Luka yang Mengikat
Malam itu langit kota dipenuhi asap dan debu. Ledakan yang baru saja mengguncang apartemen Al meninggalkan jejak kaca pecah berserakan di lantai. Suara sirine terdengar samar dari kejauhan, tapi tak ada yang berani mendekat.
Al berdiri di ambang balkon, tubuhnya kaku, mata menyapu kegelapan. Tangannya menggenggam pistol, siap menembak siapa pun yang muncul. Hanum berada di belakangnya, masih memeluk koper hitam erat-erat.
“Al,” suaranya gemetar, “apa mereka sudah masuk?”
Belum sempat Al menjawab, suara tembakan kembali meledak.
DOR!
Hanum menjerit. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Darah segar memercik di pundak kanannya.
“Hanum!” Al berlari menghampiri, menangkap tubuhnya sebelum jatuh. Matanya melebar melihat darah mengalir deras membasahi kain.
Hanum terengah, wajahnya pucat. “Sakit, Al, aku.”
“Diam! Jangan bicara!” Al menekan luka itu dengan tangannya, wajahnya tegang penuh amarah. Ia berteriak ke arah bawah. “Tutup semua akses! Bawa mobil ke depan sekarang juga!”
Anak buahnya segera bergerak. Suara tembakan masih bersahutan, tapi pasukan Al menahan laju musuh cukup lama.
Al mengangkat tubuh Hanum, meski pundaknya sendiri masih terluka. Gadis itu merintih kesakitan di pelukannya. “Bertahanlah, Hanum. Kau tidak boleh mati.”
Matanya liar mencari jalan keluar. Ia berlari menuruni tangga darurat, membawa Hanum yang sudah setengah sadar.
Rumah sakit darurat di pinggir kota.
Hanum dibaringkan di ranjang operasi, dokter dan perawat segera menangani luka tembak di pundaknya. Al berdiri di luar ruang operasi, wajahnya pucat tapi matanya menyala-nyala. Tangan yang tadi penuh darah Hanum kini terkepal gemetar.
“Kenapa aku bisa lengah?” gumamnya lirih, wajahnya tertunduk. “Aku janji melindunginya, tapi aku gagal.”
Ia meninju dinding hingga perbannya robek, darah dari lukanya kembali mengalir. Anak buahnya yang mendampingi hanya menunduk, tak berani berkata apa-apa.
Setelah beberapa jam yang terasa bagai neraka, pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar, wajahnya tegang, tapi lega. “Lukanya cukup parah, tapi pelurunya sudah berhasil kami keluarkan. Dia butuh istirahat total. Jangan sampai stres atau terlalu banyak bergerak.”
Al mengangguk cepat, lalu melangkah masuk.
Hanum terbaring lemah, wajahnya pucat, keringat dingin membasahi dahinya. Pundaknya dibalut perban tebal. Meski begitu, matanya perlahan terbuka, menatap samar ke arah sosok di samping ranjang.
“Al?” suaranya pelan, serak.
Al mendekat, duduk di kursi. Ia menatapnya dengan ekspresi arogan khasnya, sebuah seringai seolah mengejek kelemahan Hanum. “Kau ini memang menyusahkan. Sudah kubilang jangan bergerak terlalu jauh dariku, tapi kau malah membuatku kerja keras lagi.”
Hanum meringis, mencoba tersenyum meski sakit. “Kau, arogan sekali. Padahal tadi aku, hampir mati.”
“Kalau kau mati, aku yang paling rugi,” jawab Al cepat, matanya menatapnya tajam. “Siapa lagi yang bisa mengingatkanku kalau aku sudah terlalu gila?”
Hanum tertawa kecil, lalu mengerang karena sakit. “Kau, menyebalkan.”
Namun, dalam hatinya, ia tahu Al diam-diam sangat perhatian. Dari cara pria itu menekan lukanya dengan tangan kosong, hingga bagaimana ia memeluknya erat sepanjang jalan.
Al bersandar di kursi, menutup mata sejenak, tapi pikirannya kacau. Gagal melindungi Hanum membuat hatinya terbakar.
“Aku tidak akan membiarkan kejadian ini terulang,” gumamnya pelan, nyaris seperti janji pada dirinya sendiri.
Keesokan paginya.
Hanum masih tidur lemah. Al berdiri di balkon kamar rumah sakit, menyalakan rokok, tapi tidak benar-benar menghisapnya. Pandangannya jauh ke arah langit, penuh beban.
Ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya menggeram, Ayah.
Ia mengangkat dengan nada ketus. “Apa yang kau mau?”
Suara berat di seberang terdengar dingin. “Al. Kau harus pulang sekarang. Kita perlu bicara.”
“Aku sibuk,” balas Al singkat.
“Ini tentang masa depanmu. Tentang keluarga kita.”
Al menghela napas, lalu menjawab dengan nada sinis. “Keluarga kita hanya peduli pada nama besar dan kekuasaan. Aku tidak tertarik.”
“Jangan bodoh!” bentak ayahnya. “Kau harus mencalonkan diri jadi anggota dewan. Itu satu-satunya cara melanjutkan perjuangan yang sudah aku bangun. Masa depan keluarga kita ada di tanganmu!”
Al terkekeh, suaranya getir. “Masa depan keluarga? Atau masa depan bisnismu yang kotor? Aku sudah cukup menutup mata selama ini. Jangan paksa aku ikut dalam sandiwara politikmu.”
“Al!” suara ayahnya meninggi. “Kau pewaris tunggal. Semua orang menunggumu. Jangan sia-siakan kesempatan ini.”
“Kesempatan?” Al mendengus. “Kesempatan untuk jadi boneka? Untuk jadi perisai keluarga dari semua dosa masa lalu? Tidak, Ayah. Aku punya jalanku sendiri.”
Suasana hening sejenak di seberang. Lalu suara ayahnya terdengar lebih dingin. “Kau pikir kau bisa lepas begitu saja dari bayangan keluarga ini? Kau salah besar. Kalau kau menolak, maka bersiaplah menghadapi konsekuensinya.”
Al mengepalkan tangan. “Aku tidak peduli. Lakukan apa pun yang kau mau, tapi ingat, Ayah, aku bukan anak kecilmu lagi. Aku tidak akan tunduk pada permainanmu.”
Ia menutup telepon dengan keras, napasnya memburu.
Beberapa jam kemudian, Hanum terbangun. Ia melihat Al duduk di kursi, menatapnya dengan ekspresi arogan bercampur gelisah.
“Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Hanum, suaranya masih lemah.
“Untuk memastikan kau tidak kabur dari ranjang itu,” jawab Al ringan.
Hanum memutar bola matanya. “Aku tidak bisa ke mana-mana dengan luka seperti ini.”
“Bagus. Jadi aku tidak perlu repot lagi,” balasnya, meski matanya menyimpan kelegaan.
Hanum memperhatikannya lama. “Kau, sebenarnya peduli, kan?”
Al mendongak, seringai arogan muncul di wajahnya. “Aku hanya peduli karena kalau kau mati, ayahmu akan menghantuiku.”
Hanum menatapnya tajam, lalu tersenyum samar. “Bohong.”
Al terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi tidak bisa.
Malam itu, ketika Hanum sudah tertidur, Al duduk di ruang tunggu rumah sakit, memikirkan kata-kata ayahnya. Tawaran untuk masuk dunia politik bukan hal baru, tapi kali ini terasa lebih memaksa.
Ia tahu, menolak berarti memicu perang dingin dengan keluarganya. Dan perang itu bisa berimbas pada Hanum.
Al mengepalkan tangan. “Aku tidak akan biarkan mereka menyentuhnya. Bahkan kalau itu berarti melawan ayahku sendiri.”
Pikirannya terganggu oleh suara langkah. Salah satu anak buahnya datang terburu-buru, wajahnya pucat.
“Bos, ada yang harus Anda lihat.”
Al bangkit cepat. “Apa?”
Anak buah itu menyerahkan sebuah amplop cokelat. “Ini dikirim seseorang, entah siapa, tapi kurirnya tewas ditembak di jalan sebelum sempat kabur. Sepertinya ini memang ditujukan untuk Anda.”
Al membuka amplop itu. Di dalamnya ada beberapa foto.
Matanya membelalak. Itu foto Hanum yang diambil diam-diam, dari berbagai sudut. Ada foto saat ia masuk rumah sakit, saat ia tidur di ranjang, bahkan saat Al menunduk di sampingnya.
Al meremas foto itu, rahangnya mengeras. “Mereka sudah terlalu dekat.”
Di balik foto-foto itu, ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang rapi:
“Kau gagal melindunginya sekali. Jangan sampai kau gagal lagi. Atau kali ini, peluru akan menembus jantungnya.”
Al menatap pesan itu lama, lalu menyeringai miring. Senyum yang penuh amarah sekaligus tekad.
“Aku akan pastikan kalian menyesal sudah menyentuhnya.”
Keesokan harinya, ketika Hanum mulai pulih dan Al bersiap membawa koper hitam itu ke tempat lebih aman, rumah sakit mendadak digeruduk puluhan aparat berseragam. Mereka membawa surat perintah penangkapan atas nama Al-Faidzin dengan tuduhan tindak pidana pencucian uang.
Hanum terperanjat, menatap Al dengan wajah bingung.
Al hanya tersenyum miring, lalu berbisik pelan padanya.
“Sepertinya perangku baru saja dimulai.”
Seorang perwira polisi melangkah masuk, membuka helmnya dan memperlihatkan wajah yang familiar bagi Hanum. Ia ternganga, tubuhnya gemetar.
“Itu, tidak mungkin,” bisiknya.
Karena sosok itu adalah Firdaus, ayahnya sendiri.