Drama

Mendadak Kawin-Klarifikasi-Bab 26

29 November 2025

Perjalanan pulang di dalam taksi online itu terasa jauh lebih hening daripada saat berangkat. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang penuh dengan pemahaman baru.

Bisma duduk bersandar, masih mengenakan seragam cleaning service yang kekecilan di bagian ketiak, sementara tangan kanannya menggenggam erat surat wasiat ayahnya. Surat yang mengubah segalanya. Surat yang mengatakan bahwa ayahnya tidak pernah mengkhianati siapa pun, kecuali dirinya sendiri demi melindungi keluarga.

Sandra melirik Bisma dari balik kacamata tebal penyamarannya. Dia melihat gurat lelah di wajah aktor tampan itu, tapi ada kelegaan di sana. Seperti beban ratusan kilo baru saja diangkat dari pundaknya.

“Mas, beneran itu salep-nya ampuh?” tanya sopir taksi tiba-tiba, memecah keheningan sambil melirik lewat spion tengah. Matanya tertuju pada Bisma.

Bisma tersentak dari lamunannya. “Hah?”

“Itu lho, Mas. Tadi kan Mas bilang majikannya, si artis Bisma itu, pake salep gatal selangkangan. Saya mau catet mereknya, soalnya tetangga saya ada yang kena jamur juga,” kata sopir itu polos.

Sandra menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak menyemburkan tawa. Bahunya berguncang menahan geli.

Bisma mendengus kasar. Dia lupa kalau dia masih dalam karakter ‘Mas CS’.

“Itu... resep dokter, Pak. Enggak dijual bebas. Harus punya BPJS kelas VVIP alias Very Very Irit Pelit,” jawab Bisma asal, nadanya ketus.

“Oalah... kirain. Kasian ya si Bisma itu. Ganteng-ganteng jamuran,” gumam sopir itu prihatin, lalu menyalakan radio.

Dan tepat saat itu, suara penyiar radio terdengar antusias: “Hot News siang ini! Tagar #BismaGatal jadi trending topic nomor satu di Twitter setelah seorang petugas kebersihan membocorkan kondisi sang aktor! Netizen berspekulasi apakah ini karma karena menyakiti hati Nadine?”

Sandra tidak tahan lagi. Dia tertawa terbahak-bahak sampai kacamata tebalnya melorot.

“Puas lu?” desis Bisma, menatap Sandra tajam. “Laki lu dibilang jamuran satu Indonesia, lu malah ngakak.”

“Salah siapa bikin hoax sendiri?” Sandra menyeka air mata di sudut matanya. “Sumpah, Bis. Karir lu unik banget. Dari aktor laga, jadi aktor drama, sekarang jadi Duta Salep Gatal.”

Bisma ingin marah, tapi melihat Sandra tertawa lepas—tawa yang jarang sekali keluar sejak mereka kembali ke Jakarta—hatinya malah menghangat. Dia menyeringai.

“Biarin. Makin gila beritanya, makin gampang kita membalikkannya,” kata Bisma.

Dia kemudian menatap Sandra lebih serius. Tangan kirinya bergerak, meraih tangan Sandra yang ada di atas jok mobil.

Sandra berhenti tertawa. Jantungnya berdegup kencang saat merasakan ibu jari Bisma mengusap punggung tangannya.

“San,” panggil Bisma pelan.

“Apa?”

“Bokap gue cinta sama Nyokap lu,” kata Bisma. Matanya menerawang. “Mereka dipisahkan sama keadaan. Sama ambisi orang tua mereka.”

Sandra terdiam. Fakta itu memang masih sulit dicerna. Bahwa mereka berdua terikat jauh sebelum mereka bertemu di desa.

“Terus?” tanya Sandra lirih.

“Terus sekarang kita di sini,” lanjut Bisma. Dia menatap mata Sandra dalam-dalam. “Anak dari Suryo dan anak dari Arini. Nikah. Tinggal serumah. Musuhan tapi saling butuh.”

Bisma mendekatkan wajahnya sedikit, membuat sopir taksi melotot curiga lewat spion.

“Mungkin kita ini sekuel, San,” bisik Bisma. “Sekuel yang harus namatin cerita yang gagal ditamatin orang tua kita. Bedanya, ending kita nggak boleh sad ending kayak mereka.”

Darah Sandra berdesir hebat. Kalimat itu terdengar seperti janji. Seperti proklamasi perang melawan takdir buruk.

“Jangan ge-er dulu,” Sandra menarik tangannya, berusaha menutupi pipinya yang memanas. “Ini genre-nya survival thriller, bukan romance. Kita harus bertahan hidup dari Ibu Suri dulu.”

“Oke, Partner,” Bisma kembali bersandar, tersenyum miring. “Kita mulai permainannya.”

Sesampainya di penthouse, mereka masuk lewat pintu belakang lagi. Begitu pintu tertutup dan mereka aman di dalam "Kandang Komodo" yang mewah, Bisma langsung melepas topi bucket-nya dan melemparnya ke sofa.

“Oke, strategi,” kata Bisma, berjalan mondar-mandir dengan kaos kaki Spongebob-nya yang konyol.

“Pertama, kita harus patahin rumor penyakit itu. Itu senjata Nadine buat bikin lu dikucilkan masyarakat,” kata Sandra, yang sudah duduk di kursi bar, membuka laptopnya (di wilayah netral).

“Gue punya ide,” kata Bisma. Dia merogoh saku celana gantungnya, mengambil ponsel.

Dia menekan nomor Nia.

“Halo, Mbak?”

“BISMA ADIJAYA! DEMI TUHAN! KAMU DI MANA?! INI WARTAWAN UDAH KAYAK ZOMBIE DI DEPAN KANTOR! DAN APA ITU ISU SALEP GATAL?!” Teriakan Nia terdengar sampai ke telinga Sandra meskipun tidak di-loudspeaker.

Bisma menjauhkan ponsel dari telinganya sambil meringis. “Tenang dulu, Mbak. Tarik napas. Saya punya rencana.”

“Rencana apa?! Jangan bilang kamu mau upload foto selangkangan kamu buat bukti!”

“Ide bagus, tapi jangan. Itu konten premium,” canda Bisma. “Dengerin, Mbak. Siapin tim dokumentasi. Siapin satu dokter kepercayaan manajemen yang bisa disogok—maksudnya, yang kredibel. Kita bakal Live Instagram satu jam lagi.”

“Live? Kamu gila? Kolom komentar bakal penuh hujatan!”

“Justru itu, Mbak. Kita butuh keramaian. Saya mau Live Medical Check-up.”

Sandra menoleh, alisnya terangkat. “Live Medical Check-up?”

Bisma mengedipkan mata pada Sandra. “Iya. Transparan. Gue bakal tes darah, tes kulit, tes segalanya di depan kamera. Gue bakal buktiin kalau gue bersih, wangi, dan higienis. Dan gue mau Sandra ada di situ.”

“Sandra?! Jangan libatin dia dulu! Dia sasaran empuk!” protes Nia.

“Dia harus ada di situ, Mbak. Sebagai saksi. Dan sebagai... asisten pribadi baru saya,” kata Bisma tegas. “Bawa dokter ke penthouse sekarang. Lewat lift barang. Jangan sampe ketahuan wartawan di lobi depan.”

Bisma mematikan telepon. Dia menatap Sandra.

“Siap jadi asisten artis papan atas, Bu Penulis?”

Sandra mendengus. “Gaji gue berapa?”

“Gaji lu adalah kepuasan liat muka Nadine pas tau rencananya gagal total,” jawab Bisma.

“Oke. Deal,” Sandra menyeringai.

Satu jam kemudian.

Ruang tamu penthouse sudah disulap menjadi studio dadakan. Dokter pribadi manajemen, Dokter Pras, sudah datang dengan wajah tegang, membawa peralatan medis lengkap. Nia dan Doni juga ada di sana, sibuk mengatur pencahayaan.

Sandra sudah berganti pakaian. Tidak lagi memakai daster atau baju oversized. Dia memakai kemeja putih Bisma yang digulung lengannya (karena baju di kopernya habis), dipadukan dengan celana jeans. Rambutnya diikat kuda tinggi. Dia terlihat... fresh dan profesional.

“Inget skenarionya,” bisik Bisma saat Doni menghitung mundur. Bisma sudah duduk di sofa, terlihat tampan luar biasa meski hanya memakai kaos polos hitam.

“3... 2... 1... Action!”

Bisma menyalakan Live Instagram-nya.

Dalam hitungan detik, viewers melonjak ke angka 50 ribu, lalu 100 ribu. Komentar berjalan secepat kilat, penuh dengan emoji muntah, emoji api, dan pertanyaan soal penyakit.

“Selamat siang, semuanya,” sapa Bisma santai, melambaikan tangan. Senyumnya maut, seolah dia tidak sedang diterpa badai skandal.

“Gue tau kalian kangen sama gue. Dan gue tau... kalian khawatir sama kesehatan gue,” Bisma tertawa kecil. “Banyak yang bilang gue sakit. Kena penyakit aneh-aneh. Ada yang bilang gue gatal-gatal.”

Bisma menoleh ke arah Sandra yang berdiri di samping kamera.

“Karena gue aktor yang profesional dan peduli sama fans gue, hari ini gue ngundang Dokter Pras buat Live Check-up. Biar kalian liat sendiri, darah gue isinya sel darah merah atau... racun tikus.”

Dokter Pras mulai bekerja. Dia mengambil sampel darah Bisma, memeriksa suhu tubuh, memeriksa kulit tangan dan leher Bisma.

“Gimana, Dok? Ada jamur? Ada kadas kurap?” tanya Bisma sambil menyodorkan lengannya ke kamera. Kulitnya mulus tanpa cela.

“Bersih total, Mas Bisma. Tensi normal. Suhu normal. Tidak ada tanda-tanda infeksi kulit atau penyakit menular apapun,” jelas Dokter Pras tegas sambil menunjukkan hasil tes cepat digital.

Bisma tersenyum puas. “Denger kan? Bersih.”

Lalu, Bisma melakukan sesuatu yang tidak ada di skenario.

Dia menarik tangan Sandra agar masuk ke dalam frame.

Sandra kaget, matanya membelalak. Nia di belakang kamera menahan napas.

“Dan ini,” kata Bisma, merangkul bahu Sandra yang kaku. “Kenalin. Ini Sandra. Penulis naskah film OPIA. Dan sekarang, dia lagi bantu gue riset buat film baru.”

Komentar meledak. Itu cewek yang di video?! Pelakor! Penyakitan!

Bisma membaca komentar itu sekilas, lalu wajahnya berubah dingin. Aura "Komodo"-nya keluar.

“Gue liat banyak yang ngatain dia penyakitan. Guys, logika dipake dikit. Kalau dia penyakitan, mana mungkin gue berani deket-deket begini? Gue aset negara lho, mahal asuransinya,” canda Bisma, tapi matanya tajam.

“Sandra sehat. Gue sehat. Berita di luar sana itu cuma fiksi yang ditulis sama orang yang... mungkin kurang kasih sayang,” sindir Bisma telak (pesan untuk Nadine dan Regina).

“Jadi, stop sebar hoax. Atau pengacara gue bakal ketuk pintu rumah kalian satu-satu. Dan percaya deh, pengacara gue nggak se-asik gue.”

Bisma menatap Sandra, lalu tersenyum lembut—senyum yang tertangkap jelas oleh kamera dan membuat jutaan penonton histeris.

“Ada yang mau ditambahin, Bu Penulis?”

Sandra menelan ludah. Dia menatap lensa kamera ponsel itu. Dia membayangkan wajah Nadine yang sedang menonton. Dia membayangkan wajah Regina.

Sandra tersenyum manis.

“Cuma satu,” kata Sandra tenang. “Novel OPIA edisi revisi bakal terbit bulan depan. Jangan lupa beli ya. Kisahnya lebih seru dari gosip murahan.”

Bisma tertawa lepas. “Mantap. Marketing jalan terus.”

“Oke, guys. Itu aja. Gue mau lanjut kerja. Stay healthy, jangan lupa mandi biar nggak gatel. Bye!”

Bisma mematikan Live.

Keheningan menyelimuti ruangan selama tiga detik. Lalu Doni bertepuk tangan heboh.

“GOKIL! Trending topic langsung ganti! #BismaSehatWalafiat naik!” seru Doni.

Nia menghela napas lega, memegang dadanya. “Kamu bener-bener nekat, Bis. Tapi... itu brilian.”

Bisma menyandar di sofa, menatap Sandra. “Lu oke?”

Sandra masih gemetar sedikit karena adrenalin. “Lu... lu ngenalin gue sebagai asisten riset?”

“Ya daripada gue kenalin sebagai istri terus besok KUA digeruduk?”

Tiba-tiba ponsel Bisma bergetar lagi. Pesan masuk.

Dari Regina Adijaya.

Bisma membukanya. Sandra ikut mengintip.

Isinya singkat: “Kamu menang satu ronde, Nak. Tapi perang baru dimulai. Jangan lupa, Mama masih pegang kartu As kamu (video ciuman). Nikmati kemenangan kecilmu.”

Bisma melempar ponselnya ke meja. Wajahnya mengeras lagi.

“Dia nggak akan berhenti,” gumam Sandra khawatir.

“Biarin dia maju,” kata Bisma. Dia berdiri, berjalan mendekati Sandra. Kali ini tidak ada jarak. Dia memegang kedua bahu Sandra.

“Kita punya senjata yang dia nggak punya, San.”

“Apa?”

“Kita nggak punya rasa takut lagi. Kita udah di titik nol. Dari sini, kita cuma bisa naik.”

Tiba-tiba perut Bisma berbunyi keras sekali. Kuruuuuuk.

Suasana tegang dan dramatis itu hancur seketika.

Sandra tertawa, menepuk perut Bisma. “Senjata lu laper, Komodo.”

“Masakin gue,” rengek Bisma, kembali menjadi bayi besar. “Tadi gue abis diambil darah sesendok, gue butuh nutrisi. Gue mau nasi goreng. Tapi jangan pake racun kayak Nadine.”

“Iya, iya. Gue masakin. Tapi awas ya kalau lu complain rasanya keasinan,” kata Sandra, berjalan ke dapur.

Bisma menatap punggung Sandra sambil tersenyum.

Di tengah ancaman ibunya, skandal media, dan masa lalu yang rumit, Bisma menyadari satu hal.

Dia merasa... pulang.

Dan kali ini, dia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan Ratu Regina sekalipun, menghancurkan rumah barunya ini.