Kilatan blitz kamera malam itu begitu menyilaukan, seolah ribuan bintang jatuh meledak bersamaan di depan lobi bioskop XXI Epicentrum.
Ratusan wartawan berdesakan di balik pagar pembatas beludru, berteriak-teriak memanggil nama para selebriti yang melintas. Namun, semua kebisingan itu mendadak senyap—lalu meledak menjadi histeria dua kali lipat—saat sebuah Limosin hitam berhenti tepat di ujung karpet merah.
Pintu mobil terbuka. Sepatu pantofel hitam mengkilap turun lebih dulu, diikuti sosok tegap Bisma Adijaya.
Dia memakai tuksedo hitam velvet yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna, dasi kupu-kupu yang rapi, dan rambut yang ditata sleek. Dia tampak seperti pangeran kegelapan yang baru saja turun dari takhtanya.
Bisma tidak langsung berjalan. Dia berbalik, mengulurkan tangannya ke dalam mobil.
“Keluar, Ratu. Jangan gemeteran. Kaki lu mahal,” bisik Bisma.
Sebuah tangan halus menyambut uluran tangan Bisma.
Sandra Gunawan keluar dari mobil.
Malam itu, Sandra bukan lagi penulis naskah yang lusuh atau gadis desa yang polos.
Dia mengenakan gaun sutra berwarna merah darah (blood red) dengan potongan backless yang mengekspos punggung mulusnya—tempat di mana Bisma meninggalkan jejak kemerahan samar tadi malam. Gaun itu memeluk tubuh mungilnya dengan angkuh, kontras dengan kulitnya yang putih pucat.
Rambutnya disanggul modern dengan menyisakan helai-helai ikal yang membingkai wajah. Makeup-nya bold, dengan lipstik merah menyala yang senada dengan gaunnya.
“Gila...” desis salah satu fotografer. “Itu Sandra? Penulisnya?”
“Cantik banget, anjir! Pantesan Bisma nempel!”
Bisma tersenyum miring mendengar komentar itu. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Sandra—posesif, tegas, dan tidak bisa diganggu gugat.
“Siap?” tanya Bisma pelan tanpa menoleh, tetap tersenyum ke kamera.
“Jantung gue mau copot, Bis,” balas Sandra, bibirnya tersenyum manis ke arah kerumunan, tapi tangannya meremas jas Bisma di bagian belakang.
“Jangan copot dulu. Nanti aja di kamar,” goda Bisma. “Sekarang jalan. Angkat dagu. Injek karpet ini seolah lu yang punya gedung.”
Mereka berjalan membelah lautan manusia.
Setiap langkah Sandra diiringi jepretan kamera. Pertanyaan wartawan mulai menyerang seperti peluru.
“Mbak Sandra! Apa benar soal plagiarisme?!” “Mas Bisma! Hubungan kalian sebenarnya apa?!” “Sandra! Apa benar kamu punya penyakit menular?!”
Mendengar pertanyaan terakhir, langkah Bisma terhenti. Dia menoleh ke arah wartawan yang bertanya—seorang pria berkacamata tebal.
Bisma melepas kacamata hitamnya. Tatapannya dingin menusuk.
“Mas,” panggil Bisma lewat mikrofon yang disodorkan wartawan lain. Suaranya bergema, membuat suasana hening.
“Istri... maksud saya, partner saya ini, baru aja cek kesehatan live kemarin. Hasilnya bersih. Kalau Mas masih nanya soal penyakit, kayaknya Mas yang butuh periksa ke dokter THT. Kupingnya bermasalah, ya?”
Wartawan itu kicep, mundur teratur. Penonton bersorak tertawa.
“Dan satu lagi,” lanjut Bisma, mengeratkan rangkulannya di pinggang Sandra. “Kalau ada yang nanya soal plagiat lagi... tanya sama pengacara saya. Dia lagi nonton di pojokan sambil makan popcorn.”
Bisma menarik Sandra kembali berjalan, meninggalkan para wartawan yang sibuk mencatat headline baru: "Bisma Adijaya Pasang Badan: Partner Saya Bersih & Jenius!"
Di dalam VIP Lounge, suasana jauh lebih dingin daripada di luar. AC ruangan terasa membekukan tulang, atau mungkin itu karena aura dari wanita yang duduk di sofa tengah.
Regina Adijaya.
Sang Ratu mengenakan gaun emas yang mewah, duduk sambil memegang gelas champagne. Di sebelahnya, Nadine duduk manis dengan gaun putih berenda, tampak seperti putri dongeng yang lugu—kontras sekali dengan Sandra yang serba merah.
Saat Bisma dan Sandra masuk, percakapan di ruangan itu terhenti. Para investor, produser, dan artis lain menatap mereka.
“Selamat datang, Bintang Utama,” sapa Regina tanpa berdiri. Matanya menyapu penampilan Sandra dari ujung kaki ke ujung kepala. Ada kilatan tidak suka saat melihat gaun merah itu. Terlalu berani. Terlalu menantang.
“Malam, Ma,” jawab Bisma datar. Dia tidak mencium tangan ibunya seperti biasa. Dia hanya mengangguk sopan.
“Tante Regina,” sapa Sandra kaku.
Regina tersenyum tipis. “Gaun yang... menarik, Sandra. Sedikit terlalu terbuka untuk acara keluarga, tapi cocok untuk... masa lalumu.”
Sindiran itu halus tapi tajam. Mengingatkan Sandra pada status sosialnya.
Sebelum Sandra sempat menjawab (atau meledak), Bisma sudah menyela.
“Terbuka dikit nggak apa-apa, Ma. Kan kulitnya bagus. Nggak perlu ditutupin pake foundation tebel kayak tembok istana,” balas Bisma santai, mengambil segelas air mineral.
Wajah Nadine memerah, merasa tersindir karena bedaknya memang agak tebal malam ini.
“Duduklah,” perintah Regina, mengabaikan komentar Bisma. “Acaranya sebentar lagi mulai. Mama sudah siapkan kejutan di panggung pembukaan.”
“Kejutan apa?” tanya Bisma waspada.
“Lihat saja nanti.”
Lampu bioskop meredup. Acara dimulai.
MC yang disewa Regina—seorang presenter gosip terkenal—naik ke panggung dengan semangat berlebihan.
“Selamat malam hadirin sekalian! Malam ini kita akan menyaksikan Opia, film yang paling ditunggu tahun ini!”
Tepuk tangan membahana. Sandra duduk di barisan depan di samping Bisma. Tangannya dingin. Bisma menggenggamnya erat di bawah sandaran tangan kursi.
“Sebelum film dimulai,” kata MC dengan nada dramatis, “Ibu Regina selaku Eksekutif Produser ingin memberikan persembahan spesial. Mari kita sambut... Pasangan Emas kita!”
Layar besar di belakang panggung menyala.
Bukan trailer film yang muncul.
Melainkan slide show foto-foto Bisma dan Nadine. Foto mereka saat pemotretan majalah, foto saat acara amal, foto rekayasa angle yang membuat mereka terlihat mesra.
Musik romantis cheesy mengalun.
Sandra membeku. Jantungnya berhenti berdetak. Ini rencananya? Menghapus eksistensi Sandra di malam filmnya sendiri?
“Kita panggil ke atas panggung... Bisma Adijaya dan Nadine! Sebagai simbol kesuksesan film ini!” seru MC.
Lampu sorot (spotlight) jatuh ke kursi Bisma. Lalu ke kursi Nadine yang duduk di seberang lorong.
Nadine berdiri dengan wajah pura-pura kaget yang sangat palsu, melambaikan tangan dengan anggun.
“Ayo, Bisma! Naik!” desak MC.
Penonton bertepuk tangan, mengira ini memang bagian dari promosi film. Bisma dan Nadine sebagai couple film. Padahal Nadine hanya peran pembantu!
Sandra merasa kerdil. Dia menunduk, ingin menghilang ditelan kursi bioskop. Regina di barisan belakang tersenyum puas. Skakmat, Sandra.
Bisma tidak bergerak. Rahangnya mengeras. Dia melihat Sandra yang menunduk. Dia melihat ibunya yang tersenyum licik.
“Bis... naik aja,” bisik Sandra parau. “Jangan bikin malu.”
Bisma menoleh ke Sandra. “Gue emang mau naik. Tapi gue nggak bakal main sesuai skrip Mama.”
Bisma berdiri. Dia mengancingkan jasnya.
Alih-alih berjalan ke arah Nadine yang sudah menunggunya di tangga panggung, Bisma mengulurkan tangannya ke Sandra.
“Ayo,” kata Bisma.
“Hah? Gue?”
“Ini film lu. Ini cerita lu. Lu yang harus di sana.”
Tanpa menunggu jawaban, Bisma menarik tangan Sandra. Memaksanya berdiri.
Penonton bingung. MC bingung. Nadine di atas panggung melotot horor.
Bisma menuntun Sandra menaiki tangga panggung. Sandra yang gemetar nyaris tersandung gaunnya sendiri, tapi Bisma dengan sigap memegang pinggangnya, membuatnya terlihat seperti gerakan dansa yang elegan.
Mereka sampai di tengah panggung. Bisma mengambil mikrofon dari tangan MC yang bengong.
“ Cut the music,” perintah Bisma dingin.
Musik romantis itu mati mendadak. Slide show foto Nadine di belakang masih berjalan, terlihat konyol.
“Maaf menginterupsi 'Kejutan' yang agak nyasar ini,” kata Bisma, suaranya tenang tapi mengintimidasi.
“Saya bingung kenapa ada foto Nadine di situ. Padahal Nadine cuma main jadi pohon di scene 5,” canda Bisma sarkas. Penonton tertawa, meski Nadine rasanya ingin pingsan di tempat.
Bisma menunjuk Sandra yang berdiri kaku di sebelahnya.
“Ini Sandra Gunawan. Penulis novel Opia. Penulis naskah film ini. Otak di balik semua dialog yang bakal kalian denger.”
Bisma menatap penonton, lalu matanya terkunci pada Regina yang duduk di box VVIP di atas.
“Tanpa dia, gue cuma aktor yang komat-kamit nggak jelas. Tanpa dia, Opia nggak ada. Jadi, kalau kalian mau tepuk tangan buat 'Pasangan Emas'... tepuk tangan buat kolaborasi gue sama dia.”
Hening sejenak.
Lalu, satu orang mulai bertepuk tangan. Doni. Lalu Nia. Lalu para kru film. Dan akhirnya, seluruh gedung bioskop bergemuruh memberikan standing ovation.
Sandra ternganga. Air mata merebak di sudut matanya. Dia melihat Bisma yang tersenyum bangga padanya.
Tapi Bisma belum selesai.
Dia melihat Nadine masih berdiri canggung di ujung panggung, dan Regina yang wajahnya merah padam menahan amarah.
Bisma ingin memberikan finishing touch.
Dia mematikan mikrofonnya sejenak, lalu berbisik pada Sandra.
“San, lu percaya gue?”
“Selalu,” jawab Sandra otomatis.
“Oke. Tahan napas.”
Bisma kembali menyalakan mikrofon, lalu berkata, “Dan untuk menjawab semua gosip di luar sana tentang hubungan kami...”
Bisma tidak melanjutkan kalimatnya.
Dia menarik pinggang Sandra, memiringkan tubuh wanita itu secara dramatis seperti adegan ikonik film Hollywood, dan mencium bibirnya.
Di atas panggung. Di depan ratusan kamera. Di depan ibunya. Di depan Nadine.
Bukan ciuman pipi. Ciuman di bibir. Tegas, romantis, dan mutlak.
Lampu blitz meledak gila-gilaan. Penonton histeris. MC menjatuhkan mikrofonnya.
Bisma melepaskan ciuman itu setelah lima detik yang terasa seperti selamanya. Dia menatap Sandra yang wajahnya sudah semerah gaunnya.
“Itu jawabannya,” kata Bisma ke audiens.
Lalu dia berbisik pelan ke telinga Sandra yang masih syok, “Gimana? Kurang panas nggak? Apa perlu gue salto?”
Sandra menginjak kaki Bisma dengan heels 12 cm-nya. Keras.
“Aduh!” Bisma meringis, tapi tetap tersenyum lebar ke kamera.
“Lu gila! Nanti Mama lu ngamuk!” desis Sandra tanpa suara.
“Biarin,” balas Bisma, menggenggam tangan Sandra dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.
“Malam ini kita menang, Nyonya Komodo. Besok baru kita pikirin cara kabur dari negara ini.”
Di box VVIP, gelas champagne di tangan Regina pecah karena remasan tangannya yang terlalu kuat.
Darah menetes dari tangannya, bercampur dengan anggur mahal.
“Anak kurang ajar,” desis Regina. “Kamu memilih perang terbuka? Baiklah. Mama akan berikan perang dunia.”