Drama

Mendadak Kawin-Kotak Pandora-Bab 24

29 November 2025

“Sialan! Sialan! Sialan!”

Bisma menendang sofa kulit mahalnya di ruang tengah penthouse hingga bergeser beberapa sentimeter. Suara decitan kaki sofa beradu dengan lantai marmer terdengar nyaring, tapi tidak cukup untuk meredam gemuruh amarah di kepalanya.

Dia baru saja melihat berita di TV.

“Bisma Adijaya Diduga Tertular Penyakit Kelamin dari Penulis Misterius?” “Nadine Ungkap Kekhawatiran: Sandra Punya Riwayat Medis Buruk.”

Fitnah itu menyebar lebih cepat daripada virus. Dalam hitungan jam, nama Sandra sudah hancur lebur di media sosial. Bukan sebagai pelakor seksi, tapi sebagai wanita "kotor" pembawa penyakit.

“Nadine bener-bener main kotor,” desis Bisma. Dia berjalan mondar-mandir di wilayahnya (sisi kanan lakban hitam), tangannya menjambak rambutnya sendiri yang sudah berantakan.

Di seberang ruangan, di wilayah "Keong" dekat dapur, Sandra duduk memeluk lutut di atas kursi bar. Dia tidak menangis. Dia terlalu syok untuk menangis. Dia hanya menatap layar ponselnya yang terus bergetar menampilkan notifikasi kebencian.

“Gue harus klarifikasi,” kata Bisma tiba-tiba, berhenti mondar-mandir. “Gue bakal live Instagram sekarang. Gue bakal bilang Nadine bohong.”

“Jangan,” suara Sandra terdengar lirih.

“Kenapa?! Lu mau diem aja dikatain penyakitan?!”

“Kalau lu klarifikasi sekarang, lu cuma bakal mancing mereka buat gali lebih dalem,” kata Sandra lelah. “Mereka bakal minta bukti medis. Apa lu mau gue publish rekam medis gue ke seluruh Indonesia cuma buat muasin netizen? Itu privasi gue, Bis.”

Bisma terdiam. Sandra benar. Ini jebakan. Jika mereka bereaksi berlebihan, mereka terlihat panik. Jika diam, mereka dianggap membenarkan.

TING-TONG.

Bel penthouse berbunyi.

Bisma dan Sandra serentak menoleh ke pintu utama. Tubuh mereka menegang.

“Siapa?” bisik Sandra. “Wartawan nggak bisa naik ke lantai ini, kan?”

“Nggak bisa. Cuma yang punya akses khusus,” jawab Bisma. Dia berjalan ke panel interkom di dinding, melihat layar kamera CCTV.

Seorang petugas concierge apartemen berdiri di depan pintu, memegang sebuah kotak berukuran sedang yang dibungkus kertas kado emas.

“Pak Bisma? Ada paket priority dari Ibu Regina. Beliau minta diantar langsung ke unit,” suara petugas itu terdengar dari speaker.

Regina.

Bisma menekan tombol talk. “Taruh di depan pintu. Lalu pergi.”

“Baik, Pak.”

Bisma menunggu sampai petugas itu pergi, lalu membuka pintu. Dia mengambil kotak itu dengan kasar dan membawanya masuk.

“Dari siapa?” tanya Sandra, turun dari kursi bar.

“Nenek Sihir,” jawab Bisma dingin. Dia meletakkan kotak itu di meja kopi (tepat di atas garis lakban pemisah).

Bungkusnya mewah. Ada kartu ucapan dengan tulisan tangan Regina yang elegan: “Untuk putraku tersayang, agar kau ingat jalan pulang.”

“Jangan dibuka,” kata Sandra, merasakan firasat buruk.

“Gue harus tau dia mau main apa lagi,” kata Bisma.

Dia merobek kertas emas itu. Di dalamnya ada kotak kayu jati berukir. Bisma membukanya.

Bukan bom. Bukan bangkai tikus.

Isinya adalah sebuah album foto tua bersampul kulit dan sebuah flashdisk.

Bisma mengernyit. Dia mengambil album itu.

Saat dia membukanya, pertahanannya runtuh.

Itu adalah album foto masa kecilnya yang hilang. Foto-foto saat Regina masih menjadi ibu yang hangat, sebelum ambisi memakannya. Foto Bisma bayi dalam gendongan Regina. Foto Bisma belajar jalan dituntun Regina. Foto mereka tertawa bersama di taman bermain.

Di halaman pertama, ada tulisan tangan Regina: ‘Dulu kita bahagia, Nak. Sebelum wanita itu (Arini) dan keluarganya merusak Ayahmu, dan sekarang anaknya merusakmu.’

Tangan Bisma gemetar.

“Manipulasi,” desis Bisma. “Dia mau cuci otak gue.”

Bisma mengambil flashdisk yang ada di situ. Dia mencolokkannya ke laptop yang terhubung ke TV besar di ruang tengah.

Layar menyala.

Sebuah video muncul. Bukan video skandal. Tapi video home video lama.

Video ulang tahun Bisma yang ke-7. Di video itu, terlihat Ayah Bisma sedang bertengkar hebat dengan Regina di latar belakang, sementara Bisma kecil meniup lilin sendirian.

Suara Regina terdengar sebagai voice over baru di video itu: “Lihat, Bisma? Ayahmu tidak peduli padamu. Dia sibuk memikirkan Arini. Hanya Mama yang ada buat kamu. Dan sekarang, kamu mau membuang Mama demi anak Arini? Demi wanita yang membawa penyakit dan sial ke hidupmu?”

Video berganti. Menampilkan foto-foto candid Sandra di masa lalu (yang diambil mata-mata Regina). Foto Sandra yang terlihat lusuh, foto rumah kontrakan Sandra yang kumuh.

“Dia tidak selevel denganmu. Dia hanya akan menyeretmu ke lumpur. Pulanglah, Nak. Tinggalkan dia. Mama sudah siapkan pengacara untuk membereskan semuanya.”

Layar mati.

Hening.

Bisma menunduk. Napasnya memburu.

Manipulasi ini... menyakitkan. Regina menggunakan trauma masa kecil Bisma—perasaan diabaikan—untuk menyerang hubungannya dengan Sandra.

“Dia... dia bener-bener tau cara nyakitin gue,” bisik Bisma.

Sandra melihat bahu Bisma bergetar. Dia tidak tahan melihatnya. Dia melangkah melewati garis lakban, masuk ke wilayah Bisma. Dia juga tak kalah syok mengetahui satu fakta yang selama ini sama sekali tidak disangkanya. Ibunya punya masa lalu yang istimewa dengan ayahnya Bisma. Tidak ada yang menceritakan hal itu padaya selama ini!

“Bis...”

“JANGAN DEKET-DEKET!” bentak Bisma tiba-tiba. Dia berdiri, menyambar album foto itu.

“Semua ini bohong! Kenangan ini bohong!” teriak Bisma. Dia berjalan cepat menuju dapur, menyalakan kompor gas.

“Bis! Lu mau ngapain?!” Sandra mengejarnya.

“Gue mau bakar! Gue mau bakar semua kenangan sialan ini! Gue mau hapus dia dari otak gue!” Bisma mendekatkan album foto itu ke api kompor.

“JANGAN!” Sandra menangkap tangan Bisma.

“LEPASIN! LU NGGAK NGERTI RASANYA JADI ANAK DIA!”

“GUE NGERTI!” teriak Sandra, menahan tangan Bisma sekuat tenaga agar tidak menyentuh api. “Gue ngerti rasanya pengen ngehapus masa lalu! Tapi bukan gini caranya!”

Mereka bergulat di depan kompor yang menyala. Panas api terasa di wajah mereka.

“Dia Ibu lu, Bis! Sejahat apapun dia, itu tetep kenangan lu waktu kecil! Itu bukti kalau lu pernah disayang! Jangan dibakar!”

“Dia nggak sayang gue! Dia cuma sayang diri dia sendiri!” Bisma menangis. Air matanya jatuh menetes ke kompor, mendesis saat kena api.

Sandra mematikan kompor dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memeluk pinggang Bisma, menariknya menjauh.

“Liat gue,” kata Sandra, memutar tubuh Bisma menghadapnya.

Bisma menurut, tubuhnya lemas. Dia bersandar di meja dapur, merosot turun ke lantai. Album foto itu terlepas dari tangannya.

Bisma Adijaya, aktor yang selalu terlihat kuat, menangis tersedu-sedu di lantai dapur penthouse-nya.

“Gue capek, San... Gue capek dimainin...” isak Bisma.

Sandra ikut duduk di lantai. Dia tidak peduli lagi soal garis batas wilayah. Dia tidak peduli soal gengsi.

Dia menarik kepala Bisma ke bahunya. Membiarkan pria itu menangis di sana.

“Keluarin aja,” bisik Sandra, mengusap rambut Bisma. “Nangis aja. Di sini nggak ada kamera. Nggak ada Nadine. Nggak ada Regina. Cuma ada gue.”

“Kenapa lu masih baik sama gue?” tanya Bisma di sela tangisnya. “Padahal Nyokap gue jahat sama lu.”

“Karena lu juga korban dia, Bis,” jawab Sandra pelan. “Kita sama-sama korban. Dan korban harus saling jaga, bukan saling nyerang.”

Malam itu, di lantai dapur yang dingin, di antara album foto yang berserakan dan sisa ketegangan, dinding pertahanan mereka benar-benar runtuh.

Bisma memeluk pinggang Sandra erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Dan Sandra membiarkannya.

Untuk pertama kalinya di "Kandang Komodo" ini, mereka bukan lagi dua orang asing yang terpaksa tinggal bersama. Mereka adalah dua sekutu yang sedang menyembuhkan luka satu sama lain.

Dan di luar sana, Regina mungkin tersenyum mengira paketnya berhasil menghancurkan mental Bisma. Dia tidak tahu, paket itu justru membuat Bisma dan Sandra semakin bersatu.