Suara itu... hembusan dingin di belakang leher Sarah, masih berputar-putar seperti gema yang tak mau hilang.
"Aku sudah menemukanmu…"
Sarah merasakan kulitnya ditarik ke bawah… seperti ada tangan tak terlihat yang menggenggam pundaknya.
Kemudian segalanya runtuh.
Gelap berubah menjadi cahaya. Suara retakan kaca berubah menjadi dengungan AC. Aroma karbol perlahan kembali. Dan—
BRAK!
Sarah tersentak bangun. Ia duduk tegak seketika. Napasnya memburu, seperti baru berlari maraton.
Pandangannya buram beberapa detik sebelum kamar hotel sederhana itu kembali terlihat jelas. Ranjang kecil, meja kayu kusam, AC yang terus mendengung… dan cermin besar di dekat pintu kamar mandi yang tampak utuh, tanpa retakan apa pun.
Tidak gelap. Tidak ada suara napas asing. Tidak ada sosok dirinya yang tersenyum menyeramkan dari balik kaca.
Mia, yang duduk di ujung ranjang sambil mengeringkan rambutnya, menoleh kaget. "Sar? Lo kenapa? Mimpi buruk?"
Sarah menahan napas. Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya sadar, ia masih menggunakan pakaian yang sama, masih duduk di ranjang dengan buku catatan tentang tetua di pangkuan. Tidak ada tanda ia tadi menatap cermin terlalu lama seperti dalam mimpinya.
"…Mia," bisiknya. "Tadi… gue ketiduran?"
Mia mengerutkan dahi. "Iya. Pas gue selesai mandi, lo udah rebahan aja sambil meluk buku catatan itu. Gue pikir mungkin lo kecapekan, makanya gak gue bangunin."
Sarah memejamkan mata, napasnya goyah.
Jadi… semua itu hanya mimpi? Cermin retak, wajah-wajah korban, berita kematian beruntun, sosok dirinya yang berkata "Giliranmu", semua itu…
Tapi rasanya terlalu nyata.
"Lo pucat banget," kata Mia pelan, mendekat. "Mimpi apa sih? Kok kayak habis dikejar zombie."
Sarah menelan ludah. "Gue… susah jelasinnya."
Ia memandang cermin hotel itu lagi. Tatapannya tak bisa lepas dari bayangan dirinya di sana, seolah masih takut cermin itu berubah kapan saja.
"Gue lihat…" Sarah ragu-ragu. "Gue lihat banyak wajah. Wajah orang-orang yang pernah jahat sama gue. Mereka kayak… mati satu per satu."
Mia menahan diri beberapa detik sebelum tertawa kecil, canggung. "Ya ampun… Sar. Wajar lah. Kita udah stres banget beberapa hari ini. Di otak lo jadi numpuk semua hal-hal aneh."
"Kayaknya itu lebih dari sekadar mimpi…" gumam Sarah.
Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan betapa nyatanya mimpi itu, bagaimana ia merasakan dinginnya napas di belakang lehernya, bagaimana suara itu berkata "Aku sudah menemukanmu…" seolah benar-benar berbisik dari dunia lain.
Namun sebelum ia bisa menjelaskan lebih jauh, ponsel Sarah bergetar cukup keras. Nada notifikasi berita.
Sarah refleks meraihnya, jantungnya kembali melonjak cemas.
BERITA LOKAL MALAM INI: Pemuda Indahpura Ditemukan Tewas Tanpa Bola Mata. Identitas: Randi (20).
Sarah membeku.
Tidak, tidak, tidak.
Tangannya gemetar ketika ia menggulir layar. "Mi…" Sarah menelan ludah. "Mimpi itu beneran jadi kenyataan..."
Mia, yang awalnya masih mencoba menenangkan, tiba-tiba membeku ikut membaca. "Serius? Mimpi lo... soal pria ini? Lo kenal dia?"
Sarah mengangguk. "Dia pernah bully gue waktu SMA—"
Lalu, belum sempat Sarah menyelesaikan kalimatnya, notifikasi kedua muncul.
Update: Wanita Muda Berusia 20-an Ditemukan Tewas Terlindas Truk Kontainer Tanpa Saksi. Diduga bernama Nadia.
"Mia... Dia juga ada di mimpi gue..."
Mia langsung berdiri. "Oke, ini… mulai gak lucu. Jangan bilang... lo kenal dia juga?"
Sarah mengangguk pelan. "Dia... mantan temen sekelas gue waktu di SMP... yang dulu sering nyebarin gosip soal gue..."
Sarah tidak bisa bernapas selama beberapa detik. Tubuhnya seperti dipeluk rasa takut yang dingin dan menempel. "Mi," katanya perlahan, "gue mimpi dua orang itu. Dan dua-duanya… mati beneran."
Sunyi menyelimuti kamar itu. Hanya suara AC yang bergetar terdengar sangat berisik.
Mia berusaha berpikir rasional. "Sar… bisa aja kebetulan. Bisa banget. Mimpi itu kan hasil dari pikiran lo sendiri."
Sarah menggeleng. "Gue juga mikir gitu. Tapi di mimpi… ada satu wajah lagi."
"Siapa?" tanya Mia tegang.
"Cowok berbadan gemuk yang dulu sering banget ngejek gue… bilang gue... kutukan berjalan."
Mia terdiam sejenak. "Tapi... bukannya target itu cuma bisa dilihat dari cermin? Kenapa sekarang lo bisa lihat lewat mimpi juga?"
"Gue juga gak tau," kata Sarah lirih.
Seolah dunia sedang mengolok-olok mereka, ponsel Sarah kembali bergetar.
KORBAN KETIGA MALAM INI DITEMUKAN.
Pria Berbadan Gemuk Berusia 28 Tahun, Terjatuh dari Lantai Dua Rumahnya. Diduga Kecelakaan.
Namun, warga mendengar jeritan sebelum tubuh korban jatuh.
Mia memucat. "Sarah..."
Sarah menjatuhkan ponselnya ke ranjang. Kakinya dingin. Tangannya mulai mati rasa.
Apa pun mimpi itu tadi… jelas bukan sekadar mimpi.
"Kalau gini terus… kita juga dalam bahaya..." gumam Mia, suaranya bergetar.
Sarah mematung. Jantungnya menolak berdetak normal. "Mi… kita harus pergi. Kita harus ke Desa Gunungsepi. Sekarang."
Mia menoleh cepat. "Sekarang? Lo gila? Sekarang udah hampir tengah malam, Sarah!" ucapnya tidak setuju sambil menunjuk jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam.
"Kalau gue nunggu…" Sarah meremas jari-jarinya. "Bisa jadi gue korban berikutnya."
Mia mendekat, menahan bahu Sarah dengan kedua tangan. "Sar, lo harus tenang dulu. Kita gak bisa bertindak gegabah."
"Tadi gue mimpi wajah gue sendiri muncul dari cermin," kata Sarah pelan. "Dia bilang... ‘Giliranmu’."
Mia membeku.
"Dan begitu gue bangun… berita ini semua muncul. Satu per satu. Seolah mimpi itu cuma… peringatan."
Mia menghela napas berat. "Gue tau lo khawatir dan takut mimpi lo itu jadi kenyataan. Tapi, kita gak bisa ke tempat itu malam-malam begini, Sar. Kita udah janji bakal berangkat besok pagi, kan?"
"Tapi..."
"Sarah, dengerin gue. Kalau kita ke sana sekarang, apa lo gak takut? Yang ada nyawa kita terancam lebih cepat dari yang seharusnya!"
Sarah terdiam cukup lama.
"Gue janji besok kita berangkat pagi-pagi buta. Sekarang, mending lo tidur lagi atau mau mandi dulu?" tanya Mia berusaha mengalihkan pikiran Sarah.
Sarah menggeleng pelan. "Gue mandi besok aja. Tapi... bisa gak gue tidur bareng lo? Gue takut mimpi buruk lagi..."
Mia menghela napasnya untuk yang kesekian kali. "Ranjang kita cuma cukup buat satu orang loh, Sar?"
"Kan bisa digeser terus disatuin..."
"Harusnya dari awal pilih tipe kamar yang satu ranjang aja," gumam Mia sambil berdecak pelan.
Meskipun begitu, ia tetap berdiri dan mencoba menggeser tempat tidurnya ke sisi Sarah.
Kasur itu berdecit pelan saat digeser, suara gesekannya menabrak sunyi malam yang semakin pekat. Sarah memeluk dirinya sendiri, berusaha menstabilkan napas, sementara Mia mendorong ranjang satunya dengan tenaga yang jauh lebih besar dari tubuh mungilnya.
"Bantuin dikit, dong," gerutu Mia, setengah bercanda.
Sarah menunduk dan ikut mendorong. "Maaf… tangan gue masih gemeteran."
"Haha gue paham kok," jawab Mia lebih lembut.
Akhirnya kedua ranjang itu berhimpitan, menciptakan ruang kecil yang lebih menenangkan bagi mereka berdua.
Mia duduk lebih dulu, lalu menepuk kasur. "Ayo, kita tidur. Kita kunci pintu, matiin lampu, anggap aja dunia luar gak ada dulu."
Sarah mengangguk. Ia naik ke ranjang, menarik selimut setinggi dada. Lampu kamar dimatikan, menyisakan cahaya kuning temaram dari lampu kamar mandi yang sengaja dibiarkan menyala.
Mia berbaring di samping Sarah, punggung saling bersentuhan. "Kalau lo kebangun atau mimpi buruk lagi, tinggal bangunin gue. Gue gak bakal marah."
Sarah tersenyum kecil. "Thanks, Mi."
Sunyi merayap pelan. Detik berlalu tanpa suara selain dengusan AC. Sarah mulai merasa kantuknya datang, walau masih dilapisi ketakutan tipis.
Tapi beberapa menit kemudian, sesuatu terasa… salah.
Udara kamar tiba-tiba berubah sangat dingin. Jauh lebih dingin daripada hembusan AC murah hotel itu. Dingin yang menusuk tulang. Dingin yang mengingatkan Sarah pada napas yang mendekatkan dirinya ke ketiadaan dalam mimpi tadi.
Ia menahan napas.
Ceklek.
Lampu kamar mandi yang tadi menyala, padam begitu saja.
Sarah langsung memegang tangan Mia. "Mi… Mi… lampunya mati sendiri…"
Mia terbangun setengah sadar. "Apa? AC kali—"
*Ceklek.
Lampu menyala lagi.
Lalu mati.
Lalu menyala.
Lalu mati.
Seperti seseorang, atau sesuatu, sedang memainkan saklar.
Mia membeku. "Sar… jangan bilang itu—"
Sebuah suara lirih, sangat lirih, datang dari arah cermin kamar mandi.
Seperti suara kuku menggores kaca.
Krek… krek… krek…
Sarah merasakan darahnya berhenti mengalir.
Mia menelan ludah. "…Sar. Jimat Ki Surya… harusnya ngelindungin kita, kan?"
Sarah tidak menjawab.
Karena pada pantulan gelap cermin kamar mandi yang setengah terlihat dari ranjang, terlihat ada bayangan.
Bukan manusia.
Bukan dirinya.
Bukan apa pun yang seharusnya ada di dunia.
Bayangan itu perlahan mendongak… seolah menyadari bahwa Sarah menatapnya.
Dan tanpa suara, tanpa gerakan tubuh, cermin itu bergetar.
Seperti sesuatu di dalamnya sedang berusaha keluar.