Pagi itu, sinar matahari menyusup lembut melalui tirai tipis kamar Chiara. Aroma kopi dari dapur menyeruak pelan, menandakan Aaren telah lebih dahulu terbangun dan menyiapkan sarapan. Namun, tak seperti biasanya, pagi ini hati Chiara diliputi keraguan yang tak biasa.
Ia berdiri di depan jendela, memandangi langit biru yang luas sambil menggenggam selebaran kecil dari sebuah cafe tempatnya dulu sering tampil. Undangan bermain cello di akhir pekan datang lagi. Kali ini, ia serius mempertimbangkan untuk kembali.
Setelah menyiapkan sarapan untuk Lauren, Chiara duduk di meja makan bersama Aaren.
“Aku ingin kembali bekerja,” katanya perlahan.
Aaren menoleh, sedikit terkejut. “Bekerja?”
“Sebagai pemain cello. Seperti dulu. Di cafe atau acara-acara yang mengundangku.”
Aaren mengernyit, meletakkan sendoknya. “Chiara, aku tidak setuju.”
Chiara menatapnya, tenang, tapi tegas. “Kenapa?”
“Kau tidak perlu repot-repot bekerja seperti itu lagi. Sekarang aku bisa mencukupi semuanya, bahkan lebih. Tugasmu hanya menjaga Lauren dan menjaga dirimu sendiri.”
Chiara tersenyum tipis, meski dalam hatinya terasa perih. “Aaren, musik bukan hanya pekerjaan bagiku. Itu bagian dari diriku. Aku tumbuh bersamanya. Aku bernapas melaluinya. Melepaskan cello sama saja seperti melepaskan jati diriku sendiri.”
Aaren terdiam.
Ia menatap perempuan di hadapannya itu dengan pandangan berbeda. Tidak lagi sebagai ibu dari Lauren atau perempuan yang pernah ia sakiti, tapi sebagai sosok yang kuat dan memiliki dunia yang tak bisa digantikan.
“Musik adalah napasku, Aaren.” Chiara melanjutkan, suaranya bergetar. “Kau bisa mengambil uangku, rumahku, bahkan statusku. Tapi jangan ambil cello dariku.”
Hening. Lalu Aaren berdiri, tanpa sepatah kata pun dan meninggalkan meja makan.
Chiara hanya bisa menunduk, menahan sesak yang mulai menyeruak.
Tiga hari kemudian.
Tanpa diduga, Aaren mengajak Chiara dan Lauren naik ke mobil pagi-pagi buta. Mereka menyusuri jalanan kota yang masih basah oleh embun. Chiara tak banyak bertanya, hanya memeluk Lauren yang duduk di pangkuannya.
Mereka berhenti di sebuah bangunan modern di tengah area komersial yang cukup elit. Dari luar, tampak kaca-kaca besar memantulkan langit pagi yang cerah.
“Ini tempat apa?” tanya Chiara pelan.
Aaren hanya tersenyum dan menggandeng tangannya.
Mereka masuk ke dalam bangunan, disambut oleh aroma kayu dan peredam suara. Sebuah ruangan besar dengan pencahayaan lembut, instrumen musik lengkap, rak-rak partitur dan panggung kecil di tengahnya menyambut mereka.
Di dinding paling depan, terdapat plakat bertuliskan, Chiara’s Sonata House. Studio Musik dan Seni.
Chiara terpaku.
“Kau,” suaranya tercekat.
Aaren menoleh, menatapnya lembut. “Kalau memang kau tak bisa lepas dari cello, maka aku takkan memisahkan kalian. Aku ingin kau terus bermain, tapi di tempat yang layak, yang aman dan yang bisa kau sebut milikmu sendiri.”
“Ini tempatku?”
“Ya. Semuanya atas namamu. Kau pemiliknya. Ada tim profesional yang akan membantumu menjalankannya, tapi inti dari tempat ini adalah kamu. Musikmu. Jiwa senimu.”
Chiara meneteskan air mata. Hatinya bergetar melihat besarnya usaha Aaren demi memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
“Kenapa kau lakukan semua ini?” bisiknya.
Aaren tersenyum. “Karena aku mencintai perempuan yang bisa mengubah rasa bersalah menjadi penebusan. Aku ingin menebus semua itu dengan cara yang benar.”
Chiara menggenggam tangan Aaren. “Terima kasih.”
Malam hari sebuah nada yang tertinggal.
Setelah Lauren tidur malam itu, Chiara kembali ke studio seorang diri. Ia ingin menyentuh cellonya, memainkannya untuk pertama kali di ruang yang kini menjadi miliknya.
Ia membuka partitur lama, menyetel senar dan mulai menarik busur dengan lembut.
Melodi melayang pelan, menghanyutkan. Tapi tiba-tiba, di antara lembaran partitur yang tersimpan di rak, Chiara menemukan sebuah amplop kecil tak beralamat. Amplop itu tampak baru, seolah baru saja diselipkan.
Dengan alis mengernyit, Chiara membukanya.
Di dalamnya hanya ada satu kalimat, ditulis tangan dengan tinta hitam. "Masa lalumu belum selesai, Chiara. Hati-hati dengan kepercayaan yang baru kau bangun.”
Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menoleh ke sekitar, merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya.
Siapa yang menaruh pesan itu?
Apa maksud dari kalimat mengancam itu?
Di sudut lain kota, seorang wanita berkacamata hitam menurunkan koran pagi, matanya menatap tajam pada foto Chiara dan Aaren yang muncul di kolom berita bisnis, di bawah judul “CEO Baron Corp Ciptakan Studio Musik Mewah untuk Sosok Misterius.”
Wanita itu tersenyum sinis.
“Permainan baru saja dimulai.”
Studio Chiara’s Sonata House menjadi pusat perhatian kalangan seni lokal. Beberapa artikel mulai menyoroti bangunan mewah itu dan mengaitkan kembali sosok Chiara Evolet dengan masa lalunya di dunia musik klasik. Tak sedikit yang memujinya. Namun, ada pula yang mempertanyakan, mengapa seseorang seperti Chiara yang sempat hilang dari dunia musik kini kembali dengan fasilitas sebesar itu?
Di tengah perhatian media, Chiara sibuk menyesuaikan diri dengan rutinitas barunya mengelola studio, mengatur jadwal les privat, latihan orkestra kecil serta membimbing pemain muda yang bergabung di bawah manajemennya.
Namun, kejutan datang beberapa hari setelahnya.
Sebuah pengumuman dari media sosial milik Allegra Armonia konser amal kelas tinggi yang menjadi incaran banyak musisi, menyebut nama pemain utama mereka, Sasha Elvani.
Chiara terdiam saat membaca namanya.
Sasha bukan sekadar nama.
Ia adalah rival terbesarnya dahulu di dunia musik klasik. Cantik, berbakat dan sangat ambisius. Sasha-lah yang pernah memfitnah Chiara menjiplak aransemen saat mereka masih berkompetisi di konservatori musik. Nama baik Chiara hampir hancur karena itu. Meski akhirnya Chiara terbukti tidak bersalah, luka di hatinya tetap membekas.
“Dia kembali?” gumam Chiara, menatap layar ponselnya.
Sementara itu, di sebuah gedung tinggi di pusat kota.
Luna Damian berdiri di depan kaca besar lantai 25, mengenakan gaun putih yang elegan. Di belakangnya, duduk seorang wanita dengan kaki bersilang dan wajah angkuh, Sasha Elvani.
“Kau yakin ingin bekerja sama denganku, Luna?” suara Sasha setajam busur biola.
Luna tersenyum simpul. “Tentu. Kita berdua punya musuh yang sama. Aku kehilangan Aaren karena perempuan itu dan kau, kehilangan reputasi karena bayang-bayangnya.”
Sasha menegakkan tubuh. “Aku tidak pernah benar-benar kalah. Tapi sekarang, aku ingin dunia tahu bahwa aku lebih unggul. Aku akan membuat Chiara kehilangan apa pun yang dia bangun perlahan-lahan, tanpa ia sadari.”
“Kita mulai dari mana?” tanya Luna tenang.
“Dari konser amal Allegra. Itu awalnya. Setelah itu, kita ambil murid-murid dari studionya. Kita pecah komunitas musiknya. Aku akan pastikan setiap jurnalis tahu bahwa dia hanya jadi 'besar' karena nama Aaren Baron.”
Luna tertawa pelan. “Aku suka gaya mainmu.”
Kembali ke Chiara.
Chiara sedang duduk di ruang belakang studionya ketika Kevin datang membawa secarik undangan mewah berwarna perak.
“Ini undangan dari penyelenggara Allegra Armonia. Mereka ingin kau hadir sebagai penonton.”
Chiara membaca dengan seksama. Pada sudut kanan bawah, tercantum kecil. Pemain utama malam pembuka, Sasha Elvani.
Chiara menggenggam undangan itu kuat-kuat.
Ada luka yang belum benar-benar sembuh.
Namun, ia tahu, jika ingin mempertahankan apa yang telah ia bangun dan menjaga martabat Lauren serta hubungannya dengan Aaren ia harus menghadapi masa lalunya kali ini dengan kepala tegak.
Malam itu, Chiara sedang memandikan Lauren ketika ia menerima pesan dari nomor tak dikenal.
“Studiomu terlihat indah. Akan sayang sekali bila sesuatu terjadi padanya sebelum konser Sasha dimulai.”
Chiara membeku.
Jarinya gemetar.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa terancam.