Baik Sarah maupun Mia, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara sepanjang perjalanan menuju stasiun. Bukan karena tidak ada yang ingin diucapkan, melainkan karena terlalu banyak hal yang berdesakan, saling menabrak, dan menyumbat pikiran mereka.
Begitu kereta menuju Indahpura datang, mereka naik dalam diam.
Sarah menatap pantulan dirinya di jendela kereta. Wajahnya pucat. Mata membengkak karena terlalu banyak menangis di perjalanan ke stasiun. Napasnya pendek-pendek, seolah paru-parunya menolak menerima kenyataan baru ini.
Sementara Mia duduk di sampingnya dengan tangan menggenggam erat tas selempang, seperti sedang memegang sesuatu yang bisa mengikatnya tetap waras.
"Lo yakin… gak mau mampir dulu ke rumah?" tanya Mia pelan, memecah kesunyian.
Sarah menggeleng tanpa menoleh. "Gak ada waktu."
"Lo bahkan belum bawa baju ganti."
"Kita di sana cuma satu atau dua malam, kan?" tanya Sarah, meski ia sendiri tidak yakin.
Mia memandang Sarah lebih lama. "Sar... jujur, gue takut."
Sarah menutup mata sebentar, lalu membuka kembali. "Gue juga."
Gadis itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa mual yang tiba-tiba menghantamnya. "Kita udah telat satu langkah. Nana udah ditahan polisi, dan Tari… udah gak ada."
Mia mengusap wajahnya. "Tapi apa bener takdirnya pindah? Maksud gue… kenapa ke Tari? Dia bahkan gak punya hubungan dekat sama kita."
"Justru karena itu," jawab Sarah lirih. "Dia pernah nyumpahin gue. Pernah nyindir gue habis-habisan waktu Ken dan Dilla meninggal. Dia bilang gue pembawa sial. Dan… mungkin itu cukup buat makhluk itu nentuin target."
Mia merinding. "Jadi dia milih orang yang punya hubungan emosional sama lo?"
"Hubungan negatif," koreksi Sarah perlahan.
Kereta berguncang lembut. Suara roda yang berderak di rel menjadi latar bising yang tidak menenangkan.
"Gue cuma mikir…" Mia menelan ludah. "Kalau bener kayak gitu, siapa lagi yang… benci sama lo?"
Sarah tidak menjawab. Ia menatap luar jendela yang berubah menjadi kabur karena gerakan kereta yang makin cepat. Matanya tertahan pada bayangan dirinya sendiri, wajah yang terlihat seperti seseorang yang telah kehilangan terlalu banyak dalam waktu terlalu singkat.
"Ada banyak," ucap Sarah akhirnya.
Mia membelalak. "Sar—"
"Di sekolah dulu. Di rumah lama gue. Bahkan di kampus ini. Gue gak disukai banyak orang. Sering dibilang aneh. Sering dibilang bikin sial." Ia menghela napas berat. "Kalau makhluk itu beneran nyari korban dari daftar itu… kita bisa kehilangan lebih banyak lagi."
Mia menunduk, wajahnya penuh ketakutan. "Kita harus minta bantuan Ki Surya lagi—"
"Gak bisa," potong Sarah cepat. "Ki Surya udah bilang dia gak bisa campur tangan lagi."
Mia cemberut. "Tapi jimat ini bekerja cuma seminggu kan? Hari ini hari keenam."
Sarah mengangguk pelan. "Besok… hari terakhir perlindungannya. Setelah itu..."
"Hilang," lanjut Mia, yang kemudian memegangi dadanya seolah jantungnya sendiri sedang memberontak. "Ya Tuhan…"
Kereta melambat ketika memasuki wilayah Indahpura. Langit di sana lebih gelap dibanding Jakarta, meskipun matahari belum sepenuhnya tenggelam. Awan menebal dan udara terasa lebih dingin, seperti kota ini sedang menahan sesuatu di dasar tanahnya.
Sarah merapatkan jaketnya. "Kita turun."
Saat kaki mereka menyentuh peron stasiun Indahpura, ada semacam hawa asing yang menyambut. Dingin, sunyi, dan ada sesuatu yang bergetar samar seperti bisikan yang tertelan angin.
"Gue gak suka tempat ini," gumam Mia spontan.
"Gue juga," jawab Sarah jujur.
Tapi mereka tetap berjalan.
Mereka kemudian memesan taksi online menuju toko barang antik yang pernah Sarah kunjungi. Sarah sangat berharap bahwa kali ini pemilik toko barang antik tersebut ada di tempat.
Namun, saat mereka tiba, taksi berhenti perlahan di depan sebuah bangunan yang bahkan tak bisa disebut bangunan lagi. Hanya puing-puing yang tersisa, seperti arang kayu yang menghitam, dinding yang runtuh tak beraturan, serta rangka besi hangus yang mencuat seperti tulang retak.
Toko itu… tidak ada.
Bukan tutup.
Bukan sedang direnovasi.
Hancur total.
Dan jelas sudah lama.
Sopir taksi menoleh lewat kaca spion. "Mbak, bener mau turun di sini?"
Sarah tidak menjawab. Mulutnya terbuka sedikit, tapi suaranya tidak bisa keluar.
Mia mencondongkan tubuh, menatap keluar jendela. "Ini… bukan toko barang antik," gumamnya.
Sarah akhirnya bersuara, sangat pelan. "Ini… beneran tempat toko itu. Tapi… kok—"
"—kok kayak gini?" Mia menyelesaikan kalimat itu.
"Sesuai aplikasi, Mbak." Sopir taksi menyodorkan ponselnya, memperlihatkan alamat yang benar. "Ini ruko yang terbakar bertahun-tahun lalu. Dari dulu emang gak ada yang bangun ulang."
Kalimat itu menampar mereka lebih keras daripada kenyataan yang terlihat.
Mia menoleh cepat. "Sar… jangan bercanda. Toko yang lo datengin waktu itu masih utuh, kan? Bukan tempat ini, kan?"
Sarah tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Ia hanya membuka pintu mobil perlahan dan turun dengan wajah yang makin pucat. Mia buru-buru menyusul.
Begitu kaki mereka menginjak tanah yang dipenuhi debu sisa kebakaran, air mata Sarah tiba-tiba mengalir. Bukan karena takut, tapi karena bingung.
"Gue… gue gak ngerti…" Suara Sarah pecah. "Gue bener-bener masuk ke toko ini, Mi. Toko yang penuh barang antik, wangi kayu tua, rak-rak tinggi…"
Tatapannya sibuk memindai pemandangan aneh di depannya. "Gue inget banget waktu naruh uang di meja kasir dekat pintu dan jendela di sini."
Mia memegang kedua bahunya, menatap Sarah dengan napas memburu. "Mungkin kita salah tempat?"
"Enggak, Mi." Sarah menggeleng cepat. "Tempatnya emang di sini. Gue inget lampu jalan itu." Ia menunjuk tiang lampu bengkok yang berkarat. "Gue inget pintu tokonya harus didorong dua kali. Gue inget papan namanya…"
Sarah berputar, mencari papan nama itu di antara puing.
Dan menemukannya.
Setengah hangus, tergeletak di bawah balok kayu yang patah.
Indah Mahkota Antik.
Nama yang sama persis dengan yang Sarah lihat saat pertama kali ke sini.
Mia mematung. "…Sar."
Sarah berlutut perlahan, tangannya gemetar saat menyentuh papan itu. Debunya menempel di telapak tangan seperti bekas luka lama.
"Kalau toko ini terbakar bertahun-tahun lalu…" Sarah menelan ludah, suaranya nyaris tidak terdengar. "…jadi… gue masuk ke mana waktu itu?"
Tidak ada yang menjawab.
Angin sore mulai berhembus, membawa suara serak seperti bisikan yang terjebak di antara reruntuhan.
Mia mundur setengah langkah. "Sar… jangan bilang toko itu..."
Sarah memejamkan mata. "Toko itu nyata, Mi. Gue beneran masuk ke dalamnya."
"Tapi bangunan yang udah hancur ini juga nyata, Sarah." Mia meremas ujung jaketnya. "Dan tempat ini lebih mirip kayak… makam."
Tanpa komando, mereka berdua menatap puing-puing yang kini terasa jauh lebih suram.
Sarah terisak. "Sekarang gue harus gimana, Mi? Gimana caranya kita tau pemilik asli cermin itu kalau toko ini ternyata udah hancur bertahun-tahun lalu?"
Mia terdiam lama. Air matanya juga menetes tanpa ia sadari.
Lalu, saat keduanya larut dalam kebingungan yang tidak berujung, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki di belakang mereka.
"Sedang apa kalian di sini?"