Malam Ketika Alina Diuji oleh Dunia
Sore itu, awan di langit tampak seperti kain abu-abu yang disapu angin pelan. Alina baru keluar dari pintu gedung tempat ia bekerja setelah menghabiskan waktu delapan jam menatap layar komputer, melayani pelanggan, mengecek data stok barang dan membantu kasir baru yang masih kikuk. Rambutnya diikat setengah, plester di pelipis kiri terlihat mencolok, tetapi ia sudah tidak terlalu peduli dengan tatapan orang.
Semua sudah terlihat biasa.
Tidak ada yang mencurigai apa pun tentang dirinya.
“Arkanza, kamu yakin nggak bisa jemput?” tanya Alina lewat telepon sambil menuruni tangga halte bus.
Di seberang sana, suara Arkanza terdengar tergesa dan penuh penyesalan.
“Maaf banget, Lin, aku harus rapat dadakan soal proyek. Aku nggak bisa kabur. Pulangnya juga bakal malam.”
“Nggak apa. Aku bisa pulang sendiri.”
“Kamu pasti aman?”
“Tentu.”
Padahal dalam hati, Alina merasa sedikit kecewa? Mungkin. Ia terbiasa Arkanza selalu ada, selalu sigap, selalu melindunginya seperti perisai hidup, tetapi ia juga paham ini justru momen yang bisa membuat Arkanza merasa semakin bersalah dan semakin melekat padanya nanti. Semakin kuat ketergantungannya, semakin mudah ia dikendalikan.
Lagi pula, Alina bukan orang yang butuh perlindungan. Ia adalah ancaman itu sendiri.
Bus berhenti tidak jauh dari jalan besar menuju rumah kontrakannya. Malam masih pukul delapan, lampu-lampu toko masih menyala, tetapi hawa dingin membuat suasana tampak menyempit.
Alina turun, menenteng tas kecil berisi barang belanjaan kantor. Ia berjalan menyusuri trotoar.
Di belakangnya, suara langkah berat terdengar.
Awalnya ia tak menoleh. Banyak orang berjalan malam-malam, itu normal. Namun, langkah itu semakin dekat. Terlalu dekat. Sampai suara seseorang terdengar serak dan bau alkohol menusuk hidung.
“Malam, Cantik, sendirian?”
Alina menoleh sekilas. Seorang pria berjaket lusuh, wajah kemerahan, mata kaca-kaca karena alkohol, senyum miring seperti orang yang tak lagi memiliki kesadaran penuh.
“Maaf,” jawab Alina dingin, cepat melajukan langkah.
“Hei, jangan gitu dong. Temenin sebentar.” Suaranya mendekat. “Kamu cantik banget, tau.”
Alina mempercepat langkah.
Pria itu mengikuti. Langkahnya sempoyongan, tapi cepat seperti mabuk yang justru menambah keberaniannya.
Alina menelan ludah. Trotoar mulai sepi. Lampu-lampu toko beberapa mulai dimatikan.
“Jauhi saya,” katanya lebih tegas. Pria itu tidak menghiraukan.
Ketika Alina menyeberangi pintu gang kecil menuju rute tercepat ke rumahnya, pria itu meraih pergelangan tangannya.
Sentuhan itu kasar, panas dan menyakitkan.
“Jangan pergi dulu, ya?” gumamnya sambil mendekat, aroma alkohol menampar wajah Alina. Alina langsung menarik tangannya.
“Lepas.”
“Kenapa sih? Main bentar aja.” Tangannya mencoba menyentuh bahu Alina. “Gadis seimut kamu masa gak mau ditemenin? Sendirian juga.“
Seketika Alina menepisnya dengan keras.
“Jangan sentuh aku.”
Pria itu tersentak. Matanya menyipit, dan ia menggeram marah.
“Sok suci amat!” Ia maju dan menarik lengan Alina lebih kuat kali ini. “Jangan banyak gaya!”
Alina terhuyung. Luka di kepalanya berdenyut pedih sesaat. Pria itu mendekat, kali ini dengan niat jelas yang membuat Alina tahu ia harus bertindak.
“Aku bilang lepaskan!” teriak Alina.
Ia mendorong sekuat tenaga. Pria itu tidak melepaskan. Tarikan semakin erat, seolah ia menemukan permainan baru.
Alina panik, tetapi panik hanya berlangsung kurang dari satu detik. Setelah itu, matanya berubah.
Tidak ada rasa takut,tapi yang terlihat hanya kosong dan hitam.
Akhirnya Alina meronta lebih keras. Pertarungan singkat terjadi. Pria itu mencoba merangkulnya, Alina melawan dengan sikut, tendangan dan gigitan kecil di lengannya. Mereka berdua terhuyung-huyung di jalanan gang yang remang itu.
Sampai pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur ke tanah.
Itu sebuah kesempatan untuknya.
Alina berdiri, terengah-engah. Napasnya berat. Matanya menatap pria itu yang sedang berusaha bangkit sambil memaki dan itulah saat ketika sesuatu dalam diri Alina retak, lalu mengalir keluar seperti air dari bendungan yang roboh.
Tanpa kata. Tanpa ragu.
Ia menunduk, meraih sebuah batu besar di samping pot bunga rumah kosong dekat situ. Batu itu cukup berat. Cukup berat untuk menciptakan keheningan.
Pria itu mendongak.
“Eh?jangan! Jangan!”
Alina mengayunkan batu itu.
Bruk.
Seketika senyap. Hanya suara berat batu menabrak tanah dan wajah pria itu terantuk ke samping.
Pria itu terdiam. Tidak bergerak.
Tidak ada suara marah ataupun memohon. Hanya keheningan terpaku seperti dunia baru saja menahan napas. Alina berdiri tegak, napasnya masih terengah. Matanya dingin. Ia menatap pria itu beberapa detik, memastikan bahwa pria itu tak akan bangkit dan mengikutinya lagi.
Bukan untuk memastikan ia mati, tetapi memastikan ia tidak bisa melakukan apa pun.
Setelah beberapa saat, Alina meletakkan batu itu perlahan. Bukan karena merasa bersalah. Justru sebaliknya.
Ia berdiri di bawah lampu jalan kecil, wajahnya tampak tenang seperti tidak pernah melakukan apa-apa. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu merapikan rambutnya, mengambil tasnya dan berjalan pergi sambil bersenandung kecil.
Bukan lari. Bukan panik. Ia berjalan seperti orang selesai membeli cemilan dan hendak pulang makan malam.
Seolah kejadian barusan tidak berarti apa pun. Seolah lelaki itu hanyalah sampah di pinggir jalan yang kebetulan ia singkirkan.
Sesampainya di rumah, Alina membuka pintu pelan agar tidak membuat suara berisik. Ia mengganti sepatu, meletakkan tas, lalu langsung ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.
Butir air mengalir di kulitnya. Wajahnya terpantul di cermin. Ia tersenyum kecil.
“Lihat? Dunia selalu lebih kacau daripada diriku,” bisiknya pada bayangannya.
Tidak ada penyesalan. Bahkan tidak ada kegugupan. Yang ada hanya ketenangan luar biasa dari seseorang yang merasa baru saja mengatur ulang dunia sesuai kehendaknya.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Nama di layar tertulis, Arkanza. Alina mengangkat dengan suara seramah biasanya.
“Halo?”
“Lin! Kamu udah sampai rumah? Aman? Aku baru lihat pesanmu tadi. Rapatnya kelamaan. Aku khawatir banget.”
“Aku udah sampai,” jawab Alina sambil mengeringkan tangannya. “Tadi agak capek di jalan, tapi baik-baik aja.”
“Ada yang aneh? Atau ada yang membuatmu tak nyaman?”
“Ada kok,” jawab Alina lembut.
Arkanza menegang. “Apa?”
“Aku kangen kamu.”
Arkanza terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, lega.
“Besok aku jemput. Aku janji. Maaf ya, aku benar-benar nggak bisa hari ini.”
“Tak apa.”
“Kamu beneran aman?”
“Iya.Tidurlah, Ar. Kamu pasti capek.”
“Baiklah, kamu juga tidur.”
Alina tersenyum. Suara Arkanza selalu seperti itu hangat, hati-hati, penuh kekhawatiran. Ia menyukainya. Kekhawatiran membuat laki-laki itu melekat padanya.
Kekhawatiran membuat seseorang mudah diarahkan dan Alina membutuhkan itu.
“Selamat malam,” kata Alina.
“Selamat malam, Lin.” Ia memutuskan panggilan. Lalu ia menatap kembali bayangannya di cermin.
Wajahnya tidak menunjukkan lelah, tidak menunjukkan trauma. Justru tenang, sangat tenang.
Bagi Alina, dunia adalah tempat brutal dan ia merasa tidak punya kewajiban untuk menjadi lembut padanya. Jika seseorang menyentuhnya dengan cara yang salah, maka ia berhak membalas.
Bukan sebagai korban, melainkan sebagai hakim.
Keesokan paginya, berita lokal menayangkan kabar tentang seorang pria mabuk yang ditemukan pingsan di gang dekat pasar. Diduga terjatuh dan kepalanya membentur paving block.
Tidak ada saksi. Tidak ada bukti. Tidak ada yang mencurigai perempuan yang berjalan santai malam sebelumnya.
Alina menonton berita itu sambil mengoles roti dengan selai coklat. Ia duduk di lantai, rambut terikat rapi, memakai baju kerja. Tidak ada ekspresi apa pun.
Ia memakan rotinya. Mengambil tasnya. Lalu berangkat kerja seperti hari biasa. Perilakunya bersih, rapi, normal.
Arkanza menjemputnya pagi itu. Ketika melihat Alina keluar dengan senyum manis, ia merasa dunia kembali normal.
Ia menatap plester di kepala Alina dan memegang pipinya lembut.
“Kalau ada yang nyakitin kamu lagi, bilang ke aku ya,” katanya dengan suara serius.
Alina mengangguk. “Tentu.” Namun, dalam hati ia tertawa kecil. Bahkan yang menyakitinya tidak akan pernah sempat melapor pada siapa pun dan yang melindunginya sudah berada sepenuhnya dalam genggamannya.