His Contract Bride - Celah Kecil Dalam Sebuah Misi - Bab 29

Penulis Rei_Moira
10 September 2025

Bangsat!

Hanya itu satu kata yang bisa diucapkan Ezra setelah sambungan teleponnya dengan Bastien Vireaux berakhir. Ponsel yang ada di genggaman nyaris dibanting, namun ia mampu meredamnya meski harus menahan gemuruh dalam dada. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Elias.

Apakah adiknya baik-baik saja di tangan psikopat berdarah dingin itu?

Keputusan untuk masuk ke dalam rencana Bastien bukanlah hal yang ia rencanakan. Semuanya berawal dari utang yang tidak bisa dibayarkan. Perusahaan tempatnya bekerja dengan sepihak memecatnya hanya karena terlambat dua kali. Memang salah Ezra, tapi tetap tidak adil karena ia hanya terlambat tidak lebih dari lima belas menit.

Jika dipikir lagi, Ezra yakin semua itu ada sangkut pautnya dengan Bastien. Pria tua itu, seseorang yang telah meminjamkan sejumlah uang setelah orang tuanya meninggal karena kecelakaan untuk pengobatan adiknya yang terkena leukimia. Ia tak pernah menyangka Bastien akan mematok harga mahal selain bunga yang harus dibayarkan.

Dan nyawa Elias adalah taruhannya.

Sialan!

Tepat ketika ia keluar dari kamarnya, pintu kamar utama juga terbuka. Ezra tak menoleh, hanya lirikannya yang bergerak tajam. Dari sudut mata, ia bisa melihat Aurora keluar dengan merapikan rambut. Di belakangnya, Kael menyusul dengan sikap yang selalu sama—waspada dan posesif.

“Sepertinya kalian baru saja bersenang-senang.” Sebelah sudut bibir Ezra berkedut samar.

“Diam, Bocah!” desis Kael.

Ezra memperhatikan dalam diam setiap gerakan pada interaksi kael dan Aurora. Semuanya terlihat tulus dan tidak main-main. Dari cara Kael menatap Aurora, belaian halus di rambutnya, dan sentuhan lembut tangan Aurora pada punggung suaminya itu, jelas menunjukkan ikatan yang kuat. Rasanya tak mungkin ia mampu menjalankan misi dari Bastien dengan mudah.

Merebut hati Aurora dan membuatnya berpaling dari pria dingin dan kaku itu? Kepala Ezra segera berdenyut kencang.

“Kau mau pergi?” Ezra memperhatikan Kael yang tengah mengenakan jas armani nya.

“Sekarang kau penasaran dengan jadwalku?” Kael masih terus bersikap dingin.

Ezra mengedikkan alisnya cepat. Baginya, mendekati Kael dan berusaha untuk melunakkan sikapnya adalah hal yang lebih berat dari membuat Aurora percaya bahwa dirinya benar-benar putra dari Isabelle Lambert dan Lucien Vireaux.

“Tidak sama sekali. Aku hanya sedang basa-basi.” Ezra tidak berbohong.

“Simpan basa-basimu, aku tidak membutuhkannya.” Kael menunduk, menarik ujung jasnya.

Aurora hanya bisa menghela napas mendengarkan percakapan dingin antara Kael dan Ezra. Ia telah sepakat untuk bisa mengerti sikap Kael—sebagai ganti Kael tidak mempertanyakan lagi kenapa dirinya terlalu percaya pada cerita Ezra. Dan dalam situasi kali ini, ia memilih untuk diam.

“Kau akan pulang cepat, kan?” Aurora menyusupkan tangannya pada pinggang Kael, satu-satunya cara untuk mengalihkan perhatian sang suami.

“Tidak akan lama,” ujarnya. “Sebelum makan malam aku pastikan sudah kembali. Atau… kau mau ikut denganku?”

Aurora tahu itu bukan sekadar basa-basi. Kael berharap ia ikut dengannya, menjauh dari Ezra dan selalu di sisinya. Namun ia juga paham dan sadar diri bahwa ada urusan Kael yang tidak bisa dikacaukan oleh kehadirannya—urusan pekerjaan pada dasarnya. Ia memahami batasan itu dengan jelas.

“Tidak,” kata Aurora sambil menggeleng pelan. “Aku harus membongkar barang-barang kita dan menatanya. Kurasa aku memerlukan banyak waktu untuk itu.”

Kael mengendus punggung tangan Aurora pelan. “Kau tidak harus melakukan itu semua, Sayang. Nancy akan melakukannya untukmu.”

Nancy, pengurus rumah yang telah ikut Kael bertahun-tahun. Aurora beberapa kali berbincang dengannya ketika masih tinggal di penthouse. Wanita paruh baya yang ramah dan selalu menyuruhnya untuk makan lebih banyak.

“Dia baru datang besok. Aku tidak bisa melihat barang-barang kita berantakan di dalam koper.” Aurora melempar pandangannya pada pintu kamar utama yang tertutup.

“Very well, My Dear.” Kael kini mengecup bibir Aurora—sedikit lama, membuat Ezra mendengus pelan. “Aku akan segera kembali. Kau tahu harus melakukan apa jika terjadi sesuatu, kan?”

Senyum tipis Aurora mengembang, disertai anggukan tipis dan sorot mata cemerlang yang selalu disukai oleh Kael. “I know, Husband. Relax, lagipula ada Ezra di sini. I’ll be fine.”

Mata Kael otomatis menyipit, melirik Ezra dari sudut mata. “Bocah itu…”

“Kita sudah sepakat, right?” Aurora mengingatkan. “Dia adik kita, tidak akan terjadi apa-apa.”

Sorot mata Kael terlihat berat untuk setuju dengan pendapat Aurora. Rahangnya mengetat sesaat, bersamaan dengan kilatan gelap saat melempar pandang pada Ezra. Instingnya masih belum bisa memercayai pria itu. Sekeras apa pun ia mencoba untuk bersikap seperti Aurora—menerima Ezra, tapi selalu ada bagian dalam dirinya yang menolak melakukannya.

Baginya, Ezra masih tetap menjadi ancaman. Dan karena itulah, ia masih meminta dua bodyguard untuk menjaga Aurora dari jauh, tanpa ada yang tahu.

Jelas Aurora akan marah jika mengetahuinya. Namun Kael juga tak ingin mengambil risiko untuk terlena dalam kepercayaan yang telah ditetapkan oleh istrinya itu pada Ezra.

“Dan kau juga telah sepakat untuk tidak memaksaku menerimanya.” Kael pun ikut mengingatkan.

“Ya, kau benar.” Aurora tersenyum, lalu kembali memeluk Kael dan terakhir mengecup bibir suaminya itu singkat. “Hati-hati.”

“Sure, Mrs. Vireaux.”

Kael melangkah pergi. Pintu kembali tertutup, dan helaan napas Ezra terdengar kasar.

“Sepertinya aku harus mengenakan kacamata kuda jika harus tinggal bersama kalian.” Ucapan itu terlontar sinis, tidak dibuat-buat.

Aurora tertawa mendengarnya. Langkahnya mengarah pada dapur. Tangannya mulai sibuk mengambil cangkir keramik berwarna putih polos yang segera diletakkan di atas meja bar. “Kau akan mengerti ketika nanti jatuh cinta pada seseorang.”

“Mengerti jika sentuhan dan ciuman adalah bagian dari cinta?” Ezra kini duduk di hadapan Aurora. “Kupikir itu adalah salah satu bentuk dari nafsu.”

“Sialnya, cinta dan nafsu akan selalu datang dalam roda yang sama.” Aurora mengatakannya dengan senyum lebar.

Ezra tertegun sejenak. Pandangannya seakan menolak untuk teralih pada hal lain. “Kau benar-benar wanita yang sedang jatuh cinta, Rora.”

“Yes, I am.” Aurora mengambil kotak teh dari laci dapur. “Kau mau teh?”

Ezra menggeleng. “No, thanks. Aku baru saja menghabiskan secangkir kopi.”

Aurora hanya mengangguk. Satu kantong teh earl grey diseduh dengan air panas, menguarkan aroma teh hitam dan bergamot yang akhir-akhir menjadi favoritnya.

“Apa yang kau sukai dari Kael?” Ezra memulai percakapan lagi. “No offense, aku hanya penasaran kenapa kau menyukai pria semenyeramkan Kael.”

Tak segera menjawab, Aurora terkekeh pelan. Pertanyaan Ezra membawanya kembali pada memori dirinya dan Kael di awal hubungan. Ezra tidak salah, Kael memang menyeramkan. Ciumannya di ruang rahasia waktu itu pun masih membekas—lumatan liar yang dibalut dengan ledakan emosi.

“Di balik sikap dinginnya, aku menemukan ruang yang hangat dan nyaman.” Aurora tersenyum, lalu menyesap pelan tehnya.

“Nyaman? Di diri Kael?” Ezra tertawa, nadanya jelas mengejek. “Aku tidak pernah membayangkan ada kata nyaman dalam kamus hidupnya.”

Aurora meletakkan cangkirnya. Kedua sikunya kini bersandar pada meja bar. “Justru itu. Aku mencintainya karena ada satu ruang yang dia sediakan khusus untukku, tanpa ada izin untuk orang lain menjangkaunya.”

Ezra tertegun. Ikatan itu ternyata lebih kuat dari yang ia bayangkan.

“Bagaimana jika ternyata ada orang lain yang berhasil menjangkaunya?” tanyanya, tubuhnya sedikit condong ke depan.

Aurora menunduk, memandang teh earl grey nya. “Jika ada yang berhasil menjangkaunya, berarti itu adalah saatnya aku untuk pergi.”

Ezra menegakkan tubuhnya. Raut wajahnya lebih hidup dari sebelumnya. “Bukankah kau mencintainya? Tapi kenapa kau mengartikannya dengan pergi?”

Aurora mengangkat cangkirnya lagi, menyesapnya perlahan. Hangat teh dengan aroma bergamot itu mengalir hangat di balik dadanya yang tiba-tiba bergemuruh. Membayangkan Kael dengan wanita lain, rasanya tidak menyenangkan.

“Aku memang mencintainya, tapi aku tidak suka berbagi.” Aurora menggoyang cangkirnya pelan. “Tapi aku yakin Kael tidak akan pernah membiarkan wanita lain menjangkau tempat yang hanya dia berikan padaku.”

Ezra tak meneruskan percakapan itu lagi. Namun hatinya sedikit bersorak. Jika Aurora memiliki prinsip seperti itu, tampaknya akan sedikit mudah untuk menjalankan misi dari Bastien.