Bisma terbangun di lantai marmer dapur, dengan punggung pegal dan kepala Sandra bersandar nyaman di dadanya. Kehangatan tubuh Sandra adalah satu-satunya hal yang nyata setelah malam penuh kekacauan dan air mata.
Saat kesadaran kembali, wajahnya menegang. Tepat di samping kepalanya tergeletak sebuah album foto tua. Album itu telah mengungkap segalanya.
“Eugh…” Sandra menggeliat, lalu tersentak menjauh begitu melihat wajah Bisma yang terlalu dekat.
“Pagi,” sapa Bisma, suaranya serak.
“Pagi,” balas Sandra, buru-buru duduk. Rasa canggung yang pekat kembali menyelimuti mereka, diperparah oleh kebenaran yang baru saja mereka telan.
“Bisa-bisanya kita berdua tidur di sini.” Bisma menguap sambil menutup mulutnya.
Sandra meraih album itu, matanya kembali membaca tulisan tangan Regina yang elegan di halaman sampul: ‘Dulu kita bahagia, Nak. Sebelum wanita itu (Arini) dan keluarganya merusak Ayahmu, dan sekarang anaknya merusakmu.’
Sandra menatap Bisma. “Arini itu... nama Ibu gue, Bis. Wanita yang Ibu lo panggil sebagai ‘perusak’ keluarga lo.”
Bisma merasakan sengatan dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak hanya terkejut; dia merasa seluruh fondasi hidupnya hancur. Selama ini, dia hanya tahu ibunya, Regina, adalah seorang istri yang meninggalkannya dan ayahnya. Dia hanya tahu ayahnya sangat membela Regina, mengatakan bahwa Regina adalah wanita baik yang pergi karena alasan penting.
“Nyokap gue pergi. Bokap selalu bilang, Nyokap itu istri dan ibu yang baik, dan kami harus menghormatinya. Bokap selalu membela Nyokap di depan gue,” bisik Bisma, suaranya hampa. “Bokap bahkan nggak pernah mengizinkan gue menjelek-jelekkan Nyokap , bahkan setelah Nyokap pergi dari rumah. Bahkan Bokap gue selalu membelanya hingga akhir hayatnya. Bisa-bisanya dia menjelekkan Bokap gue seperti itu. Bokap punya wanita lain? Benar-benar fitnah dan manipulasi yang terlalu kejam!”
Sandra menggeleng. “ Gue tidak tahu kebenarannya seperti apa. Tapi setelah membaca surat ini.” Sandra menunjukkan secarik kertas yang didapatnya di dalam kotak paket itu semalam. “Gue sedikit terkejut, semua data tentang ibu Gue sangat tepat. Tapi ibu Gue tidak pernah menceritakan kalau beliau telah lama mengenal Bokap lo, Bis. Bahkan setelah Ibu Gue tahu kalau kita ada hubungan dan ayah Gue bekerja di perusahaan ayah lo.”
Bisma mengambil secarik kertas itu dan membacanya. Dia langsung melempar kertas itu ke depan . “Bisa saja dia mencari tahu informasi tentang Ibu lo. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh uang? Nyokap gue adalah tipe manusia yang sangat ambisi jika menginginkan sesuatu.”
“Bagaimana jika yang dikatakan oleh Nyokap lo itu benar, Bis? Berarti itu rasa bersalah, Bis,” kata Sandra, suaranya lembut tapi menghantam.
“Rasa bersalah?” Bisma mengernyitkan keningnya menatap ke arah Sandra.
“Papa lo membela Mama lo karena dia tahu, dia nggak pernah mencintai Mama lo dengan sepenuh hati. Hati dia masih milik Ibu gue. Dia merasa bersalah karena nggak bisa jadi suami yang baik buat Mama lo.”
“Gue... gue nggak tahu harus percaya apa lagi,” Bisma menelan ludah. “Gue nggak akan mempercayai apapun selama Gue belum mendapatkan buktinya.”
“Oke,” kata Sandra tegas, memecah keheningan berat itu. Dia berdiri, mengibaskan debu imajiner dari piyamanya. “Kalau lu butuh bukti, kita cari bukti. Kita nggak bisa cuma duduk di lantai dapur meratapi nasib kayak dua orang jompo.”
Bisma mendongak, matanya yang sembap menyipit. “Kita? Lu mau ikut?”
“Ya iyalah! Nama gue kan udah tercemar jadi ‘pembawa wabah’ gara-gara fitnah itu. Gue punya kepentingan buat bersihin nama gue juga,” elak Sandra, padahal dalam hati dia tidak tega membiarkan Bisma menghadapi masa lalunya sendirian. “Lagian, lu butuh otak gue. Kalau sendirian, paling lu cuma bakal ngamuk-ngamuk nggak jelas.”
Bisma mendengus, separuh tersinggung, separuh lega. Dia berusaha bangkit, tapi kakinya kesemutan parah karena tidur di lantai marmer semalaman. “Aduh! Kaki gue! Sialan, mati rasa!” Bisma ambruk lagi, memegangi betisnya.
Sandra menahan tawa, tapi gagal. “Karma anak durhaka.”
“Diem lu, Maemunah! Bantuin!”
Dengan susah payah, Sandra memapah Bisma—aktor laga dengan bayaran termahal di Indonesia—berjalan terpincang-pincang menuju sofa.
“Siapa target kita?” tanya Sandra setelah mendudukkan Bisma.
Bisma memijat kakinya sambil berpikir keras. “Pak Aji. Asisten pribadi almarhum Bokap yang paling setia. Kalau ada yang tahu rahasia Bokap soal Arini—nyokap lu—pasti dia orangnya. Tapi masalahnya...” Bisma menunjuk ke arah jendela besar penthouse yang tertutup tirai tebal. “Di bawah sana ada sepasukan wartawan yang siap memangsa gue hidup-hidup. Apalagi setelah berita penyakit itu.”
Bisma tiba-tiba menggaruk lehernya. Lalu lengannya. “San... kok gatel ya?” wajah Bisma memucat. “Jangan-jangan berita itu bener? Gue kena kutukan?”
Sandra memutar bola matanya malas. “Itu sugesti, bego. Lu gatel karena lu belum mandi dari kemarin, ditambah tidur di lantai dapur yang belum dipel seminggu. Mandi sana!”
Satu jam kemudian.
“Ini penghinaan terhadap estetika gue sebagai Brand Ambassador fashion ternama,” protes Bisma.
Mereka berdiri di depan cermin besar di walk-in closet. Bisma kini mengenakan seragam cleaning service apartemen yang entah bagaimana bisa didapatkan Sandra (dengan menyogok petugas laundry lewat pintu servis), lengkap dengan topi bucket lusuh dan masker medis. Celananya agak gantung, memperlihatkan kaos kaki gambar Spongebob milik Sandra karena kaos kaki Bisma habis kotor semua.
Sandra sendiri memakai wig bob pendek (properti syuting yang tertinggal), kacamata tebal, dan baju oversized yang membuatnya terlihat seperti ibu-ibu mau ke pasar.
“Pilih mana? Kehormatan lu atau kebenaran?” tanya Sandra sambil membenarkan letak kacamatanya.
“Kebenaran. Tapi kalau ada paparazzi yang ngenalin gue pake celana gantung begini, gue bakal terjun dari flyover,” gerutu Bisma.
“Udah, ayo. Kita lewat lift barang. Gue udah pesen taksi online, titik jemputnya di jalan belakang, deket tempat sampah.”
“Tempat sampah? Perfect. Sesuai sama hidup gue sekarang.”
Perjalanan turun lewat lift barang berjalan mulus, meski baunya membuat Bisma (yang biasa wangi parfum jutaan rupiah) hampir muntah. Tantangan sebenarnya adalah lobi belakang.
Tepat saat mereka keluar mendorong troli sampah (sebagai properti penyamaran), segerombolan wartawan yang tidak kebagian tempat di lobi depan sedang merokok di sana.
“Eh, Mas! Mas CS!” panggil salah satu wartawan hiburan yang wajahnya sering Bisma lihat di TV.
Jantung Bisma copot. Dia meremas gagang troli. Sandra di sebelahnya menyikut pinggangnya keras. “Jalan terus, jangan noleh,” desis Sandra lewat masker.
“Mas! Ada liat Bisma Adijaya turun nggak?” tanya wartawan itu lagi, mendekat.
Bisma panik. Otak aktornya bekerja. Dia berbalik, membungkuk sedikit, dan mengubah suaranya menjadi cempreng dan medok. “Wah, ndak tau, Mas. Saya mah cuma ngangkut sampah bekas pestanya Pak Bisma. Isinya botol obat semua, Mas. Ngeri.”
Wartawan itu matanya langsung berbinar. “Obat?! Obat apa? Penyakit kelamin?!”
“Waduh, ndak tau. Tulisannya sih... Salep Gatal Selangkangan Super Ampuh,” asal Bisma ngomong.
Sandra tersedak ludahnya sendiri. Dia buru-buru mendorong Bisma menjauh sebelum suaminya itu mengarang cerita lebih gila lagi.
“Makasih infonya, Mas!” Wartawan itu langsung sibuk mengetik di ponselnya, mengabaikan dua 'petugas kebersihan' yang kabur terbirit-birit ke arah taksi online butut yang sudah menunggu.
Begitu masuk ke dalam taksi, Sandra langsung memukul lengan Bisma. PLAK!
“Aduh! KDRT lu!” “Lu ngapain nyebar hoax soal salep selangkangan?! Itu bakal jadi headline sejam lagi, Bisma Adijaya!” omel Sandra frustrasi.
Bisma melepas maskernya, menyeringai jahil. “Biarin. Biar makin absurd sekalian. Kalau beritanya terlalu konyol, orang-orang pinter justru bakal curiga kalau itu berita pesanan.”
Sandra terdiam. Masuk akal juga. Di balik sifat kekanak-kanakannya, kadang otak Bisma jalan juga. “Jalan, Pak. Ke alamat ini,” kata Sandra pada sopir taksi yang menatap curiga ke arah spion, heran melihat tukang sampah dan ibu-ibu pasar naik taksi.
Rumah Pak Aji berada di pinggiran Jakarta yang tenang, sebuah rumah tua bergaya Belanda yang asri. Pak Aji, pria paruh baya dengan rambut memutih, sedang menyiram anggrek saat Bisma dan Sandra turun dari taksi.
Pak Aji menyipitkan mata, lalu terlonjak kaget sampai selangnya menyemprot wajahnya sendiri saat melihat Bisma membuka topi dan masker. “Den Bisma?! Astaga, kenapa dandanannya seperti... korban banjir?”
“Panjang ceritanya, Pak Aji,” kata Bisma, menyalami tangan pria tua itu dengan takzim. “Boleh kami masuk? Ada hal penting soal Papa... dan soal Arini.”
Mendengar nama Arini, wajah ramah Pak Aji berubah tegang. Dia menatap Sandra sekilas, lalu menghela napas panjang. “Saya sudah menduga hari ini akan datang. Mari masuk.”
Ruang tamu Pak Aji penuh dengan buku tua. Dia menyajikan teh hangat yang uapnya mengepul, tapi Bisma tidak menyentuhnya.
“Pak Aji,” Bisma memulai, suaranya sedikit bergetar. “Mama ngasih saya album foto dan video. Dia bilang... Papa selingkuh sama Arini, ibunya Sandra. Dia bilang Papa nggak pernah sayang sama saya. Dia bilang Papa dijebak.”
Bisma menatap Pak Aji tajam. “Saya butuh kebenaran, Pak. Bukan versi Mama, bukan versi media. Versi Papa.”
Pak Aji menunduk, menatap cangkir tehnya. “Ibu Regina kamu... dia wanita yang hebat, Den. Hebat dalam memutar fakta.”
Pak Aji berdiri, berjalan ke sebuah lemari besi tua di sudut ruangan. Dia memutar kombinasi angka, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang sudah agak menguning. “Bapakmu menitipkan ini pada saya tiga hari sebelum kecelakaan itu. Beliau bilang, 'Ji, kalau suatu saat Bisma bingung arah, atau kalau Regina mulai membakar hutan, kasih ini ke dia'.”
Pak Aji meletakkan amplop itu di meja, tepat di depan Bisma. “Itu surat wasiat asli Bapakmu. Bukan yang dibacakan notaris sewaan Ibumu.”
Tangan Bisma gemetar saat meraih amplop itu. Sandra secara naluriah menggenggam tangan kiri Bisma, memberikan kekuatan. Bisma menoleh, menatap mata Sandra yang teduh.
“Baca, Bis,” bisik Sandra.
Bisma membuka segel amplop itu. Mengeluarkan isinya. Surat tulisan tangan ayahnya, dan beberapa lembar foto usang.
Bisma membaca paragraf pertama dalam hati, lalu suaranya tercekat saat membacanya keras-keras.
“Untuk putraku, Bisma. Maafkan Papa yang pengecut ini. Papa tidak pernah selingkuh dengan Arini. Papa mencintai Arini jauh sebelum Papa mengenal Ibumu. Tapi Kakek dari Papa dan Kakek dari Mama punya hutang piutang bisnis yang menjerat Papa...”
Bisma menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. “Jadi... Papa nikah sama Mama karena hutang?”
Pak Aji mengangguk sedih. “Ibu Regina tahu Pak Suryo tidak mencintainya. Itu yang membuat obsesinya menjadi racun. Dia ingin memiliki Pak Suryo seutuhnya, sampai-sampai dia berusaha menghancurkan hidup Arini agar Pak Suryo tidak punya tempat untuk ‘pulang’.”
Sandra menutup mulutnya dengan tangan. “Jadi... Ibu saya bukan pelakor? Ibu saya korban?”
“Ibumu wanita baik, Neng Sandra,” kata Pak Aji lembut. “Dia mundur. Dia pergi ke desa, menikah dengan ayahmu, Pak Gunawan, untuk menghindari Pak Suryo. Tapi Ibu Regina tidak puas. Dia memfitnah ayahmu korupsi sampai dipecat, supaya hidup Arini menderita.”
“BANGSAT!” Bisma menggebrak meja. Air matanya tumpah. Bukan karena sedih, tapi karena marah. Marah yang luar biasa. “Selama ini gue benci Papa karena gue pikir dia lemah... Ternyata dia berkorban buat gue? Buat ngelindungin gue dari gilanya Mama?”
Bisma mengambil lembar terakhir surat itu. “Bisma, jika kamu membaca ini, artinya Papa sudah gagal melindungi kamu dari ambisi Ibumu. Papa cuma minta satu hal. Temukan kebahagiaanmu sendiri. Jangan jadi seperti Papa yang hidup dalam sangkar emas. Kalau kamu menemukan wanitamu, perjuangkan dia. Jangan biarkan Regina mengambilnya.”
Hening yang panjang menyelimuti ruangan itu.
Bisma meremas surat itu, lalu menatap Sandra. Tatapannya berbeda. Bukan tatapan ragu seperti pagi tadi. Ini tatapan seorang pria yang baru saja menemukan kompasnya kembali.
“Gue udah tau harus ngapain,” suara Bisma terdengar rendah dan berbahaya.
“Apa?” tanya Sandra cemas.
Bisma berdiri, masih dengan celana gantung dan kaos kaki Spongebob, tapi auranya mencekam seperti panglima perang.
“Gue bakal pulang. Gue bakal hadapin Nenek Sihir itu. Dan kali ini, gue nggak akan diam aja kayak Papa.”
Bisma menoleh ke Sandra. “Dan lu... lu ikut gue. Kita bikin skenario baru buat drama murahan Nyokap gue ini.”
“Maksud lo?”
Bisma menyeringai, kali ini tulus. “Nyokap bilang gue kena penyakit kelamin dan lu wanita pembawa sial, kan? Oke. Kita mainkan perannya. Tapi ending-nya kita yang tentuin.”
Ponsel Sandra bergetar. Notifikasi berita masuk. HEADLINE: Pengakuan Petugas Kebersihan: Bisma Adijaya Pakai Salep Gatal Selangkangan?!
Sandra menepuk jidatnya. “Bis, kita urus reputasi selangkangan lu dulu, baru urus Regina, oke?”
Bisma tertawa. Tawa lepas pertamanya setelah berminggu-minggu. “Oke, Nyonya Komodo. Let’s rock and roll.”