Hening turun perlahan setelah Syakira membuka kotak kayu berisi baju Nur. Hening itu bukan sembarang hening, melainkan hening yang berat, yang menekan dada, yang membuat ruangan seakan menyusut. Hening yang membuka pintu lama yang selama ini berusaha dikunci mati oleh semua orang.
Namun Azzam belum selesai.
“Aku ingin tahu semuanya,” suara Azzam berat, hampir pecah di ujungnya. “Semua yang terjadi pada Ibu. Dari awal sampai akhir.”
Syakira menatapnya lama. Mata perempuan itu tampak memerah, bukan sekadar karena sedih, tetapi karena kenangan yang sebenarnya tidak ingin ia sentuh lagi.
Ia menutup kotak kayu itu perlahan, seolah tahu setelah hari ini ia tak akan sanggup membukanya lagi.
“Kalau begitu…” bisiknya, “kalian harus dengar sesuatu yang jauh lebih gelap dari yang kalian kira.”
Farhan menegakkan tubuh, memberi isyarat bahwa Azzam siap. Azzam sendiri mengepalkan tangannya, seakan sedang menahan gempa di dalam dadanya.
Syakira memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu mulai berbicara pelan, namun dengan luka yang tidak bisa disembunyikannya.
“Malam itu…” Suaranya goyah.
“Malam ketika Ustadzah Nur dinodai… itu bukan pertama kalinya Zimraan melakukan itu.”
Azzam mengangkat wajahnya cepat. Napasnya tercekat.
“Apa maksud Kak Syakira?” suara Azzam pecah perlahan.
Syakira menatapnya, lama… terlalu lama.
“Nur bukan korban pertama,” ia menelan ludah. “Dan aku yakin dia bukan korban terakhir.”
Farhan memejamkan mata, seperti baru disiram air dingin.
“Maksudnya? Apakah ada korban lain selain, ibu?” tanya Azzam. Suaranya tajam namun terdengar seperti orang tenggelam.
Syakira menatap Azzam dalam, sebelum akhirnya ia mengangguk. Lalu dia merapatkan kakinya, memeluk kedua lutut seperti seorang anak yang ingin kabur dari bayang-bayang gelap.
“Sebenarnya, sebelum ustazah Nur ada dua orang yang menjadi korban kejahatan Zimraan.”
“Siapa? Mengapa aku tidak tau?” Farhan mendekat, ia jauh lebih penasaran. Karena setahu nya, hanya Nur lah korban satu-satunya yang di lecehkan Zimraan.
“Mereka adalah ustadzah Laila … dan ustadzah Fatma.”
Nama-nama itu jatuh seperti batu ke ubun-ubun Azzam. Berat. Memekakkan. Menghancurkan.
“Ustadzah Laila adalah pengajar pertama di Dayah itu. Sedangkan ustadzah Fatma datang tiga bulan semenjak ustadzah Laila mengajar.”
Syakira menghela napas.
“Keduanya pergi begitu saja setelah keluar dari ruangan Zimraan.”
Azzam makin menggenggam celananya. Sendi jarinya memutih.
“Pergi kemana?” desisnya.
“Tidak tahu, namun desas desusnya mereka di lecehkan oleh Zimraan.”
“Hah? Apakah itu benar?” Farhan kaget, matanya melotot ke arah Syakira seolah tak percaya.
“Tapi mereka hilang setelah memberitahu kepada Ummi Farah tentang kelakuan suaminya. Namun, tak ada satupun yang percaya.”
“Kenapa begitu?” tanya Azzam keheranan.
Syakira tertawa pendek, pahit, getir, dan penuh kelelahan.
“Karena Zimraan… sangat pandai mencuci aibnya.”
**
Lalu Syakira mulai bercerita dengan lebih runtut.
Tentang awal-awal Zimraan sering memanggil para ustadzah untuk musyawarah berdua di ruangannya.
Tentang bagaimana cara Zimraan selalu memperhatikan setiap para santri dari bawah hingga ke atas.
Bahkan hal paling aneh adalah, ketika Zimraan selalu intens menanyakan hal pribadi kepada ustadzah.
Hal itu diketahui Syakira, karena dia pernah mendengar Zimraan menanyakan masalh pribadinya ustdzah Laila.
Sampailah dimana ….
Tragedi malam-malam ketika Zimraan memanggil Nur dengan dalih memeriksa hafalan.
Tentang Nur yang selalu terlihat pucat dan gemetar tiap keluar dari ruangannya. Persis seperti ustadzah sebelum nya.
Begitu juga tentang langkah Zimraan yang berkeliaran menuju asrama putri saat jam yang tidak sepantasnya. Saat dimana semua para santri tidur nyenyak. Saat itulah Zimraan berakhir.
Syakira juga pernah sekali mergoki Zimraan ketahuan sedang mengintip mereka tidur. Namun saat ketahuan, Zimraan berdalih bahwa ia mendengar suara keributan. Jadi dia ingin menegur dan mengecek sumber suara.
Namun, kejadian itu bukan hanya sekali. Melainkan berkali-kali. Mereka juga sudah mengadu pada Ummi Farah, tapi lagi-lagi Ummi Farah seolah buta akan kesalahan suaminya.
Tangan Syakira tampak bergetar saat ia bicara, tanda bahwa ia bukan hanya mengingat, ia sedang kembali merasakan ketakutan remajanya dulu.
“Aku pernah lihat ustdzah Nur menangis di bawah tangga asrama, dan itu bukan sekali aku dapati beliau seperti itu” ujarnya lirih.
“Setiap kali aku tanya kenapa, ustazah Nur selalu bilang tidak apa-apa. Tapi menyuruh kami untuk hati-hati dan jangan terlalu dekat dengan Zimraan.”
“Suatu hari aku juga pernah dengar ustadzah Nur berbisik, suaranya lirih sangat lirih, tapi terdengar jelas. Lebih kurangnya dia berkata, tolong… hentikan…” Tapi aku terlalu muda untuk mengerti… terlalu takut untuk bicara.”
Azzam menutup wajahnya, dan seolah suara itu,
“Tolong… hentikan…”
menyobek seluruh lapisan hatinya.
Syakira melanjutkan, kali ini dengan suara yang jauh lebih berat.
“Hingga malam itu terjadi. Malam ketika Ustazah Nur keluar dari ruangan Zimraan dengan baju robek, wajah lebam, dan hampir pingsan. Ditambah ada bekas gigitan Zimraan di leher ustazah Nur, dan itu membuat ustadzah sakit demam 4 hari.”
Farhan memalingkan wajah, menahan sesal yang selama ini ia tumpuk.
Setelah jeda panjang, Syakira berkata lagi:
“Sejak saat itu … ustadzah Nur melawan. Dan Zimraan melakukan segala cara untuk membungkamnya.”
Azzam menunduk dalam-dalam, mencoba menelan amarah yang rasanya terlalu besar untuk tubuhnya.
Ia tidak sadar bahwa sejak tadi…
ada seorang lain yang mengikuti setiap kata mereka dari balik bayangan pepohonan.
Di luar rumah tua, angin dataran tinggi menusuk lapisan baju.
Elzhan berdiri mematung di balik pohon pinus. Jantungnya seperti ingin memecahkan tulang rusuknya. Ia mengikuti Farhan dan ustadz baru itu diam-diam sejak keluar pesantren.
Saat melihat mereka memasuki rumah seorang perempuan asing … firasat buruk mencengkeramnya.
“Apa yang mereka lakukan di rumah itu?” gumamnya pelan.
Ia mendekat, mencoba mencuri suara melalui celah jendela. Tapi ia hanya mendengar potongan kata, nada keras, dan nama-nama yang terasa asing namun mengancam.
Tangan Elzhan bergetar.
Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.
Ia tidak tahu betapa dalam luka yang selama ini ia injak tanpa sadar.
Ia tidak tahu betapa dekatnya ia dengan kebenaran yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya.
Ia hanya tahu satu hal, malam itu akan mengubah segalanya.
Di dalam, Syakira menarik napas terakhir sebelum menyelesaikan kalimatnya.
“Kalau kalian benar-benar ingin membuka semuanya…”
Tatapannya mengeras, seperti baja yang ditempa oleh tahun-tahun ketakutan.
“Bersiaplah. Setelah ini, tidak ada yang bisa kembali seperti sebelumnya.”
Azzam mengangkat wajahnya.
“Aku tidak takut.”
Farhan mengangguk perlahan.
“Diam terlalu lama membuatku ikut berdosa.”
Syakira memandang keduanya, dan untuk pertama kalinya, ia terlihat seperti seseorang yang akhirnya berani menantang masa lalu.
Malam itu…
tiga orang bersiap melawan kegelapan yang sama.
Kegelapan yang selama ini menelan banyak nama, dan belum selesai menelan siapa pun.