrolling dengan wajah tampan.
“Aku juga nggak akan bilang apa-apa, bodoh,” gerutunya. “Aku cuma mau bilang aku baik-baik saja. Dan ya, alasan manis sedikit.”
Gar menaikkan satu alis. “Alasan seperti apa?”
Queen menarik HP-nya pelan, tetapi Gar masih belum melepasnya. Ia mendengus.
“Alasan bahwa aku dapat LEBIH BANYAK uang selama bersama kau,” mata Queen menyipit nakal, “…daripada saat aku kerja di rumah bordil.”
Lift langsung terasa sunyi.
Deko tercekik napasnya sendiri, hampir batuk. “Tuan,” gumam Deko sambil menatap ke dinding lift, sangat jelas mencoba tidak ikut campur.
Gar membeku. Pipi pria itu entah kenapa memanas sedikit entah marah, tersinggung, atau malu.
Queen menambahkan dengan senyum menang, “Jadi, Tuan Gar, boleh tolong kembalikan HP-ku? Aku harus buat Abangku tenang, bukan bikin dia turun dari langit ketujuh dan menghancurkan gedung 107 lantai ini.”
Gar masih diam, menggenggam HP itu. Menimbang. Mencoba memilih antara sikap posesifnya atau kepercayaan kecil yang baru tumbuh.
Notifikasi kembali berbunyi. Queen melirik sekilas, dan kali ini wajahnya langsung berubah.
Abangnya mengirim banyak pesan:
“Dek, abang dapat pesan dari Mami. Katanya kamu udah keluar. Kamu udah pulang dari mana? Kamu habisin tabungan buat keluar? Itu benar, dek? Kenapa nggak bilang sama abang dulu? Kalau kamu mau keluar dari rumah itu, kamu bilang aja. Abang pasti bantu. Abang pulang dua hari lagi. Sabar dulu ya di sana. Dan, jangan keluar gaya-gayaan nanti kamu dicopet orang.”
Queen membaca cepat. Jantungnya mencelos. Tangannya sempat bergetar.
Ia ingin langsung mengetik balasan, tapi langkahnya terhenti ketika ia mendongak dan melihat Gar.
Gar sedang memperhatikannya. Wajahnya datar. Tapi matanya, tajam. Sangat tajam. Ia jelas ingin tahu apa yang sedang terjadi.
Queen menelan ludah.
Untuk beberapa detik, ia hanya memandang Gar tanpa berkata apa-apa, tidak tahu apakah ia harus jujur, berbohong, memberi alasan, atau menutupi semuanya.
Dan sebelum ia sempat memutuskan, Ting!
Pintu lift terbuka ke lantai dasar.
Queen langsung memutuskan satu hal: Nggak sekarang. Nanti saja.
Ia menutup aplikasi pesan, mengabaikan semua notifikasi yang menumpuk.
Yang penting sekarang…
Motor.
Dan uang.
Dengan semangat yang kembali membuncah, Queen melangkah keluar dari lift seperti tidak ada apa-apa.
“Yeay! Motor baru!” serunya kecil, hampir seperti anak kecil yang tidak sabar menuju taman bermain.
Deko hanya bisa menatap pasrah. Gar menatap punggung Queen dengan napas berat antara curiga dan khawatir.
Queen menepuk kedua tangannya sekali, penuh antusias.
“Ayo cepet! Aku mau cari yang paling MAHAL!”
Ia berjalan cepat menuju area parkiran, gaunnya berkibar lembut.
Gar mengikuti dari belakang, wajahnya gelap, tetapi langkahnya tetap menjaga jarak dekat seakan memastikan Queen tidak lari, tidak diculik, dan tidak hilang dari pandangannya.
Karena meski Queen menutup pesan itu.
Gar tahu ada sesuatu di mata gadis itu tadi.
Sesuatu yang ia belum mengerti.
Dan itu membuat Gar tidak bisa tenang.
"Di mana mobilmu?" tanya Queen.
"Yang itu," tunjuk Gar.
Queen langsung melihat arah yg ditunjuk dan setelah ia melihat mobil itu ia langsung terperangah kaget.
"Wow."
Bersambung