Drama

Mendadak Kawin-Membalikkan Kartu-Bab 28

29 November 2025

Bisma Adijaya berdiri di depan cermin besar di walk-in closet, mematut diri dengan wajah serius yang dibuat-buat.

Dia tidak lagi memakai seragam cleaning service gantung ataupun kaos kaki Spongebob. Kali ini, dia mengenakan setelan jas Italian cut berwarna biru dongker, kemeja putih licin, dan kacamata hitam aviator. Rambutnya disisir klimis ke belakang dengan pomade mahal.

“Gimana?” tanya Bisma sambil memutar badan, menaikkan kerah jasnya. “Gue udah kayak Vincenzo Cassano belum? Atau lebih mirip Godfather versi kearifan lokal?”

Sandra, yang duduk di pinggir kasur sambil memeluk lutut (masih dengan mata sembap sisa menangis tadi), menatapnya datar.

“Lu lebih mirip tukang kredit panci yang maksa nagih utang,” komentar Sandra pedas, meski dalam hati dia mengakui suaminya itu tampan setengah mati.

“Sembarangan! Ini vibes mafia, Keong. Kita mau melabrak sarang penyamun. Penampilan adalah intimidasi nomor satu,” Bisma menyambar jam tangan Rolex-nya.

“Ayo bangun. Cuci muka. Pake baju yang paling slay. Jangan biarin mereka liat mata panda lu. Musuh nggak boleh liat kita lemah.”

Sandra menghela napas panjang. Bisma benar. Menangis tidak akan mengembalikan novelnya.

“Baju gue abis, Bis. Yang tersisa cuma kaos partai sama celana training,” gumam Sandra.

Bisma berdecak. Dia berjalan ke sisi lemari pakaiannya yang lain. Dia menarik sebuah dress selutut berwarna maroon yang masih terbungkus plastik laundry.

“Pake ini,” Bisma melemparnya ke Sandra.

Sandra menangkapnya. “Ini... baju siapa? Nadine?” nadanya curiga.

“Enak aja. Itu baju properti syuting iklan gue taun lalu. Model ceweknya kekecilan, jadi gue bawa pulang. Harusnya muat di lu, badan lu kan kecil kayak kurang gizi,” elak Bisma, padahal sebenarnya dia diam-diam membelinya online tadi pagi lewat instan courier saat Sandra sedang mandi (tentu saja dengan ukuran perkiraan).

Sandra menatap gaun itu. Cantik. Sederhana tapi elegan.

“Makasih, Komodo,” ucap Sandra tulus.

“Buruan ganti. Gue tunggu di mobil. Kita bakar kantor penerbit itu. Secara metafora, tentu saja. Gue nggak mau masuk penjara lagi.”

Perjalanan menuju kantor penerbit "Pustaka Abadi" terasa seperti adegan film aksi. Bisma menyetir mobil sport dua pintunya dengan kecepatan yang membuat Sandra berpegangan erat pada handle pintu.

Lagu soundtrack "Mission Impossible" diputar kencang-kencang oleh Bisma.

“Bis, kecilin lagunya! Gue pusing!”

“Ini biar menjiwai, San! Kita lagi perang!”

Sesampainya di lobi gedung penerbit, satpam sempat menghalangi mereka.

“Maaf, Pak, ada janji?”

Bisma menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap satpam itu dengan tatapan maut yang biasa dia pakai di poster film.

“Saya Bisma Adijaya. Saya mau ketemu Pak Bambang. Sekarang. Kalau dia nggak mau nemuin saya, bilang sama dia, saya bakal beli gedung ini dan jadiin kandang buaya.”

Satpam itu gemetar. Siapa yang tidak kenal Bisma Adijaya? Apalagi setelah berita viral "Salep Gatal" pagi ini.

“Si-silakan, Pak Bisma. Lantai 3.”

Bisma menggandeng tangan Sandra—bukan, menyeretnya—menuju lift. Genggamannya erat, hangat, dan memberikan transfer energi keberanian yang luar biasa pada Sandra.

“Inget,” bisik Bisma saat pintu lift terbuka di lantai 3. “Jangan nunduk. Lu penulis best seller. Lu Ratu di sini. Gue cuma bodyguard ganteng lu.”

Sandra menegakkan punggungnya. Oke. Tarik napas. Hembuskan.

Mereka berjalan menuju ruang rapat kaca di ujung lorong. Tanpa mengetuk, Bisma menendang pintu itu hingga terbuka lebar.

BRAK!

Di dalam ruangan, Pak Bambang (Direktur Penerbitan) dan Mbak Wulan (Editor Sandra) sedang rapat. Mereka terlonjak kaget. Kopi Pak Bambang tumpah ke kemejanya.

“Selamat siang, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu penipu!” sapa Bisma lantang, berjalan masuk dengan langkah lebar, lalu duduk di kursi utama tanpa dipersilakan.

Sandra masuk di belakangnya, berusaha terlihat garang meski kakinya gemetar.

“Bisma?! Sandra?!” Mbak Wulan berdiri, wajahnya pucat. “Kalian... ngapain di sini? Keamanan mana?”

“Keamanan lagi sibuk googling harga buaya,” jawab Bisma asal. Dia meletakkan kakinya di atas meja rapat yang mengkilap.

“Langsung aja. Siapa yang nuduh istri gue plagiat? Mana buktinya? Gue mau liat.”

Pak Bambang, pria botak yang terlihat licin, berdeham sambil mengelap noda kopi di perutnya.

“Pak Bisma... ini urusan internal penerbitan. Dan soal plagiarisme, kami sudah dapat bukti valid. Ada naskah berjudul ‘Api Cinta di Ujung Desa’ karya penulis anonim tahun 2010 yang plotnya 90% mirip dengan Opia.”

“Api Cinta di Ujung Desa?” Sandra tertawa getir. “Pak, tahun 2010 saya masih SMP! Dan Opia itu berdasarkan kisah nyata hidup saya! Mana mungkin ada orang lain yang nulis hidup saya sebelum saya alamin sendiri?!”

“Bisa saja kamu yang baca naskah itu dulu, lalu terinspirasi,” elak Pak Bambang, matanya tidak berani menatap Sandra. Jelas dia berbohong.

“Mana naskahnya? Sini gue baca,” tagih Bisma.

Pak Bambang menyodorkan sebuah map. Bisma membukanya kasar. Dia membaca halaman pertama. Lalu halaman kedua.

Tiba-tiba Bisma tertawa terbahak-bahak. Tawa yang menggelegar dan menakutkan.

“Ini bercandaan macam apa?” Bisma melempar naskah itu ke muka Pak Bambang.

“Kenapa, Pak Bisma?” tanya Wulan bingung.

“Lu liat font-nya!” tunjuk Bisma. “Ini diketik pake Comic Sans! Dan di halaman dua, tokoh utamanya pake iPhone 13. Tahun 2010 udah ada iPhone 13? Hah? Penulisnya peramal masa depan?!”

Skakmat.

Ruangan hening. Wajah Pak Bambang memerah padam. Dia lupa mengecek detail naskah palsu yang dikirim oleh orang suruhan Regina.

“Itu... itu mungkin kesalahan ketik tanggal...” cicit Pak Bambang.

“Kesalahan ketik jidat lu!” Bisma menggebrak meja. Dia berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arah Pak Bambang. Aura main-mainnya hilang, berganti dengan aura predator.

“Denger ya, Pak Botak. Gue tau siapa yang nyuruh lu. Gue tau lu dapet duit tebal buat matiin karir Sandra. Tapi lu lupa satu hal.”

“A-apa?”

“Lu lupa kalau Sandra punya suami yang duitnya nggak berseri dan sedikit gila,” bisik Bisma.

Bisma mengeluarkan Black Card-nya, lalu mengetuk-ngetukkannya ke meja.

“Berapa Regina bayar lu? Sebut angka. Gue bayar dua kali lipat. Tapi syaratnya, lu terbitin pernyataan minta maaf di koran nasional besok pagi, balikin buku Opia ke rak toko buku, dan lu pecat diri lu sendiri karena lu editor yang goblok.”

Pak Bambang menelan ludah. “Tapi... Ibu Regina... beliau pemegang saham mayoritas sekarang...”

“Oh, udah dibeli?” Bisma manggut-manggut. “Oke. Kalau gitu gue nggak bisa beli perusahaannya.”

Sandra lemas. Harapan itu pupus lagi.

“Tapi...” lanjut Bisma sambil menyeringai. “Gue bisa beli gedung ini.”

“Maksud Bapak?”

“Gedung ini punya PT Properti Jaya, kan? Itu anak perusahaan kakek gue yang belum diambil alih sama Nyokap. Gue masih punya hak veto di sana,” bluffing Bisma lancar sekali (padahal dia tidak yakin, tapi masa bodoh).

“Kalau Opia ditarik, gue bakal pastiin kontrak sewa gedung ini diputus hari ini juga. Dan gue bakal jadiin kantor ini kolam ikan koi raksasa. Lu mau ngantor di dalem kolam?”

Ancaman itu begitu absurd, tapi datang dari mulut Bisma Adijaya, terdengar sangat mungkin terjadi.

Pak Bambang panik. Mbak Wulan, yang sebenarnya merasa bersalah, akhirnya buka suara.

“Pak Bambang... naskah pembanding itu emang aneh. Saya juga curiga itu rekayasa. Kita nggak bisa ngorbanin integritas penerbit cuma karena tekanan pihak luar.”

Sandra menatap Wulan dengan mata berkaca-kaca. Masih ada orang baik.

Pak Bambang terpojok. Dia melihat Bisma yang siap menerkam, dan Sandra yang menatapnya dengan sorot terluka namun tajam.

“O-oke,” Pak Bambang menyerah. “Kita batalkan penarikan buku. Tapi... tolong jangan jadiin kantor ini kolam ikan.”

“Bagus,” kata Bisma. Dia mengambil kembali Black Card-nya. “Dan satu lagi. Cetak ulang Opia edisi Hardcover Eksklusif. Sampulnya foto gue sama Sandra. Gue kasih izin pake muka gue gratis. Itu nilainya milyaran, tau nggak?”

“Ba-baik, Pak.”

Bisma merapikan jasnya. Dia menoleh ke Sandra dan mengedipkan sebelah mata.

“Udah beres, Nyonya Komodo. Ayo pulang. Gue laper. Gue mau makan di warteg, tapi pake jas gini biar dikira pejabat korup.”

Saat mereka keluar dari gedung itu, Sandra tidak tahan lagi. Di dalam lift yang kosong, dia memeluk Bisma. Erat sekali.

Bisma kaget, badannya kaku sejenak, tapi kemudian tangannya melingkar di punggung Sandra, membalas pelukan itu.

“Makasih, Bis,” isak Sandra di dada bidang Bisma. “Makasih udah nyelamatin mimpi gue.”

“Sama-sama, Keong,” jawab Bisma lembut, dagunya bertumpu di puncak kepala Sandra. “Lagian gue nggak rela kalau cerita tentang kita—maksud gue, cerita novel lu—hilang gitu aja.”

“Tadi lu keren banget,” gumam Sandra. “Walaupun ancaman kolam koi itu bego banget.”

“Tapi berhasil, kan?” Bisma terkekeh.

Pintu lift terbuka di lobi. Mereka melepaskan pelukan, tapi tangan mereka masih saling menggenggam.

Namun, kebahagiaan itu terinterupsi.

Ponsel Bisma berdering.

Video Call dari Regina.

Bisma menatap layar ponselnya, lalu menatap Sandra. “Siap ronde dua?”

“Siap,” jawab Sandra mantap.

Bisma mengangkat telepon itu. Wajah dingin Regina muncul di layar. Dia sedang duduk di mobil mewahnya.

“Hebat,” kata Regina datar. “Mama dengar kamu bikin keributan di kantor penerbit. Mengancam mau bikin kolam ikan?”

“Mama yang mulai,” jawab Bisma santai. “Aku cuma dekorasi ulang.”

“Kamu pikir kamu menang, Bisma?” Regina tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. “Buku itu mungkin selamat hari ini. Tapi kamu lupa satu hal.”

“Apa lagi?”

“Besok adalah Gala Premiere film Opia. Dan Mama adalah sponsor utamanya sekarang. Mama yang pegang daftar tamu, susunan acara, dan... mikrofon.”

Mata Bisma menyipit. “Jangan macem-macem di acara Sandra, Ma.”

“Datanglah besok. Bawa istrimu yang plagiat itu. Mari kita lihat, apakah dia punya mental baja saat dipermalukan di depan seluruh elit Jakarta secara langsung, bukan lewat media sosial.”

KLIK. Telepon dimatikan.

Bisma menurunkan ponselnya pelan. Wajahnya mengeras.

“Kenapa, Bis? Dia mau ngapain?” tanya Sandra cemas.

Bisma menoleh, menatap Sandra dalam-dalam.

“Dia mau perang terbuka di Gala Premiere besok. Dia mau permaluin lu di karpet merah.”

Sandra merasakan dingin merambat di punggungnya. Gala Premiere adalah malam terpenting dalam karirnya.

“Kita nggak usah dateng,” kata Sandra cepat. “Gue nggak butuh karpet merah.”

“Nggak,” potong Bisma tegas.

Dia mencengkeram bahu Sandra.

“Kita dateng. Kita dateng dengan kepala tegak. Lu penulisnya. Itu malam lu. Gue nggak akan biarin dia ngerusak itu.”

“Tapi Bis... dia sponsor utama...”

“Bodo amat,” Bisma menyeringai, matanya berkilat nekat. “Kalau dia mau main drama di panggung, kita kasih dia pertunjukan. Kita bakal bikin Gala Premiere itu jadi panggung pernikahan kita sekalian.”

“HAH?!” Sandra melongo. “Lu gila?!”

“Emang. Dan lu cinta kan sama orang gila ini?”

Wajah Sandra memerah. Dia memukul lengan Bisma. “Siapa yang cinta?! GR!”

“Liat aja besok,” Bisma menggandeng Sandra keluar menuju mobil.

“Besok, kita bukan cuma dateng sebagai Aktor dan Penulis. Kita dateng sebagai Power Couple yang bakal bikin Ratu Regina serangan jantung ringan.”

Dan ikan koi di kolam imajinasi Bisma seolah bertepuk tangan.