Drama #Romance

10. Melon Pan Hangat di Pagi yang Dingin

Penulis Xiao
01 December 2025

Udara dingin pagi itu tak kunjung surut. Meski matahari mulai menampakkan sinarnya di balik pegunungan yang tertutup salju, hawa membeku tetap saja menusuk kulit. Lantai peron stasiun Furano terlihat berkilau tipis karena lapisan es yang terbentuk semalaman. Orang-orang berlalu lalang dengan langkah terburu, sebagian menenteng koper, sebagian lain menggendong tas ransel besar.

Yui duduk di sebuah bangku kayu yang catnya sudah mulai pudar. Matanya menerawang ke arah Mika dan pria yang baru saja turun dari kereta. Dari kejauhan, keduanya tampak berbicara dengan nada tinggi. Mika menatap dengan mata merah, jelas emosinya masih memuncak. Sementara pria itu, meski mencoba terlihat tenang, tak bisa menyembunyikan wajah kesalnya.

Haruto berdiri di samping Yui, ragu untuk bicara. Perasaan bersalah masih menghantui dirinya. Pertanyaan yang ia lontarkan beberapa waktu lalu membuat Yui kembali mengingat masa lalu yang pahit. Gadis yang selama ini ia dikenal sebagai sosok ceria, tomboy, dan penuh energi, ternyata menyimpan sisi rapuh yang tak pernah ia duga.

Pelan-pelan Haruto duduk di samping Yui. Tangannya merogoh tas kain yang selalu dibawa saat berangkat kerja. Dari dalamnya ia mengeluarkan dua bungkus kecil kertas minyak berwarna coklat muda.

“Ini…” katanya lirih, lalu menyodorkan bungkusan pertama ke arah Yui.

Yui menoleh, heran. “Apa ini?”

“Melon pan. Masih hangat,” jawab Haruto. Ia lalu mengeluarkan satu wadah kecil plastik transparan. “Dan ini puding karamel. Kamu masih suka, kan?”

Sejenak Yui terpaku. Raut wajahnya yang semula tegang perlahan melunak. Senyum samar muncul, meski ada gurat lelah yang tak bisa disembunyikan.

“Kamu masih ingat?” suaranya lirih, nyaris berbisik.

“Tentu saja,” jawab Haruto cepat. “Kamu selalu membeli melon pan setiap kali pulang sekolah dulu. Dan kalau aku tidak salah, kamu pernah bilang puding karamel bisa membuatmu melupakan hal buruk untuk sementara.”

Yui menunduk, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang sulit ia definisikan. Antara bahagia, haru, dan sedikit sedih. Dengan hati-hati ia menerima kedua makanan itu.

“Terima kasih…” ucapannya singkat.

Haruto tersenyum, lega melihat Yui mulai mengendurkan bahunya. Ia membuka bungkusan melon pan untuk dirinya sendiri, menggigitnya perlahan. Rasa manis legit bercampur aroma roti panggang memenuhi mulutnya. Yui juga melakukan hal yang sama, menggigit melon pan hangat itu. Begitu rasa manisnya menyebar, pipi Yui bersemu merah.

“Aku minta maaf,” Haruto tiba-tiba berkata.

Yui mengernyit. “Untuk apa?”

“Karena membuatmu harus mengingat masa lalu yang menyakitkan,” jawab Haruto jujur. “Aku terlalu penasaran sampai lupa kalau beberapa pertanyaan bisa membangkitkan luka. Seharusnya aku lebih hati-hati.”

Yui terdiam sesaat. Matanya menatap roti di tangannya, lalu ia menghela napas. “Tidak apa-apa. Aku memang harus berdamai dengan itu semua. Lagi pula, kalau bukan kamu yang bertanya… mungkin aku tidak akan pernah berani mengatakannya.”

Jawaban itu membuat hati Haruto sedikit lega. Ia menoleh, dan untuk pertama kalinya pagi itu melihat Yui tersenyum kecil, meski samar. Mereka berdua lalu memakan roti dan puding karamel itu bersama-sama. Di antara gigitan kecil dan sesapan udara dingin, mereka diam-diam memperhatikan Mika dan kekasihnya yang kini berdebat semakin sengit. Suara keduanya bahkan terdengar samar hingga ke bangku tempat Yui dan Haruto duduk.

Para penumpang yang lalu lalang berhenti sejenak, sebagian menolak, sebagian lagi hanya melirik singkat dengan ekspresi canggung. Seorang penjaga pintu kereta tampak kebingungan, namun tak berani ikut campur.

“Kenapa kamu tidak melerai mereka?” tanya Haruto, memecah keheningan.

Yui mengangkat bahu, matanya masih menatap ke arah Mika. “Untuk apa? Itu hubungan mereka. Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri.”

“Tapi mereka bertengkar di depan umum. Jadi tontonan banyak orang,” Haruto bersikeras.

“Justru karena itu,” balas Yui pelan. “Aku tidak ingin terlibat dalam urusan pribadi orang lain. Mereka sudah dewasa, mereka bisa bertanggung jawab penuh atas hubungan yang mereka jalani. Jika mereka ingin berteriak, biarkan. Selama tidak saling memukul, aku rasa itu bukan urusanku.”

Haruto mengangguk perlahan, mencoba memahami cara pandang Yui. Ada ketegasan dalam jawaban itu, meski disampaikan dengan nada lembut.

“Lagipula…” Yui menambahkan, matanya menerawang kosong, “Aku pernah merasakan bagaimana rasanya ketika orang lain ikut campur dalam hubungan keluarga. Tidak selalu hasilnya baik.”

Kata-kata itu membuat Haruto terdiam. Ia sadar, ucapan Yui tak lepas dari pengalaman pahit perceraian orangtuanya.

Di depan mereka, Mika dan kekasihnya semakin larut dalam perdebatan. Tangan Mika bergetar, sementara pemuda itu berulang kali mengangkat nada suaranya. Kerumunan kecil mulai terbentuk, beberapa penumpang menonton dari jauh, sebagian lagi berbisik-bisik sambil melirik ke arah mereka.

Yui menyendok sisa puding caramel di tangannya. Haruto memperhatikan ekspresi gadis itu. Ada ketenangan yang aneh, seolah Yui sudah terbiasa melihat pertengkaran seperti itu.

“Yui…” Haruto akhirnya berkata pelan. “Sebenarnya, kehidupan apa yang kamu jalani selama lima tahun kita tidak bertemu?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Namun segera setelah mengatakannya, Haruto menyesal. Ia menggigit bibir, takut membuat Yui kembali teringat hal-hal yang menyakitkan.

Yui menoleh, menatap Haruto dengan mata yang sulit ditebak. Ada sekilas luka, tapi juga ada semacam kelegaan.

“Aku sudah menceritakan sebagian padamu,” jawabnya singkat. “Selebihnya… biarkan tetap menjadi milikku.”

Haruto mengangguk cepat. “Baik. Aku tidak akan memaksa. Aku hanya…” ia terhenti, mencari kata yang tepat. “Aku hanya ingin tahu bagaimana kamu bertahan. Tapi kalau itu membuatmu sakit, aku tidak akan bertanya lagi.”

Yui tersenyum samar. “Terima kasih.”

Angin dingin kembali berhembus, membuat keduanya merapatkan jaket. Mereka duduk bersebelahan, mengamati bagaimana Mika dan kekasihnya masih terjebak dalam pusaran emosi. Beberapa orang mulai beranjak, bosan melihat pertengkaran itu. Namun bagi Yui dan Haruto, adegan di depan mereka justru menghadirkan refleksi masing-masing.

Bagi Yui, itu adalah pengingat bahwa cinta tidak selalu berjalan mulus, bahkan bagi pasangan yang terlihat sempurna. Bagi Haruto, itu adalah peringatan betapa rapuhnya perasaan manusia, dan betapa besar keinginannya untuk menjaga Yui agar tidak perlu terluka lagi. Ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi Haruto bertekad satu hal: ia ingin melihat Yui tersenyum lagi. Senyum yang benar-benar tulus, bukan sekadar senyum samar yang ditutupi luka.