“Gimana? Keren kan mobilku?” tanya Gar dengan nada yang jelas-jelas penuh kesombongan santai. “Sekarang udah tahu, kan, kalau aku orang kaya?”
Queen langsung melotot. Mulutnya sedikit menganga melihat mobil itu. Dia tak tahu berapa harganya, tapi cukup sekali lihat untuk tahu kalau itu mahal banget.
Tanpa pikir panjang, Queen menyodorkan HP-nya ke Gar. Bukan supaya Gar membaca pesan Abangnya tapi agar memotret dirinya.
Melihat tingkah Queen, Gar tak bisa menahan tawa kecil. Queen sudah berdiri di depan mobilnya, menyilangkan kaki dan bersandar manja di kap mobil. Gayanya seolah sedang menjadi model majalah.
“Ayo! Jangan cuma ketawa. Cepat fotokan aku!” ucap Queen tidak sabaran. “Kapan lagi aku foto di depan mobil orang kaya?”
Gar menerima HP-nya sambil menggeleng pelan, hendak memotret, tapi tiba-tiba dia mengangkat HP itu dan mengernyit.
“Ah… nggak bagus,” gumam Gar.
Queen langsung mendelik. “Apa?! Bagaimana mungkin nggak bagus? Aku sudah cantik, mobilnya juga udah keren. Apa yang salah?”
Gar menunjuk HP Queen. “Yang salah, ini. Kameranya nggak bagus.”
Queen hampir tersedak udara. “Hah?! HP-ku ini baru tahun kemarin! Keluaran terbaru!”
“Ya, tapi kamera HP-ku lebih bagus,” jawab Gar santai. “Biar pakai punyaku aja. Aku fotoin kamu pakai HP-ku, nanti aku kirim fotonya. Biar hasilnya cantik.”
Nada Gar memang agak garang, tapi manis. Bahkan terlalu manis. Queen langsung luluh dan mengangguk cepat, matanya berbinar-binar seperti anak kecil.
“Oke! Pakai HP-mu. Tapi jangan lupa kirim fotoku yang paling cantik ke HP-ku, ya!”
Gar hanya mengangkat satu alis dan tersenyum licik sambil bersiap memotret.
Sementara itu, Deko yang dari tadi melihat tingkah dua orang itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Mana coba? Aku lihat hasilnya. Bagus nggak?” Queen berjalan mendekat, mencondongkan tubuh ke HP milik Gar.
Begitu melihat foto-fotonya, Queen langsung terpana. “Woooow, gini ya rasanya dipotret sama HP mahal? Bagus banget! Aku bisa-bisa jadi artis kalau fotoku kayak gini. Kalau pakai HP-mu terus.”
Gar mendengar itu langsung mengangkat dagu, jelas sekali bangga. “Kalau mau, sekalian aja kubeliin HP kayak punyaku.”
Queen spontan terlonjak. “Hah?! Gila apa kamu? Aku aja mau dibeliin motor. Mau ganti motor baru. Eh, sekarang HP juga?” “Ya sudahlah,” jawab Gar ringan. “Dua-duanya sekalian.”
Queen bengong. “Ini seriusan? Berapa sih harga HP-mu?” “Nantilah. Pokoknya kalau kamu mau, kita beli.”
Gar kemudian menyipitkan mata ke arah mobilnya sendiri. “Oh iya. Aku juga belum pernah foto bareng di depan mobil mewahku sendiri. Ayo kita foto berdua,” katanya agak canggung.
“Hah? Foto berdua?” Queen menaikkan alis. “Iyalah! Kapan lagi kau foto sama mobil mewah dan sama yang punya.” Gar sengaja menekankan itu. “Mobilnya aja mewah, apalagi yang punya.”
Queen ingin tertawa mendengar gaya sok bangganya, sementara Gar menyerahkan HP-nya ke Deko yang langsung bersiap memotret.
Begitu Gar dan Queen berdiri berdampingan, jantung Gar langsung berdetak tidak karuan. Queen hanya bergaya santai, sementara Gar berdiri kaku seperti penjaga istana.
Queen melirik dan menegur, “Kaku kali kau Tuan Gat, kayak duda baru pertama kali ketemu gadis Ting-Ting.”
Deko sampai terkekeh kecil.
Queen pun iseng memegang lengan Gar sedikit. Gerakan kecil itu membuat Gar makin gugup, tapi akhirnya ia bisa tersenyum tipis ke arah kamera.
Klik!
Deko berhasil memotret mereka berdua dan Gar tampak jelas sangat senang.
Di dalam mobil, Queen memandang sekeliling dengan mata berbinar. Interior mobil itu terlalu mewah untuk ukuran hidupnya. “Kalau saja uang tabunganku cukup buat beli mobil,” gumamnya pelan. “Aku nggak bakal kepanasan lagi di jalan. Enak banget tinggal duduk, AC nyala, nggak kehujanan, nggak kepanasan.”
Tapi Queen menggeleng cepat, kembali ke realita. “Ya mana mungkin aku beli mobil duluan,” sambungnya dalam hati. “Hidupku aja belum terjamin. Rumah nggak punya, kendaraan cuma motor, ngekos sama Abang. Uang ada sih, lumayan, tapi ya buat masa depan. Mobil nanti aja.”
Gar yang duduk di sebelahnya diam-diam mencuri pandang. Ocehan Queen membuatnya tersenyum kecil. Semua orang boleh bilang Queen mata duitan. Semua wanita mungkin suka uang. Tapi berbeda dengan Amara istrinya, Queen tidak mengejar kemewahan untuk gaya-gayaan. Ia memikirkan jaminan hidupnya, masa depannya, dan dirinya sendiri. Bahkan pekerjaan berisikonya pun ia jalani demi bertahan hidup, bukan untuk bermewah-mewah.
Dan satu hal lain yang membuat Gar semakin memerhatikan Queen: obat itu.
Sejujurnya, Gar sangat penasaran. Asal-usul obat itu, kenapa Queen bisa memilikinya, dan yang paling membuatnya ingin tahu siapa sebenarnya Abang Queen yang selama ini menjadi satu-satunya keluarga yang ia percayai.
Gar menatap jalan di depan sambil berpikir. Queen ini wanita yang penuh misteri tapi juga penuh kehidupan dan tanpa sadar, ia mulai menarik Gar lebih jauh dari batas profesional yang seharusnya.
Ada sesuatu tentang Queen yang membuatnya penasaran sejak awal terutama bagaimana ia selalu menyebut Abangnya sebagai satu-satunya keluarga.
Akhirnya, Gar memberanikan diri. “Queen,” suaranya pelan, tidak menekan. “Orang tua kamu di mana?”
Queen yang tadinya asyik melirik-lirik interior mobil langsung terpaku. Mulutnya terkatup, matanya memandang lurus ke depan, seperti tiba-tiba ada tembok tebal di antara mereka.
Hening beberapa detik.
Kemudian Queen tertawa, tawa yang jelas dibuat-buat. “Ehh… sudahlah. Kita… kita ke dealer aja sekarang!” katanya cepat. “Aku mau lihat motor yang bakal aku beli!” Ia menunjuk ke depan dengan semangat palsu. “Maksudnya yang kau belikan aku. Hehehe.”
Tawa itu terdengar ringan, tapi Gar bisa merasakan bahwa Queen menutup sesuatu rapat-rapat. Senyumnya tidak sampai ke mata.
Gar diam sebentar, lalu menatap Queen. “Aku nggak maksain kamu cerita,” ujarnya lembut. “Kalau suatu hari kamu mau, aku dengar.”
Queen tidak menatapnya. Tapi suara kecil keluar dari mulutnya, hampir seperti bisikan yang tercekat.
“Mungkin, suatu saat nanti,” katanya lirih. Kemudian ia menarik napas dan kembali ceria pura-pura. “Ayo buruan, kita lihat motor! Aku udah nggak sabar!”
Gar tersenyum tipis. Ia tidak menekan. Ia tahu luka yang ditutup-tutupi akan terbuka dengan sendirinya ketika waktunya tiba.
Tapi, siapa sangka. Dari mobil itu keluar dari parkiran. Ada yang mengikuti mereka, tapi mereka tidak menyadarinya.