Drama

Sosiopat - Awal Permainan Balas Dendam Alina - Bab 11

Penulis Ichan
29 November 2025

Awal Permainan Balas Dendam Alina

Rania tak pernah bisa tidur nyenyak lagi setelah kejadian di parkiran kampus siang itu dan jauh lebih parah setelah insiden malam tadi ketika ia menabrak seseorang tanpa sempat benar-benar melihat wajah korban yang terguling di jalan. Sejak itu, ketakutan datang seperti bayangan yang mengikuti di setiap sudut pandang. Ketika ia berjalan di trotoar menuju kantornya, suara langkah kaki di belakangnya terdengar terlalu jelas. Saat ia menutup pintu apartemen mewahnya, gema pintu seperti suara seseorang yang sedang menyusup dan di tengah semua itu, Alina mulai bergerak.

Rencana balas dendam yang ia susun dari ranjang rumah sakit tak berhenti pada satu kejadian. Baginya itu baru pembukaan, sebuah sentuhan pertama yang harus membuat lawannya goyah. Ia tahu Rania tipe yang mudah hancur ketika berada di bawah tekanan. Cantik, populer, berkuasa, tetapi rapuh seperti kaca tipis. Hanya perlu satu getaran kecil untuk membuatnya pecah berkeping-keping.

Dan Alina, yah, dia memilih menjadi getaran itu.


Malam pertama Alina keluar dari rumah sakit, ia duduk di dalam kamarnya yang remang. Satu lampu meja menyala redup, menciptakan bayangan lembut di wajahnya. Luka di kepalanya sudah dijahit, sakitnya berdenyut pelan, tetapi justru rasa itu membuatnya semakin fokus. Di meja, terdapat ponsel Arkanza yang ia pinjam sementara.

Di layar, plat nomor mobil Rania yang ia catat di memo tampak jelas.

Alina tersenyum kecil. Sebuah senyum yang benar-benar pertama kali muncul sejak bertahun-tahun. Senyum kemenangan.

Ia mulai menyiapkan akun email palsu, nomor telepon internet, foto-foto posisi mobil Rania yang ia ambil diam-diam beberapa minggu lalu dan rekaman suara samar-samar ancaman yang ia edit dengan aplikasi hingga terdengar seperti suara laki-laki asing

Semua itu akan menjadi bahan permainan kegelapannya. Ia menekan tombol kirim pada email pertama. “TUNGGU BALASANNYA. KAU AKAN MENDAPAT GILIRAN.”

Tak ada nama pengirim, tak ada petunjuk. Hanya huruf-huruf besar yang dingin seperti ruang gelap.


Keesokan paginya, Rania baru sampai kantor ketika notifikasi email masuk. Rambutnya masih lembap karena mandi terburu-buru. Ia sudah terlambat dan belum sempat sarapan. Mata sembab karena tidak tidur hampir semalam suntuk.

Ketika membaca pesan itu, jantungnya serasa berhenti. Tangannya gemetar. Kacamatanya hampir jatuh.

“Tidak mungkin. Tidak mungkin ada yang tahu,” bisiknya panik.

Ia melihat sekeliling, mencari-cari siapa di kantor yang tampak memperhatikannya. Semuanya bekerja normal, sibuk dengan layar komputer masing-masing. Namun, bagi Rania semuanya tampak mencurigakan.

Ia menutup laptop dengan keras dan berlari ke toilet. Begitu pintu menutup, ia terisak kecil.

“Mereka tahu, seseorang tahu.”


Sementara itu, Arkanza diam-diam memperhatikan Alina di ruang tamu rumahnya. Rupanya ia memaksa Alina tinggal sementara di rumahnya sampai pulih. Arkanza sendiri yang meminta, bukan Alina. Ia terlalu takut melepas Alina sendirian di rumah setelah apa yang terjadi.

“Lin…” panggilnya pelan.

“Hm?” Alina menoleh dengan wajah yang tampak lemah, tetapi mata yang menyimpan kilatan sesuatu.

“Kamu yakin nggak apa-apa? Kalau butuh istirahat, kamu tinggal bilang.”

Alina tersenyum lembut, senyum yang selalu membuat Arkanza merasa ingin melindunginya dengan seluruh hidupnya.

“Kan, kamu yang bilang mau jagain aku. Jadi, kamu nggak boleh jauh-jauh dulu.”

Arkanza mengangguk cepat, seperti anak kecil yang baru diberi tugas penting.

Alina menatapnya lama-lama, memastikan genggamannya atas hati laki-laki itu sudah cukup kuat dan ketika Arkanza tidak memperhatikan, ia kembali pada ponselnya, menyiapkan ancaman berikutnya.


Malam hari.

Rania pulang ke apartemennya yang mewah di lantai 19. Lift malam itu terasa terlalu sunyi, terlalu lambat. Lampu di dalamnya berkelip sepersekian detik dan membuat jantung Rania hampir copot.

Ia memeluk tas erat-erat.

Begitu pintu apartemen terbuka, ia langsung menyalakan semua lampu. Ia benci gelap saat itu. Hatinya berdebar tanpa alasan jelas.

Sampai ia melihat sesuatu yang membuat dadanya serasa dicekik. Di depan pintu balkon apartemennya, ada secarik kertas terselip.


Rania menahan napas, lututnya hampir goyah. Ia mengambil kertas itu dengan dua jari yang gemetar.

Isi kertas itu. 'KAU MENABRAKNYA. KAU LARI DAN KAMI SUDAH MENEMUKANMU.'

Tulisan itu dibuat dengan huruf yang dipotong-potong dari majalah, cara klasik, tetapi justru membuatnya lebih mengerikan.

“K-Kenapa… siapa… siapa kalian?” Rania terisak.

Ia menjatuhkan kertas itu, menutup wajah dengan kedua tangan, lalu menangis histeris. Namun, tangisannya langsung terhenti ketika ia mendengar bunyi kecil seperti dering notifikasi ponselnya.

Ia meraih ponselnya dengan tangan dingin dan melihat pesan baru dari nomor tak dikenal.

“Bagaimana rasanya melihat darah orang lain di aspal malam itu?”

Rania membeku. Bibirnya bergetar.

“Tidak… siapa pun kamu… jangan lagi!” Namun, pesan berikutnya masuk.

“TIDAK ADA YANG AKAN MENYELAMATKANMU.”

Rania menjatuhkan ponselnya.


Di rumah Arkanza, Alina duduk di balkon sambil menyeruput teh, wajahnya tenang. Ponselnya bergetar, ia membuka pesan terkirim dari akun palsu tadi. Lalu ia tersenyum tipis seolah sedang menyaksikan bunga mekar.

Arkanza muncul membawa jaket.

“Kamu kedinginan? Anginnya kencang.”

Alina menoleh perlahan, seolah baru tersadar.

“Aku cuma kepikiran sesuatu.”

“Apa?”

“Orang yang nyakitin aku. Mungkin dia nggak akan kapok kalau cuma dibiarkan.”

Arkanza mendekat, seluruh tubuhnya tegang.

“Kalau kamu mau melapor ke polisi.”

“Bukan itu.” Alina memotong tajam, kemudian menurunkan nada suaranya menjadi lembut, rapuh.

“Aku cuma takut. Kalau dia masih melakukan hal yang sama ke orang lain.”

Arkanza menggenggam tangannya.

“Aku bakal lindungin kamu. Apa pun caranya.”

Alina tersenyum, senyuman yang menyimpan racun halus.

“Aku tahu.” Ia menatap laki-laki itu lama-lama. Ekspresi Arkanza menunjukkan kekhawatiran, cinta, dan sedikit ketakutan kehilangan dan bagi Alina, itu cukup untuk membuatnya yakin, Arkanza sudah berhasil ia tarik ke dalam kegelapannya.

Sepenuhnya.


Beberapa hari berikutnya, teror kepada Rania meningkat.

Di kantor, ia menemukan amplop coklat di atas mejanya berisi foto-foto mobilnya dari berbagai sudut. Bahkan ada foto yang menunjukkan mobil itu sedang terparkir di basement apartemennya.

Rania hampir pingsan.

Ia meminta izin ke toilet, tetapi sesampainya di sana ia malah muntah saking paniknya.

Temannya mencoba menenangkan, tetapi Rania hanya bisa bergetar dan berkata. “Mereka mengikuti aku… selama ini.”

Tak ada yang benar-benar mengerti.


Di apartemen, ancaman semakin nyata, seperti TV menyala sendiri di tengah malam, lampu kamar mandi berkedip-kedip padahal baru diganti dan ada bunyi ketukan pelan di pintu balkon setiap malam pukul dua

Rania sudah hampir gila.

Sementara itu, semua itu adalah permainan Alina yang sangat terencana. Ia tidak perlu menyusup secara fisik, cukup membayar seseorang yang ia kenal dari masa lalu, seseorang yang tak pernah bertanya dan hanya menerima uang. Orang itu tinggal di gedung yang sama, hanya beda dua lantai.

Ia membayar agar lampu Rania sengaja dibuat korslet kecil. Ia membayar untuk mengetuk balkon setiap jam tertentu. Ia membayar untuk menaruh amplop depan pintu Rania dan setiap kali melihat video hasil rekaman aksi itu, Alina tersenyum.

“Semakin cepat kau runtuh, semakin baik,” gumamnya.

Arkanza yang lewat di belakangnya mengira Alina sedang menonton film thriller.

“Aku nggak ngerti kamu suka film horor begini,” katanya.

Alina mematikan layar sebelum Arkanza sempat melihat jelas.

“Dulu aku takut,” ujarnya lembut, “tapi sekarang… rasanya biasa saja.”

Arkanza hanya tersenyum kecil dan mengusap kepalanya, tidak tahu bahwa yang sedang ia usap adalah seseorang yang telah merencanakan kehancuran orang lain dengan ketenangan luar biasa.

Perlahan, ia terseret ke dunia Alina karena cinta itu buta dan buta itu berbahaya.


Rania keluar dari kantor dengan wajah kusut. Rambut acak-acakan, mata merah, tubuh lelah. Ia terus merasa ada seseorang mengikutinya. Setiap kali ia menoleh, tidak ada siapa-siapa. Tetapi suara langkah itu selalu terdengar.

Di parkiran, ia berjalan cepat menuju mobil. Tangannya gemetar saat menekan remote.

Beep.

Lampu mobil berkedip. Ia menarik napas lega sedikit. Namun, begitu ia hendak membuka pintu, ponselnya berbunyi.

Nomor tak dikenal.

Dengan napas yang hampir putus, ia menjawab.

“H-Halo?”

Suara berat, seperti suara laki-laki asing yang terdistorsi. “LARI KE MANA PUN, KAU TIDAK AKAN AMAN.”

Rania menjerit dan melempar ponselnya. Ia berlari menyeberangi jalan tanpa melihat kanan-kiri. Air matanya jatuh, pandangannya kabur dan saat itu sebuah mobil melintas cepat.

Teriakan orang-orang terdengar, klakson panjang memenuhi udara.

Rania terpental ke samping. Tidak sampai membuat tubuhnya terpukul parah. Namun, cukup untuk menjatuhkannya ke aspal. Ia tidak pingsan, tetapi syok.

Sopir panik turun dengan wajah tegang.

“Saya, saya nggak lihat dia! Dia tiba-tiba nyebrang!”

Rania gemetar hebat. Tangannya menutupi mulut yang bergetar.

“Jangan… jangan sakiti aku lagi… aku tidak sengaja… aku tak sengaja menabraknya!”

Sopir bingung. Kerumunan makin banyak dan di tempat lain, di balkon rumah Arkanza. Alina menerima pesan dari orang suruhannya.

“Target panik, lari ke jalan. Hampir ketabrak beneran, tapi masih hidup.”

Alina menutup pesan itu perlahan.

Ia tersenyum.

Senyum puas. Senyum yang tidak lagi menyisakan belas kasihan.

Arkanza muncul dari belakangnya.

“Ada apa?”

Alina menoleh, menyimpan ponselnya.

“Ar,” katanya dengan suara manis namun mata yang gelap, “kadang, keadilan itu harus dibuat sendiri. Kamu ngerti, kan?”

Arkanza menatapnya lama. Ia tidak mengerti sepenuhnya, tapi ia mencintai Alina dan itu sudah cukup untuk membutakan apa pun yang seharusnya ia curigai.

Ia mengangguk.

“Kalau itu bikin kamu aman… aku bakal dukung apa pun.”

Alina tersenyum.

“Bagus.”

Karena permainan baru saja dimulai dan Rania bukan satu-satunya target dari masa lalu yang ingin ia selesaikan.