Pintu penthouse tertutup otomatis di belakang mereka, memisahkan hiruk-pikuk Jakarta yang kejam dari keheningan "Kandang Komodo" yang dingin.
Namun, sore ini, udara di dalam penthouse terasa berbeda. Tidak dingin. Justru terasa padat dan panas oleh tegangan sisa adrenalin.
Bisma melepaskan jas Italian cut-nya dan melemparnya sembarangan ke sofa. Dia melonggarkan dasinya dengan gerakan kasar, seolah benda itu mencekik lehernya. Napasnya terdengar berat.
Sandra berdiri di tengah ruangan, masih mengenakan gaun maroon pemberian Bisma. Dia memeluk lengannya sendiri, menatap punggung Bisma yang lebar.
“Bis...” panggil Sandra pelan.
Bisma tidak menoleh. Dia berjalan menuju mini bar, menuang air dingin ke gelas, lalu meneguknya habis dalam sekali tarikan napas. Dia mencengkeram pinggiran meja marmer itu erat-erat hingga buku jarinya memutih.
“Besok perang, San,” suara Bisma terdengar rendah, serak. “Regina nggak main-main. Dia bakal nyerang mental lu di depan semua orang.”
“Gue tau,” jawab Sandra. Dia melangkah mendekat.
“Lu takut?” Bisma akhirnya berbalik. Matanya yang tajam—mata yang tadi menatap garang pada Pak Bambang—kini menatap Sandra dengan sorot yang sulit diartikan. Ada kekhawatiran, ada amarah, tapi ada juga kelaparan yang terpendam.
“Takut,” aku Sandra jujur. “Tapi gue lebih takut kalau lu nggak ada di samping gue.”
Kalimat itu seperti memutus sekring pertahanan Bisma.
Dalam dua langkah lebar, Bisma sudah berada di depan Sandra. Dia tidak lagi menjaga jarak "wilayah". Dia menerobos masuk ke ruang pribadi Sandra.
“Gue nggak akan ke mana-mana,” bisik Bisma. Tangannya terulur, bukan untuk menyentuh wajah Sandra, tapi menuju punggung Sandra.
“Berbalik,” perintahnya lembut namun dominan.
Sandra menurut, jantungnya berdegup kencang menabrak rusuk. Dia merasakan jari-jari hangat Bisma menyentuh tengkuknya, menyibakkan rambutnya ke samping.
“Resleting lu,” gumam Bisma tepat di telinga Sandra, membuat bulu kuduk wanita itu meremang hebat. “Biar gue bantu.”
Bisma menurunkan resleting gaun itu perlahan. Sangat pelan. Setiap sentuhan ujung jari Bisma di kulit punggung Sandra yang terbuka terasa seperti jejak api.
Sandra memejamkan mata, menahan napas. “Bis...”
“Ssst. Diem, Keong,” bisik Bisma. Napas hangatnya menyapu bahu Sandra yang kini terekspos. Dia tidak langsung melepaskan gaun itu. Dia justru mengecup bahu Sandra. Sekali. Lembut. Lalu mengecup lagi di pangkal leher, kali ini lebih dalam, sedikit menghisap.
Lutut Sandra lemas. Dia berpegangan pada lengan kekar Bisma yang melingkar di pinggangnya dari belakang.
“Ini bukan bagian dari skenario perang, kan?” tanya Sandra dengan suara bergetar.
Bisma memutar tubuh Sandra agar menghadapnya. Gaun maroon itu kini longgar, tapi masih menempel di tubuh Sandra. Bisma menatap mata Sandra, intensitas tatapannya membakar.
“Ini skenario suami istri,” jawab Bisma parau.
Dia mengangkat Sandra, mendudukkannya di atas meja makan marmer hitam itu—tepat di atas garis lakban hitam yang membelah wilayah mereka.
Bisma menatap garis lakban itu sejenak, lalu dengan gerakan kasar, dia merobek lakban itu dari meja.
KREEK!
Bisma membuang gumpalan lakban itu ke lantai.
“Mulai malam ini, nggak ada lagi garis batas,” kata Bisma tegas. “Wilayah lu wilayah gue. Masalah lu masalah gue. Tubuh lu...” Bisma mencondongkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan, “...hak gue.”
Sandra tidak protes. Dia justru menarik tengkuk Bisma, meniadakan jarak di antara mereka.
Bibir mereka bertemu.
Bukan ciuman ragu-ragu seperti saat syuting. Bukan ciuman kecelakaan. Ini ciuman yang menuntut, lapar, dan penuh kepemilikan. Bisma melumat bibir Sandra dengan urgensi seolah besok dunia akan kiamat. Sandra membalasnya sama agresifnya, meluapkan semua frustrasi, ketakutan, dan rasa cinta yang selama ini dia sangkal.
Tangan Bisma menyusup ke punggung Sandra, kulit bertemu kulit, panas bertemu panas. Sandra melingkarkan kakinya di pinggang Bisma, menarik pria itu semakin rapat, tidak menyisakan celah sedikit pun untuk udara, apalagi untuk Regina.
“Bisma...” desah Sandra di sela ciuman mereka.
Bisma mengangkat wajahnya sedikit, napasnya memburu. Matanya berkabut gairah. Dia mengusap pipi Sandra dengan ibu jarinya, lalu turun ke bibir Sandra yang bengkak dan merah.
“Besok mereka mau ngehancurin kita,” bisik Bisma, suaranya terdengar berbahaya. “Jadi malam ini... biarin gue ngisi ulang energi lu. Biarin gue pastiin lu inget siapa lu sebenernya.”
“Siapa gue?” tantang Sandra lirih.
“Lu Nyonya Adijaya. Istri Komodo. Dan satu-satunya cewek yang bikin gue rela bakar dunia,” geram Bisma.
Dia kembali menyerang leher jenjang Sandra, meninggalkan tanda kemerahan di sana. Tanda kepemilikan yang sengaja dia buat agar besok, saat Sandra memakai gaun Gala Premiere, sedikit bagian dari tanda itu akan mengintip, memberi pesan pada siapa pun yang melihat: Dia milikku.
Malam itu, di ruang tengah penthouse yang luas dengan pemandangan lampu kota Jakarta, tidak ada lagi Sandra si penulis insecure atau Bisma si aktor arogan.
Hanya ada sepasang suami istri yang saling membelit, saling menguatkan lewat sentuhan, keringat, dan desahan napas yang memecah kesunyian malam. Mereka bercinta bukan hanya karena nafsu, tapi sebagai bentuk perlawanan.
Mereka menyatukan diri untuk menghadapi badai.
Pukul 02.00 Dini Hari.
Kamar utama Bisma—wilayah yang dulu disebut "Kota Terlarang" —kini pintunya terbuka lebar.
Di atas ranjang king size yang seprai sutranya sudah berantakan, Sandra berbaring berbantalkan lengan Bisma. Bisma masih terjaga, jari-jarinya memainkan rambut Sandra, sementara tatapannya menerawang ke langit-langit kamar.
Suasana hening dan damai. Aroma percintaan masih mengambang tipis di udara, bercampur dengan wangi musk tubuh Bisma.
“Bis?” panggil Sandra serak.
“Hm?” Bisma menunduk, mengecup kening Sandra.
“Besok... kalau ternyata gue nggak kuat gimana? Kalau gue nangis di panggung?”
Bisma mengeratkan pelukannya. Dia menarik selimut menutupi bahu polos Sandra.
“Kalau lu nangis, gue cium lu di depan semua orang. Biar mereka bingung mau ngehujat atau mau iri,” jawab Bisma enteng.
Sandra tertawa kecil, getarannya terasa di dada Bisma. “Dasar gila.”
“Serius, San,” nada Bisma berubah lembut. “Besok lu nggak perlu ngomong apa-apa. Cukup berdiri di samping gue. Pegang tangan gue. Senyum yang angkuh. Sisanya biar gue yang urus.”
“Gue percaya sama lu,” bisik Sandra.
Bisma tersenyum. Kalimat itu adalah afrodisiak terbaik yang pernah dia dengar. Dia memutar tubuhnya, menindih Sandra lagi, menatap wajah istrinya yang tanpa makeup namun terlihat paling cantik malam ini.
“Satu ronde lagi?” goda Bisma, alisnya naik-turun. “Biar besok glowing-nya natural.”
“Bisma! Besok mata gue bengkak!” protes Sandra, mendorong dada Bisma pelan.
“Biarin. Biar dikira abis nangis terharu karena punya suami sesempurna gue.”
Bisma tidak membiarkan Sandra protes lagi. Dia membungkam bibir Sandra dengan ciuman yang dalam dan panjang, menyeret mereka kembali ke dalam pusaran gairah yang menenangkan.
Di luar jendela, langit Jakarta masih gelap. Regina mungkin sedang tidur nyenyak, memimpikan kemenangannya besok. Nadine mungkin sedang menyusun rencana jahat.
Tapi di dalam kamar itu, Bisma dan Sandra sudah memenangkan pertempuran pertama: menaklukkan hati dan ego masing-masing.
Mereka siap menyambut fajar.
Keesokan Paginya - Hari H Gala Premiere
Cahaya matahari pagi menerobos masuk. Sandra terbangun sendirian di kasur besar itu.
Dia bangkit, menarik kemeja putih Bisma yang tergeletak di lantai untuk menutupi tubuhnya. Dia berjalan keluar kamar.
Di ruang tengah, pemandangan luar biasa menyambutnya.
Ruang tamunya sudah berubah menjadi salon dadakan. Ada rak berisi deretan gaun-gaun mewah (bukan gaun pinjaman atau bekas properti), meja rias dengan lampu-lampu terang, dan tiga orang stylist profesional yang sedang menata peralatan mereka.
Dan di tengah semua itu, Bisma berdiri. Dia sudah mandi, memakai bathrobe hitam, memegang secangkir kopi.
“Pagi, Nyonya Komodo,” sapa Bisma cerah, seolah semalam dia tidak begadang "olahraga malam".
“Ini... apa?” tanya Sandra bingung.
“Persiapan perang,” jawab Bisma. Dia berjalan mendekati Sandra, merapikan kerah kemeja yang dipakai istrinya (yang kebesaran dan membuatnya terlihat sangat seksi di mata Bisma).
“Regina bilang dia mau permaluin lu. Jadi tugas gue adalah bikin lu keliatan selevel di atas Ratu.”
Bisma memutar tubuh Sandra menghadap deretan gaun.
“Pilih. Atau mau gue yang pilihin? Gue jago buka baju lu, tapi gue juga jago milihin baju buat lu.”
Sandra tersenyum. Rasa takut itu masih ada, tapi sekarang tertutup oleh rasa percaya diri yang ditularkan suaminya.
Dia menatap pantulan dirinya dan Bisma di cermin besar. Mereka terlihat berantakan, tapi mata mereka menyala.
“Pilihin yang paling merah, Bis,” kata Sandra mantap. “Merah darah. Biar Regina tau gue siap bertarung.”
Bisma menyeringai lebar. Dia mencium pipi Sandra sekilas.
“That’s my girl. Ayo kita bikin sejarah.”
Gendang perang sudah ditabuh. Dan pasangan Adijaya siap naik ke panggung.