Udara dingin pagi itu masih menusuk tulang. Embun beku menempel tebal di jendela kaca toko-toko yang berjajar di sekitar stasiun Furano. Beberapa toko sudah mulai beraktivitas, namun sebagian besar masih tertutup rapat. Jalan setapak di depan stasiun juga belum benar-benar ramai. Hanya sesekali terlihat para pekerja yang bergegas menuju halte bus atau kios roti di ujung jalan.
Di emperan sebuah toko alat tulis yang masih tertutup, Yui duduk bersandar pada dinding, memeluk lututnya agar tubuhnya tetap hangat. Haruto berdiri tak jauh darinya, meniupkan nafas yang segera berubah jadi uap tipis di udara. Sesekali matanya melirik ke arah Yui, memperhatikan wajah gadis itu yang tampak berusaha menahan perasaan campur aduk.
Keheningan berlangsung cukup lama, hanya suara kereta yang baru saja melaju pergi terdengar samar di kejauhan. Hingga akhirnya Haruto membuka suara.
“Syukurlah,” katanya pelan.
Yui menoleh, keningnya berkerut. “Syukurlah untuk apa?” tanya Yui.
Haruto menarik napas panjang, lalu duduk di sebelah Yui. Ia menundukkan wajahnya, menyembunyikan senyum lega yang muncul. “Aku sempat berpikir… kalau kamu benar-benar mengenal pria itu. Kekasih Mika.”
Yui menggeleng cepat, sedikit terkejut mendengar nada suara Haruto yang jujur. “Tidak, aku bahkan tidak tahu namanya. Aku hanya sering melihatnya saat menjemput Mika di tempat kursus dulu. Semua orang di kelas tahun mereka berpacaran. Itu saja.”
Haruto mengangguk, pandangannya menerawang jauh ke jalan. Ada kehangatan yang tiba-tiba menyusup ke dadanya, meski udara sekitar begitu dingin.
Keheningan kembali melingkupi mereka, sebelum Haruto memberanikan diri bertanya lagi. “Ngomong-ngomong, aku penasaran… kenapa waktu Mika datang ke rumahmu, kamu memasak begitu banyak makanan? Aku lihat bukan cuma satu, dua jenis, tapi sampai macam-macam.”
Pertanyaan itu membuat pipi Yui merona. Ia menunduk, meremas jarinya sendiri. “Aku… sebenarnya bingung. Aku tidak tahu bagaimana caranya menghibur seseorang yang sedang patah hati.”
Haruto menoleh, matanya memandang penuh perhatian.
Yui melanjutkan dengan suara pelan, hampir seperti gumaman, “Kalau di kota, mungkin aku bisa mengajaknya ke bioskop. Tapi di sini, bioskop terlalu jauh. Aku bisa mengajaknya makan kue di kafe, tapi desa ini tidak punya kafe semacam itu. Jadi aku hanya berpikir… aku merasakan tenang setiap kali memasak. Dan aku merasa lega setiap kali makan makanan yang kusukai. Aku pikir… mungkin Mika juga akan merasa hal sama. Setidaknya, untuk sesaat dia bisa melupakan rasa sakit hatinya.”
Haruto terdiam beberapa saat, membiarkan kata-kata Yui meresap dalam pikirannya. Ada sesuatu yang tulus dalam penjelasan itu, sesuatu yang membuat hatinya bergetar halus.
“Jadi… memasak adalah caramu menunjukkan perhatian?” tanya Haruto akhirnya.
Yui menoleh, bibirnya melengkung tipis. “Mungkin begitu.”
Obrolan itu membuat suasana menjadi hangat, meski udara masih dingin. Namun, Haruto tiba-tiba teringat sesuatu. Ada rasa penasaran yang sejak lama disimpan, dan kini kesempatan itu datang.
“Kalau boleh aku tanya,” Haruto berhati-hati memilih kata-kata, “Selama kamu di Tokyo dulu… apa kamu tidak pernah berpacaran?”
Yui terdiam, pandangannya jatuh pada sepasang sepatu botnya yang sudah dipenuhi bintik-bintik salju. Pertanyaan itu membuat dadanya sesak. Perlahan ia menggeleng.
“Aku… belum pernah,” jawabnya lirih.
“Kenapa?” suara Haruto lembut, tanpa tekanan.
Yui menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sejenak ia seperti kembali pada masa remajanya, saat hidupnya berbalik arah. “Aku takut,” katanya jujur.
Haruto tidak menyela. Ia hanya menunggu.
“Aku takut jika suatu hari nanti hubungan yang kujalani akan berakhir seperti orang tuaku,” Yui melanjutkan, suaranya mulai bergetar. “Aku tidak ingin merasakan lagi bagaimana rasanya kehilangan rumah. Kehilangan keluarga. Dan aku tidak ingin ada Yui lain… anak lain… yang merasakan luka yang sama sepertiku.”
Mata Yui berkaca-kaca, namun ia berusaha menahan agar air mata tidak jatuh. Haruto hanya bisa menatapnya, hatinya ikut tersayat mendengar cerita itu.
“Kedua orang tuaku berpisah saat aku berusia empat belas tahun,” Yui mulai bercerita, nadanya berubah pelan seperti sedang membuka lembar lama yang rapuh. “Setelah itu, aku tinggal bersama ibu. Kami pindah ke Tokyo. Hidup kami tidak mudah. Ibu bekerja serabutan, dari sore di restoran, pagi jadi kurir makanan. Aku juga ikut bekerja paruh waktu setelah sekolah. Kami berusaha sekuat tenaga bertahan.”
Haruto mendengarkan dengan khidmat, tanpa mengalihkan pandangannya.
“Setelah aku lulus sekolah, aku ingin kuliah. Tapi keadaan tidak memungkinkan. Jadi aku ikut kursus memasak sambil bekerja. Satu tahun yang lalu… ibu bertemu seorang pria, mantan marinir dari Rusia yang bertugas di Tokyo. Mereka menikah beberapa bulan kemudian.”
Ada jeda sesaat. Yui menunduk lebih dalam.
“Ibu sudah berulang kali memintaku tinggal bersama mereka. Tapi… aku tidak bisa. Aku tidak siap. Tiga bulan lalu, aku pulang karena ayah meninggal. Rumah yang kutempati sekarang adalah warisan dari ayah. Aku memilih tinggal di sini. Bukan bersama ibu dan suaminya.”
Haruto bisa melihat jelas, betapa setiap kata yang diucapkan Yui mengandung beban. Gadis itu menahan perasaan takut, marah, dan kesepian yang bercampur aduk.
“Jadi…” Yui menarik nafas gemetar, “Aku tidak pernah mencoba berpacaran. Aku terlalu takut. Aku tidak ingin mengalami perceraian. Tidak ingin kehilangan lagi.”
Keheningan panjang mengikuti pengakuan itu. Hanya suara angin pagi yang meliuk di antara papan kayu emperan.
Haruto akhirnya bicara, suaranya mantap namun hangat. “Aku mengerti. Itu pasti sangat sulit bagimu.”
Yui mengangkat wajahnya, menatap mata Haruto. Ada ketulusan di sana, tanpa sedikit pun rasa menghakimi.
“Kalau begitu… mungkin memasak bukan hanya cara untuk menghibur orang lain,” Haruto tersenyum tipis, “Tapi juga caramu menjaga dirimu sendiri. Supaya kamu tetap merasa punya rumah, meski semua sudah berubah.”
Mata Yui melebar sedikit. Kata-kata itu seperti menembus langsung ke relung hatinya. Ia tidak pernah memikirkannya dari sudut pandang itu.
“Haruto…” Yui berbisik, namun kalimatnya menggantung.
Haruto menoleh ke arah jalan, seolah memberi waktu bagi Yui untuk meresapi perasaan yang baru saja terbuka. Ia tidak ingin menekan, tidak ingin membuat gadis itu semakin terbebani. Suasana hening kembali, namun kali ini bukan keheningan yang canggung. Justru ada rasa tenang, seolah udara dingin di sekitar mereka mendadak lebih hangat.
Beberapa menit kemudian, suara riuh dari arah stasiun terdengar lagi. Mika tampak berjalan keluar bersama pria yang menjadi kekasihnya. Dari kejauhan, Yui hanya bisa memandang sekilas sebelum segera menunduk. Haruto berdiri, lalu menepuk pundak Yui dengan lembut.
“Ayo. Kita beri mereka waktu. Tidak pantas kalau kita terus mengintip,” katanya sambil tersenyum ringan.
Yui mengangguk pelan, hatinya masih terasa sesak namun juga anehnya lebih lega. Ia merasa sudah membuka sebagian kecil dari dinding yang selama ini membelenggunya.