Pertemuan Dua Nada
Malam itu, langit kota tampak berkilau, seolah ikut merayakan pesta para seniman. Gedung konser Grand Bellaria Hall dibanjiri cahaya, kilatan kamera serta tamu-tamu berpakaian elegan. Mobil-mobil mewah bergiliran berhenti di karpet merah, sementara nama Allegra Armonia A Charity Night for Children’s Music Education terpampang megah di atas pintu utama.
Chiara melangkah turun dari mobil hitam yang dikendarai Kevin. Malam itu, ia mengenakan gaun biru gelap yang sederhana, tapi anggun, rambutnya disanggul rapi dengan sedikit helaian ikal yang dibiarkan jatuh di sisi pipi. Senyumnya tenang, matanya tajam siap menghadapi siapa pun yang menantinya di balik pintu megah itu.
“Studiomu terlihat indah. Akan sayang sekali bila sesuatu terjadi padanya.”
Ancaman pesan misterius itu masih terpatri kuat di pikirannya.
Aaren tak bisa ikut malam itu karena jadwal mendadak di luar kota bersama investor Jepang. Chiara tak ingin membebaninya dengan hal ini. Lagipula, ini pertarungan lamanya. Ia harus menuntaskannya sendiri.
Di dalam aula konser, suara biola dan cello mengalun lembut dari panggung utama. Para tamu duduk rapi di kursi masing-masing. Nama Sasha Elvani diumumkan sebagai penampil utama pembuka konser, membuat ruangan seketika dipenuhi tepuk tangan.
Dari balik panggung, Chiara berdiri tak jauh dari tirai sutra merah, mengamati sosok yang baru saja naik ke atas panggung.
Sasha Elvani.
Masih sama seperti yang ia ingat, wajah tajam, tatapan percaya diri dan gaya bermain yang flamboyan. Gaun merah menyala yang dikenakannya terlihat mencolok, seolah ingin menunjukkan bahwa dialah pusat perhatian malam itu.
Musik mengalun. Teknik Sasha tak bisa dibantah. Sempurna, mengagumkan dan menggoda. Namun, di balik keindahan itu, Chiara bisa merasakan nada-nada yang dibuat bukan dari jiwa melainkan ambisi.
Selesai pertunjukan, Sasha melenggang turun panggung dan seperti yang sudah diduga Chiara, langkah Sasha berhenti tepat di hadapannya.
“Chiara Evolet,” ucap Sasha dengan senyum miring. “Ternyata kau cukup berani datang. Aku pikir kau sudah pensiun menjadi pemain.”
Chiara menatapnya tenang. “Pensiun? Tidak. Aku hanya hidup.”
Sasha terkekeh pelan. “Hidup dari apa? Dari belas kasihan seorang CEO? Dunia seni tahu, tanpa Aaren Baron, tak akan ada ‘Chiara’s Sonata House’.”
“Dunia seni juga tahu, Sasha,” jawab Chiara tajam, “bahwa permainanmu hanya indah di panggung. Di baliknya? Hanya kebohongan dan manipulasi.”
Tatapan mereka saling menabrak.
Mata tajam, senyum tipis dan energi lama yang dulu pernah membakar kompetisi mereka di masa lalu. Kini, menyala kembali lebih panas, lebih dewasa dan jauh lebih berbahaya.
“Jadi begini,” bisik Sasha perlahan, mendekat, “kita mulai lagi permainan lama itu. Namun, kali ini aku akan menangkan segalanya. Bukan hanya musik, tapi juga reputasi, murid-muridmu dan mungkin pria itu juga.”
Chiara tetap diam. Namun, kedua tangannya mengepal erat di balik gaunnya. Ia tahu, Sasha bukan sekadar bicara.
Konser berlanjut dengan pemain-pemain lain. Namun, sorotan media tetap tertuju pada dua nama. Chiara Evolet dan Sasha Elvani. Bisik-bisik mulai terdengar di kalangan tamu undangan.
“Bukankah mereka dulu pernah bersaing di kompetisi Eropa?”
“Kudengar Sasha dulu penyebab Chiara keluar dari orkestra.”
“Dua dewi cello dalam satu ruangan? Ini akan menarik.”
Sebelum meninggalkan gedung, Chiara menerima secarik catatan kecil dari seorang pelayan. Tak ada nama pengirim. Hanya dua kalimat pendek. "Malam ini hanya pembuka. Sku punya rencana yang lebih besar dari yang kau duga."
Chiara terdiam. Tangan kirinya mencengkeram tas kecilnya.
Satu hal yang pasti, ini bukan sekadar persaingan musik.
Ini adalah awal dari pertempuran.
Bukan hanya antara nada, tapi antara dua dunia yang sama-sama ingin menang.
Kevin tiba-tiba menelepon Chiara dalam perjalanan pulang.
“Bu Chiara, kami menemukan bekas lemparan batu di jendela studio. CCTV mati sejak dua jam lalu dan salah satu cello antik dari Italia, hilang.”
Chiara membelalak. Suaranya tercekat.
Dari kejauhan, seorang wanita bergaun merah menyala menyeringai sambil menaiki mobil limosin hitam, Sasha Elvani.
Beberapa hari berlalu sejak insiden di studio. Aaren masih belum tahu. Chiara menutupi semuanya dengan tenang. Ia menyuruh Kevin untuk merahasiakan kejadian itu dan memperbaiki kamera CCTV diam-diam.
Namun, di dalam diam, Chiara mulai menyelidiki.
Ia kembali ke studio malam-malam, memeriksa puing kaca jendela, meneliti rekaman yang tersisa sebelum CCTV mati dan menyimpan foto potongan bingkai cello antik yang ditemukan berserakan. Hatinya teriris melihat instrumen yang dulu ia mainkan dalam kompetisi internasional itu hancur seperti sampah.
Kevin sempat memprotes ketika tahu Chiara mulai bergerak sendiri. Namun, Chiara hanya menjawab singkat, “Jika aku terus bergantung pada Aaren, aku tak akan pernah bisa berdiri di atas kakiku sendiri.”
Di dalam senyap, Chiara mulai menghubungi jaringan lamanya mantan pemain orkestra, teknisi panggung hingga penyedia alat musik langka. Ia menelusuri siapa yang bisa menjual cello antik seperti miliknya ke pasar gelap.
Di tengah penyelidikan itu, datang sebuah kejutan.
Sore itu, seorang wanita elegan berdiri di depan studio Chiara. Perempuan paruh baya berambut perak keemasan, mengenakan mantel putih tulang dan sepatu hak mahal.
“Chiara Evolet?” tanyanya. “Saya Anastasia Bruegel. Direktur Artistik dari La Musica di Firenze.”
Chiara tertegun. Itu adalah organisasi musik terkemuka dari Eropa yang sangat selektif dalam mengundang seniman untuk tampil.
“Apa yang membawa Anda ke sini?” tanya Chiara, sedikit waspada.
Anastasia tersenyum, lalu menyerahkan satu map dokumen. “Kami ingin Anda mengadakan konser mini tunggal. Satu panggung, satu malam, hanya Anda. Kami akan menyiapkan orkestra pengiring, ruang latihan di Paris dan promosi global. Sponsornya adalah perusahaan internasional baru yang mendukung seniman independen.”
Chiara membuka map itu perlahan. Tawaran itu luar biasa.
Honorarium tinggi. Nama-nama besar di balik produksi dan tanggal konser yang sangat dekat dalam dua bulan ke depan.
“Siapa sponsor ini?” tanya Chiara, curiga.
Anastasia mengangkat bahu kecil. “Identitas mereka dirahasiakan. Namun, kami hanya menyampaikan tawaran. Keputusan di tangan Anda.”
Malamnya, Chiara duduk sendiri di ruang kerjanya, membaca ulang tawaran itu. Pikirannya berkelindan antara rasa bangga, penasaran dan waspada.
‘Kenapa sekarang? Kenapa aku?’
Ponselnya bergetar. Sebuah nomor asing masuk. Ia angkat perlahan.
“Terimalah tawarannya, Chiara,” suara di seberang berkata lirih, tapi tajam.
“Kami ingin melihat apakah kau masih bisa memainkan nada yang dulu membuatku nyaris kalah atau hanya jadi ibu rumah tangga yang manja.”
Chiara membeku. Itu suara yang tak asing. Sasha.
“Jika kau menolak, konser itu akan jatuh ke tangan seseorang yang jauh lebih kejam dariku.”
Sambungan diputus.
Keesokan harinya, Chiara menyembunyikan dokumen konser dari Aaren. Ia tahu, jika pria itu tahu, ia pasti akan melarangnya. Sama seperti saat ia ingin kembali main di cafe.
Namun, kali ini berbeda.
Ini bukan sekadar panggung. Ini adalah medan perang.
Beberapa hari kemudian, Kevin diam-diam memberikan satu data dari rekaman pengawasan yang sempat terselamatkan sebelum CCTV mati total.
“Ada satu wajah terekam, meski tak jelas,” kata Kevin.
Chiara mendekat, matanya menyipit.
Meski buram, ia tahu siapa sosok itu.
Bibirnya menyebut satu nama.
“Sienna.”
Sienna, pemain biola berbakat, yang dulu satu tim dengannya dan hilang dari dunia musik setelah disingkirkan Sasha.
Apa yang sedang terjadi sebenarnya?
mengapa semua orang dari masa lalu tiba-tiba muncul bersamaan?