Drama #Romance

20. Malam yang Nyaris Membeku

Penulis Xiao
01 December 2025

Udara malam semakin berat, seperti kabut yang enggan beranjak dari halaman rumah Yui. Waktu sudah lewat pukul sepuluh, namun aroma pedas dan gurih hotpot mala masih mengambang di udara. Panci besar di atas meja kini hampir kosong, hanya tersisa beberapa helai daun selada layu dan potongan jamur yang tenggelam di kuah kemerahan yang mulai mengental.

Kanae, yang sejak satu jam lalu sudah mulai memerah seluruh wajahnya kini terbaring di atas tatami sambil menggumamkan lagu-lagu tanpa arti.

“Yuuiii... kau... luar biasa…” suaranya berat, agak serak, lalu tiba-tiba tertawa sendiri. “Tapi... dunia ini... berputar... atau cuma aku ya?”

Yui yang sedang membereskan meja menoleh, menatap gadis itu dengan wajah antara geli dan cemas. “Kanae, kau mabuk berat. Sudah kubilang, sake beras itu tidak bisa diminum terlalu banyak.”

“Aku nggak mabuk,” protes Kanae setengah menjerit, lalu tertawa lagi sambil berguling ke arah bantal duduk. “Aku cuma... beristirahat... di dunia yang lebih lembut...”

“Dunia lembut apanya,” gumam Yui. Ia menghela nafas panjang, lalu mengambil selimut kecil dari lemari dan menutupi tubuh Kanae yang kini tergeletak miring di lantai tatami. “Sudah, jangan bicara. Tidur saja di situ malam ini.”

Namun Kanae justru menggenggam tangan Yui dengan kekuatan mengejutkan. “Yuiii... kau... teman terbaikku...” katanya terbata, lalu tertawa pelan lagi sebelum matanya terpejam.

Yui tersenyum kecil, lalu menepuk lembut punggung tangan gadis itu. “Iya, iya. Teman terbaikmu.”

Ia menatap jam dinding. Pukul 22.47. Ia tahu Kanae tak akan bisa pulang dalam kondisi seperti ini. Jadi, Yui pun meraih telepon genggamnya, menelusuri daftar kontak hingga menemukan nomor yang beberapa hari lalu ditulis Kanae di buku alamat kecilnya.

Telepon berdering.

“Moshi moshi?” suara seorang wanita paruh baya terdengar dari seberang, agak serak dan terdengar tegas.

“Selamat malam, ini Yui... saya teman Kanae,” kata Yui pelan. “Maaf mengganggu malam-malam seperti ini. Saya ingin memberitahu bahwa Kanae... tidak bisa pulang malam ini. Dia sedang beristirahat di rumah saya.”

Dari seberang, terdengar keheningan beberapa detik. Lalu suara wanita itu meninggi, panik. “Dia apa?! Apa yang terjadi dengan Kanae?! Kenapa tidak bisa pulang?”

“Tidak apa-apa,” jawab Yui cepat, mencoba menenangkan. “Hanya... dia minum sedikit terlalu banyak sake. Tapi sekarang sudah tertidur. Dia aman di sini.”

Dari seberang, suara gemeretak seperti ponsel yang digenggam dengan keras terdengar. “Astaga anak itu! Sudah kubilang jangan ikut-ikutan minum segala!”

Kemudian, terdengar suara bergetar namun penuh penyesalan. “Maaf, Yui-san... seharusnya aku mendidiknya lebih keras. Aku benar-benar minta maaf karena dia sudah menyusahkanmu malam ini.”

“Tidak perlu meminta maaf,” kata Yui lembut. “Kami hanya makan malam bersama. Saya akan memastikan dia istirahat dengan baik. Besok pagi saya antar dia pulang.”

Suara di seberang berubah lebih lembut, meski masih terdengar kesal. “Terima kasih, Yui-san... maaf sekali lagi.”

Yui menutup telepon perlahan, lalu kembali menatap Kanae yang kini tertidur pulas di lantai dengan pipi menempel pada tatami. Nafasnya teratur, tapi wajahnya masih merah seperti kepiting rebus.

…

Sekitar pukul sebelas lewat sedikit, Yui keluar rumah. Ia bermaksud memasukkan sepeda Kanae ke garasi agar tidak diselimuti salju. Udara dingin malam menggigit kulit wajahnya, dan cahaya lampu jalan yang kuning pucat membuat bayangan pepohonan di tepi hutan tampak panjang dan bergoyang pelan tertiup angin.

Ia baru saja menuntun sepeda itu ke arah garasi ketika dari kejauhan terdengar langkah kaki cepat menghantam jalan beku.

Yui menoleh, kaget.

Seseorang berlari di jalan. Mengenakan mantel tipis dan sandal rumah. Nafasnya terlihat mengepul di udara.

“Haruto?”

Pemuda itu menghentikan langkahnya begitu melihat Yui. Nafasnya tersengal, wajahnya merah karena udara dingin dan kelelahan. “Yui!” serunya. “Kamu... kau tahu soal Obaasan?”

Yui mengerutkan dahi. “Maksudmu, Obaasan Miyako?”

Haruto mengangguk cepat. “Aku baru dengar dari toko Sayaka-san. Katanya Obaasan berangkat ke Tokyo malam ini, dengan putrinya. Tapi aku tidak sempat berpamitan! Aku ke rumahnya, sudah gelap! Lalu aku pikir mungkin kamu tahu sesuatu.”

Yui terdiam sesaat. Ia bisa melihat kecemasan di mata Haruto, sesuatu yang jarang sekali ia tunjukkan.

“Ya... aku tahu,” kata Yui pelan akhirnya. “Aku bertemu dengannya sore tadi. Dia datang memberiku persimmon kering dan bilang akan ke Tokyo beberapa hari. Aku pikir... kamu juga sudah tahu.”

Haruto menunduk, mengusap rambutnya yang basah oleh salju yang mencair. “Tidak… aku baru saja tahu. Aku baru pulang dari mengantar barang ke Asahikawa, jadi aku ketinggalan. Aku...” suaranya menurun, “…aku ingin mengucapkan terima kasih padanya, tapi...”

Yui merasa ada sesuatu menghangat di dadanya; rasa iba, tapi juga perih. Ia tahu betapa dekat Haruto dengan Obaasan Miyako, yang sering memberi mereka berdua makanan ringan atau sekadar menanyakan kabar.

Yui menepuk pelan bahunya. “Obaasan pasti akan senang mendengarnya nanti. Dia hanya pergi sebentar. Setelah kembali, kau masih bisa mengucapkannya langsung.”

Haruto mengangguk, meski masih terlihat murung.

“Masuklah dulu,” kata Yui kemudian. “Kau pasti kedinginan. Aku baru saja mematikan pemanas, tapi masih hangat di dalam.”

Haruto tampak ragu. “Tidak apa-apa, aku tidak ingin merepotkan.”

“Kau datang sejauh ini malam-malam cuma pakai sandal, itu sudah merepotkan dirimu sendiri,” sahut Yui tegas. “Masuk.”

…

Begitu Haruto melangkah ke ruang makan, ia langsung berhenti.

“Eh?” gumamnya pelan.

Pemandangan di depannya cukup membuatnya bingung, bahkan kaget. Di lantai tatami, seorang gadis yang belum pernah ia lihat sebelumnya berbaring dengan posisi miring, wajahnya merah padam, selimut tersingkap setengah, dan di dekatnya ada botol sake kosong yang berguling di lantai.

Haruto menoleh cepat pada Yui. “Itu… siapa?”

“Temanku. Namanya Kanae,” jawab Yui santai sambil merapikan piring-piring di meja. “Dia mabuk.”

Haruto menatap lebih lama. “Mabuk? Di rumahmu?”

Yui menoleh, menatapnya dengan pandangan sedikit tajam. “Ya. Ada masalah?”

“Tidak juga… hanya… kau yakin tidak apa-apa? Dia kelihatan seperti… orang yang sudah tidak sadar dunia.”

Yui mendengus kecil. “Justru karena itu dia tidak boleh pulang. Mau bagaimana lagi?”

Haruto masih menatap Kanae dengan bingung. “Tapi kalau orang mabuk seperti itu, bukankah berbahaya kalau tetap di sini? Maksudku, dia bisa muntah, atau... membuat kekacauan. Mungkin lebih baik kalau...”

“Kalau apa?” potong Yui, menatapnya tajam. “Kalau aku usir malam-malam di tengah salju? Kamu pikir aku sekejam itu?”

Haruto langsung diam. Ia mengangkat tangannya menyerah. “Baik, baik. Maaf. Aku cuma... khawatir.”

“Khawatir padaku atau padanya?” Yui menyipitkan mata.

“Dua-duanya,” jawab Haruto cepat, lalu menatap lantai, wajahnya sedikit memerah.

Keheningan melingkupi mereka sejenak. Di antara keduanya hanya terdengar dengkuran halus Kanae dan bunyi kayu pemanas yang berderak pelan.

Yui menghela nafas panjang. “Sudahlah. Kalau kamu mau, duduk dulu. Aku buatkan teh matcha.”

Haruto mengangguk. Ia duduk di dekat meja, sementara Yui pergi ke dapur. Tak lama kemudian, aroma matcha hangat memenuhi ruangan. Aroma lembut dan sedikit pahit, menenangkan di tengah malam yang dingin.

Yui menuangkannya ke dua cangkir, lalu duduk di seberang Haruto.

“Terima kasih,” ucap Haruto sambil meniup uap teh. “Kau tahu… aku tidak menyangka malamku berakhir di sini, melihat orang mabuk di rumahmu.”

Yui terkekeh kecil. “Aku juga tidak menyangka. Tapi begitulah hidup di desa, ya? Selalu ada kejutan aneh di tengah malam.”

Haruto tertawa kecil, meski wajahnya masih tampak lelah. “Kamu benar.”

Yui kemudian mengambil sesuatu dari atas meja kecil di dekatnya. Sebungkus persimon kering yang diberikan Obaasan. Ia membuka pembungkusnya, lalu menyerahkan beberapa potong kepada Haruto.

“Ini,” katanya lembut. “Persimmon dari Obaasan. Katanya, rasanya paling enak kalau dimakan bersama matcha.”

Haruto menerima sepotong, menatapnya sejenak sebelum menggigit pelan. Rasa manis lembut itu segera menyebar di lidahnya, berpadu sempurna dengan pahit hangat teh hijau.

Ia menutup mata sejenak. “Manisnya… .”

Yui tersenyum. “Itu yang kupikir juga.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Di luar, salju mulai turun lagi, menutup jejak kaki Haruto yang di halaman. Di dalam rumah, uap teh matcha terus mengepul pelan, seperti menghangatkan dua hati yang, tanpa mereka sadari, mulai saling memahami dalam diam.

Tak lama kemudian, Haruto berdiri. “Aku harus pergi. Sudah larut. Kamu... tidak sendirian, kan?”

Yui melirik Kanae yang masih mendengkur lembut. “Tidak. Aku tidak sendiri.”

Haruto tersenyum kecil. “Syukurlah.” Ia menatap persimmon di tangannya. “Terima kasih untuk ini. Dan untuk... kehangatannya malam ini.”

Yui hanya mengangguk. “Hati-hati di jalan. Jangan lupa ganti sandalmu dengan sepatu besok.”

Haruto tertawa pelan. “Baik, ibu guru.”

Yui memutar bola matanya, tapi tersenyum saat melihat punggung Haruto menghilang di balik pintu, langkahnya pelan menyusuri jalan bersalju. Malam itu, setelah pintu tertutup dan keheningan kembali turun, Yui duduk kembali di beranda dengan sisa teh matcha di tangan. Di dalam, Kanae masih tertidur, dan di luar, salju turun seperti serpihan kecil cahaya.

Dan di tengah kesunyian itu, Yui berpikir: mungkin, meski orang datang dan pergi dari hidupnya. Entah Obaasan, Haruto, atau bahkan Kanae. Setiap pertemuan kecil tetap meninggalkan kehangatan, seperti rasa manis yang tersisa di lidah setelah sepotong persimmon kering.