Drama #Romance

15. Teratai yang Membeku

Penulis Xiao
01 December 2025

Suara mesin mobil box Haruto baru saja menghilang di kejauhan, meninggalkan gema yang perlahan ditelan oleh hening. Yui berdiri, menatap arah mobil itu pergi.

“Jaga dirimu, Yui. Aku akan kembali sebelum musim tanam dimulai,” begitu kata Haruto sebelum melangkah ke dalam kabin mobilnya.

Kini, hanya angin yang menjawab.

Yui menatap langit Hokkaido yang kelabu. Awan menggantung rendah, tapi di balik lapisan abu-abu itu, cahaya matahari berusaha menembus, menciptakan semburat oranye pucat di ufuk timur. Entah kenapa, Yui ingin kembali ke hutan. Tempat yang telah membangkitkan begitu banyak kenangan tentang ibu dan masa kecilnya.

Ia mengambil keranjang bekal dari sepedanya, setelah meletakkan kotak bekal di dudukan belakang sepeda. Di dalamnya, sudah ada sebilah pisau kecil, sehelai handuk, dan sebuah termos berisi sisa matcha. Ia mulai berjalan menelusuri pematang yang beku oleh es tipis. Setiap langkah menimbulkan suara renyah. Seolah bumi sendiri sedang berderak pelan di bawah sepatunya.

Jalan menuju hutan itu membentang melewati petak-petak sawah yang masih kosong. Di permukaannya, lapisan es tipis memantulkan cahaya pagi seperti serpihan kaca. Burung-burung kecil beterbangan rendah di antara pematang, mencari sisa benih yang mungkin tertinggal dari musim lalu.

Yui menatap semuanya dengan pandangan lembut. Seolah sedang melihat wajah lama yang penuh keriput tapi akrab. Setiap jengkal tanah di sana seakan masih menyimpan jejak langkah dirinya yang kecil, bersama ibu yang dulu selalu berjalan di depannya sambil membawa keranjang anyaman penuh sayuran liar.

Begitu sampai di tepi hutan, Yui berhenti sejenak. Hutan itu masih tampak sama: pohon-pohon pinus yang menjulang, ranting-ranting telanjang yang menyisakan titik-titik salju di ujungnya, dan aroma tanah lembap yang tajam namun menenangkan. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk.

…

Langkah pertamanya membuat daun-daun kering di tanah berderak pelan. Cahaya matahari menembus sela-sela cabang, menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh di wajahnya. Di antara pohon-pohon itu, Yui kembali merasakan sesuatu yang lama hilang. Kehangatan yang sederhana, tapi juga getir.

Ia masih ingat, betapa ibunya dulu selalu tahu tempat-tempat tersembunyi di hutan ini: di balik batu besar dekat sungai, di bawah batang pohon rebah, atau di sekitar akar pinus tempat jamur liar tumbuh melingkar seperti karangan bunga.

Dan sekarang, di sinilah dia. Sendirian, tapi dengan langkah yang sama seperti dulu.

Tak butuh waktu lama sampai matanya menangkap sesuatu di antara tumpukan daun kering: deretan kecil tanaman pakis yang baru tumbuh, daunnya masih menggulung rapat seperti kepalan tangan kecil yang enggan terbuka. Butiran embun membeku di permukaannya, berkilau seperti kaca bening saat tersentuh sinar matahari.

“Pakis muda…” bisiknya lirih.

Senyum muncul di wajah Yui. Tangannya meraih satu tangkai dan memutarnya pelan, hati-hati agar tidak merusak pucuknya. Ia tahu benar bagaimana rupa sayuran liar itu. Bahan yang dulu sering dipakai ibunya untuk membuat warabi no itame: tumis daun pakis muda dan udang dengan rasa pedas yang menggigit dan harum bawang putih liar.

Perlahan, Yui memetik beberapa batang pakis muda dan menatanya di dalam keranjang. Setiap kali tangannya menyentuh daun yang dingin itu, kenangan masa kecilnya semakin jelas. Ia teringat ibunya yang selalu bersenandung kecil setiap kali memetik tanaman. Sebuah lagu lama yang tidak pernah selesai.

Tanpa sadar, Yui mulai bersenandung juga. Nada itu lembut, mengambang di udara dingin pagi, seperti gema yang menolak padam.

Selesai memetik pakis, Yui berjalan sedikit lebih ke dalam. Hutan tampak sunyi, tapi bukan kesunyian yang menakutkan; melainkan tenang, seolah seluruh dunia sedang beristirahat. Di antara semak, Yui melihat daun-daun hijau lebar dengan bunga putih kecil yang baru mekar. Ia berlutut, mengangkat salah satunya, dan segera mengenali aroma tajam yang begitu khas.

“Bawang putih liar lagi. Aku tak menyangka kalian akan muncul begitu awal tahun ini…” katanya pelan.

Ia memetik beberapa batang dan mencabut akarnya yang ramping. Aroma bawang putih segar langsung memenuhi udara. Yui menutup mata, menghirup dalam-dalam, lalu tertawa kecil. Ia tahu rasa tanaman ini akan luar biasa bila ditumis bersama ikan atau dijadikan campuran sup.

Namun yang membuatnya tersenyum bukan hanya karena menemukan bahan makanan yang bagus, melainkan karena bau itu, aroma bawang putih yang lembut, adalah aroma yang selalu memenuhi dapur ibunya dulu. Setiap kali ibunya menumis bawang putih liar di atas wajan besi tua, rumah mereka akan terasa hangat bahkan di tengah badai salju.

Kini, bau itu kembali hadir.

Yui menatap bunga-bunga kecil itu. Kelopak putihnya yang sederhana, yang tetap mekar meski salju belum sepenuhnya mencair. “Kau keras kepala juga, ya,” katanya sambil tersenyum. “Sama seperti aku.”

Yui memutuskan untuk menuruni jalan kecil di sisi timur hutan. Ia ingat dulu di sana ada sebuah kolam dangkal yang kadang dipenuhi tanaman air. Jalan menuju kolam itu kini hampir tertutup oleh ranting dan lumut, tapi Yui masih mengingat arah langkahnya dengan baik.

Begitu tiba, ia tertegun. Kolam itu masih ada. Airnya memantulkan langit keabu-abuan, dengan permukaan yang sebagian tertutup daun-daun teratai air. Di pinggirnya, terdapat lapisan es tipis yang pecah saat disentuh angin.

Yui melangkah mendekat. Ia jongkok di tepi air, menatap pantulan wajahnya sendiri yang tampak pucat dan letih. Namun matanya tertuju pada sesuatu di bawah permukaan air. Bentuk melingkar dan panjang yang samar-samar terlihat di bawah lumpur. Ia mengenalinya seketika.

“Akar teratai…” katanya dengan mata berbinar.

Bayangan aroma sup teratai dan ikan asin segera muncul di pikirannya. Ibunya sering membuatnya setiap kali musim dingin mulai berakhir. Sup hangat dengan potongan akar teratai renyah, bawang liar, dan kaldu ikan yang lembut.

Perut Yui mendadak lapar hanya karena membayangkannya.

Tanpa berpikir panjang, ia menyingkirkan sepatunya, menggulung celana hingga lutut, dan melangkah ke dalam kolam. Airnya dingin luar biasa, menusuk seperti ribuan jarum kecil. Tapi Yui tidak mundur. Ia menunduk, meraba lumpur dengan kedua tangannya, mencari tekstur akar teratai yang licin dan keras.

Beberapa kali tangannya hanya menemukan batu dan potongan ranting. Hingga akhirnya, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang bulat dan kokoh. Dengan cepat ia menggali lumpur di sekitarnya dan menarik akar itu keluar.

Air berlumpur memercik ke wajahnya, tapi Yui tertawa kecil saat melihat hasilnya: satu batang akar teratai panjang, gemuk, dan utuh. Panjangnya hampir setengah meter. Cukup untuk beberapa kali makan.

“Indah sekali…” gumamnya, menatap akar itu yang mengkilap di bawah cahaya pucat pagi.

Ia memotongnya dari batang utama dengan pisau kecil, lalu meletakkannya di dalam keranjang. Tangannya gemetar, sebagian karena dingin, sebagian lagi karena kegembiraan. Lumpur menempel di baju dan wajahnya, tapi Yui tidak peduli.

Untuk sesaat, ia merasa seperti anak kecil lagi, yang berlari di antara pepohonan sambil membawa hasil panen pertamanya kepada sang ibu.

…

Saat Yui keluar dari kolam, angin bertiup lebih kencang. Ia menatap langit. Awan bergerak cepat, menandakan hujan atau salju ringan mungkin segera turun. Ia segera membungkus hasil temuannya dengan kain dan melangkah pulang.

Perjalanan pulang terasa lebih berat karena pakaian yang basah dan lumpur di kakinya, tapi hatinya hangat. Setiap langkah mengembalikan potongan kecil dari masa lalu: suara ibu yang tertawa, wajah Haruto yang tersenyum kikuk saat mereka kecil dulu, dan aroma masakan yang memenuhi dapur.

Yui sadar, betapa banyak hal telah berubah. Namun di dalam dirinya, sesuatu tetap sama. Dorongan kecil untuk terus hidup, terus menanam, terus memasak… meski dunia di sekelilingnya terasa dingin dan sepi.

…

Begitu sampai di rumah, Yui segera menyalakan pemanas dan membersihkan diri. Ia mengganti pakaian, lalu berjalan ke dapur. Dari lemari kayu di sudut ruangan, ia mengambil bahan-bahan yang Haruto bawa beberapa hari lalu; ikan kering, garam, dan kaldu bubuk. Yui menyiapkan semuanya di atas meja. Ia mengiris bawang putih liar yang tadi ia petik, memotong akar teratai menjadi irisan tipis, dan mencuci pakis muda dengan air hangat agar embun beku mencair.

Uap hangat mulai memenuhi dapur. Suara desis wajan terdengar begitu hidup, seolah rumah itu kembali bernapas. Yui menumis bawang putih liar terlebih dahulu hingga aromanya memenuhi ruangan, lalu menambahkan irisan pakis dan akar teratai. Uap dari tumisan itu naik perlahan, seperti kabut kecil yang menari di udara.

Di luar, butiran salju mulai turun perlahan, menutupi kaca jendela. Tapi di dalam rumah, aroma masakan, cahaya, dan suara lembut dari api membuat waktu terasa berhenti. Ketika hidangan itu akhirnya matang, Yui menuangkannya ke dalam mangkuk besar, lalu duduk di kursi dekat jendela. Di luar, salju masih turun, tapi di dalam, rasa hangat memenuhi seluruh tubuhnya.

Ia menyendok satu suap, dan senyum perlahan muncul di wajahnya. Rasanya persis seperti buatan ibunya dulu. Meski dengan bahan sederhana.

“Terima kasih, Ibu…” bisiknya pelan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yui merasa tenang. Bukan karena kesepian telah pergi, tapi karena ia belajar berdamai dengannya.

…

Menjelang senja, salju berhenti turun. Langit Hokkaido kembali cerah, menampilkan warna jingga keemasan yang menembus pepohonan di kejauhan. Di dapur, panci masih hangat, dan aroma akar teratai masih memenuhi udara.

Yui berdiri di depan jendela, menatap ke arah jalan desa. Ia berpikir tentang Haruto, tentang janji kecilnya untuk kembali, tentang semua hal yang belum sempat mereka katakan. Di dalam hatinya, Yui tahu: hidupnya kini pelan-pelan mulai bergerak lagi, seperti benih bawang bombay di rumah kaca yang mulai tumbuh, seperti bunga kecil di hutan yang menolak tunduk pada musim dingin.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi untuk malam ini, ia cukup bahagia. Karena di tengah tanah beku dan heningnya udara, ia kembali menemukan sesuatu yang nyaris hilang - rasa rumah.