Udara sore Hokkaido terasa dingin, meski matahari belum sepenuhnya tenggelam. Yui baru saja selesai membersihkan tanah yang menempel di tangannya. Sisa pupuk dan tanah basah masih terasa di sela-sela kukunya. Ia menatap kedua telapak tangannya yang kotor, lalu tersenyum kecil – sebuah tanda kepuasan setelah seharian penuh bekerja dengan bibit bawang bombainya.
“Baiklah… mandi dulu, baru masak makan siang yang terlambat.” gumamnya sambil berjalan ke arah rumah.
Namun, langkahnya terhenti ketika suara mesin mobil terdengar. Mobil itu berhenti tak jauh dari pagar rumahnya. Yui menoleh, dan seketika jantungnya berdegup cepat.
Sebuah mobil box putih dengan cat yang mulai kusam berdiri di sana. Logo perusahaan distribusi bahan makanan masih jelas terbaca di sisi mobil. Yui mengenalnya. Mobil itu sering berhenti di pasar kecil, juga di depan toserba tempat ia dulu membeli kebutuhan sehari-hari. Tapi kali ini, mobil itu berhenti tepat di dekat rumahnya.
“Jangan-jangan…” Yui bergumam pelan.
Benar saja. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria keluar dengan langkah tenang. Sosok itu tidak asing sama sekali. Haruto, dengan jaket kerja tebal, menenteng sebuah keranjang anyaman besar dari dalam mobil.
Yui membelalakkan mata. “Ha… Haruto?”
Haruto berjalan santai ke arahnya, seolah-olah apa yang ia lakukan sama sekali bukan hal aneh. Senyum tipis menghiasi wajahnya, meski matanya tampak kelelahan setelah perjalanan jauh.
“Aku pikir kamu pasti lapar setelah seharian bekerja mengurus kebun.” katanya datar namun penuh perhatian. Ia meletakkan keranjang di dekat pintu rumah Yui.
Yui menunduk, melihat isi keranjang, lalu terperangah. Daging sapi segar, ayam, sayuran hijau, kentang, wortel, bahkan beberapa bahan kemasan seperti saus tomat, kecap, dan lada bubuk. Semua tersusun rapi, jelas bukan belanjaan kecil. Ini persediaan untuk beberapa hari.
“Haruto… ini…” suara Yui tercekat. “Kamu… kamu beli semua ini untukku?”
Haruto hanya mengangguk pelan. “Untukmu. Kamu bilang suka memasak, bukan? Jadi masaklah. Aku ingin kamu terus bahagia dengan apa yang kamu lakukan.”
Kata-katanya sederhana, tapi menghujam dalam hati Yui.
Yui buru-buru merogoh saku jaketnya, lalu masuk sebentar ke rumah untuk mengambil dompet. Ia kembali dengan beberapa lembar uang, menyodorkannya pada Haruto. “Tunggu, tidak bisa begitu. Aku harus mengganti ini. Bahan-bahan ini pasti mahal. Aku... .”
Namun Haruto menahan tangannya. Ia mendorong uang itu kembali ke arah Yui. “Tidak perlu.”
“Haruto, jangan seperti itu. Aku tidak enak hati…” Yui memohon.
Haruto menggeleng. “Yui, dengarkan aku. Aku tidak butuh uangmu. Aku hanya ingin kamu tetap memasak, tetap tersenyum, tetap merasa hidup. Itu sudah cukup bagiku.”
Yui terdiam. Matanya memandang lurus pada Haruto, mencoba membaca kesungguhan di balik tatapannya. Ada sesuatu yang lembut, nyaris rapuh, tersembunyi di balik wajah serius pria itu.
“Kenapa… kenapa kamu selalu begini padaku?” suara Yui lirih.
Haruto tidak langsung menjawab. Ia menunduk sebentar, seakan mencari kata. Lalu akhirnya ia menatap Yui lagi. “Karena aku tidak ingin kamu merasa sendirian. Kamu sudah terlalu lama menanggung banyak hal sendirian, Yui. Biarkan aku… setidaknya ada di sisimu dengan cara sederhana ini.”
Yui merasa dadanya sesak. Uang di tangannya terasa berat, lalu perlahan ia turunkan. Dengan enggan ia mengangguk, meski wajahnya memerah. “Baiklah… aku akan masak dengan bahan-bahan ini. Tapi hanya karena kamu memintaku.” katanya pelan.
Senyum tipis Haruto muncul. “Itu saja sudah membuatku senang.”
Suasana hening sejenak. Angin sore berhembus, membawa aroma tanah basah dari kebun. Yui hendak membawa keranjang masuk ke dalam rumah, tapi Haruto tiba-tiba menoleh ke arah rumah kaca.
“Rumah kacamu…” ucapnya.
Yui mengerjap, lalu mengangguk. “Iya, aku baru saja memindahkan bibit bawang bombai ke dalam. Mereka hampir mati kalau terus di luar.”
Haruto berjalan mendekat, memandangi dari luar. “Kamu juga menemukan bibit bunga yang kutaruh di sana, bukan?”
Wajah Yui memerah lagi. Ia teringat saat membuka kantong bibit tadi siang. Ia hendak menjawab, tapi Haruto mendahuluinya.
“Yui, kamu tidak perlu menanam bibit itu. Biarkan saja dulu. Setelah aku pulang dari luar kota minggu depan, aku akan mengurus semuanya.”
Yui langsung menolak, melangkah cepat ke arahnya. “Tidak! Aku tidak bisa membiarkanmu repot-repot seperti itu. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku. Membawakan bahan makanan, bahkan bibit bunga… aku sudah terlalu banyak merepotkanmu, Haruto.”
Namun Haruto tetap tenang. Ia menoleh, menatap Yui dengan serius. “Kamu sama sekali tidak merepotkanku.”
“Tapi...”
“Selama kamu bahagia, itu sudah cukup bagiku.”
Kata-kata itu keluar begitu mantap, tanpa jeda. Yui terdiam, hatinya bergetar. Ia ingin membantah, tapi suara di tenggorokannya tercekat. Air matanya hampir pecah, tapi ia menahannya dengan gigih. Ia hanya bisa menunduk, menggenggam erat sisi rok yang dipakainya, sementara Haruto masih menatapnya. Di saat itu, Yui sadar – betapa besar perhatian pria ini padanya. Betapa tulus niatnya. Dan betapa ia sendiri, jauh di lubuk hati, merasa hangat dengan kehadirannya.
“Baiklah…” bisiknya akhirnya. “Kalau begitu, aku akan membiarkanmu mengurus sisanya nanti. Tapi hanya sekali ini saja. Setelah itu, aku ingin melakukannya sendiri.”
Haruto tersenyum samar. “Kita lihat nanti.”
Haruto pergi begitu saja seelah mengatakan kata-kata ambigu yang membuat Yui kebingungan. Yui bahkan masih menatap kepergian Haruto, bahkan hingga mobil box tersebut menghilang dari pandangan. Bahkan setelah kepergian Haruto, Yui masih menatap keluar. Dia terkadang merasa bingung dengan semua perlakuan yang Haruto tunjukan padanya. Ada kalanya Yui merasa marah dan bingung, namun enggan diungkapkan.
“Sebenarnya kenapa ya... dia selalu bertindak demikian. Haruto yang saat ini sedikit berbeda dengan Haruto yang dulu. Dia... dulu sengatku sedikit lebih penurut. Meskipun dia lebih tua dari ku... tapi dulu dia seperti adik yang sangat penurut, namun kini sifatnya sedikit berubah.”
Yui mengamati keranjang belajaan berisi berbagai bahan maknan yang Haruto bawakan untuknya. Kini bahkan Yu berpikir bahwa dia tidak memerlukan untuk pergi berbelanja lagi. Kulkasnya telah penuh oleh bahan-bahan makanan yang Haruto berikan untuknya. Lebih dari itu, Yui tidak bisa memasak banyak makanan dengan semua bahan maknanan yang ada, karena hanya dia lah yang akan memakanya. Mungkin saja jika Obaasan sudah kembali dari rumah anak-anaknya di kota, Yui bisa membuat lebih banyak menu, untuk kemudian dia bagikan pada Obaasan.
“Bahan makanan itu mungkin akan bertumpuk di dalam kulkas dan membususk jika aku menyimpannya terlalu lama.” Yui menengadah, menatap pada ruang penyimpanan yang ada di lantai 2 rumahnya. Sudah cukup lama sejak kali terakhir dia dan ibunya membersihkan tempat penyimpanan tersebut. Yui mengingat kembali barang-barang yang pernah dia siman di tempat tersebut, dia tiba-tiba saja memikirkan sebuah ide.