Drama #Romance

12. Etiolasi

Penulis Xiao
01 December 2025

Fajar baru saja merekah di Furano. Langit Hokkaido masih berwarna abu-abu pucat, dengan kabut tipis yang menggantung di antara pohon-pohon pinus di kejauhan. Udara begitu dingin hingga embun beku menempel di kaca jendela kamar Yui, menggambar pola tak beraturan yang memantulkan cahaya redup matahari pagi.

Yui terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya masih berat, tapi pikirannya langsung terarah pada sesuatu – bibit bawang bombay yang ia semai beberapa hari lalu. Hatinya berdebar, rasa penasaran bercampur cemas membuat tubuhnya segera bangkit dari futon.

Ia mengenakan jaket tebal dan sarung tangan, lalu melangkah keluar rumah. Udara pagi menggigit, menusuk hingga ke tulang. Nafasnya membentuk uap putih yang cepat menghilang.

“Semoga tidak ada masalah…” gumam Yui sambil berjalan ke sisi rumah, tempat ia menyemai bibit.

Di sana, lapisan jerami kering masih menutupi petak tanah kecil. Jerami itu masih lembab oleh sisa salju yang mencair semalam. Yui menunduk, dan dengan hati-hati mulai mengangkat jerami tersebut. Hatinya langsung tersentuh. Dari balik jerami, muncul daun-daun kecil berwarna kuning pucat. Meski tampak rapuh, daun-daun itu tetap berdiri tegak seakan berusaha merebut cahaya yang tak kunjung datang.

“Ah…” Yui menarik napas lega bercampur rasa iba. “Kalian masih bertahan.”

Namun, ia juga menyadari sesuatu. Warna pucat itu tanda bahwa bibit kekurangan sinar matahari. Yui menggigit bibir, menyesal karena tidak sejak awal menaruhnya di dalam rumah kaca.

Dengan gerakan hati-hati, ia mulai mencungkil tanah di sekitar bibit. Satu per satu ia pindahkan bibit mungil itu ke pot kecil berisi tanah gembur yang sudah disiapkannya di rumah kaca. Tangan Yui gemetar bukan karena dingin, melainkan karena takut merusak akar rapuh bibit-bibit tersebut.

Pekerjaan itu memakan waktu lama. Matahari naik perlahan, menyingkap kabut, lalu bergeser ke barat. Bayangan Yui terus berpindah, dari panjang hingga memendek, tanda bahwa waktu telah berputar dari pagi hingga menjelang siang. Begitu bibit terakhir berhasil ia pindahkan, Yui jatuh terduduk di lantai rumah kaca. Keringat dingin membasahi pelipisnya, meski udara luar tetap menusuk. Lengan dan punggungnya pegal, namun hatinya terasa ringan.

Ia lalu berjalan keluar, menuju bangku kayu tua yang berada tak jauh dari rumah kaca. Dari sana, ia bisa melihat barisan bibit bawang bombay yang sudah tertata rapi.

“Lihatlah kalian…” bisiknya sambil tersenyum kecil.

Bayangannya menari-nari: daun pucat itu perlahan berubah hijau segar, batang-batangnya menguat, hingga akhirnya akarnya menebal dan bawang bombay besar siap dipanen. Ia bisa membayangkan sup hangat dengan potongan bawang bombay dari kebunnya sendiri, aroma harum yang memenuhi dapur.

Perutnya tiba-tiba berbunyi. Yui terkekeh kecil. “Aku lapar sekali…”

Matanya kemudian beralih pada sudut rumah kaca. Tumpukan pot tanah liat tersusun rapi di sana, bersama beberapa karung pupuk yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dahi Yui berkerut. Ia tahu persis barang-barangnya. Ia tidak pernah membeli pot sebanyak itu. Apalagi karung pupuk yang terlihat masih baru, seolah baru saja dibawa dari toko.

“Eh? Dari mana semua benda itu…?” Ia bangkit, berjalan mendekat. Jantungnya berdebar aneh, perasaan antara kaget, bingung, sekaligus sedikit curiga.

Di antara pot-pot tanah liat itu, ia melihat beberapa kantong kecil yang terselip. Rasa penasarannya semakin besar. Ia meraih salah satunya, membuka ikatannya, dan menumpahkan sedikit isinya ke telapak tangan. Biji-biji kecil jatuh, halus, ringan. Yui mengamati dengan saksama, lalu membaca tulisan samar di kertas pembungkus yang ikut terselip: Morning Glory. Matanya melebar. Ia meraih kantong lain. Kali ini labelnya Lily Hujan. Lalu kantong berikutnya: Iris. Dan sebuah kotak kecil berisi umbi dengan tulisan tangan sederhana: Amarilis.

Yui terdiam. Tangannya bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena kenangan yang tiba-tiba menyeruak. Bunga-bunga itu… semuanya adalah bunga yang dulu sering ia lihat di halaman rumah ketika masih kecil. Ia ingat betapa ibunya, Kana, selalu menanam morning glory di pagar bambu. Setiap pagi musim panas, Yui kecil akan berlari keluar hanya untuk melihat kuncup biru dan ungu yang mekar berbarengan.

Ia juga ingat hujan singkat di akhir musim semi yang selalu membuat bunga lily hujan bermunculan. Saat itu Yui kecil akan berlari tanpa alas kaki di halaman, tertawa di bawah hujan tipis. Iris, dengan kelopak ungunya yang anggun, adalah bunga favorit ayahnya. Ia sering berkata bahwa iris melambangkan harapan baru. Dan amarilis -ah..., Yui hampir menangis mengingatnya. Amarilis adalah bunga yang selalu ditunggu ibunya menjelang akhir tahun. Ketika bunga itu mekar, rumah mereka akan terasa hangat, seakan menyambut tahun baru dengan semangat baru.

“Siapa…” Yui berbisik, suara tercekat. “…siapa yang menaruh ini di sini?”

Tapi hatinya sudah tahu jawabannya. Senyum tipis muncul di bibirnya, bercampur dengan rasa hangat di dada. Ia bisa membayangkan Haruto, dengan wajah serius tapi kaku, diam-diam membawa pot, pupuk, dan bibit bunga itu, lalu menyusunnya di sudut rumah kaca. Hanya Haruto yang tahu selera bunga masa kecilnya. Hanya Haruto yang cukup perhatian untuk melakukan hal itu tanpa memberi tahu.

Yui menggenggam erat kantong bibit di tangannya. Pandangannya berkaca-kaca, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. “Haruto…” gumamnya, suaranya bergetar namun penuh rasa syukur. “Kenapa kau… begitu baik padaku?”

Kini setelah melihat tumpukan pot dan juga bibit tanaman yang Yui yakin dibawa oleh Haruto, Yui merasa bahawa masih terlalu awal untuk berhenti dan masih cukup banyak pekerjaan yang bisa dia kerjakan sebelum musim semi benar-benar datang. Merasa bahwa rasa lelah ditubuhnya kini telah menghilang setelah beristirahat sejenak, Yui segera bangkit.

Dia berjalan kearah kantung berisi pupuk sambil membawa sebuah sekop. Dengan hati-hati Yui mulai mencampurkan tanah gembur dengan pupuk. Kemudian menyiapkan pot tanah liat yang bertumpuk di pojok rumah kaca. Tanah yang telah dicampurkan dengan pupuk dimasukkan kedalamppot hingga mencai ketinggian tiga perempat bagian. Bibit disemai, kemudian di timbun dengan tanah bercampur abu sekam yang juga telah dia siapkan.

Tunas bibit tanaman bunga akan lebih cepat tumbuh dengan adanya sekam. Barulah setelah benih telah memiliki tunas muda, tanah akan di tambahkan untuk menggantikan sekam yang nantinya akan semakin menyusut seiring waktu. Yui kemudian menempatkan pot-pot tanah liat yang talah liat pada bagian rumah kaca yang mendapat cahaya paling banyak. Membiarkan benih-benih tersebut tumbuh.

“Selesai!” ucap Yui. Dia merasa puas, karena dapat menyelesaikan semu pekerjaanya sebelum pukul empat sore. Yui berencana untuk memasak. Perutnya belum diisi sedari pagi. Sementara, kini jam bahkan sudah menunjukkan pukul 3.40 siang. Yui bahkan baru menyadari bahwa kini dia benar-benar merasa sangat lapar. Perasaan senang karena berkebun ternyata mampu mengalihkan rasa laparnya.