Jam di dinding rumah tua Yui baru menunjuk pukul 04.00 ketika dering telepon memecah kesunyian. Suara itu tajam, menusuk, dan terasa tidak wajar di antara keheningan dini hari. Yui yang sedang terlelap meringkuk di futon terbangun pelan. Namun sebelum ia sempat menggerakkan tubuhnya, langkah cepat terdengar dari kamar tamu – Mika yang rupanya menerima panggilan.
“Hallo…?” suara Mika terdengar bergetar, meski ditahan agar tidak membangunkan Yui.
Namun Yui yang tidurnya ringan sudah mendengarnya. Ia menahan napas, mencoba tidak membuat suara. Ada jeda panjang, hanya suara Mika yang sesekali meninggi, lalu merendah.
“…kamu di mana sekarang? …apa maksudmu? …baiklah, tunggu aku di Furano.”
Yui segera bangkit ketika pintu kamar diketuk lembut. Mika berdiri di depan dengan wajah pucat, rambut pirangnya berantakan, dan mata yang jelas belum sepenuhnya pulih dari tangisan.
“Yuui… maaf membangunkanmu. Aku… aku harus ke stasiun Furano sekarang. Kamu bisa menemaniku?”
“Sekarang? Pukul empat pagi?” Yui tercengang. “Mika, matahari bahkan belum muncul. Embun masih membeku di luar.”
Mika menunduk. “Tolonglah. Itu… dia menelepon. Aku tidak bisa menolak. Aku harus menemuinya.”
Ada nada putus asa dalam suaranya. Yui menggigit bibir. Ia ingin menolak, ingin menyuruh Mika menunggu sampai siang, tapi tatapan sahabatnya penuh kecemasan, seakan dunia akan runtuh jika ia tidak segera berangkat.
“Baiklah,” Yui akhirnya mengangguk. “Aku akan mengantarmu.”
...
Mobil tua peninggalan ayah Yui meraung pelan saat menembus jalanan berselimut salju. Suhu di luar mencapai minus, embun beku menempel di kaca jendela. Lampu depan mobil menyoroti jalan sempit yang sepi. Mika duduk di kursi samping kemudia, diam, tangannya mencengkeram erat ponsel di pangkuannya. Sesekali ia menghela nafas panjang.
Yui melirik, ingin bicara, tapi memilih diam. Ia tahu saat ini Mika terlalu rapuh. Perjalanan memakan waktu hampir dua jam.
Matahari baru saja muncul di balik pegunungan, cahayanya masih redup dan keemasan. Saat mereka tiba di stasiun Furano, hawa dingin langsung menusuk tulang.
“Kita menunggunya di sini?” tanya Yui, menggigil sambil menepuk tangannya sendiri.
Mika mengangguk. “Dia bilang akan datang dengan kereta pukul enam. Dia akan langsung turun dan menemuiku.”
Yui menahan napas. Jam tangannya menunjukkan pukul enam, tapi peron masih sepi. Waktu berjalan lambat. Lima menit terasa seperti setengah jam. Mika mondar-mandir, menatap rel dengan mata cemas. Yui duduk di bangku kayu, memeluk tubuhnya sendiri untuk menahan dingin.
“Dia pasti datang,” gumam Mika, seolah meyakinkan diri sendiri.
Namun sampai pukul tujuh, tak ada tanda-tanda. Yui mulai resah. “Mika… apa kamu yakin dia bilang pukul enam?” Yui tau kereta di Furano tidak akan pernah terlambat sampai 1 jam.
“Iya!” Mika bersikeras, meski suaranya bergetar.
...
Tiga jam berlalu semenjak kedatangan mereka di stasiun. Yui hampir tidak bisa merasakan jarinya lagi. Mika tetap berdiri, sesekali menyalakan ponsel dan mencoba menghubungi seseorang, tapi tidak ada jawaban. Tepat saat Yui hendak menyerah dan mengajak Mika pulang, suara mesin truk kecil terdengar dari arah parkiran. Haruto turun dengan mengenakan jaket tebal, syal abu-abu melilit lehernya. Ia membawa beberapa kotak besar berisi bahan makanan.
Begitu matanya menangkap sosok Yui dan Mika yang menggigil di bangku, ia terbelalak.
“Yui? Apa yang kalian lakukan disini pagi-pagi begini?”
Yui buru-buru berdiri. “Kami… menunggu seseorang.”
Haruto menatap Mika, lalu kembali pada Yui. “Menunggu siapa? Kalian sudah disini sejak kapan?”
Yui menghela napas. “Sejak pukul enam.”
Haruto menatap jam jam tangannya. “Ini sudah hampir jam sepuluh! Kamu bercanda? Suhu di luar minus delapan derajat, dan kamu membiarkan dirimu serta temanmu menunggu selama itu?!”
Nada marahnya membuat Yui kaget. Namun ia tidak membalas. Haruto kemudian menghela napas panjang, menenangkan diri. Ia mendekat, melepaskan syalnya lalu melingkarkannya ke leher Yui.
“Setidaknya jangan sampai kamu sakit,” katanya dengan nada lebih lembut.
Mika menunduk, merasa bersalah. Yui hanya bisa bergumam lirih, “Terima kasih.”
Melihat wajah Yui yang sungguh-sungguh ingin menemani sahabatnya, Haruto akhirnya mengalah. “Baiklah. Aku akan menunggu bersama kalian. Tapi sebagai syarat, ikut aku dulu ke kedai. Kalian butuh sesuatu yang hangat.”
...
Mereka bertiga duduk di sebuah kedai kecil dekat stasiun yang baru buka. Haruto memesan tiga mangkuk ramen panas. Uap harum kuah kaldu babi memenuhi udara, membuat tangan dan wajah mereka yang beku terasa hangat kembali.
“Terima kasih, Haruto-kun,” ucap Yui dengan tulus. “Aku benar-benar menghargai ini.”
Haruto menatapnya sebentar, lalu beralih ke Mika. “Kekasihmu tidak bisa memberi tahu kalau ia terlambat? Membiarkan kalian menunggu dalam dingin begini… sungguh keterlaluan.”
Mika menggigit bibir, tidak menjawab. Yui buru-buru menyela, “Haruto, jangan begitu…”
Namun Haruto tidak bergeming. “Aku hanya tidak ingin kamu sakit, Yui.”
Hening sejenak tercipta. Mika menunduk lebih dalam, Yui pun tidak tahu harus berkata apa.
Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit, suara peluit panjang terdengar. Sebuah kereta penumpang melambat di peron, dan pintu-pintu terbuka. Penumpang turun satu per satu. Yui berdiri, matanya menelusuri kerumunan. Lalu ia melihatnya – sosok pria bertubuh tegap, rambut hitam pendek, wajah yang cukup familiar. Ia mengenalnya.
‘Itu… dia.’
Yui ingat jelas, pria itu sering menjemput Mika di tempat kursus memasak. Orang yang selalu menunggu di depan pintu dengan sabar, lalu menyapa dengan senyum ramah. Namun sebelum Yui sempat memberitahu, Mika sudah menjerit kecil lalu berlari menghampiri pria itu. Ia memeluknya erat, seakan seluruh dunia menghilang.
Yui terdiam, dadanya terasa aneh. Haruto, yang berdiri di sampingnya, menangkap perubahan di wajah Yui. Tanpa berkata apa-apa, ia menyentuh bahu Yui ringan.
“Ayo,” katanya pelan. “Kita beri mereka waktu.”
Yui menurut. Mereka berjalan menjauh, meninggalkan peron yang ramai.
...
Mereka berhenti di emperan sebuah toko buku yang masih tutup. Angin pagi berhembus, tapi Haruto berdiri di dekat Yui agar ia tidak terlalu kedinginan.
“Jadi,” Haruto membuka percakapan, “Kamu mengenalnya?”
Yui menatap tanah. “Aku tidak tahu namanya. Tapi… aku sering melihatnya. Dia selalu menjemput Mika di kursus memasak.”
“Seperti apa dia menurutmu?” tanya Haruto.
Yui ragu, lalu menjawab pelan, “Ramah. Setidaknya itu kesan yang kulihat dari jauh. Mereka… selalu terlihat serasi. Semua orang tahu hubungan mereka.”
Haruto menatap Yui lama, matanya seakan mencoba membaca lebih dalam. “Dan kamu?”
“Aku?”
“Kamu terlihat… aneh tadi. Saat melihatnya.”
Yui terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Ia tidak tahu harus menyebut perasaan itu apa. Kagum? Iri? Atau takut – takut melihat bagaimana sebuah hubungan bisa membuat seseorang sekuat Mika, juga rapuh pada saat yang sama.
Kereta yang membawa penumpang lain sudah kembali melaju. Di kejauhan, Yui melihat Mika masih bersama pria itu. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tidak tahu bagaimana akhirnya. Namun di sampingnya, Haruto tetap berdiri. Tenang, sabar, seolah mengatakan bahwa apapun yang terjadi, ia akan tetap ada di situ. Dan entah mengapa, di tengah udara dingin yang membekukan, Yui merasa sedikit hangat.