Cermin Aneh

Penulis Levanter
29 November 2025

Udara malam Kota Indahpura terasa lebih dingin dari sebelumnya saat Sarah dan Mia melangkah keluar dari gang itu. Lampu jalan kuning temaram memantulkan bayangan panjang di aspal basah, seolah mengiringi mereka dengan langkah yang tidak terdengar.

Mia memegang lengan Sarah erat-erat, tidak mengeluh, tapi jelas ketakutan. "Sar… kita serius mau lanjutin ini?" tanyanya lirih.

Sarah mengangguk tanpa menoleh. "Kita istirahat dulu malam ini, besok baru cari alamat tetua itu pagi-pagi." Ia menepuk buku catatan tua di tangannya. "Sebelum semuanya tambah kacau."


Mereka memesan kamar hotel sederhana tidak jauh dari pasar antik, bangunan lama tiga lantai dengan lobby kecil yang bau karbol. Hanya ada seorang resepsionis muda yang tampak setengah mengantuk di balik meja.

"Dua orang?" tanyanya sambil melihat mereka sekilas.

"Iya," jawab Sarah.

"Kamar 203, ya. Lantai dua, ujung kanan."

Sarah menerima kunci manual yang dingin dan cukup berat. Lorong menuju kamar cukup panjang dan remang, lampunya kedap-kedip di beberapa titik.

Mia menghela napas panjang. "Aneh banget ya hotelnya."

"Selama murah dan aman, gue gak masalah," balas Sarah, meski sebenarnya ia sendiri juga merasa bulu kuduknya berdiri.

Setibanya di kamar 203, keduanya langsung masuk dan mengunci pintu. Kamar itu kecil tapi bersih. Dua ranjang kecil, meja kecil di antara mereka, AC yang berisik, serta sebuah cermin besar di dekat pintu kamar mandi. Bukan cermin hitam, hanya cermin biasa, tapi keberadaannya membuat Sarah sedikit tidak nyaman.

Ia meliriknya sebentar, lalu memalingkan wajah. "Mi, mandi dulu sana. Gue mau cek lagi alamatnya."

Mia mengangguk dan masuk ke kamar mandi.

Sementara itu, Sarah duduk di ranjang, membuka buku catatan lusuh itu. Di halaman tengah, ada tulisan tangan yang tampak terburu-buru.

Kuncoro Wiratmaja — Tetua Penjaga Relik Lama.

Desa Gunungsepi, Blok 7 — Rumah Paling Atas.

Tidak ada nomor telepon. Tidak ada catatan tambahan. Hanya itu.

Sarah menghela napas, lalu bergumam, "Jadi kita harus naik ke desa terpencil besok…"

Kriettt

Pintu kamar mandi terbuka sedikit.

"Eh, Sar," Mia memanggil, kepalanya menyembul. "Lo mau mandi duluan gak? Air panasnya masih banyak."

"Nanti. Lo duluan aja," jawabnya sambil menoleh sekilas.

"Oke."

Sarah kembali menatap catatan itu.

Namanya asing. Lokasinya terdengar jauh. Tapi ia tahu satu hal yang pasti bahwa perjalanan besok tidak akan mudah.

Saat ia hendak menutup buku itu, ponselnya bergetar di samping bantal.

Satu pesan masuk.

Sarah meraih ponsel, membuka notifikasi, dan tubuhnya langsung menegang.

BERITA LOKAL HARI INI: Warga Indahpura Geger. Pria Ditemukan Tewas Tanpa Bola Mata di Dalam Rumahnya…

Sarah menelan ludah. Ia menyelami berita itu lebih jauh, membaca detailnya dengan cepat.

Korban bernama Randi, usia 20 tahun. Ditemukan oleh tetangga dalam kondisi mengenaskan.

Nama itu familiar. Sangat familiar.

Lalu tiba-tiba, Mia keluar dari kamar mandi, masih mengeringkan rambut. "Sar? Lo kenapa kelihatan pucat banget?"

Sarah menunjukkan layar ponsel. "Mi… gue kenal orang ini."

Mia mendekat, lalu mengernyitkan keningnya. "Randi… siapa?"

"...yang pernah bully gue waktu SMA." Suara Sarah pecah sedikit.

Mia terdiam sejenak, lalu duduk di samping Sarah. "Sar… itu cuma kebetulan."

"Mi…" Sarah menatapnya tajam. "Kalau cuma satu korban, iya. Tapi ini gak cuma satu."

Ia membuka notifikasi lain. Satu per satu judul berita muncul.

‘Wanita Muda Ditemukan Tewas Terlindas…’

‘Pria 30 Tahun Tewas Terseret Sungai Deras…’

‘Korban Ketiga Hari Ini Ditemukan…’

Sarah membuka berita berikutnya, tangannya gemetar. Nama korban ketiga adalah Nadia, mantan teman sekelasnya di SMP yang dulu sering menyebarkan gosip tentang dirinya.

Mia menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Ya Tuhan…"

"Mi, dua orang yang gue kenal dalam satu malam," ujar Sarah pelan, hampir berbisik. "Dan dua-duanya… gak suka sama gue."

"Sar… ini gak normal."

Sarah meraih tasnya dan mencoba mencari sesuatu. "Gue yakin ini pasti ada hubungannya sama cermin itu."

Mia memperhatikannya dalam diam dan sedikit gelisah.

"Ada." Sarah mengusap wajahnya sambil bergumam, "Pasti ada."

Lalu, saat menemukan cermin yang ia cari, Sarah menelan salivanya gugup. "Cermin ini rasanya... beda."

Mia menoleh bingung. "Beda gimana maksud lo?"

Sarah terdiam cukup lama. Tangan dan matanya sibuk mengecek cermin kecil berwarna hitam di tangannya. "Rasanya cermin ini jadi kayak cermin biasa. Bukan cermin menakutkan yang suka nunjukkin wajah targetnya."

"Kok bisa?"

Sarah mengangkat bahunya. "Aneh."

"Atau mungkin ini juga efek dari jimat yang dikasih Ki Surya sebelumnya?" ucap Mia ragu, mencoba menebak.

Sarah mengangguk pelan. "Masuk akal sih. Dan... karena Randi sama Nadia udah meninggal juga, gak mungkin wajahnya muncul lagi di cermin itu."

"Terus, apa itu berarti saat ini belum ada target lagi, Sar?"

Sarah terdiam. Ia hanyut dalam pikirannya yang mulai bercabang.

Sunyi menyelimuti kamar seolah menunggu mereka mengambil keputusan. Suara AC berderak dan bergetar, membuat suasana makin tidak nyaman.

Sarah tiba-tiba saja berdiri. "Gue harus coba lihat."

Mia langsung panik. "Lihat apa?"

Sarah menatap cermin hotel itu. "Cermin kematian."

"Sarah!" Mia berseru keras. "Itu bukan cermin yang sama."

"Gue tau." Sarah melangkah mendekati cermin hotel. "Tapi waktu itu pun cermin lain bisa nunjukkin sesuatu. Entah kenapa gue merasa… cermin ini juga sama dan terhubung."

Mia memegang lengannya. "Sar, gue takut."

"Gue juga." Sarah menoleh, tersenyum tipis. "Tapi kalau gue bisa lihat siapa target selanjutnya, mungkin gue bisa cegah hal itu terjadi lagi."

Mia terdiam lama, sebelum akhirnya melepaskan pegangan itu. "Gue di sini aja ya. Kalau lo lihat sesuatu, bilang."

Sarah mengangguk, lalu berdiri tepat di depan cermin. Refleksinya terlihat jelas. Mata yang lelah, rambut berantakan, wajah tegang. Ia mengatur napas.

"Satu… dua…"

Pada hitungan ketiga, ia menatap pantulan matanya.

Awalnya, tidak ada yang terjadi.

Lalu, seperti distorsi pada layar TV, bayangan di cermin mulai bergelombang. Refleksi Sarah berkedut, seperti disambar gangguan listrik.

Mia berdiri, tidak berani mendekat. "Sar? Ada apa?"

Sarah tidak menjawab.

Karena wajah di cermin mulai berubah.

Refleksi Sarah memanjang, lalu mengecil. Rambutnya memendek. Matanya berubah warna. Wajah itu berubah menjadi sosok laki-laki muda, dan Sarah menyadari siapa itu.

"Randi…" bisiknya.

Tapi belum sempat ia mengedip, wajah itu pecah menjadi serpihan hitam. Lalu berubah lagi.

Kali ini seorang perempuan dengan rambut panjang. Senyum sinis yang pernah Sarah lihat bertahun-tahun lalu.

"Nadia…"

Mia terengah. "Sar! Bisa berhenti aja gak? Gue mohon... gue takut..."

Wajah itu kembali retak, bergeser cepat menjadi seseorang yang bahkan Sarah lupa namanya. Laki-laki, badannya gemuk, tatapannya tajam. Seseorang yang dulu memanggilnya 'kutukan berjalan'.

Perut Sarah rasanya berputar. Tubuhnya gemetar.

Tapi, cermin itu belum berhenti.

Refleksi bergoyang lebih cepat, berubah menjadi puluhan wajah. Semua muncul bergantian seperti slide yang diputar terlalu cepat.

Beberapa Sarah kenali. Beberapa tidak. Beberapa mungkin hanya pernah lewat di hidupnya. Semua wajah itu memiliki satu kesamaan, yaitu mereka memandang Sarah.

Mereka menatapnya seolah dia yang menghukum mereka.

"Mi… ada yang salah…" Suara Sarah serak. "Ini… terlalu banyak. Terlalu cepat…"

"Cermin itu… lagi nyari korban?" tanya Mia, langkahnya mundur.

Tiba-tiba, bayangan-bayangan itu berhenti mendadak.

Cermin menjadi gelap.

Sangat gelap... seperti tinta hitam menetes di permukaannya.

Sarah menggigil. "Apa… apa yang terjadi?"

Kemudian, dari dalam gelap itu… muncul satu wajah.

Tidak berubah. Tidak bergoyang. Tidak terdistorsi.

Wajah itu menatapnya lurus, seperti melihat langsung melalui kaca.

Mia terengah. "Sar… itu siapa…?"

Sarah tidak bisa menjawab. Suaranya hilang.

Karena wajah itu bukan orang asing.

Itu dirinya.

Sarah.

Tapi bukan Sarah yang berdiri di depan cermin.

Ini Sarah yang lain. Pucat. Mata hitam pekat. Senyum melengkung seperti tidak manusiawi, tidak hidup.

Sosok dalam cermin membuka mulut, berkata tanpa suara.

Namun Sarah bisa merasakan kata itu menusuk ke dalam kepalanya.

"Giliranmu."

Cermin pun retak.

PRANG!

Retakan menyebar seperti jaring laba-laba, dan lampu kamar hotel langsung mati. Kegelapan menelan semuanya.

Mia berteriak, "SARAH! Pegang tangan gue!"

Dalam gelap total, Sarah bisa merasakan sesuatu... hembusan dingin di belakang lehernya. Seperti ada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.

Dan kemudian, suara napas yang bukan milik Mia… menghembuskan kata-kata tipis ke telinganya.

"Aku sudah menemukanmu…"