Salju yang tersisa di sisi jalan sudah mulai mencair, namun udara dingin masih menembus jaket wol tebal yang Yui kenakan. Ia memegang erat stang sepedanya, pedalnya berderit pelan setiap kali ia kayuh melewati jalanan berkerikil yang menuju ke rumahnya.
Langit sore di Furano berwarna abu keunguan, dengan sisa cahaya matahari musim dingin yang menembus di antara awan tipis. Ketika Yui membelok di ujung jalan, rumah kayu tua miliknya tampak berdiri sunyi di antara pepohonan yang masih gundul. Asap tidak keluar dari cerobong, hanya ada suara roda sepedanya yang bergemerisik di jalan beku.
Namun di depan gerbang kecil rumahnya, Yui melihat seseorang. Sosok tua yang sangat ia kenal berjalan perlahan ke arahnya.
“Obaasan?” panggil Yui pelan, menghentikan sepedanya.
Perempuan tua itu, dengan tubuh yang sedikit membungkuk dan syal abu-abu di lehernya, menoleh sambil tersenyum. Di tangannya ada sebuah keranjang kecil berisi persimmon kering yang tampak berwarna oranye kecoklatan.
“Ah, Yui-chan… kamu baru pulang?” suaranya lembut namun serak, khas suara orang yang telah menua bersama angin dingin utara.
Yui segera turun dari sepeda dan berjalan menghampiri. “Iya, Obaasan. Dari SMP ku dulu. Aku baru saja ke sana bersama Kanae.”
“Sekolah itu, ya? Sudah lama aku tidak melihatnya.” Obaasan tersenyum samar, lalu mengulurkan keranjangnya. “Ini, untukmu.”
Yui menerima keranjang kecil itu dengan kedua tangan. Persimmon kering itu tampak sangat rapi, dijemur dengan hati-hati hingga warnanya seragam. Aromanya manis lembut, bercampur sedikit asam khas buah yang sudah lama dikeringkan.
“Ini… persimmon kering dari kebun belakang?” tanya Yui pelan.
Obaasan mengangguk. “Ya. Ini hasil terakhir sebelum aku pergi.”
Yui menatapnya heran. “Pergi? Pergi ke mana, Obaasan?”
Barulah ia menyadari, di belakang Obaasan berdiri seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun. Wanita itu membawa koper besar dan mengenakan mantel panjang. Wajahnya mirip Obaasan, tapi lebih muda, dengan mata yang teduh dan senyum sopan.
“Itu putriku, Ayako,” ujar Obaasan memperkenalkan. “Dia datang menjemputku. Aku akan ke Tokyo… untuk beberapa hari saja.”
Yui tercenung. “Tokyo? Tapi… kenapa tiba-tiba?”
Obaasan tertawa pelan, suaranya serak tapi hangat. “Anak tua juga butuh waktu bersama keluarganya, kan? Ayako sudah lama memintaku datang. Katanya, ia ingin aku melihat bunga plum mekar di taman dekat rumahnya. Aku pikir… sekarang waktu yang tepat.”
Ayako menunduk sopan pada Yui. “Terima kasih sudah sering membantu ibu saya, Yui-san. Dia sering menyebutmu. Katanya, rumahmu selalu terang bahkan di musim dingin.”
Yui tersenyum kecil, meski hatinya terasa hangat sekaligus berat. “Ah… tidak seberapa, saya hanya tetangga biasa.”
Obaasan menepuk tangan Yui dengan lembut. “Bukan, bukan hanya tetangga. Kamu seperti cucuku sendiri. Kamu tahu, aku sudah tua, dan aku tidak suka kesepian. Tapi setiap kali melihat lampu di rumahmu menyala, aku merasa tidak sendirian di dunia ini.”
Kata-kata itu membuat tenggorokan Yui tercekat.
Ia menunduk, menatap persimmon di tangannya. “Terima kasih, Obaasan. Aku… akan memakannya malam ini.”
“Bagus,” ucap Obaasan dengan senyum menenangkan. “Rasanya manis, tapi sedikit getir di ujungnya. Seperti hidup, ya?”
Yui tertawa kecil, namun matanya berair. “Seperti hidup.”
Mereka berbincang sebentar lagi. Tentang cuaca, tentang sawah, tentang hutan di belakang rumah. Lalu Ayako menunduk memberi salam perpisahan, dan Obaasan menatap Yui sekali lagi dengan mata lembutnya yang kini tampak lebih redup dari biasanya.
“Nanti aku kembali, Yui-chan,” katanya. “Jaga dirimu, ya? Jangan terlalu banyak bekerja di ladang sendirian.”
Yui mengangguk, menahan senyum. “Baik, Obaasan.”
Lalu mereka berjalan pergi, pelan-pelan menghilang di tikungan jalan. Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke Furano, Yui menyadari bahwa rumah di sebelahnya kini benar-benar akan kosong.
…
Malam itu, suhu turun lebih cepat dari biasanya. Yui menyalakan pemanas dan duduk di beranda rumahnya. Di tangannya ada piring kecil berisi potongan persimmon kering pemberian Obaasan, dan di sampingnya secangkir teh hangat yang mengeluarkan uap tipis. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat rumah Obaasan di seberang halaman kecil itu; gelap, tanpa cahaya. Biasanya, dari jendela dapur akan tampak kilau lampu, dan kadang terdengar suara radio tua yang memutar lagu-lagu enka. Tapi malam ini… hanya kesunyian.
Yui menatap lama rumah itu. Dindingnya yang mulai lapuk kini tampak dingin, jendela-jendelanya seperti mata yang tertutup. Ia menggigit sepotong persimmon. Rasanya manis lembut, namun dengan sedikit rasa getir yang muncul di akhir.
“Benar kata Obaasan,” gumamnya pelan. “Rasanya seperti hidup.”
Ia menghela nafas panjang. Angin malam bertiup, membawa aroma tanah beku dan suara dedaunan dari hutan di sisi kiri rumahnya. Pohon-pohon di sana masih gundul, rantingnya berlapis salju tipis. Sementara di seberang jalan, hanya ada hamparan sawah kosong dan halte bus tua yang berdiri sepi, catnya mengelupas, kaca jendelanya pecah sebagian. Jalur bis itu sudah tidak beroperasi lagi sejak beberapa tahun lalu, ketika rute ke Furano diubah.
Yui menatap ke arah halte itu. Tempat itu dulu ramai setiap pagi. Anak-anak sekolah menunggu di sana sambil tertawa, para ibu berbincang sambil membawa keranjang. Sekarang, hanya ada papan jadwal bis yang karat dan bangku kayu yang nyaris roboh.
Ia menarik lutut ke dada dan berbisik, “Sekarang aku sendirian.”
Tak lama setelah ia berucap demikian, suara bel sepeda terdengar dari luar gerbang. Yui menoleh cepat. Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, tampak seseorang datang mengayuh sepeda, dengan tas besar tergantung di punggungnya.
“Siapa…” gumamnya pelan, lalu matanya membesar.
Sosok itu berhenti di halaman rumahnya, dan ketika lampu luar menerangi wajahnya, Yui segera mengenalinya.
“Kanae?”
Kanae tersenyum lelah sambil menurunkan sepedanya. “Akhirnya aku sampai juga… dingin sekali malam ini!”
Yui bangkit dan berjalan ke arahnya. “Kamu… kenapa datang malam-malam begini? Bukannya rumahmu agak jauh dari sini?”
Kanae mengangkat tas besarnya dan menunjukkannya. “Aku membawa banyak sayur, jamur, dan sedikit daging. Aku ingin membuat hotpot tradisional malam ini. Tapi…” ia menunduk sedikit, suaranya melembut, “Aku tidak ingin makan sendirian.”
Yui memandangnya dengan heran. “Hotpot? Malam ini?”
“Ya. Aku sedang tidak mood. Entah kenapa rasanya sesak di dada. Jadi aku pikir… masak sesuatu yang hangat akan membuatku lebih baik.” Kanae tertawa kecil, tapi tawa itu tidak sepenuhnya gembira. “Dan tidak ada satu pun restoran di desa ini yang buka malam-malam seperti ini, apalagi yang menyediakan hotpot. Jadi… aku datang ke sini.”
Yui menatap wajah sahabatnya itu lama. Ada bayangan kelelahan di matanya, tapi juga sedikit harapan. Akhirnya, Yui mengangguk. “Baiklah. Masuklah. Aku bantu.”
…
Dapur Yui segera dipenuhi aroma harum kaldu dan rempah.
Kanae duduk di dekat meja, sementara Yui sibuk menyiapkan bahan-bahan: irisan daging sapi tipis, daun selada, tahu, jamur enoki, bawang, dan potongan lobak putih. Di kompor, Yui menyiapkan kuah hotpot mala, kuah pedas khas Sichuan dengan cabai kering, merica mala, kaldu sapi, dan sedikit saus wijen.
“Wow… kamu benar-benar tahu caranya,” ujar Kanae kagum sambil mengintip ke dalam panci. “Aromanya luar biasa.”
Yui tersenyum samar. “Dulu ibu sering membuat ini waktu musim dingin. Katanya, makanan pedas bisa mengusir dingin dan kesedihan.”
Kanae menghela napas. “Kalau begitu aku butuh banyak mala malam ini.”
Yui melirik sekilas. “Kenapa? Ada masalah?”
Kanae menunduk, memainkan sendok di tangannya. “Aku putus. Dengan orang yang kuceritakan waktu itu. Dia bilang aku terlalu… ‘desa’. Padahal aku baru saja pindah dari kota.”
Yui diam sejenak, lalu menambahkan sedikit kaldu ke dalam panci. “Dia yang bodoh.”
Kanae tertawa pelan. “Aku juga berpikir begitu. Tapi tetap saja rasanya sakit.”
Yui menyiapkan pot besar di tengah meja makan. “Kalau begitu, malam ini kita masak untuk menghangatkan hati yang patah.”
Beberapa menit kemudian, meja makan dipenuhi aroma lezat. Uap panas dari kuah mala memenuhi ruangan, memantul di kaca jendela yang dingin.
Kanae membuka termos kecil dan mengeluarkan sebotol minuman. “Aku bawa ini… dari teman di Tokyo.”
Namun Yui menggeleng cepat. “Aku tidak minum alkohol.”
“Sedikit saja, untuk menghangatkan tubuh?” goda Kanae.
Yui tersenyum tipis. “Tubuhku sudah cukup hangat. Tapi aku akan menyiapkan sake beras tradisional, kadar alkoholnya rendah. Aman untukmu juga.”
Kanae menatapnya protes, tapi akhirnya menyerah. “Baiklah, asal kamu yang membuatnya.”
Yui tersenyum kecil dan menyiapkan sake hangat, sementara Kanae mulai mencelupkan irisan daging ke dalam panci mala. Kuahnya mendidih pelan, mengeluarkan aroma rempah dan kaldu yang pekat.
Kanae mencicipi suapan pertamanya dan matanya langsung berbinar. “Ya ampun, ini luar biasa! Pedasnya pas, kaldunya gurih… aku tidak pernah makan hotpot sebaik ini bahkan di Tokyo!”
Yui tertawa lembut. “Kamu terlalu berlebihan.”
“Tidak! Serius! Kau harus buka restoran.”
Yui menggeleng sambil tersenyum. “Tidak. Aku hanya ingin memasak untuk orang yang kukenal.”
Mereka makan dengan lahap. Kanae tampak seperti melupakan kesedihannya. Pipinya mulai memerah karena sake beras hangat, tawa kecil sering pecah di antara suapan. Yui, meski hanya minum matcha hangat, ikut tersenyum melihat sahabatnya bisa tertawa lagi.
…
Malam semakin larut. Salju turun perlahan di luar jendela.
Kanae bersandar di kursinya, wajahnya memerah. “Terima kasih, Yui. Aku pikir malam ini akan jadi malam yang sepi. Tapi ternyata… hangat sekali.”
Yui tersenyum, menatap ke luar jendela. Lampu rumah Obaasan masih gelap.
“Kadang,” katanya pelan, “Kehangatan tidak datang dari banyak orang. Cukup satu orang yang mau datang dan makan bersamamu.”
Kanae menatapnya lama, lalu tertawa kecil. “Kamu selalu bisa membuat hal sederhana jadi indah, Yui.”
Mereka duduk diam beberapa saat, hanya suara api dari pemanas dan hujan salju di luar yang terdengar. Dan malam itu, di antara aroma mala dan sake, di rumah kecil di tengah desa yang sunyi, dua hati yang dingin perlahan menemukan kembali kehangatan dari makanan, dari persahabatan, dan dari kenangan yang lembut seperti rasa persimmon kering yang manis di ujung lidah.