Drama #Romance

6. Kedatangan Tak Terduga

Penulis Xiao
01 December 2025

Udara siang di Hokkaido mulai lebih ramah, meski hawa dingin masih menusuk. Di halaman belakang rumah Aoyama Yui, tanah hitam terbentang luas. Baru saja dicangkul rapi, hingga menyerupai petak-petak kecil. Di sampingnya, beberapa keranjang berisi bibit taro dan labu yang baru dibeli dari pasar, menunggu untuk ditanam.

Haruto menggulung lengan jaketnya. Keringat tipis membasahi pelipis, meski suhu udara masih dingin. “Kalau kita buat bedengan lebih tinggi, tanahnya nggak gampang tergenang kalau hujan,” katanya sambil menancapkan cangkul ke tanah, lalu mengangkat segumpal tanah gembur.

Yui mengangguk pelan. Ia jongkok di sisi lain, mencoba meratakan tanah dengan garu. Tangannya sedikit gemetar, belum terbiasa dengan pekerjaan kasar semacam itu. “Aku… aku masih belum yakin, apa labu bisa tumbuh bagus di sini?” tanyanya, ragu.

Haruto tersenyum kecil, menoleh ke arahnya. “Kabocha kuat, Yui. Tanahmu cukup berpasir, itu cocok. Lagi pula, kamu bisa menyimpannya berbulan-bulan setelah panen. Bukankah lebih praktis?”

Yui mendesah pelan. “Kalau kamu yang bilang begitu, aku percaya.”

Keduanya larut dalam kesibukan, hanya ditemani suara cangkul yang menghantam tanah dan kicau burung dari hutan jauh di seberang halaman belakang rumah. Kehangatan aneh merambat di dada Yui, meski ia selalu berusaha tampak biasa di depan Haruto.

Tiba-tiba suara mesin mobil terdengar dari arah jalan kecil depan rumah. Suara yang asing. Bukan deru traktor tetangga atau motor tua milik tukang sayur. Yui dan Haruto otomatis menoleh bersamaan. Sebuah mobil hitam mengkilap melaju pelan. Mobil dengan body mewah yang jarang terlihat di desa kecil seperti ini.

“Eh?” Haruto mengerutkan kening. “Siapa yang bawa mobil kayak gitu ke desa?”

Yui mengangkat tangannya, menghalau cahaya matahari agar bisa melihat lebih jelas. Jantungnya tiba-tiba berdebar. Mobil itu berhenti tepat di depan rumahnya. Pintu terbuka. Seorang wanita keluar. Rambut blonde ikal panjang terurai hingga pinggang, berantakan diterpa angin. Make-up di wajahnya kacau, maskara luntur membentuk garis hitam di pipinya. Bajunya kusut, seolah dipakai semalaman tanpa tidur.

Yui membeku. Nafasnya tercekat.

“Mika-sensei…?” ucapnya dengan panik.

Tanpa berpikir panjang, Yui meletakkan garpu dan berlari ke arah pagar rumah. Haruto sempat menahan, tapi Yui sudah lebih dulu sampai. Wanita itu memang Mika Hashira, sensei sekaligus teman dekat Yui semasa kursus memasak saat masih tinggal bersama ibunya di Tokyo. Tapi penampilannya jauh berbeda dari yang ia ingat. Mika yang biasanya rapi, anggun, dan penuh percaya diri, kini tampak berantakan.

“Yui…” suara Mika parau, matanya merah dan sembab. “Aku… aku nggak tahu harus ke mana lagi.”

Yui meraih tangannya. “Apa yang terjadi? Kenapa…?” tanya Yui dengan panik.

Air mata Mika mengalir deras, wajahnya dipalingkan ke bawah. “Aku bertengkar dengan dia… aku… aku memergokinya selingkuh dengan sahabatku sendiri.” Suaranya pecah, penuh luka. “Kami tinggal bersama tujuh tahun, Yui… tujuh tahun. Dan aku… aku bahkan nggak bisa pulang. Orangtuaku nggak tahu apa-apa, aku… aku kabur ke sini.”

Yui menatapnya, perasaan bingung bercampur kasihan menyelimuti dada. Ia tahu betul hubungan Mikha dengan kekasihnya, betapa romantis dan hangatnya mereka selama ini. Yui bahkan sering iri saat Mika bercerita di kelas memasak. Dan sekarang… semuanya runtuh.

Haruto mendekat dengan langkah hati-hati. Ia berdiri sedikit jauh, memberi ruang untuk kedua perempuan itu. Ekspresi wajahnya menunjukkan keheranan sekaligus simpati.

Yui menggenggam tangan Mika lebih erat. “Mika-sensei… kamu bisa tinggal di sini dulu. Jangan khawatir.”

Mika menatap Yui dengan mata berkaca-kaca. “Aku… aku nggak mau merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa.” Yui tersenyum lemah, meski hatinya ikut teriris. “Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan tempat untuk pulang.” Kalimat itu keluar begitu saja, tapi membuat Yui sendiri tercekat. Kenangan tentang ibunya yang menikah lagi, tentang dirinya yang harus kembali ke rumah ini seorang diri seolah menusuk hatinya.

Haruto, yang mendengar dari kejauhan, memandang Yui dengan tatapan dalam. Ia bisa merasakan beban yang disembunyikan Yui dibalik ketegaran wajahnya.

…

Hari itu, Yui meminta Mika untuk menginap. Membiarkannya beristirahat di kamar tamu sederhana. Haruto ikut membantu membawa koper Mika yang dikeluarkan dari bagasi mobil. Saat Mika akhirnya tertidur karena kelelahan menangis, Yui duduk di ruang tamu, memeluk lututnya sendiri. Haruto kemudian duduk di seberang, menatapnya hati-hati.

“Kamu kelihatan bingung,” ucap Haruto pelan.

Yui mengangguk, pandangannya kosong. “Aku kasihan padanya… aku tahu betapa dia mencintai pacarnya. Aku pikir hubungan mereka tidak akan pernah berakhir. Dan… aku iri. Karena aku sendiri bahkan tidak berani bermimpi memiliki hubungan seperti itu.”

Haruto menatapnya lama, mencoba membaca isi hatinya. “Kenapa tidak berani?”

Yui terdiam. Hanya suara tik tik jam dinding menemani mereka. Ia menggigit bibir, lalu berbisik lirih, “Aku takut… kalau suatu hari nanti aku menikah, lalu berakhir seperti ibu. Pernikahannya gagal, keluarganya hancur… dan anaknya terluka. Aku tidak ingin ada Yui lain yang merasakan sakit seperti aku.”

Haruto merasakan sesuatu menyesak di dadanya. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa tidak semua hubungan berakhir seperti itu, bahwa masih ada cinta yang bertahan. Tapi ia tahu, Yui belum siap mendengarnya. Maka ia hanya berkata, lembut, “Aku mengerti.”

…

Di luar, salju yang turun sejak semalam mulai mencair. Meninggalkan butiran air di dahan-dahan. Namun di dalam hati Yui, musim dingin seakan masih tinggal. Kedatangan Mika mengingatkan Yui pada satu hal penting: cinta bisa semanis apapun, tapi tetap rapuh. Dan rasa takut itulah yang membuatnya semakin ragu membuka hati, bahkan ketika ada seseorang yang dengan sabar menunggu di sampingnya.

Haruto menatap Yui sekali lagi, lalu berdiri. “Aku akan kembali besok, untuk membantu menyelesaikan lahanmu,” katanya, suaranya tenang tapi tegas. “Dan… untuk memastikan kamu baik-baik saja.”

Yui menatap punggungnya yang perlahan menjauh, dan untuk sesaat, hatinya bergetar. Yui menghela nafas, berusaha mengabaikan perasaan tersebut. Setelah merasa cukup tenang, Yui segera pergi ke dapur untuk mempersiapkan bahan makan yang akan dia gunakan untuk makan malam mereka berdua.

“Duh... harus buat apa ya?” ucap Yui, seraya bertanya pada dirinya sendiri.

Mika-sensei adalah teman dekat sekaligus guru memasak Yui di tempat kurus. Yui tentunya akan mendapat omelan jika sampai masakan yang dia buat biasa-biasa saja. Selain itu, Yui berpikir bahwa sebuah masakan istimewa mungkin mampu untuk sedikit menghibur Mika-sensei. Mengingat mereka sama-sama suka memasak, dan cara tersebut berhasil untuknya.

Yui kemudian membuka kulkas dan melihat bahan-bahan yang dia miliki untuk menentukan masakan apa yang bisa dia buat dengan bahan-bahan yang ada. Tanpa pernah Yui sadari bahwa ternyata sayur, ikan dan bahan lainnya bertumpuk di kulkas. Yui sadar bahwa sebagian besar dari bahan-bahan tersebut adalah pemberian dari Haruto. Tanpa disadari Yui tersenyum saat melihat tumpukan bahan-bahan tersebut.