Pagi yang dingin berubah menjadi sore yang berwarna keemasan. Cahaya matahari Hokkaido yang condong ke barat memantulkan kilau halus di permukaan kolam dan dedaunan yang masih diselimuti sisa salju. Dari dapur di rumah Yui, terdengar suara air mengalir dan denting lembut dari panci yang bersentuhan dengan sendok logam.
Yui tengah berdiri di depan bak cuci piring, tangannya tenggelam dalam air yang mulai hangat. Di depannya, akar-akar teratai yang didapatkan dari hutan tergeletak di atas papan kayu. Lumpur yang menempel di permukaannya telah kering dan retak, meninggalkan warna coklat gelap yang pekat. Dengan sikat halus, Yui membersihkannya satu per satu, seolah sedang mengembalikan kilaunya yang lama tersembunyi.
Sambil bekerja, Yui teringat sesuatu yang ibunya sering katakan ketika ia masih kecil. “Hutan di desa ini adalah dapur kecil, Yui. Dapur yang tidak pernah habis memberi.”
Waktu itu, Yui hanya menatap ibunya dengan bingung. Ia mengira ibunya hanya bercanda, atau sedang berusaha membuat dirinya senang di tengah masa-masa sulit. Tapi kini, bertahun-tahun kemudian, Yui mulai memahami arti sebenarnya dari ucapan itu.
Dulu, ketika uang mereka tak cukup untuk membeli sayur di pasar, ibunya hanya tersenyum dan berkata, “Tak apa, kita punya hutan.” Lalu mereka berdua akan berjalan bersama menuju pepohonan pinus, mencari pakis muda, daun bawang liar, atau jamur yang tumbuh di bawah pohon cemara. Kadang mereka menemukan persimmon liar, kadang hanya rumput yang bisa dijadikan teh. Tapi entah bagaimana, meja makan mereka selalu penuh.
Kini, saat Yui duduk sendiri di dapur kecil peninggalan ibunya, kalimat itu terasa hidup kembali. Hutan itu benar-benar sebuah dapur. Bukan dari batu dan kayu, tapi dari tanah, udara, dan waktu.
Setelah membersihkan akar teratai hingga tampak putih cerah, Yui memisahkan potongan yang lebih besar untuk dibuat gobo menchi katsu - daging giling goreng dengan isian akar teratai. Sementara batang kecilnya akan ia sisakan untuk sup miso malam nanti.
Ia kemudian beralih pada tanaman bawang putih liar yang sudah ia petik kemarin. Bau tajamnya memenuhi udara, menusuk tapi hangat. Yui memisahkan daun dan bunganya dari batang, menaruhnya di dua wadah berbeda. Ia tahu, batang yang tebal perlu waktu lebih lama untuk matang, sementara daun dan bunga akan layu dalam hitungan menit di atas wajan panas.
Dapur kecil itu kini tampak seperti ladang mini: mangkuk berisi bunga putih kecil, potongan akar berongga, segenggam daun pakis, dan beberapa kerang yang tadi pagi ia ambil dari sungai di tepi hutan. Yui tersenyum puas. Semua bahan itu gratis, hadiah dari hutan dan air. Tapi ia tahu, jika diolah dengan benar, semuanya bisa menjadi hidangan yang luar biasa.
…
Ia mulai dengan menyiapkan air untuk merebus spageti. Ketika air mendidih, ia meneteskan sedikit minyak zaitun dan garam. Sementara menunggu pasta matang, Yui memanaskan wajan dan menuang minyak zaitun lebih banyak, lalu menambahkan bawang putih liar cincang. Suara desis lembut langsung terdengar, dan aroma harum segera memenuhi ruangan.
Ia memejamkan mata sejenak. Suara itu… aroma itu… mengingatkannya pada ibunya. Pada siang hari musim semi, ketika bunga sakura mulai rontok, dan ibunya memasak aglio e olio dengan tawa kecil. Hanya pasta, bawang putih, dan minyak, tapi rasanya bisa membuat dunia terasa damai.
“Tidak ada yang lebih mewah dari aroma bawang putih yang ditumis dengan minyak,” kata ibunya dulu. Dan sekarang, Yui tahu itu benar.
Ketika pasta mulai matang, ia menambahkan kerang-kerang kecil yang dia kumpulkan dari sungai. Suara desis berubah menjadi gemuruh kecil saat air dari kerang bertemu dengan minyak panas. Uap naik, membawa aroma kerang yang berpadu dengan harum dari bawang putih liar. Yui menuangkan sedikit air rebusan pasta, lalu mengaduk semuanya perlahan.
Begitu kerang terbuka satu per satu, Yui menaburkan lada hitam dan serpihan cabai kering. Setelah itu, spageti masuk ke dalam wajan, berputar lembut mengikuti gerakan tangannya. Dalam sekejap, dapur kecil itu berubah menjadi ruang yang penuh kehidupan.
Untuk hidangan kedua, Yui menyiapkan gobo menchi katsu. Ia telah mengupas akar teratai satu per satu hingga terlihat bagian dalamnya yang berwarna putih susu. Lalu ia kukus sebentar agar lunak, sebelum menyiapkan adonan daging giling dengan campuran lada hitam, garam, sedikit kecap asin, dan gula.
Yui menaruh selembar akar teratai kukus di atas piring, menambahkan lapisan daging giling di tengahnya, lalu menutupnya dengan lembaran akar teratai lainnya menyerupai sandwich. Ia menepuk-nepuk bagian pinggirnya, membalurnya dengan tepung panir dan telur kocok. Ketika potongan itu masuk ke dalam minyak panas, suara renyah langsung memenuhi udara. Yui menatap potongan menchi katsu yang perlahan berubah warna menjadi keemasan. Minyak berkilau seperti salju yang mencair di bawah sinar matahari.
Di tengah kesunyian sore itu, hanya suara gorengan yang berbicara.
Sementara menchi katsu masih hangat, Yui menyiapkan tumisan daun pakis muda. Ia mengambil sedikit minyak dari kulit ayam yang ia simpan sebelumnya, lalu menumisnya hingga mengeluarkan aroma gurih. Setelah itu, ia menambahkan bawang putih liar cincang dan sedikit minyak cabai.
Begitu wajan cukup panas, pakis muda masuk ke dalamnya - masih basah oleh sisa embun pagi. Daun-daunnya berubah warna dari hijau pucat menjadi hijau gelap hanya dalam beberapa detik. Aroma pedas bercampur dengan gurihnya minyak ayam dan harum wijen yang kemudian ia taburkan di atasnya. Semuanya terasa begitu alami. Tidak ada resep yang rumit, tidak ada takaran pasti. Yui hanya mengikuti insting. Sama seperti yang dilakukan ibunya dulu.
Masakan terakhir adalah sup miso. Yui memulainya memanaskan air di panci besar, lalu menambahkan potongan ikan yang Haruto berikan beberapa waktu lalu. Ia menunggu kaldu itu mengeluarkan aroma gurih sebelum memasukkan tofu, rumput laut kering, dan potongan kecil akar teratai yang tersisa. Saat kuah mulai mendidih perlahan, ia melarutkan pasta miso di dalamnya, mengaduk hingga rata.
Uap putih naik perlahan, memenuhi dapur dengan wangi khas miso yang menenangkan. Ketika sup itu akhirnya matang, Yui mencicipinya sedikit. Rasanya gurih, lembut, dan hangat. Seperti pelukan yang datang setelah hari panjang.
Ia menatap semua hidangan yang kini tersusun di meja: sepiring spaghetti aglio e olio dengan kerang, menchi katsu teratai yang keemasan, tumis pakis muda, dan semangkuk sup miso yang masih mengepulkan uap. Semuanya terlihat seperti pesta kecil yang hanya dihadiri oleh dirinya sendiri.
…
Yui duduk di kursi kayu di meja makan. Sinar sore masuk dari jendela, mengenai wajahnya dan pantulan panci di dapur. Ia menatap semua hidangan itu lama sekali. Bukan dengan rasa lapar, tapi rasa haru. Memasak telah menjadi caranya berbicara dengan masa lalu. Setiap bahan dari hutan, setiap suara desis, setiap aroma… semuanya adalah bahasa yang digunakan ibunya untuk mengajarinya tentang kehidupan.
Dan sekarang, meski ibunya tidak bisa bersamanya, bahasa itu masih berbicara.
Yui menyendok sedikit spageti, mencicipinya perlahan. Rasa bawang putih liar membuatnya teringat pada jalan setapak di hutan; rasa kerang membuatnya teringat pada sungai kecil tempat ia sering bermain dengan Haruto. Dan rasa miso, rasa itu membuatnya teringat pada rumah. Tempat di mana dunia terasa lebih lembut. Ia menelan perlahan, menutup mata. Hatinya terasa ringan untuk pertama kali dalam beberapa bulan. Namun ketika ia membuka mata, ia tertegun. Meja itu penuh makanan. Terlalu banyak untuk dirinya sendiri.
Yui tersenyum getir. “Sepertinya aku terlalu semangat,” gumamnya.
Ia memandangi hidangan yang ada sebelum sempat memakannya. Rasanya sayang jika sampai terbuang, dan seketika ia teringat dua orang yang selalu membuatnya merasa tidak sendirian di desa ini: Haruto, yang selalu datang dengan sekeranjang bahan makanan, dan Obaasan Miyako, yang sering membantunya ketika dia baru pindah.
Tanpa pikir panjang, Yui mengambil beberapa wadah bento besar, mengisinya dengan sup miso dan menchi katsu teratai, serta beberapa potong tumisan pakis. Ia membungkusnya dengan kain bergaris biru muda, lalu mengenakan jaket tebal dan syal. Sore itu, langit mulai berubah warna, tapi cahaya matahari terakhir masih menembus celah awan.
Yui membawa bungkusan itu dan melangkah keluar rumah.
…
Jalan menuju rumah Obaasan Miyako melewati gang kecil di antara ladang yang masih kosong. Udara dingin menggigit kulit, tapi hati Yui hangat karena membayangkan senyum wanita tua itu saat menerima makanan. Namun begitu tiba di rumah Obaasan, pemandangan yang ia lihat membuatnya sedikit terkejut. Wanita tua itu sedang berdiri di halaman belakang rumah, mengenakan sarung tangan tebal dan penutup kepala. Di depannya, dinding dapur bagian luar tampak rusak. Kayu dan plester terkelupas, meninggalkan lubang besar.
“Obaasan?” panggil Yui sambil melangkah mendekat.
Miyako menoleh, wajahnya sedikit kaget tapi langsung tersenyum. “Ah, Yui-chan! Kamu datang juga. Maaf, aku agak berantakan. Tadi pagi babi liar menabrak dinding dapur.”
“Babi liar?” Yui menatap lubang di dinding, tampak bekas lumpur dan serpihan kayu di sekitarnya. “Untung tidak masuk sampai ke dalam rumah.”
Miyako tertawa kecil. “Untungnya tidak. Tapi lihat ini… dindingnya hancur. Aku baru saja mau memperbaikinya sebelum malam datang.”
Yui menaruh bungkusan makanannya di meja kecil di halaman. “Biar aku bantu, Obaasan. Aku tidak bisa diam saja melihat ini.”
“Oh, tidak perlu, Yui-chan. Kau pasti lelah...”
“Tolong izinkan aku membantu,” potong Yui lembut, “Aku punya waktu, dan tangan yang cukup kuat.”
Miyako menatapnya sejenak, lalu tersenyum. “Baiklah. Tapi hanya kalau kau mau makan malam di sini nanti.”
“Setuju,” jawab Yui sambil tertawa.
…
Mereka bekerja bersama hingga matahari benar-benar tenggelam. Yui membantu menambal dinding dengan papan kayu cadangan dan campuran tanah liat. Angin malam mulai berhembus, membawa aroma masakan yang masih tersisa di bungkusan kain. Ketika akhirnya selesai, mereka duduk di bangku kayu depan rumah.
Yui membuka bungkusan dan mengeluarkan makanan yang ia bawa. “Aku membuat terlalu banyak hari ini,” katanya malu-malu. “Jadi aku pikir, mungkin Obaasan mau mencicipinya.”
Miyako tertawa kecil. “Kau makin mirip ibumu, Yui-chan. Dia juga begitu. Selalu membuat terlalu banyak, lalu memaksa orang lain makan bersamanya.”
Yui menunduk, tapi senyum kecil muncul di wajahnya. Mereka makan bersama dalam diam. Suara jangkrik mulai terdengar dari kejauhan, bercampur dengan gemerisik ranting yang digoyang angin malam.
Miyako mencicipi menchi katsu teratai itu, lalu mengangguk puas. “Renyah sekali. Dan rasa akarnya masih segar. Kamu belajar ini dari ibumu, ya?”
“Dari ingatanku,” jawab Yui pelan. “Dari rasa yang masih tertinggal.”
Miyako menatap Yui dengan lembut, lalu berkata, “Hutan memang dapur bagi kita semua. Tapi bagi ibumu… hutan adalah cara untuk tetap hidup. Dan sekarang, bagimu, mungkin hutan adalah cara untuk kembali pulang.”
Kata-kata itu membuat Yui terdiam lama. Angin membawa aroma tanah dan bunga liar. Ia menatap ke arah hutan yang gelap di kejauhan. Tempat di mana semua bahan makanannya berasal, tapi juga tempat dimana kenangan masa lalunya berakar. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak takut lagi pada kesunyian. Karena di dalam kesunyian itu, ada kehidupan yang tumbuh. Ada cinta yang tetap berdenyut. Bahkan di tengah musim dingin yang tak mau berakhir.