Salju tipis masih menggantung di atap rumah, mencair pelan dan menetes satu-satu ke tanah becek di halaman. Aroma kayu bakar dari tungku kecil yang menyala di dapur bercampur dengan wangi tumisan bawang putih dan jahe, menciptakan suasana hangat yang seolah membungkus seluruh rumah tua itu.
Yui sibuk di dapur dengan celemek bergambar bunga sakura yang sudah sedikit pudar warnanya. Tangannya cekatan, meski wajahnya tampak tegang karena kali ini ia harus memasak untuk orang lain. Terlebih orang lain tersebut adalah gurunya memasak.
Mika duduk di kursi kecil dekat meja makan, sesekali mengusap matanya yang masih sembab setelah tangisan panjang semalam. Haruto, dengan tubuh tegapnya, duduk bersila di ruang tatami, mengamati dengan tatapan serius seakan sedang menilai sesuatu, meski sebenarnya ia hanya bingung harus berbuat apa.
“Yuui,” suara Mika parau tapi lembut. “Kamu yakin tidak butuh bantuan? Aku bisa… setidaknya memotong sayuran.”
Yui menoleh sebentar lalu tersenyum, meski tangannya tetap sibuk mengaduk isian gyoza. “Tidak usah. Kamu istirahat saja. Aku ingin kamu hanya duduk manis hari ini.”
Mika tersenyum kecil. “Sejak kapan kamu jadi bossy begini?”
“Sejak kamu datang dengan wajah berantakan.” Liriknya sekilas, nada suaranya terdengar jahil.
Haruto yang mendengar itu menahan senyum. Entah kenapa, ia suka melihat sisi Yui yang seperti ini; hangat, bercanda, dan tidak selalu kaku seperti biasanya.
Adonan gyoza mulai diisikan per satu. Yui melipat kulit gyoza dengan gerakan hati-hati, mengingat latihan panjangnya dulu. Mika memperhatikan penuh takjub.
“Dulu… kamu tidak pernah bisa melipat rapi. Kamu selalu kesal sampai hampir melemparkan kulit gyoza ke jendela.” Mika tertawa lirih.
Yui mengerucutkan bibirnya. “Jangan ungkit itu. Aku sudah banyak berlatih sejak… sejak sendirian di sini.”
Ada jeda sejenak. Kata “sendirian” bergema di antara mereka. Mika menunduk, merasa bersalah. Yui buru-buru melanjutkan, “Pokoknya, kali ini aku pastikan gyoza-ku tidak bocor lagi saat digoreng.”
Haruto ikut menimpali. “Kalau pun bocor, aku tetap akan memakannya.”
Yui memandangnya tajam. “Itu bukan pujian.”
Haruto hanya terkekeh kecil.
Aroma tumisan daging cincang dengan saus shoyu, mirin, dan gula memenuhi dapur. Mika menutup mata, seolah membiarkan dirinya larut dalam kenangan. “Onigiri daging pedas manis… ini menu yang selalu kamu buat saat ujian praktek, ingat?”
Yui tertawa kecil. “Ya. Sensei bahkan bilang, ‘Yui-san, masakan sederhana tapi penuh perasaan.’”
“Padahal,” Mika menyambung sambil menahan tawa, “Kamu membuatnya karena tidak punya waktu mencoba resep lain.”
Yui menoleh sambil mencubit pelan lengan sahabatnya. “Hei! Jangan bongkar rahasiaku di depan Haruto.”
Haruto yang dari tadi diam langsung mengangkat alis. “Jadi begitu asalnya? Kupikir itu menu andalanmu.”
Wajah Yui memerah. “Sekarang memang jadi andalan! Jadi jangan salah sangka.”
Suasana kembali hangat. Mika bisa melihat kilasan kebahagiaan di wajah Yui, sesuatu yang jarang ditemukan selama bertahun-tahun mereka berpisah.
Yui menuangkan cairan gula panas ke dalam cetakan kecil, lalu menambahkan adonan puding. Aroma karamel memenuhi ruangan, membuat Mika hampir meneteskan air liur.
“Ini…” Mika menatap lekat, “Masih jadi dessert favoritku. Kamu ingat kan, kita pernah rela antre satu jam hanya untuk membeli puding karamel terkenal di Shibuya?”
Yui mengangguk, tersenyum hangat. “Kamu marah-marah karena antriannya panjang, tapi begitu mencicipi, kamu bilang ‘Aku rela antre seharian kalau perlu.’ ”
Mika tertawa keras, suaranya untuk pertama kalinya terdengar benar-benar lepas sejak ia datang ke Hokkaido. Haruto menoleh, memperhatikan wajah Yui yang juga ikut tertawa, dan tanpa sadar ikut tersenyum.
...
Makanan tersaji di meja kayu tua. Ada gyoza ayam yang berbaris rapi, onigiri bulat berisi daging pedas manis, sup miso hangat, acar sayur, dan puding karamel sebagai penutup. Mika menatap semuanya dengan mata berkaca-kaca.
“Yuui… kamu benar-benar membuat semua ini untukku?” suaranya bergetar.
Yui duduk di seberang. “Untukmu. Untuk sahabatku yang jauh-jauh datang ke sini.”
Air mata Mika menetes, tapi kali ini bukan karena sedih. “Terima kasih. Aku… aku benar-benar merasa seperti pulang ke rumah.”
Haruto terdiam, menyaksikan adegan itu. Ia tahu betapa sulitnya bagi Yui untuk membuka diri, apalagi menunjukkan perasaan tulus seperti ini.
Makan malam dimulai dengan tawa kecil. Mika mengambil gyoza pertama, menggigitnya perlahan.
“Enak! Bahkan lebih enak dari gyoza yang pernah kita buat di kursus dulu!” serunya.
Yui tersenyum puas. “Aku bilang kan, aku sudah banyak berlatih.”
Haruto mengambil satu gyoza, lalu menatap Yui. “Rasanya… pas sekali. Gurih, juicy, tidak terlalu asin. Kamu benar-benar hebat, Yui.”
Wajah Yui kembali memerah. “Jangan berlebihan.”
Mika melirik keduanya bergantian, lalu tersenyum kecil. Ada sesuatu dalam tatapan Haruto pada Yui yang tidak bisa diabaikan. Tatapan yang lembut, penuh perhatian, sesuatu yang biasanya hanya terlihat dari pria yang benar-benar menyukai seorang wanita.
Obrolan berlanjut, bergulir pada kenangan lama. Mika menceritakan bagaimana Yui dulu selalu panik setiap kali harus presentasi di depan kelas.
“Dia bahkan pernah menjatuhkan panci penuh sup di lantai,” kata Mika sambil tertawa terpingkal.
“Jangan ceritakan itu!” Yui menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Haruto ikut tertawa, meski dalam hatinya merasa semakin mengenal sisi Yui yang belum pernah ia lihat.
Malam itu, setelah makan, Mika bercerita panjang tentang masa kursus mereka.
“Kamu tahu, Haruto-kun, Yuui selalu jadi murid yang paling rajin. Tapi juga paling keras kepala. Kalau resepnya bilang tambahkan garam satu sendok, dia akan menambahkan satu sendok penuh, tanpa peduli kalau rasanya jadi terlalu asin.”
“Karena aku percaya pada resep!” Yui membela diri.
Mika terkekeh. “Tapi akhirnya dia belajar kalau masakan bukan soal mengikuti aturan, tapi soal perasaan.”
Haruto mengangguk pelan. “Aku bisa melihat itu dari masakannya hari ini. Rasanya… ada kehangatan di dalamnya.”
Tatapan Haruto yang tulus membuat Yui salah tingkah. Mika memperhatikan perubahan kecil itu. Pipinya yang merona, matanya yang buru-buru menghindar, dan semakin yakin akan sesuatu.
Setelah makan malam selesai, tawa masih memenuhi ruangan. Mika bercerita tentang kejadian lucu di Tokyo, Haruto menimpali dengan canda, Yui tertawa sampai matanya berair. Rumah tua yang biasanya sunyi kini penuh suara. Suara sendok yang beradu, suara tawa, suara obrolan hangat.
Yui duduk bersandar, memandang kedua orang yang menemaninya. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak merasa sendiri. Ia tidak lagi mendengar hanya suara angin yang lewat celah jendela, atau detik jam tua yang menggema. Malam itu, rumah tua peninggalan ayahnya benar-benar terasa bernyawa. Dan di tengah kebersamaan itu, Mika, dengan mata tajamnya, menyadari sesuatu: Haruto selalu menatap Yui dengan cara berbeda. Bukan sekadar tetangga, bukan sekadar teman. Ada rasa yang jelas di sana.
Mika tersenyum samar, menyimpan pengamatan itu dalam hati. Ia tahu, mungkin inilah awal sesuatu yang baru bagi sahabatnya.