Drama #Romance

14. Di Antara Kabut dan Kenangan

Penulis Xiao
01 December 2025

Udara pagi Hokkaido masih menggigit. Embun membeku di ujung rumput, menempel seperti butiran kaca di bawah cahaya pucat bulan yang belum sepenuhnya tenggelam. Yui melangkah keluar dari rumah sambil menarik resleting jaket tebalnya hingga ke leher. Di tangan kirinya, ia membawa termos berisi matcha hangat, dan di tangan kanan, sebuah senter untuk penerangan.

Rencana hari itu sederhana, melihat sawah peninggalan ayahnya. Sudah lama ia ingin memulai musim tanam pertamanya sendiri. Tapi desa Furano masih tertutup sisa dingin musim dingin yang keras; air di parit sebagian masih membeku di tepiannya, dan tanah terlalu keras untuk dibajak. Meski semua orang menyarankan agar menunggu, Yui merasa dadanya seperti terus didesak oleh keinginan yang sulit diredam. Keinginan untuk memulai sesuatu, untuk hidup lebih dari sekadar bertahan.

Ia menaiki sepedanya perlahan. Roda sepeda menimbulkan bunyi berderit lembut saat menyentuh jalan yang sebagian masih basah oleh salju mencair. Nafasnya membentuk kabut putih di udara yang dingin. Di kejauhan, langit mulai berubah warna. Dari biru kelam menuju jingga samar.

Perjalanan menuju sawah hanya sekitar dua kilometer dari rumah. Tapi di pagi sedingin itu, setiap kayuhan terasa berat. Di pinggir jalan, barisan pohon birch berdiri kaku seperti penjaga tua yang diam. Beberapa rumah petani tampak sepi, jendelanya tertutup rapat untuk menahan udara dingin.

Saat akhirnya sampai, Yui berhenti di tepi pematang sawah.

Hamparan tanah basah terbentang luas di hadapannya; kosong, tenang, dan berkilau oleh embun. Air di sungai kecil yang membelah pematang memantulkan cahaya lampu jalan dari kejauhan. Ada sesuatu yang begitu sunyi dan damai dari pemandangan itu, tapi sekaligus terasa menyentuh hati, seolah sawah itu sendiri sedang menunggu seseorang untuk membangunkannya dari tidur panjang musim dingin.

Yui turun dari sepedanya, menuntunnya hingga ke tepi sawah. Ia jongkok, mengambil segenggam tanah yang mulai lembut di permukaan. “Masih terlalu dingin…” gumamnya pelan. Tanah di bawah permukaan masih keras membeku. Tapi entah mengapa, Yui justru tersenyum kecil. “Ayah dulu selalu bilang, tanah yang sabar akan melahirkan padi yang kuat.”

Suara lembutnya menggema pelan di udara dingin. Ia menatap ke arah horizon di mana kabut perlahan terangkat dari perbukitan. Dalam benaknya, ia bisa melihat bayangan ayahnya. Berdiri di sawah yang sama, memakai topi jerami dan menenteng cangkul, tertawa saat Yui kecil berlari di pematang dengan kaki belepotan lumpur.

Rasanya sudah bertahun-tahun sejak kenangan itu terakhir kali muncul begitu jelas. Yui menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma tanah basah dan udara dingin memenuhi dadanya. Lalu, sesuatu menarik perhatiannya.

Di seberang sawah, di balik pagar kayu dan barisan pohon cedar, tampak sebuah jalur setapak kecil menuju hutan. Jalur itu tampak samar tertutup daun-daun kering. Entah kenapa, langkah Yui otomatis membawanya ke sana.

Begitu Yui menapaki jalan tanah itu, aroma hutan langsung menyambutnya; campuran harum lumut, dedaunan lembab, dan samar bau kayu basah. Cahaya matahari yang mulai menembus pucuk-pucuk pohon menimbulkan semburat keemasan di udara.

Yui berjalan perlahan. Setiap langkah menimbulkan bunyi gesekan dedaunan yang rapuh. Di kejauhan, terdengar burung-burung yang baru bangun, suaranya seperti nyanyian lembut yang menandai datangnya pagi. Dan tiba-tiba semuanya terasa sangat familiar.

Langkahnya berhenti di dekat sebuah batu besar yang sebagian tertutup lumut. Di sanalah dulu ibunya pernah duduk, sambil menunggu Yui kecil yang berlari-lari memunguti buah persimmon yang jatuh dari pohon. Ia ingat jelas bagaimana tangan ibunya terasa hangat saat menepuk kepala Yui dan berkata, “Kau cepat besar, Yui. Suatu hari nanti, kau akan mengerti kenapa tempat ini begitu penting.”

Kini, di bawah cahaya pagi yang lembut, Yui menatap batu itu dalam diam.

“Ka-chan… tempat ini masih sama seperti dulu,” katanya lirih, menggunakan panggilan kecil yang dulu ia pakai untuk ibunya.

Bayangan masa lalu mulai bermunculan di benaknya.

Ia ingat musim gugur bertahun-tahun lalu, saat daun maple menumpuk di tanah, dan angin membawa aroma buah matang. Ia dan ibunya berjalan ke hutan membawa keranjang anyaman. Mereka memetik persimmon, mencari walnut, dan kadang menemukan akebi; buah liar berwarna ungu dengan biji yang banyak tapi manis seperti madu. Ibunya selalu tertawa setiap kali Yui memprotes karena tangannya belepotan getah.

“Kalau kau terus mengeluh, kau tak akan bisa menikmati manisnya alam, Yui.”

Dan Yui kecil selalu membalas, “Tapi getahnya lengket, Ka-chan!”

Suara tawa mereka masih terdengar di dalam kepala Yui, jelas sekali, seakan baru kemarin.

Yui terus berjalan lebih dalam ke hutan. Di sebuah area yang agak terbuka, ia menemukan rumpun daun hijau panjang yang tumbuh diantara batu. Ia berjongkok dan tersenyum bawang putih liar. Persis seperti yang dulu dicari ibunya saat musim semi.

“Untuk pasta kesukaanmu, Ka-chan…” bisiknya sambil mencabut satu batang dengan hati-hati.

Hatinya hangat bukan karena udara, tapi karena ingatan yang selama ini ia hindari perlahan menjadi sesuatu yang menenangkan. Mungkin karena sekarang, setelah sekian lama, ia tidak lagi merasa sendirian di dunia.

…

Yui hampir lupa waktu. Ia baru sadar matahari sudah cukup tinggi ketika suara mesin kendaraan terdengar samar dari arah jalan utama. Ia keluar dari hutan dengan beberapa helai bawang liar di tangan, dan melihat Haruto berdiri di tepi sawah dengan jaket kerja tebal. Di belakangnya, mobil box-nya terparkir.

“Pagi sekali sudah di sini, ya,” sapa Haruto sambil melambaikan tangan.

Yui tersenyum malu, “Aku cuma ingin lihat sawahku… meski belum bisa ditanami.”

Haruto menatap tanah yang masih beku dan mengangguk. “Masih terlalu keras untuk dibajak. Tapi kalau kau mau, aku bisa bantu bersihkan pematang minggu depan. Biar pas saat air mulai mengalir, sawahmu sudah siap.”

“Tidak perlu repot, aku bisa melakukannya sendiri.”

“Tentu saja bisa,” jawab Haruto sambil tersenyum kecil, “Tapi tidak ada salahnya kalau aku ikut membantu, kan?”

Nada suaranya ringan, tapi entah mengapa membuat jantung Yui berdetak sedikit lebih cepat.

Mereka berjalan menyusuri pematang bersama. Haruto menatap sekeliling dan berkata, “Aku sering ke sini waktu kecil. Ayahku kadang membawaku memancing di sungai dekat sana. Kau tahu, ikan-ikan kecil itu masih ada sampai sekarang.”

Yui terkekeh, “Kau masih ingat hal sekecil itu?”

“Tentu saja. Aku juga ingat dulu kamu hampir jatuh ke air waktu mencoba menangkap belut.”

Pipi Yui memerah. “Kamu masih mengingat hal itu?”

“Bagaimana bisa lupa?” Haruto menatapnya, matanya hangat. “Kamu marah padaku seharian karena aku tertawa.”

Suasana menjadi tenang setelah itu. Hanya suara angin dan langkah mereka di atas tanah lembab.

“Yui…” ujar Haruto pelan setelah beberapa saat, “Aku lihat kamu mulai banyak menanam bunga di rumah kaca. Itu… semua dariku. Aku pikir kamu akan menyukainya.”

Yui menunduk, menggenggam ujung sarung tangannya. “Aku tahu itu darimu. Terima kasih, Haruto. Aku… senang sekali. Semua bunga itu—amarilis, iris, lily—itu semua yang dulu sering kutemukan di hutan waktu kecil.”

Haruto mengangguk. “Aku hanya ingin kamu punya sesuatu yang mengingatkanmu pada hal-hal indah dari masa lalu. Kadang kenangan bisa jadi tempat kita pulang, bukan beban.”

Kalimat itu membuat Yui terdiam lama.

“Terima kasih, Haruto…” bisiknya akhirnya.

…

Menjelang siang, matahari mulai menampakkan sinarnya. Es yang menutupi sungai kecil perlahan mencair, membentuk aliran kecil yang memantulkan cahaya keemasan. Yui duduk di pematang, membuka termos tehnya, lalu menuangkan dua cangkir.

“Untukmu,” katanya sambil menyerahkan satu cangkir pada Haruto.

Mereka duduk bersebelahan, menatap hamparan sawah kosong yang bersinar seperti kaca.

“Lucu ya,” kata Yui pelan, “Aku dulu ingin sekali kabur dari tempat ini. Kupikir Tokyo adalah segalanya; lampu-lampu, musik, orang-orang sibuk. Tapi di sini… aku baru merasa hidup.”

Haruto menatapnya. “Kadang kita memang harus jauh dulu untuk tahu apa arti rumah.”

Yui tersenyum. Angin dingin meniup rambutnya pelan, membuat beberapa helai menutupi pipinya. Haruto menatapnya lama, tapi tidak berkata apa-apa. Hanya senyum kecil yang mengembang di wajahnya.

Di kejauhan, seekor bangau melintas di atas sawah, sayapnya memecah kabut sisa pagi. Yui mengikuti gerakannya dengan pandangan kosong, sebelum berkata lirih, “Aku akan menanam padi di sini, Haruto. Tahun ini, aku ingin mulai dari awal. Dari tanah ini.”

Haruto mengangguk mantap. “Aku akan membantumu. Seperti dulu waktu kita kecil, kamu tanam, aku yang siram.”

Keduanya tertawa kecil. Tapi dibalik tawa itu, ada sesuatu yang tidak terucap. Sebuah kedekatan yang mulai tumbuh, perlahan tapi pasti — seperti bibit yang berani menembus tanah beku mencari sinar matahari.

Saat matahari semakin tinggi, Yui berdiri di tepi sawah, menatap tanah yang masih dingin tapi penuh janji. Di tangannya, masih tergenggam beberapa bawang liar dari hutan. Ia tahu, musim semi belum benar-benar tiba, tapi hatinya sudah mulai hangat karena ia tidak lagi sendirian.

Ia menatap Haruto yang sedang menatap langit sambil meneguk sisa teh hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yui merasa dunia yang membeku perlahan mulai mencair. Dan dari dalam dirinya, sesuatu yang lama hilang mulai tumbuh kembali. Keberanian untuk percaya bahwa hidup, seperti tanah, selalu bisa kembali menumbuhkan harapan.