His Contract Bride - Menciptakan Kebetulan - Bab 30

Penulis Rei_Moira
10 September 2025

“Ezra Roux?”

Ezra mendongak, matanya menyipit lalu berdiri. Satu tangannya memberikan gerakan elegan untuk mempersilakan seorang wanita yang mengenakan dress A-line maroon selutut dengan lipstik warna serupa.

“Silakan duduk, Celeste Belmont.” Suara Ezra terdengar ramah. “Terima kasih sudah meluangkan waktu.”

Celeste, mantan tunangan Kael Vireaux yang berhasil dihubungi oleh Ezra—tentu saja dengan informasi dari Bastien—memandang penuh rasa penasaran. Tepat ketika wanita itu duduk, pelayan kafe mendatangi dengan notes kecil di tangan.

“Sudah siap pesan, Nona?”

Celeste menoleh, tidak tersenyum. “Flat white satu.”

“Baik, mohon ditunggu.”

Pelayan itu berlalu, memberikan pesanan pada barista dan tak perlu menunggu lama telah membawa pesanan itu pada Celeste. Cangkir hitam itu mengepulkan asap tipis yang menguar aroma kopi dan susu gurih. Tak langsung meminumnya, Celeste kini memberikan perhatiannya penuh pada Ezra.

“Aku datang bukan karena aku tertarik dengan Kael.” Celeste menegakkan tubuhnya. “Aku hanya penasaran, kenapa kau membutuhkanku untuk mendekati Kael lagi?”

Ezra tersenyum. “Aku tahu kau masih menginginkannya.” Tangannya mengusap pelan pegangan cangkir.

Celeste menghela napas. Seringai tipis di balik lipstik marunnya seolah membenarkan ucapan Ezra. “Dia tidak mungkin membuka hatinya lagi untukku. Dan dari awal dia memang tidak pernah membuka hatinya.”

“Kalian pernah bertunangan, kan?” Nada bicara Ezra terdengar tenang.

Celeste membuang mukanya sejenak, menatap pasangan di meja sebelah sebelum tertawa sinis. Ketika pandangannya kembali pada Ezra, ada gurat kecewa yang tampak samar.

“Kami memiliki hubungan, tapi dia hanya memberikan tubuhnya padaku, bukan cintanya.” Sungguh di luar dugaan ketika Celeste seakan tak memiliki sekat pada privasinya.

Ezra sampai berdeham sekali untuk keluar dari rasa canggung setelah mendengar pengakuan itu. “Jadi… kalian hanya berbagi ranjang tanpa berbagi perasaan?”

“Aku membaginya, tapi dia tidak.” Celeste berdecak kesal. “Awalnya aku tidak mempermasalahkannya. Kupikir, pada akhirnya kami pasti menikah. Tapi semuanya kacau ketika dia memutuskan pertunangan kami sepihak hanya untuk menikahi wanita udik yang bahkan tidak seseksi diriku.”

Kedutan samar terlihat di sudut-sudut bibir Ezra. “Well… kau hanya cemburu, Belmont.”

“Cemburu?” Wanita itu berdecak pelan. “Terserah kau menyebutnya apa. Sekarang, katakan saja kenapa kau ingin aku mendekati Kael lagi?”

Ezra menarik tubuhnya, bersandar pada sandaran kursi kafe dengan suasana hangat. Alunan lagu jazz terdengar pelan, cukup nyaman didengarkan sebagai latar.

“Aurora,” ujarnya. “Alasanku adalah Aurora.”

Celeste mengerutkan kening. Jelas ia memiliki persepsi atas jawaban itu, tapi tak ingin bersikap sok tahu. “Maksudmu?”

“Kau menginginkan Kael, dan aku menginginkan Aurora.” Ezra tersenyum, kedua tangannya masih terjulur di atas meja. “Jika kau berhasil mendapatkan Kael lagi, maka aku juga bisa mendapatkan Aurora.”

Alih-alih tertarik dengan tawaran itu, Celeste justru tertawa. Ezra memiringkan kepala, tidak memahami bagian mana yang lucu dari penawarannya.

“Really? Hanya karena hal ini kau memanggilku kesini?” Celeste masih tertawa.

Dada Ezra memanas. Sejujurnya ia benci melakukan hal manipulatif seperti ini. Namun nasib Elias ada di tangannya. Ia tidak mau membahayakan nyawa adiknya hanya karena tidak becus melakukan misi dengan upah utangnya pada Bastien lunas, dan Elias yang menjadi jaminannya—dipaksa menjadi jaminan.

“Kau bisa menganggapku… hopeless.” Ezra menarik tangannya dari atas meja. “Karena memisahkan mereka adalah hal yang tidak mungkin kulakukan sendiri. Berbeda jika aku mendapatkan bantuan darimu.”

“Dan kau pikir Kael akan melihatku lagi?” Celeste mendengus kasar. “Pada akhirnya semua itu hanya ada pada anganmu. Aku bisa melihat bagaimana tatapannya pada perempuan itu. Penuh cinta dan memuja.”

Tentu saja Ezra mengetahuinya dengan sangat jelas. Ia hampir muak melihat bagaimana cara pria itu menatap Aurora. “Jadi kau tidak ingin mencobanya?” tanyanya.

Celeste menggeleng. “Nope. Aku memang masih menginginkannya, tapi bukan berarti aku harus kehilangan harga diri untuk mengemis perhatiannya lagi. Dan kalaupun masa itu mungkin bisa kembali, aku ingin dia yang mencariku lebih dulu.”

Satu alis Ezra berkedut cepat. Seringai tersungging jelas di sebelah bibirnya. “I understand. Tapi, bukankah kau harus membuka celah agar ketika masa itu tiba, dia bisa langsung mengingat namamu untuk menjadi tujuan? Jika kau hanya diam saja dan mengutuk Aurora dari belakang tanpa melakukan pergerakan, kurasa kau tidak akan pernah mendapatkan momen itu.”

Kini Celeste terdiam. Ucapan Ezra sedang dicerna perlahan. Meskipun kesannya akan menjatuhkan harga dirinya, tapi memang kesempatan itu perlu untuk ditunjukkan jalannya.

“Kau mau wanita lain yang mendapatkannya?” Ezra kembali melancarkan serangan.

Sorot mata Celeste tampak gusar. Dia tidak akan pernah membiarkannya terjadi. Jika memang Kael suatu saat nanti berpaling dari Aurora, maka wanita yang akan menggantikan posisi wanita itu adalah dirinya—harus dirinya.

Ezra kembali menegakkan badannya, kini lebih condong ke depan, dengan kedua sikunya bertumpu di atas meja. “Kurasa aku sudah tahu jawabannya.”

“Fine! Apa yang harus kulakukan?” Setengah menggeram, Celeste telah masuk ke dalam perangkap Ezra.

Seringai sinis berubah menjadi senyuman lebar, seakan ada dua pribadi di wajah Ezra. “Kau hanya harus mencari kebetulan di antara dirimu dan Kael. Ciptakan hal-hal yang tampak telah diatur oleh semesta, yang akhirnya menggugah kesadaran Kael bahwa kau tidak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Bahwa kau masih menggenggam benang merah kalian yang mungkin… memang belum terputus.”

Mata Celeste berbinar mendengarnya. “Kau… benar-benar cerdas!”

Ezra tersenyum puas. “Tapi ingat, jangan pernah tunjukkan padanya kalau kau memaksa. Alih-alih kau terlihat menggodanya lagi, lebih baik terlihat kalau kau adalah sosok dewasa yang memberi kenyamanan baginya. No flirting, but smart thinking. Aku yakin kau paham maksudku.”

“Sure, kau tidak perlu mengajariku hal-hal semacam itu.” Celeste menyibak rambutnya. “Aku ahli dalam menciptakan suatu kebetulan.”

“Good,” ucap Ezra puas.

Pilihannya untuk menemui Celeste memang tepat. Karena bergerak sendiri sudah pasti tidak akan berhasil. Ia membutuhkan teman satu tim untuk mampu menjalankan misi ini. Dengan begitu, Elias akan kembali padanya, dan Aurora tidak akan ditargetkan lagi oleh Bastien. Sementara Kael… ia tidak peduli sama sekali.

“Satu hal yang membuatku penasaran lagi.” Celeste mengambil cangkir flat white nya, lalu menyesapnya sedikit. “Apa yang kau sukai dari wanita udik itu?”

Hening sejenak.

Pertanyaan yang sulit, karena Ezra bahkan tidak tahu apakah ada perasaan suka pada Aurora atau tidak. Semua yang dikatakannya tentang tujuannya meminta bantuan pada Celeste jelas hanya bualan. Ia memang mengagumi Aurora, tidak ingin wanita itu kenapa-napa, tapi ia tidak menganggap rasa itu adalah suka—belum.

“Semuanya. Suka dan cinta tidak butuh alasan, benar?” Berbohong sedikit untuk mencapai tujuan adalah hal yang dibenarkan oleh Ezra, dan ia sedang melakukannya dengan sangat baik.

Celeste kembali tertawa dengan nada mengejek. “Ya… ya… kurasa kau cocok dengannya. Aku akan melakukan tugasku dengan baik, tenang saja.”

Ezra mengangguk pelan beberapa kali. “Harus. Keberhasilan rencana kita adalah dari seberapa besar dan seberapa pintar kita menjalankan tugas masing-masing. Aku percayakan hal penting itu padamu, dan aku akan membuat goyah pada sisi Aurora.”

Celeste meraih tas yang tadi diletakkan di belakang punggungnya. Gerakannya kembali anggun, ekspresinya tenang dan tajam seperti biasanya. “Kalau begitu, aku undur diri dulu. Tidak ada hal lain lagi yang harus dibicarakan, right?”

“Tidak ada lagi, all clear.”

Keduanya lalu berdiri. Saling berjabat tangan dengan seringai masing-masing yang penuh rencana. Dan ketika Celeste telah berjalan menjauh, Ezra kembali terduduk dengan tangan gemetar. Banyak hal yang harus dikompromikan untuk hari ini, hal-hal yang bertentangan dengan nuraninya.

Namun, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membuat Elias aman.