Di Balik Luka dan Rahasia
Hening malam di kota itu seolah menyembunyikan ribuan mata yang mengintai. Lampu jalanan berkelip samar ketika sebuah mobil hitam berhenti di basement sebuah apartemen mewah di pusat kota. Al turun lebih dulu, bahunya masih terbalut perban, wajahnya pucat meski tatapannya tetap tajam. Ia membuka pintu penumpang dan menatap Hanum yang masih memeluk koper hitam itu erat, seakan nyawanya ikut tersimpan di dalamnya.
“Turun,” perintahnya singkat.
Hanum mendongak, matanya masih sembab setelah menangis sepanjang perjalanan. “Kenapa kita ke sini? Bukankah sebaiknya kita.”
“Ini tempat paling aman untuk sementara,” potong Al dingin. “Apartemenku tidak terdaftar atas namaku. Tidak ada yang tahu kau ada di sini.”
Hanum ingin membantah, tapi sorot mata Al terlalu kuat untuk dilawan. Ia turun dengan langkah ragu, mengikuti Al menuju lift. Jantungnya masih berdebar mengingat tembakan, jeritan dan kenyataan pahit bahwa seseorang mengaku ayahnya berpihak pada musuh.
Sesampainya di unit paling atas, Al membuka pintu dengan kode rahasia. Hanum menatap sekeliling. Apartemen itu luas, dinding kaca besar memperlihatkan gemerlap kota malam hari. Namun, suasananya dingin, terlalu rapi, terlalu sepi seperti pemiliknya.
“Letakkan koper itu di sini,” kata Al, menunjuk meja kaca di ruang tamu.
Hanum enggan melepasnya, tapi akhirnya ia menuruti. Koper itu diletakkan perlahan, seolah jika terjatuh, dunia akan runtuh.
Al menatapnya sebentar, lalu berkata pelan, “Kau butuh istirahat.”
Hanum menahan emosi yang bergejolak. “Bagaimana aku bisa tidur setelah semua yang terjadi? Mereka bilang ayahku,” suaranya tercekat. “Tidak, aku tidak percaya.”
Al mendekat, tatapannya lembut untuk pertama kalinya malam itu. “Aku juga tidak percaya begitu saja, tapi kita harus siap menghadapi kemungkinan terburuk.”
Air mata Hanum kembali jatuh. Ia berbalik, tak ingin Al melihatnya rapuh. Namun, tiba-tiba ia merasakan tangan hangat menyentuh bahunya.
“Hanum,” suara Al merendah. “Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.”
Hanum memejamkan mata, hatinya bergetar. Kata-kata itu sederhana, tapi begitu menembus pertahanan yang selama ini ia pasang. Ia ingin membenci Al, ingin menjauh, tapi kenyataannya, lelaki itu selalu menjadi benteng terakhirnya.
“Jangan bicara seolah kau pahlawan,” bisiknya getir. “Lenganmu saja masih berdarah.”
Al tersenyum miring. “Luka ini tidak seberapa. Aku sudah terbiasa.”
Hanum menoleh, menatap wajahnya yang tampak lelah namun tetap gagah. Untuk sesaat, keheningan di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih intim. Sesuatu yang menakutkan sekaligus menenangkan.
Pagi menjelang. Hanum terbangun di kamar tamu dengan jendela besar yang menampilkan langit oranye keemasan. Ia duduk, menyadari tubuhnya masih mengenakan pakaian semalam. Aroma kopi samar-samar tercium dari ruang tengah.
Ketika keluar, ia mendapati Al sedang duduk di sofa, satu tangan memegang cangkir kopi, tangan lainnya menekan-nekan layar laptop. Meski bahunya masih terbalut perban, ekspresinya fokus, tegas, seperti seorang pemimpin sejati.
Hanum berdiri di ambang pintu, mengamatinya. Selama ini ia hanya mengenal Al sebagai sosok dingin penuh misteri, tetapi pagi itu, ia melihat sisi lain, seorang pria muda yang memikul beban terlalu berat untuk usianya.
“Kau menatapku seakan aku patung,” ujar Al tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Hanum terperanjat. “Aku, aku hanya,” ia tergagap, lalu memalingkan wajah. “Aku ingin pulang. Aku harus mengambil barang-barangku sendiri.”
Al menutup laptopnya, menatapnya dengan sorot mata yang tak bisa dibantah. “Tidak. Terlalu berisiko. Musuh bisa saja menunggumu di sana.”
“Aku tidak bisa terus sembunyi di sini!” Hanum meninggikan suara. “Itu rumahku, aku butuh.”
“Apa yang kau butuhkan, sebutkan.” Al berdiri, mendekatinya perlahan. “Pakaian, buku atau apa pun, biar anak buahku yang ambilkan. Kau tidak akan keluar dari sini sebelum aku pastikan semuanya aman.”
Hanum mendongak, wajahnya memerah karena marah sekaligus tersentuh. “Kau pikir aku boneka yang bisa kau atur sesukamu?”
Al menunduk, wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. “Bukan boneka. Kau orang yang paling ingin kulindungi, meski harus memaksamu.”
Dada Hanum berdebar kencang. Ia ingin membalas dengan kata-kata pedas, tapi tatapan Al terlalu dalam. Ia hanya bisa mundur selangkah, mencoba menenangkan dirinya.
Siang harinya, Al menghubungi anak buahnya. Lewat sambungan telepon, ia memberi instruksi tegas agar beberapa orang terpercaya mengambil barang-barang penting Hanum dari rumahnya.
Hanum duduk di kursi, menyilangkan tangan. “Aku tidak suka cara ini.”
Al menoleh, sedikit tersenyum. “Kau juga tidak suka kalau diculik, kan?”
Hanum terdiam, wajahnya merona. Ia membenci cara Al selalu menang dalam argumen, tapi ia tak bisa menyangkal kebenarannya.
Beberapa jam kemudian, barang-barang Hanum tiba: koper pakaian, buku kuliah, bahkan boneka kecil pemberian mendiang ibunya. Hanum menatap barang-barang itu dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa lega sekaligus sakit, karena untuk pertama kalinya ia merasa rumahnya bukan lagi tempat aman.
“Terima kasih,” ucapnya pelan, meski enggan.
Al hanya mengangguk. “Aku tidak butuh terima kasihmu. Aku hanya ingin kau tetap hidup.”
Kalimat itu membuat Hanum tercekat. Ia ingin membalas dengan sarkasme, tapi bibirnya kelu.
Hari-hari berikutnya berjalan penuh ketegangan. Al mulai pulih dari lukanya, meski perban masih membalut bahunya. Ia mengatur bisnis propertinya dari apartemen itu, melalui telepon dan video call. Hanum sempat kaget ketika mengetahui bahwa Al memiliki kerajaan bisnis besar yang legal, sama sekali berbeda dari bayangan seorang mafia.
“Jadi selama ini kau, pengusaha?” tanya Hanum heran saat melihat Al berbicara serius dengan mitra bisnis di layar.
Al menutup panggilan, menatapnya tenang. “Aku membangun semuanya diam-diam. Tidak ada yang tahu, bahkan ayahku. Bisnis ini jalanku sendiri.”
Hanum menatapnya lama. Ada rasa kagum yang tumbuh, meski ia mencoba menekannya. “Kenapa kau tidak pernah bilang?”
“Karena aku tidak butuh pengakuan,” jawab Al singkat.
Mereka terdiam. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Hanum akhirnya berbisik, “Kau membuatku bingung, Al. Kadang aku benci padamu, tapi kadang.” Ia berhenti, tak sanggup melanjutkan.
Al menatapnya, seolah mencoba membaca isi hatinya. Bibirnya terangkat membentuk senyum samar. “Kadang apa, Hanum?”
Hanum menggigit bibir, wajahnya panas. “Lupakan.” Ia bergegas ke kamar, meninggalkan Al yang hanya terkekeh kecil.
Malam itu, ketika semua terasa tenang, Hanum berdiri di balkon, menatap gemerlap lampu kota. Udara malam menusuk kulitnya, tapi pikirannya jauh lebih dingin. Ia memikirkan ayahnya, pesan yang ditinggalkan dan kata-kata pria berjas abu bahwa Firdaus berpihak pada musuh.
Air matanya kembali mengalir.
Tiba-tiba, pintu balkon terbuka. Al berdiri di sana, mengenakan kaus hitam sederhana, wajahnya lelah. Namun, teduh. “Kau menangis lagi.”
Hanum buru-buru menghapus air matanya. “Bukan urusanmu.”
Al melangkah mendekat, berdiri di sampingnya. “Kalau memang Firdaus berpihak pada mereka, aku akan cari tahu alasannya. Aku janji, Hanum. Aku tidak akan biarkanmu sendirian menghadapi ini.”
Hanum menoleh, menatap matanya yang penuh tekad. Hatinya bergetar hebat. Tanpa sadar, ia berbisik, “Kenapa kau begitu keras kepala melindungiku?”
Al menatap balik dan untuk pertama kalinya, ia tidak menyembunyikan perasaannya. “Karena aku tidak ingin kehilanganmu.”
Hanum terdiam, dadanya seperti dihantam ombak.
Kedekatan itu membuat suasana berubah. Mereka saling menatap lama, begitu dekat hingga napas masing-masing terasa. Namun, sebelum sesuatu terjadi, suara telepon berdering memecah momen itu.
Al menghela napas, lalu menjawab panggilan. Wajahnya berubah serius. “Ya? Apa?!”
Hanum menegang, berusaha menangkap isi percakapan itu.
Al menutup telepon dengan wajah muram. Ia menatap Hanum, lalu berkata tegas, “Kita harus pergi. Sekarang.”
“Kenapa?” Hanum panik.
Al menatapnya dalam-dalam. “Rumahmu. Mereka sudah lebih dulu ke sana. Anak buahku, dua orang terbunuh.”
Hanum menutup mulutnya, terisak. “Tidak.”
Al menggenggam lengannya erat. “Ini baru permulaan. Mereka tidak hanya memburu koper itu. Mereka memburu kita.”
Hanum menggigil. “Lalu apa yang akan kita lakukan?”
Al menatap ke luar jendela, mata tajamnya berkilat. “Kita melawan, tapi sebelum itu,” ia berhenti, suaranya merendah. “Ada sesuatu yang harus kau tahu tentang ayahmu.”
Hanum menoleh, napasnya tercekat. “Apa maksudmu?”
Al menghela napas berat. “Firdaus, mungkin bukan orang yang kau kira selama ini.”
Segalanya terasa menggantung di udara. Hanum terpaku, tubuhnya membeku, seakan dunia runtuh sekali lagi.
Sebelum Al sempat menjelaskan lebih jauh, terdengar ledakan keras dari bawah apartemen. Seluruh bangunan bergetar. Alarm meraung. Lampu padam seketika, menyisakan kegelapan.
Hanum menjerit, sementara Al meraih pistolnya dengan refleks. Suaranya rendah, tajam seperti pisau.
“Mereka sudah menemukan kita.”