"Sedang apa kalian di sini?"
Suara itu membuat Sarah dan Mia menegang. Keduanya menoleh hampir bersamaan.
Di belakang mereka berdiri seorang pria tua berjaket cokelat lusuh, wajahnya penuh kerutan yang tampak seperti dikelupas angin dan waktu. Matanya sipit, namun tajam seolah bisa menembus puing-puing dan melihat sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar bangunan hangus.
Ia membawa kantong belanja berisi sayuran. Seorang penduduk lokal, pikir Sarah.
Atau… saksi.
Pria tua itu memandang mereka lama, sebelum akhirnya berkata, suaranya berat namun tidak mengancam, "Kalian bukan orang sini."
Mia mundur setengah langkah. "Eh… iya, Pak. Kami dari Jakarta. Kami ke sini karena… sedang cari seseorang."
"Siapa?" tanya si pria tua sambil menyipit.
Sarah menahan napas. "Pemilik toko ini. Sekitar dua atau tiga minggu lalu… saya pernah datang ke sini."
Pria tua itu memandang toko hangus itu lama, lalu menarik napas dalam. "Tidak mungkin."
"Saya pernah masuk ke sini," ulang Sarah, lebih tegas, meski suaranya bergetar.
Pria tua itu menggeleng sangat pelan. "Nak… toko ini terbakar lima tahun lalu. Pemiliknya meninggal di dalam."
Darah Sarah seolah membeku.
Mia meraih lengan Sarah. "Pak… apa Bapak yakin? Lima tahun lalu?"
"Yakin," pria tua itu menatap mereka dengan sorot yang aneh, seperti seseorang yang sudah lama tidak melihat orang asing berani berdiri di lokasi ini. "Pak Tama, pemiliknya, tewas terjebak di dalam saat kebakaran. Api datang tiba-tiba, katanya dari lantai bawah. Banyak yang bilang bukan kebakaran biasa."
"Bukan kebakaran biasa… maksudnya?" tanya Sarah pelan, tenggorokannya terasa kering.
Pria tua itu menoleh ke kanan-kiri, seolah takut ada yang mendengar. "Di kota ini, ada beberapa barang yang tidak seharusnya disimpan manusia. Pak Tama… mengumpulkan banyak barang seperti itu."
Sarah menelan ludah. "Maksud Bapak seperti... benda-benda spiritual?"
Pria tua itu memandangnya cepat, seakan terkejut Sarah tahu. "Iya. Barang-barang yang tidak wajar. Terkutuk, kata sebagian orang."
Mia menutup mulutnya. "Termasuk… cermin?"
Si pria tua menegang sesaat, lalu mengembuskan napas panjang. "Cermin hitam kecil?"
Sarah dan Mia saling pandang.
"Itu salah satunya," kata pria tua itu lirih.
Sarah merasa jantungnya berdegup kencang. "Bapak tahu tentang cermin itu?"
"Tahu," jawabnya tanpa keraguan.
"Apa Bapak tahu cara menghancurkan cermin itu?" tanya Mia.
Pria tua itu tersenyum tipis. "Memegangnya saja saya tidak berani, apalagi sampai tahu cara menghancurkannya."
Mia dan Sarah terlihat kecewa.
"Tapi, tidak ada yang tahu ke mana perginya cermin itu setelah kebakaran," ucap pria tua itu.
Sarah berpikir cepat. "Berarti… sebelum kebakaran… Pak Tama masih memiliki cermin itu?"
"Tentu. Itu salah satu barang paling… berbahaya yang pernah dia simpan."
Berbahaya.
Kata itu seperti kabut hitam yang menggantung di antara mereka.
Sarah memaksakan suara keluar. "Pak… kalau pemiliknya meninggal, siapa yang sekarang menyimpan barang-barangnya?"
Pria tua itu menghela napas dan mulai melangkah keluar dari area puing. "Ikuti saya."
Sarah dan Mia saling tatap, ketakutan dan harapan bercampur jadi satu. Mereka lalu mengikuti lelaki itu ke dalam gang sempit yang mengarah ke deretan kios tua.
Gang itu dipenuhi aroma anyir logam dan barang berdebu. Cahaya lampu kuning muram memantul di lantai yang basah. Mereka masuk ke area yang tampak seperti pasar loak, tapi lebih sunyi. Entah kenapa, setiap langkah yang mereka ambil terasa semakin berat.
"Banyak orang datang ke pasar antik," ujar pria tua itu sambil berhenti di depan sebuah kios kecil yang dipenuhi payung tua dan perabotan kuningan. "Tapi, tidak semua orang berani menanyakan soal Pak Tama."
Pria tua itu membuka lapaknya. Ia duduk di kursi kayu reyot, menaruh kantong belanja di lantai. "Duduklah."
Sarah dan Mia menurut, walau keduanya tetap tegang.
"Apa Bapak tahu apa yang menyebabkan kebakaran itu?" tanya Sarah.
Pria tua itu menyandarkan tubuhnya. "Banyak versi. Ada yang bilang korsleting. Ada yang bilang sabotase. Tapi warga lama tahu… ada sesuatu yang keluar malam itu."
Mia merinding. "Sesuatu?"
"Bayangan," jawab pria tua itu, menatap mereka dengan mata yang tiba-tiba tampak lebih gelap dari sebelumnya. "Bentuknya tidak jelas. Tapi beberapa warga lihat sesuatu bergerak di antara asap."
Sarah menahan napas.
"Dan sejak hari itu," pria tua itu melanjutkan, "tidak ada satu pun barang dari toko itu yang ditemukan di lokasi kebakaran."
Sarah berkedip. "Maksud Bapak… barang-barangnya hilang?"
Pria tua itu mengangguk. "Semuanya raib. Raknya terbakar. Bangunannya habis. Tapi benda-benda koleksinya, termasuk cermin hitam kecil itu, tidak ditemukan."
Mia menempelkan tangannya ke pipi. "Tuhan…"
Sarah merapatkan jaketnya. "Jadi… siapa yang terakhir memegang barang-barang itu? Ada ahli waris?"
"Ada," jawab pria tua itu sambil mencondongkan badan sedikit. "Pak Tama punya anak. Laki-laki. Masih muda waktu itu."
Sarah menahan napas.
"Namanya Reno," lanjut si pria tua. "Reno Gutama. Dialah yang mewarisi semua koleksi spiritual ayahnya."
Perut Sarah serasa mengencang. "Bapak tahu dia tinggal di mana?"
"Sekarang?" pria tua itu menggeleng. "Tidak ada yang benar-benar tahu. Setelah kebakaran, dia jarang terlihat. Ada yang bilang dia pindah kota. Ada yang bilang dia masih ada di Indahpura tapi tidak ingin diganggu."
"Bapak sendiri percaya yang mana?" tanya Mia.
Pria tua itu tersenyum tipis. "Saya percaya… dia tidak pernah pergi jauh."
Sarah berusaha menjaga napas tetap stabil. "Pak… kami butuh ketemu dia. Sangat butuh."
Pria tua itu memperhatikan Sarah lama, seolah menimbang-nimbang tekad gadis itu. "Kalian terlihat seperti orang yang sedang dikejar sesuatu."
Sarah meremas sisi kursinya. "Bukan ‘seperti’, Pak. Kami memang dikejar."
"Kami butuh jawabannya," tambah Mia.
Hening tercipta sejenak.
Pria tua itu kemudian mengangkat tangan, mengambil sesuatu dari bawah meja, sebuah buku catatan lusuh dengan sampul cokelat tua. Ia menyodorkannya kepada Sarah.
"Apa ini?" tanya Sarah.
"Alamat seorang tetua yang dulu dekat dengan keluarga Gutama. Dia mungkin tahu keberadaan Reno."
Sarah menerima buku itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih banyak, Pak."
"Tapi peringatan untuk kalian," ujar pria tua itu, suaranya turun satu oktaf. "Jika kalian mencari Reno… kalian juga akan mendekati barang-barang ayahnya."
Sarah menatapnya. "Itu memang tujuan kami."
Pria tua itu menggeleng perlahan, sangat pelan, seakan tidak ingin mendengar kata itu. "Benda seperti cermin hitam… tidak mengikuti pemilik barunya. Benda itu memilih."
Sarah menegang. "Maksudnya…?"
"Jika cermin itu sudah berinteraksi dengan kalian…" Pria tua itu menatap Sarah lama sekali, sorot matanya berubah menjadi ngeri. "Maka apa pun yang kalian cari… juga sedang mencari kalian."
Suasana tiba-tiba menjadi sangat dingin.
Mia meraih lengan Sarah, dan berbisik, "Sar, kita pergi aja… gue gak suka tempat ini."
Sarah berdiri, mengatupkan buku catatan itu erat-erat. "Pak… terima kasih banyak atas bantuannya."
"Jaga diri kalian," ucap pria tua itu perlahan.
Mereka berdua keluar dari kios kecil itu, kembali ke gang sempit. Suara langkah kaki mereka menggema samar. Udara terasa lebih lembap, lebih sunyi.
Setelah beberapa meter, Mia bertanya dengan suara gemetar, "Sar… lo yakin mau lanjutin ini?"
Sarah memandangi buku catatan di tangannya. "Kita gak punya pilihan, Mi. Kita harus ketemu Reno."
"Tapi… kalau yang pak tua itu bilang bener…" Mia menelan ludah. "Kalau cermin itu… milih lo…?"
Sarah menghentikan langkah. "Mi, dari awal cermin itu emang milih gue. Dan kalau gue gak nyari tau… bakal ada korban berikutnya. Gue gak mau itu terjadi."
Mia memejamkan mata, lalu menghela napas panjang. "Gue tau…"
"Satu-satunya yang bisa jelasin semuanya adalah orang yang sekarang punya barang-barang itu. Reno Gutama."