Keributan yang sejak tadi memenuhi udara dingin stasiun akhirnya mereda setelah hampir tiga puluh menit. Suara-suara keras, tuduhan, dan bantahan yang saling bertumpuk kini berubah menjadi keheningan yang menekan. Mika berdiri dengan wajah merah padam, matanya sembab menahan tangis, sementara kekasihnya berdiri kaku, terengah-engah seakan habis menempuh pertempuran panjang.
Sejenak, tak ada kata keluar dari keduanya. Orang-orang yang sedari tadi menonton mulai bosan dan kembali ke kesibukan masing-masing, hanya menyisakan beberapa tatapan ingin tahu yang masih mengarah pada mereka. Lalu, dengan gerakan cepat, Mika memalingkan wajah, dan tanpa sepatah kata pun, ia melangkah menjauh. Air mata yang sejak tadi ditahannya pecah, mengalir deras di pipinya.
“...Mika.”
Yui spontan berdiri. Hatinya tercekat melihat sahabat lamanya itu berjalan dengan bahu terguncang, jelas sedang menahan sakit yang dalam. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Dengan langkah cepat, Yui menghampiri Mika, lalu meraih tubuhnya.
“Mika!”
Mika tersentak, lalu langsung terhuyung ke dalam pelukan Yui. Tubuhnya bergetar hebat. Tangisnya pecah semakin keras, membuat kepala Yui ikut bergetar di bahunya.
“Tenang, Mika… sudah, aku di sini,” bisik Yui sambil menepuk lembut punggung sahabatnya.
Air mata Mika membasahi bahu Yui, tapi Yui tidak peduli. Ia hanya mengeratkan pelukannya, memberikan rasa aman yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Haruto yang sejak tadi duduk terdiam kini ikut berdiri. Tatapannya mengarah pada kedua gadis itu, namun langkahnya tertahan ketika melihat sosok pria – kekasih Mika – perlahan mendekat. Wajah pria itu penuh penyesalan, matanya merah, entah karena emosi atau air mata yang ditahan.
“Aku…” suara pria itu serak, nyaris tercekik, “…aku salah.”
Yui menoleh dengan wajah waspada, pelukannya pada Mika tidak kendur sedikit pun. Haruto segera bergerak, menempatkan dirinya di sisi Yui, seolah siap menahan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pria itu menunduk dalam, lalu – dengan tiba-tiba – berlutut di depan Mika. Orang-orang di sekitar mereka lagi-lagi berhenti untuk melihat. Beberapa bahkan berseru pelan, kaget dengan pemandangan itu.
“Mika, aku mohon… maafkan aku!” Suaranya meninggi, namun jelas penuh penyesalan. “Aku bodoh… aku sudah mengkhianatimu. Tapi aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Aku sudah memutuskan semuanya dengan dia, sungguh. Aku sudah berpisah darinya.”
Mika terisak semakin keras di pelukan Yui. Wajahnya tidak bisa dilihat dengan jelas karena tersembunyi di bahu Yui, tapi tubuhnya yang gemetar menunjukkan betapa dalam guncangan hatinya.
“Lihat aku, Mika… kumohon…” Pria itu bahkan meraih ujung mantel Mika, suaranya pecah. “Aku tahu aku tidak pantas lagi, tapi beri aku satu kesempatan terakhir. Aku akan menebus semuanya. Aku akan membuatmu bahagia, aku bersumpah…”
Haruto menatap tegang. Satu bagian dalam dirinya ingin menarik pria itu pergi, tapi bagian lain tahu, ini adalah urusan hati Mika. Dan Yui pun sepertinya berpikir sama: ia hanya mengeratkan pelukan pada Mika, memberi waktu untuk sahabatnya mengambil keputusan sendiri.
Hening panjang kembali menguasai.
Akhirnya, dengan suara lirih nyaris tak terdengar, Mika berbisik, “Kenapa… kenapa baru sekarang…?”
Pria itu mengangkat wajahnya, mata basah menatap penuh harap.
“Aku… aku takut. Aku pengecut. Tapi aku sadar… aku tidak bisa kehilanganmu, Mika.”
Yui menatap Mika dengan penuh empati. Ia bisa merasakan betapa besar luka di hati sahabatnya, tapi juga betapa kuat rasa cinta yang masih ada. Luka dan cinta, dua hal yang membuat manusia sulit menentukan arah.
Beberapa menit kemudian, Mika menarik napas panjang, lalu melepaskan diri perlahan dari pelukan Yui. Matanya bengkak, pipinya basah. Ia menatap pria itu lama, tatapannya penuh campuran marah, kecewa, tapi juga rindu.
“Aku… aku tidak tahu apakah aku bisa benar-benar melupakan…” Mika berbisik, suaranya parau.
“Aku tidak minta kamu melupakan, Mika. Biarkan aku menebus, biarkan aku memperbaiki. Aku akan membuktikan,” pria itu memohon.
Haruto merasakan udara di sekitarnya menegang, tapi akhirnya – dengan berat hati – Mika mengangguk kecil.
“…baiklah.”
Sontak pria itu menunduk, hampir roboh karena lega. Air matanya jatuh ke lantai peron.
Yui menepuk lembut bahu Mika, berbisik, “Kamu yakin, Mika?”
Mika hanya mengangguk pelan, wajahnya masih penuh duka, tapi juga tekad untuk memberi kesempatan sekali lagi.
…
Sore menjelang malam. Salju semakin menipis, berganti gerimis kecil yang mencair di atap rumah Yui. Mika dan kekasihnya bersiap kembali ke Tokyo. Keduanya menatap Mika yang tampak sibuk merapikan barang-barangnya di ruang tamu.
Mika mendekat, lalu meraih tangan Yui erat-erat. “Yui… aku tidak tahu harus bilang apa. Terima kasih… terima kasih sudah menemaniku. Terima kasih sudah menghiburku, sudah memberiku tempat. Aku… aku benar-benar berhutang padamu.”
Yui tersenyum lembut, meski matanya sedikit berkaca. “Tidak perlu berterima kasih. Aku senang kamu datang, Mika. Aku senang rumahku tidak sepi untuk beberapa hari.”
Mika tersentak. “Rumahmu? Kamu tinggal sendirian?” Mika sempat berpikir bahwa Yui mungkin hanya berkunjung di rumah tersebut. Sekedar melepas rasa penat dari perkotaan, namun tidak berpikir bahwa rumah yang semalam dia tempati adalah rumah Yui.
Yui terdiam sejenak. Pertanyaan itu menusuk sesuatu yang ia hindari.
“Apartemenmu di Tokyo… bukankah kamu masih di sana?” Mika menatap bingung.
Yui menarik napas, lalu tersenyum tipis. “Aku… lebih memilih tinggal di rumah ini. Sayang kalau dibiarkan kosong. Dan… sawah keluargaku juga butuh dirawat. Kalau aku tinggalkan, semua itu hanya akan hilang.”
Mika menatap lama, mencoba mencari jawaban lebih dalam di wajah Yui, tapi Yui mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin membicarakan pernikahan ibunya, tidak ingin membuka luka baru yang mungkin hanya akan menambah beban pada Mika yang sudah cukup rapuh.
“Aku mengerti…” akhirnya Mika mengangguk. “Itu sama seperti dirimu, Yui. Selalu menjaga apa yang penting bagimu.”
Yui hanya tersenyum samar.
“Jaga dirimu baik-baik, Yui. Aku akan sering menghubungimu. Dan… aku akan kembali, suatu hari nanti.” Mika telah selesai mengemasi seluruh barang-barangnya. Dia kemudian melihat keluar, pada kekasihnya yang tengah mengobrol bersama Haruto di beranda.
“Ya. Aku akan menunggu,” jawab Yui pelan.
Mika berjalan keluar sambil membawa kopernya, bersama Yui di belakkangnya. Haruto dan kekasih Mika yang tengah mengobrol diberanda menoleh saat mendengar suara roda koper mika yang beradu dengan lantai kayu rumah Yui. Keduanya kemudian bangkit. Kekasih Mika menghampiri, kemudian meminta koper yang dibawa Mika untuk dimasukkan dalam bagasi.
Haruto hanya berdiri di samping, menatap kedua gadis itu dengan tenang. Ketika Mika beralih padanya, ia membungkuk dalam. “Terima kasih, Haruto-kun. Kamu sudah banyak membantuku juga.”
Haruto tersenyum. “Tidak masalah. Semoga kalian berdua bisa menemukan kebahagiaan dan jangan sering bertengkar,” pesan Haruto. Dia sebenarnya merasa cemas dan takut saat melihat pertengkaran diantara keduanya.
Mika tersenyum, meski matanya masih sembab. Lalu, dengan langkah berat, ia masuk ke dalam mobil.
…
Mobil yang membawa Mika dan kekasihnya meninggalkan halaman rumah Yui. Mika menurunkan kaca mobil, dan melambaikan tangan tanda perpisahan. Yui berdiri mematung, matanya mengikuti hingga mobil tersebut menghilang dibalik hutan disamping rumah. Kini hanya sisa dingin malam yang menemaninya.
“Aku berharap mereka tidak pernah bertengkar lagi,” ucap Haruto.
Yui menoleh, menatap Haruto dengan tatapan keheranan. “Kamu pasti merasa takut melihat pertengkaran mereka di stasiun kan?” tebak Yui.
Haruto tidak mampu menjawab, hanya tertawa kikuk.
Setelah kepergian Mika, Yui mendapati ruang makan masih berantakan. Buku-buku berserakan di meja, tumpukan piring kotor menunggu di dapur, jejak keberadaan Mika masih begitu terasa.
Yui berdiri lama di ambang pintu, tatapannya kosong. Seketika, bayangan Mika dan Haruto yang kemarin tertawa bersama saat menunggu makan malam menyeruak. Suara Mika, candanya, bahkan pertengkarannya dengan kekasihnya… semuanya kini hanya tersisa gema samar.
Hatinya tercekat. Rasa kesepian yang selama ini ia tekan kembali muncul.
“Yui?” Haruto memanggil lembut dari ruang tamu.
Yui tersentak, buru-buru bergerak. “Aku harus membereskan ini. Rumah harus rapi lagi.” Ia segera meraih piring kotor, menumpuk gelas, dan mengangkat buku-buku yang berserakan.