Drama #Romance

17. Ketika Rumput Mulai Tumbuh Kembali

Penulis Xiao
01 December 2025

Udara pagi di Furano masih terasa menggigit, namun tidak lagi sekejam beberapa minggu yang lalu. Udara dingin yang menusuk telah berganti menjadi hembusan lembut yang membawa aroma tanah basah dan sisa salju yang mencair. Di kejauhan, gunung-gunung masih diselimuti putih, tapi di kaki bukit, di mana ladang-ladang mulai tampak coklat muda dan sedikit kehijauan. Pertanda awal musim semi mulai terlihat.

Yui berdiri di tepi sawahnya, sepeda tuanya bersandar pada pagar kayu yang lapuk oleh cuaca. Di tangannya, termos kecil berisi teh hangat hangat masih mengepulkan uap. Dia menatap petak-petak sawah kosong yang berkilau saat diterpa cahaya lampu jalan yang belum padam sepenuhnya. Lumpur di sana memantulkan cahaya kekuningan yang lembut seperti cermin kabur. Fajar belum menyingsing, tapi Yui sudah di sini, berdiri sendirian di tengah udara yang perlahan mulai berbau kehidupan.

“Belum ada yang mulai menanam rupanya…” gumam Yui pelan, menurunkan pandangan ke arah sepatu boots-nya yang sudah berlumur lumpur.

Suaranya sendiri terdengar asing di tengah kesunyian yang hanya diisi oleh suara burung-burung kecil yang baru bangun. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan aroma lumpur dan udara dingin. Sesuatu dalam dirinya terasa bergetar. Semangat yang selama ini tersembunyi di bawah lapisan keraguan, kini perlahan muncul ke permukaan.

Yui tahu tanah itu masih terlalu dingin. Bahkan air di selokan kecil di sisi sawahnya masih mengandung lapisan tipis es di beberapa tempat. Tapi hasratnya untuk kembali menanam begitu besar, seolah panggilan yang datang dari tanah itu sendiri.

Langkah-langkah ringan tiba-tiba terdengar dari belakang. Yui menoleh. Di antara kabut tipis yang menggantung di atas pematang sawah, tampak sosok perempuan berambut panjang mengenakan mantel wol krem dan syal tebal berwarna biru muda.

“Yui?” suara itu terdengar lembut namun ragu.

Yui menyipitkan mata, berusaha mengenali wajah yang samar di balik kabut. “Iya…?”

Perempuan itu melambaikan tangan kecilnya sambil berlari kecil mendekat. Saat wajahnya mulai terlihat jelas, Yui tertegun. Mata sipitnya, lesung pipinya, dan rambut panjang yang sebagian terurai ditiup angin. Semua terasa begitu familiar, seperti potongan kenangan yang kembali menampakkan diri setelah bertahun-tahun.

“Aku Kanae!” serunya ceria. “Kanae Arimura! Kamu ingat?”

Yui berkedip beberapa kali, mencoba memutar kembali ingatannya yang telah tertutup debu waktu. Nama itu… terdengar akrab, tapi samar. Hingga perlahan, potongan masa lalu muncul. Ruang kelas kecil di SMP mereka, tawa gadis berambut panjang yang selalu membawa bekal nasi gulung buatan ibunya, dan sore-sore sepulang sekolah ketika mereka berjalan bersama menuju jembatan tua sebelum Yui pindah ke Tokyo.

“Ah… Kanae?” Yui menutup mulutnya dengan tangan, hampir tidak percaya. “Kamu Kanae yang dulu sering meminjam pensilku saat pelajaran matematika itu?”

Kanae tertawa, menepuk pundak Yui dengan ringan. “Ya Tuhan…, kamu masih ingat! Aku pikir kamu sudah lupa. Sudah hampir sepuluh tahun, kan?”

Yui tersenyum, canggung tapi hangat. “Kupikir aku satu-satunya orang yang kembali ke desa ini.”

“Tidak, ternyata kita berdua,” jawab Kanae, menatap ke arah sawah kosong di hadapan mereka. “Aku baru tiba dari Nara minggu lalu. Rasanya aneh, ya? Kembali ke tempat yang dulu kita tinggalkan.”

Mereka berdiri berdampingan di pematang sawah, diam beberapa saat. Kabut perlahan naik, menyingkap barisan gunung yang mulai disinari sinar merah muda dari matahari terbit.

“Aku dengar dari ibu-ibu di pasar, kamu sekarang tinggal di rumah lama keluargamu,” kata Kanae sambil menyelipkan rambut di balik telinganya. “Kupikir kamu sudah menetap di Tokyo.”

“Aku sempat,” jawab Yui pelan. “Tapi setelah ayah meninggal, aku memutuskan untuk kembali. Furano… entah kenapa, rasanya masih memanggilku.”

Kanae menatap Yui lama, tampak keterkejutan yang tak bisa ditutupi di wajahnya. Lalu mengangguk pelan. “Aku juga begitu. Setelah… yah, setelah aku dan kekasihku berpisah, rasanya tak ada lagi yang menahanku di Nara. Aku berhenti dari pekerjaanku di toko buku dan memutuskan pulang saja. Lagipula, ibu dan dua adikku butuh bantuanku di rumah.”

Yui tersenyum tipis. “Sepertinya kita sama-sama sedang mulai dari awal lagi, ya?”

“Benar,” jawab Kanae. “Dan mungkin itu bukan hal buruk.”

Mereka tertawa pelan, dan untuk sesaat keheningan di sawah terasa lebih lembut.

...

Kanae mengajak Yui mampir ke rumahnya. Rumah keluarga Arimura terletak di tepi desa, tak jauh dari jalan kecil menuju hutan. Perjalanan mereka dengan sepeda hanya memakan waktu sepuluh menit, melewati deretan rumah-rumah kayu tradisional dan ladang kentang yang masih kosong.

Rumah itu tampak hangat. Atap genting merah tua dan taman kecil di depannya, tempat bunga camellia sedang mulai bermekaran meski udara masih dingin. Seorang wanita paruh baya sedang menyapu halaman saat mereka tiba.

“Ibu, ini Yui!” seru Kanae dengan suara ceria. “Kamu ingat? Dia teman sekolahku dulu!”

Ibunya Kanae menoleh, matanya membulat senang. “Astaga, Nak Yui! Tentu saja ingat. Kamu dulu sering main ke rumah, kan? Sudah besar sekali sekarang.”

Yui menunduk sopan. “Senang bertemu lagi, Okaasan.”

Dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki tergesa dan dua gadis kembar keluar sambil membawa roti panggang di tangan masing-masing. “Kak! Siapa tamumu?” tanya salah satu dari mereka dengan antusias.

“Ini Yui, temanku dari SMP,” jawab Kanae. “Yui, ini adik-adikku, Aki dan Saki.”

Keduanya langsung membungkuk sopan. “Selamat pagi!”

Yui membalas salam mereka dengan tawa kecil. “Kalian mirip sekali.”

“Orang-orang selalu bilang begitu,” ujar Aki dengan bangga. “Tapi aku sedikit lebih tinggi!”

Saki cemberut. “Hanya karena kau pakai kaus kaki dua lapis!”

Mereka bertiga tertawa. Suasana rumah itu begitu hidup, hingga Yui hampir lupa betapa sunyinya rumahnya sendiri selama ini.

…

Setelah membantu Kanae membuat teh dan menata camilan di meja, mereka duduk di ruang tamu yang hangat karena tungku kayu yang menyala. Di dinding, tergantung foto-foto keluarga Arimura, termasuk satu foto lama yang menampilkan seorang pria dengan wajah lembut yang memegang bayi. Ayah Kanae.

“Beliau meninggal dua tahun lalu,” kata Kanae lirih saat melihat Yui menatap foto itu lama. “Kecelakaan di jalan gunung.”

Yui terdiam sejenak. “Aku turut berduka…”

Kanae menggeleng pelan, tersenyum meski matanya sedikit basah. “Tidak apa-apa. Kami sudah lebih kuat sekarang.”

Keheningan sebentar menyelimuti ruangan, lalu Aki tiba-tiba berkata, “Kak Kanae, tunjukkan tempat itu pada Yui!”

Kanae mengerjap. “Tempat apa?”

“Sekolah lama kalian, tentu saja!” jawab Saki cepat. “Ibu bilang sekolah itu sudah tidak dipakai lagi, tapi masih utuh.”

Yui menoleh dengan antusias. “Sekolah lama kita masih ada?”

Kanae mengangguk, wajahnya memancarkan nostalgia. “Ya, masih berdiri di ujung bukit dekat sungai. Sudah lama ditutup karena jumlah murid menurun. Tapi… kalau kamu mau, kita bisa kesana sekarang.”

…

Mereka berjalan melewati jalan setapak yang menurun, dikelilingi oleh pohon-pohon cemara dan suara burung yang bersahut-sahutan. Sisa salju di bawah kaki mereka mencair perlahan, membuat tanah becek dan licin. Di kejauhan, atap sekolah tua itu mulai tampak di antara pepohonan.