Drama #Romance

18. Sekolah yang Terlupakan

Penulis Xiao
01 December 2025

Udara pagi masih membawa aroma tanah lembab dan dedaunan kering saat Yui dan Kanae menapaki jalan menuju sekolah lama mereka. Jalan setapak itu sedikit menanjak, melewati semak-semak dan pepohonan tua yang sudah mulai menumbuhkan tunas-tunas muda di cabangnya. Dari kejauhan, atap bangunan sekolah yang dulu megah itu kini tampak pudar, catnya mengelupas, dan di beberapa bagian, lumut hijau tumbuh tebal. Namun yang paling mengejutkan bagi Yui bukanlah kondisi bangunannya. Melainkan halaman sekolah yang kini berubah total.

Di tempat di mana dulu anak-anak berlari, bermain bola, dan tertawa riang di bawah sinar matahari, kini berdiri puluhan tiang-tiang kayu tinggi yang tersusun rapi membentuk barisan seperti pagar. Di antara tiang-tiang itu, terbentang tali-tali bambu yang digunakan untuk menjemur sayuran. Irisan lobak, wortel, taro, dan bahkan irisan tipis kentang menggantung di tali itu, bergoyang lembut diterpa angin dingin pagi. Di beberapa tempat, terlihat para ibu desa sibuk menata hasil jemuran, membalik sayuran yang sudah kering, atau memindahkannya ke dalam keranjang bambu.

“Aku…” Yui tertegun, suaranya hampir tak terdengar. “Aku tidak menyangka halaman sekolah kita akan jadi seperti ini.”

Kanae mengangguk pelan, ekspresinya sedikit getir. “Ya. Setelah sekolah ini resmi ditutup, pemerintah desa memberikan izin untuk menjadikannya tempat pengeringan sayur dan hasil panen. Daripada dibiarkan kosong dan rusak, katanya lebih baik dimanfaatkan.”

Yui menatap lapangan basket lama mereka. Tempat di mana dulu ia sering duduk menonton Haruto dan teman-temannya bermain. Kini, garis-garis putih lapangan sudah nyaris tak terlihat. Di tengah lapangan, berdiri tiang-tiang bambu dengan jemuran taro berwarna ungu muda yang kontras dengan latar coklat tanah.

Angin bertiup lembut, membawa aroma khas dari sayuran yang dijemur; pahit, manis, dan getir bercampur jadi satu. Aroma yang tak asing bagi desa kecil seperti Furano, namun begitu asing jika diingat dalam konteks halaman sekolah.

Yui berjalan pelan di antara tiang-tiang bambu, menyentuh salah satu tali tempat irisan lobak tergantung. “Rasanya aneh,” katanya pelan. “Tempat ini dulu penuh suara. Sekarang yang tersisa hanya… diam.”

Kanae menatapnya dengan senyum samar. “Aneh ya, Yui? Dulu kita ingin cepat-cepat keluar dari sekolah ini. Tapi sekarang rasanya ingin sekali kembali ke masa itu.”

Yui tertawa kecil, getir. “Aku bahkan bisa membayangkan diriku berlari di sini, membawa bola basket terlalu besar untuk tanganku.”

“Aku masih ingat!” ujar Kanae tiba-tiba. “Kau pernah jatuh waktu lomba antar kelas, dan lututmu berdarah, tapi kau malah tertawa.”

Yui tertawa, menutup mulutnya. “Kau masih ingat hal itu?”

“Tentu saja. Aku bahkan ingat Haruto yang panik dan membawakan plester dari UKS.”

Suara tawa mereka menggema di halaman yang kini sunyi. Di kejauhan, seorang ibu desa yang sedang menjemur sayur menatap mereka sebentar, lalu tersenyum.

Rasa penasaran Yui tak terbendung. Ia melangkah menuju pintu utama sekolah. Pintu geser kayu besar yang catnya sudah memudar dan berdebu. Ia memegang gagangnya, mencoba mendorong perlahan. Mengejutkannya, pintu itu terbuka begitu saja dengan suara berderit lembut.

“Tidak terkunci,” katanya pelan.

Kanae menatapnya ragu. “Apa kita boleh masuk?”

“Tidak ada tanda larangan, kan?” jawab Yui sambil tersenyum kecil. “Lagipula… aku ingin melihatnya sekali lagi.”

Mereka melangkah masuk ke dalam. Begitu melewati ambang pintu, hawa lembab menyambut mereka. Campuran aroma kayu tua, debu, dan sedikit bau karat dari pipa-pipa besi. Rak sepatu di dekat pintu masuk masih berdiri, meski sebagian papan kayunya mulai rapuh. Di sana, masih tergantung label nama murid-murid yang sudah pudar tintanya.

Yui menelusuri dengan hati-hati. Jendela-jendela besar di sepanjang koridor kotor oleh debu dan sarang laba-laba, namun cahaya matahari menembus celahnya, menciptakan pancaran lembut di lantai kayu yang retak di beberapa bagian.

“Lihat itu,” ujar Kanae pelan sambil menunjuk ke arah gudang sepeda. “Seng di bagian atapnya sudah hampir roboh. Tapi sepeda tua milik penjaga sekolah masih di sana.”

Yui berjalan ke arah gudang kecil itu dan menatap dari balik jendela. Benar saja, di dalamnya ada sepeda tua berkarat, dengan keranjang rotan di depannya. Di keranjang itu, masih ada topi jerami yang sudah kusam dan berdebu.

“Hari terakhir sekolah,” kata Yui tiba-tiba. “Aku masih ingat. Penjaga sekolah itu. Pak Iwamoto, menitipkan sepeda itu pada Haruto untuk dikembalikan ke rumahnya, tapi sepertinya Haruto lupa.”

Kanae tersenyum samar. “Atau mungkin… dia sengaja membiarkannya di sini. Seperti kenangan yang tak ingin dibawa pulang.”

Yui menatap sepeda itu lama, lalu mengangguk kecil. “Mungkin kau benar.”

Mereka melanjutkan perjalanan ke dalam gedung. Setiap langkah kaki memunculkan suara decitan lembut di lantai kayu. Di dinding lorong, masih tergantung papan pengumuman yang memuat hasil lomba antar kelas, jadwal piket, dan beberapa karya seni siswa. Semua sudah menguning dimakan waktu, namun masih bisa terbaca.

Yui berhenti di depan papan pengumuman itu. “Namaku masih ada di sini,” katanya pelan, menyentuh selembar kertas dengan tulisan tangan. “Juara dua lomba menulis puisi musim semi.”

Kanae tertawa kecil. “Puisi yang kamu tulis waktu itu… yang tentang langit di atas Furano, kan?”

Yui mengangguk. “Aku menulisnya di bawah pohon sakura depan sekolah. Aku ingat Haruto yang menyuruhku menulis puisi, padahal dia sendiri tak suka pelajaran sastra.”

“Dia lebih suka menghitung skor bola basket daripada menghitung jumlah suku kata,” canda Kanae.

Tawa kecil mereka lagi-lagi pecah, memantul di antara dinding tua sekolah yang sunyi. Tapi di sela tawa itu, Yui merasakan sesuatu mengalir pelan di dadanya. Sebuah rasa nostalgia yang bercampur kesedihan.

…

Mereka akhirnya sampai di aula sekolah, ruangan terbesar yang dulu digunakan untuk upacara dan pertunjukan. Pintu geser besar di depannya setengah terbuka. Di dalam, debu beterbangan di udara, menari di antara sinar matahari yang menembus jendela tinggi. Panggung di ujung aula masih berdiri kokoh, meski tirai merahnya telah pudar menjadi warna coklat kejinggaan. Kursi-kursi kayu masih tersusun rapi, seolah baru saja digunakan kemarin.

“Tempat kita menampilkan drama sekolah,” kata Yui pelan.

Kanae menatap panggung itu dengan mata berbinar. “Kamu jadi gadis desa yang kehilangan kalung ibunya, dan aku jadi pohon sakura yang bisa bicara.”

Yui tertawa. “Aku masih ingat! Kamu tidak mau berdiri diam, padahal peranmu cuma berdiri dan bergoyang tertiup angin!”

“Ya, karena aku bosan! Menjadi pohon itu tidak seru.”

Mereka berdua tertawa keras kali ini, sampai gema suaranya memenuhi aula kosong itu.

Namun kemudian tawa itu mereda, berganti dengan keheningan yang lembut. Yui berjalan ke depan panggung, menatap kursi-kursi kosong. Dalam benaknya, ia bisa mendengar suara murid-murid bersorak, tepuk tangan riuh, dan suara guru mereka, Pak Nishimura, yang dengan suara beratnya memuji mereka setelah pertunjukan selesai.

“Kenapa sekolah ini sampai ditutup, ya?” tanya Yui lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada pada Kanae.

Kanae terdiam sejenak sebelum menjawab, “Jumlah murid makin sedikit setiap tahun. Banyak keluarga pindah ke kota, mencari pekerjaan. Waktu kita SMP, satu angkatan cuma punya tiga kelas dari 15 kelas yang telah disediakan.”

Yui mengangguk perlahan. “Iya. Tapi aku tidak pernah membayangkan sekolah ini benar-benar akan tutup.”

Kanae duduk di salah satu kursi depan, tangannya menggenggam lututnya. “Kamu tahu, waktu aku kembali ke desa, aku pikir aku akan menemukan semuanya sama seperti dulu. Tapi ternyata… waktu memang tidak pernah menunggu siapa pun.”

Yui menatap papan nama sekolah yang masih tergantung di atas panggung, huruf-hurufnya sedikit miring. “Ya. Tapi aku rasa… kenangan kita di sini akan selalu menunggu.”

…

Sore mulai turun ketika mereka keluar dari sekolah. Langit di atas Furano memerah lembut, dan cahaya senja jatuh di atas lapangan bekas tempat jemur sayur, menciptakan warna keemasan yang indah. Irisan lobak dan taro berkilau seperti lentera kecil di bawah sinar matahari sore.

Yui berhenti sejenak, menatap ke belakang. Bangunan sekolah itu berdiri diam, tapi dalam keheningan itu ia bisa merasakan sesuatu. Seolah dinding-dinding tua itu masih menyimpan suara mereka, tawa mereka, dan langkah kaki masa lalu yang belum benar-benar hilang.

“Terima kasih, Kanae,” katanya sambil tersenyum lembut. “Kalau tidak denganmu, aku mungkin tidak akan punya keberanian untuk datang ke sini.”

Kanae menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca. “Aku juga harus berterima kasih padamu, Yui. Karena hari ini… aku merasa seperti kembali jadi anak SMP lagi.”

Mereka tertawa pelan, lalu berjalan berdampingan meninggalkan sekolah. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma tanah, kayu tua, dan sayuran kering. Langkah mereka terasa ringan di jalan pulang, seolah masa lalu yang berat itu kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang manis. Seperti aroma sayuran yang dijemur di bawah matahari.

Dan di hati Yui, tumbuh satu keyakinan baru: bahwa sekalipun tempat-tempat lama berubah, kenangan yang tertinggal di dalamnya akan selalu menemukan cara untuk hidup kembali setiap kali seseorang datang dan mengingat.