Aroma bawang putih dan kecap manis yang ditumis menguar di seluruh penjuru penthouse, melanggar batas wilayah "Komodo" dan "Keong" tanpa permisi.
Di dapur (wilayah netral), Sandra sedang sibuk mengaduk nasi goreng di wajan. Dia memakai apron bergambar beruang yang entah didapat dari mana, terlihat kontras dengan kitchen set marmer hitam yang mewah itu.
“Lama banget sih? Lambung gue udah demo turun ke jalan nih,” keluh Bisma.
Pria itu duduk di kursi bar (sisi kanan, wilayahnya), dagunya bertopang pada kedua tangan, matanya tak lepas menatap punggung Sandra. Dia sudah berganti pakaian santai, rambutnya yang basah berantakan membuatnya terlihat lima tahun lebih muda dari Bisma Adijaya sang megabintang.
“Sabar, Paduka Raja,” sahut Sandra tanpa menoleh. “Nasi goreng butuh cinta biar enak. Kalau dimasak pake emosi, rasanya bakal kayak omongan haters.”
“Gue nggak butuh cinta, gue butuh karbohidrat,” balas Bisma, tapi sudut bibirnya terangkat.
Pemandangan ini—Sandra yang memasak di dapurnya, suara sodet beradu dengan wajan—terasa begitu... domestik. Begitu normal. Sesuatu yang tidak pernah Bisma rasakan di rumah masa kecilnya yang dingin dan penuh aturan Regina .
“Nih,” Sandra meletakkan piring berisi nasi goreng gila dengan topping sosis dan telur mata sapi setengah matang di depan Bisma.
“Minumnya?” tagih Bisma.
“Ambil sendiri di kulkas. Kaki lu kan nggak lumpuh,” kata Sandra, duduk di kursi sebelahnya (sisi kiri, wilayahnya) dengan piringnya sendiri.
Bisma mendengus, tapi menurut. Dia mengambil air dingin, lalu kembali duduk. Suapan pertama masuk ke mulutnya.
Sandra melirik cemas. “Gimana? Keasinan?”
Bisma mengunyah pelan, memasang wajah serius ala juri Masterchef. Dia menelan, lalu minum air banyak-banyak.
“Gimana?” desak Sandra.
“Lumayan,” kata Bisma datar. “Lumayan buat ngeracunin tikus.”
“Sialan!” Sandra hendak menarik piring Bisma. “Sini balikin kalau nggak enak!”
“Eits!” Bisma menahan piringnya, melindungi nasi goreng itu dengan posesif. “Udah masuk wilayah gue, berarti hak milik gue. Dilarang mengambil kembali barang yang sudah disumbangkan.”
Lalu Bisma melahap suapan kedua, ketiga, dan seterusnya dengan lahap. Sandra tersenyum tipis. Dia tahu, ‘racun tikus’ dalam kamus Bisma artinya ‘enak banget’.
Mereka makan dalam diam yang nyaman. Untuk sejenak, mereka melupakan Regina, Nadine, dan wartawan yang mungkin masih berkemah di lobi bawah.
“San,” panggil Bisma setelah piringnya bersih tak bersisa.
“Hm?”
“Soal surat Bokap...” Bisma memainkan gelas airnya. “Gue mikir. Kalau Bokap gue berani ngelawan kakek gue demi cinta sama Nyokap lu... berarti cinta mereka kuat banget ya?”
Sandra meletakkan sendoknya. Topik ini masih sensitif, tapi dia tidak lagi merasa sakit membahasnya. “Iya. Sayangnya, cinta aja nggak cukup buat ngelawan dunia, Bis.”
“Kata siapa?” Bisma menatap Sandra intens. “Mereka gagal karena mereka nyerah. Mereka misah. Coba kalau mereka nekat bareng terus? Mungkin ceritanya beda.”
“Mungkin,” jawab Sandra ragu.
“Makanya,” Bisma menggeser duduknya sedikit, sikunya melewati garis lakban hitam di meja. “Kita jangan misah. Selama kita satu tim, Nenek Sihir itu nggak bakal bisa nyentuh kita.”
Sandra menatap siku Bisma yang melanggar batas wilayah. Dia ingin menegurnya, ingin menyuruhnya mundur. Tapi dia malah tersenyum.
“Awas sikunya, Komodo. Kena sambel,” kata Sandra lembut.
Bisma tidak menarik sikunya. “Biarin. Sambelnya manis. Kayak yang masak.”
“Dih! Gombalan lu cringe banget!” Sandra melempar tisu bekas mulutnya ke wajah Bisma.
Bisma tertawa lepas, menangkap tisu itu. “Serius, San. Makasih. Buat makanannya. Buat... nemenin gue pas gue hancur tadi siang.”
Sandra mengangguk, matanya menghangat. “Sama-sama. Sekarang cuci piring. Itu tugas lu.”
“Hah? Kan gue yang beli bahan!”
“Kan gue yang masak! Adil dong!”
Perdebatan konyol itu berlanjut hingga malam, menutup hari yang berat dengan tawa yang ringan.
Namun, di belahan Jakarta yang lain, tidak ada tawa.
Di ruang kerja pribadi Regina yang bernuansa emas dan merah marun, Nadine sedang mondar-mandir sambil membanting bantal sofa.
“Gila! Bisma gila! Dia malah bikin Live Check-up?! Trending topic berubah jadi muji-muji dia! Rencana aku gagal total, Tante!” pekik Nadine histeris.
Regina duduk tenang di balik meja kerjanya, menyesap teh chamomile. Wajahnya datar, tidak terlihat marah, yang justru membuatnya sepuluh kali lebih menakutkan.
“Duduk, Nadine. Kamu bikin pusing,” perintah Regina dingin.
Nadine langsung duduk, bibirnya cemberut. “Tante kok santai sih? Bisma makin nempel sama cewek kampung itu! Tante liat kan tadi dia ngenalin Sandra di depan jutaan orang?”
“Saya lihat,” jawab Regina. “Dan saya akui, langkah Bisma cerdas. Dia membalikkan isu kesehatan menjadi pembuktian transparansi. Dia belajar dari ayahnya soal diplomasi, tapi dia punya keberanian liar ibunya.”
Regina meletakkan cangkirnya. Matanya berkilat licik.
“Tapi kamu salah fokus, Nadine. Kamu menyerang fisik. Isu penyakit itu mudah dibantah dengan hasil lab. Kalau mau menghancurkan seseorang seperti Sandra Gunawan... kamu jangan serang badannya. Serang jiwanya.”
“Maksud Tante?”
“Apa hal yang paling berharga buat Sandra? Selain harga dirinya?” tanya Regina.
Nadine berpikir sejenak. “Novelnya? Dia bangga banget sama novel Opia itu. Katanya best seller.”
Regina tersenyum miring. Dia membuka laci meja, mengeluarkan sebuah dokumen hukum.
“Novel itu adalah identitasnya. Sumber penghasilannya. Dan tiket dia masuk ke dunia Bisma. Kalau tiket itu kita hanguskan... dia bukan siapa-siapa lagi.”
Regina menyerahkan dokumen itu pada Nadine.
“Besok pagi, kirimkan ini ke penerbit novel Sandra. Saya sudah beli saham mayoritas di grup penerbitan itu lewat perusahaan cangkang minggu lalu.”
Mata Nadine membelalak membaca judul dokumen itu: SURAT PENGHENTIAN PENERBITAN DAN PENARIKAN EDISI NOVEL OPIA.
“Alasannya?” tanya Nadine, mulai tersenyum jahat.
“Plagiarisme,” jawab Regina santai. “Kita akan buat skenario bahwa novel itu menjiplak naskah lama milik penulis tak dikenal yang... kebetulan dibayar mahal untuk mengakuinya.”
“Tante jenius!” seru Nadine.
“Bukan jenius, Sayang. Hanya... berpengalaman,” Regina berdiri, berjalan ke jendela. “Sandra Gunawan mau main api? Saya akan bakar ladang mimpinya sampai habis.”
Keesokan paginya.
Cahaya matahari menerobos masuk lewat dinding kaca penthouse, menyilaukan mata Sandra yang baru saja bangun. Dia menggeliat, merasa segar setelah tidur nyenyak pertama kalinya dalam minggu ini.
Dia keluar kamar, mencium aroma kopi. Bisma sudah bangun, duduk di sofa (wilayah baca skrip), memegang iPad sambil menyeruput kopi.
“Pagi, Keong. Kopi di meja. Masih panas,” sapa Bisma tanpa menoleh.
“Tumben baik,” gumam Sandra, mengambil cangkir kopi. Dia berjalan ke jendela, menatap pemandangan Jakarta dari ketinggian.
Hari ini terasa penuh harapan. Skandal penyakit sudah mereda. Film Opia akan segera tayang. Novelnya pun akan cetak ulang dengan sampul edisi film.
Drrt. Drrt.
Ponsel Sandra di saku piyamanya bergetar. Nama “Mbak Wulan - Editor” muncul di layar.
Sandra tersenyum lebar. Pasti kabar soal cetak ulang.
“Halo, Mbak Wulan! Gimana? Cover barunya udah acc?” tanya Sandra antusias.
Di sofa, Bisma menurunkan iPad-nya, ikut tersenyum melihat semangat Sandra.
Namun, senyum Sandra perlahan memudar. Wajahnya yang cerah berubah pucat pasi.
“Apa?” bisik Sandra. “Maksud Mbak gimana? Ditarik? Siapa yang nuntut?”
Bisma langsung berdiri. Instingnya menyala. Dia berjalan mendekati Sandra.
“Tapi Mbak... itu karya orisinal saya! Saya nulis itu tiga tahun! Saya nggak jiplak siapa-siapa!” suara Sandra mulai bergetar, pecah oleh kepanikan.
“Nggak bisa gitu dong, Mbak! Kontrak kita gimana?! Halo? Mbak?! Jangan diputus!”
Sambungan terputus.
Ponsel Sandra meluncur turun dari tangannya, jatuh ke karpet tebal. Tubuhnya limbung.
Bisma dengan sigap menangkapnya. “San! Kenapa? Siapa yang nelpon?”
Sandra menatap Bisma dengan mata kosong yang mulai digenangi air mata. Tatapan yang lebih menyakitkan daripada saat dia dituduh punya penyakit.
“Novel gue...” suara Sandra serak. “Penerbit mutus kontrak sepihak. Mereka narik semua buku Opia dari toko buku mulai hari ini.”
“Kenapa? Alasannya apa?!” tanya Bisma geram.
“Ada yang nuntut gue plagiat,” air mata Sandra tumpah. “Ada penulis yang ngaku gue nyuri naskah dia. Dan penerbit... mereka percaya gitu aja tanpa konfirmasi ke gue.”
“Itu bohong, kan?”
“Ya bohong lah, Bisma! Itu hidup gue! Itu cerita tentang ketakutan gue, harapan gue! Mana mungkin gue nyuri?!” Sandra memukul dada Bisma, meluapkan frustrasinya.
Bisma memeluk Sandra erat, membiarkan wanita itu menangis di dadanya. Rahangnya mengeras. Dia tahu ini bukan kebetulan. Plagiarisme? Tiba-tiba? Sehari setelah mereka menang lawan gosip?
Ini bukan serangan acak. Ini serangan terukur.
“Nenek Sihir,” desis Bisma pelan.
Sandra mendongak, wajahnya basah. “Regina?”
“Dia tau lu nggak bisa dihancurin pake gosip murahan. Jadi dia nyerang satu-satunya hal yang bikin lu berdiri tegak. Karir lu.”
Bisma melepaskan pelukan, lalu mengambil ponselnya.
“Gue telepon pengacara gue. Kita lawan.”
“Percuma, Bis,” kata Sandra lemah, merosot duduk di lantai. “Penerbit bilang keputusan direksi mutlak. Mereka nggak mau ambil risiko hukum. Opia... mati, Bis. Anak gue mati.”
Melihat Sandra hancur seperti itu—penulis yang kehilangan kata-katanya—membuat darah Bisma mendidih. Dia tidak pernah semarah ini. Bahkan tidak saat dia difitnah.
Bisma berjongkok di depan Sandra. Dia mengangkat dagu wanita itu.
“Dengerin gue. Opia nggak mati. Filmnya masih ada. Dan penulisnya masih hidup di depan gue.”
“Tapi buku gue...”
“Kita terbitin sendiri kalau perlu. Gue modalin. Gue beli percetakannya sekalian kalau harus,” kata Bisma berapi-api. “Tapi sekarang, kita nggak boleh nangis. Itu yang Regina mau. Dia mau lu nyerah dan balik ke desa.”
Bisma menghapus air mata Sandra dengan ibu jarinya.
“Lu mau balik ke desa dan biarin mereka menang? Atau lu mau fight?”
Sandra terisak, menatap mata hitam Bisma yang penuh keyakinan. Dia ingat hinaan Regina di kamar kosnya. Dia ingat seringai Nadine.
Rasa sedih itu perlahan berganti menjadi bara kemarahan.
“Gue... gue nggak mau balik,” bisik Sandra.
“Bagus,” Bisma berdiri, mengulurkan tangannya. “Bangun, Partner. Kita ke kantor penerbit sekarang. Kita labrak siapa pun yang berani bilang karya istri gue plagiat.”
Sandra menatap tangan itu. Tangan yang kemarin menariknya masuk ke dalam sorotan kamera. Tangan yang sekarang siap menariknya keluar dari jurang keputusasaan.
Sandra menyambut tangan itu.
“Ayo kita bakar mereka,” kata Sandra dingin.
Bisma menyeringai. “Nah, itu baru Nyonya Komodo.”
Mereka tidak tahu, di kantor penerbitan, Regina sudah menunggu. Bukan untuk bernegosiasi, tapi untuk memberikan penawaran terakhir: Tinggalkan Bisma, dan karirmu selamat. Atau bertahan, dan namamu hancur selamanya.