Dua minggu sebelum konser tunggal Chiara Evolet.
Studio latihan itu tidak pernah seramai ini. Tim kreatif dari Allegra Armonia sibuk mempersiapkan detail acara. Mulai dari pencahayaan, sound system, layout panggung, tata busana, hingga desain undangan VVIP. Chiara, meski dibalut kelelahan, tetap tersenyum tulus. Ia ingin malam itu sempurna, bukan untuk kemegahan, tetapi untuk Lauren dan Aaren. Untuk semua luka yang selama ini ia simpan rapat.
Namun, di balik kerja kerasnya, ia tahu. Ada sesuatu yang tidak beres.
Hari sebelumnya.
Chiara mencoba memberi tahu Liam soal rekaman yang ia temukan. Namun, akses ponselnya masih terkunci dan laptopnya tiba-tiba rusak. Bahkan flashdisk tempat ia menyimpan bukti itu mendadak kosong saat dibuka.
Seolah semuanya ingin menghapus jejak kebenaran.
Saat ia hendak memberitahu Aaren, Chiara terhenti. Ia tahu Aaren sedang sibuk mempersiapkan dukungan media untuk konser dan juga menjaga perusahaan dari tekanan Luna secara diam-diam.
Chiara memutuskan satu hal. Diam dan berjaga. Ia tidak akan membiarkan konser ini gagal. Apapun taruhannya.
Sementara itu, Aaren
Di tengah kesibukan kerja, Aaren menerima laporan keuangan dari Liam yang terlihat janggal. Beberapa item pembelian alat konser tercatat dua kali dengan pengeluaran yang lebih besar dari yang dibutuhkan. Saat ia menyelidiki lebih jauh, nama Sasha Elvani muncul di dalam daftar sponsor teknis dari pihak luar yang tidak pernah disetujui oleh tim Chiara.
Insting bisnis Aaren langsung menjerit. Ia memanggil Kevin secara pribadi.
“Selidiki Sasha Elvani dan siapa saja yang dia rekrut untuk konser ini. Jangan beri tahu siapa pun, bahkan Chiara.”
Dalam waktu kurang dari 24 jam, Aaren mendapatkan apa yang ia cari. Dua teknisi dalam tim Liam adalah mantan kru Sasha dari Berlin, keduanya pernah terlibat dalam kasus manipulasi suara saat konser skala besar dua tahun lalu.
Lebih mengejutkannya lagi, ternyata Luna yang memasukkan nama mereka melalui rekomendasi sponsor misterius yang belakangan diketahui adalah Liam, sahabat lama Aaren yang ternyata dibutakan oleh ambisi dan janji Luna.
Kini, Chiara benar-benar dalam bahaya.
Aaren segera menemui Chiara di tengah persiapan panggung yang hampir rampung.
“Aaren?” Chiara menoleh, terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
Aaren menggenggam tangannya erat. “Kamu tidak boleh naik panggung dalam kondisi ini, Chiara. Kita harus mundur.”
“Maksud kamu apa?” Chiara nyaris panik.
“Ini jebakan, Chiara. Luna dan Sasha bekerja sama. Aku punya buktinya sekarang. Mereka akan menjatuhkanmu saat konser. Semua ini bagian dari rencana.”
Chiara menatapnya lama, matanya berkaca-kaca. “Aku sudah tahu, Aaren, tapi aku tidak bisa mundur. Jika aku berhenti sekarang, mereka menang.”
Aaren menghela napas panjang. “Kalau begitu, kita hadapi bersama. Kali ini, aku takkan biarkan kamu sendiri.”
Tiga hari sebelum konser, setelah melakukan penerbangan yang panjang dari Indonesia ke Prancis selama kurang lebih hampir 17 jam lamanya.
Chiara dan Aaren mulai menyusun ulang sistem teknis. Mereka mengganti sebagian kru dengan orang-orang kepercayaan Aaren dari divisi teknologi Baron Corp. Semua persiapan dikunci secara pribadi oleh Aaren.
Sasha dan Luna tidak mengetahui bahwa rencana mereka mulai runtuh pelan-pelan.
Namun, Luna bukan perempuan bodoh.
Di kediamannya yang mewah, ia mendapat pesan rahasia dari informan internal. "
Aaren mencium rencana kita. Hati-hati.”
Luna meremas ponselnya, rahangnya mengeras. “Kalau begitu, waktunya gunakan rencana darurat.”
Malam itu, Chiara menerima sebuah buket mawar putih di depan pintu ruang latihannya. Tak ada nama pengirim. Hanya sepucuk surat kecil.
"Kau bisa mengganti sistem suara, tapi tidak bisa mengganti takdir yang sudah kami tulis untukmu. Sampai jumpa di panggung, bintang yang akan jatuh."
Chiara memandang bunga itu dengan jantung berdegup cepat.
Ia tahu, malam konser tak akan semudah yang ia kira.
Paris, malam konser.
Langit Paris malam itu bertabur bintang, seakan ikut menyambut nyala keindahan yang terpancar dari panggung konser tunggal Chiara Evolet. Gedung pertunjukan megah di tengah kota penuh sesak oleh penonton yang datang dari berbagai penjuru Eropa. Undangan VVIP terisi oleh tokoh-tokoh musik, jurnalis internasional dan bahkan para sponsor kelas dunia.
Chiara duduk di tengah panggung, cello berwarna hitam legam berkilat di tangannya. Gaun putih keperakan membalut tubuhnya anggun dan sorot matanya menyatu dengan nada-nada yang mengalun dari senar dan busur yang ia gerakkan penuh emosi.
Di antara penonton, Aaren berdiri di belakang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada bangga, haru dan kekaguman yang tak terbendung saat melihat Chiara bersinar seperti bintang yang seharusnya memang di langit.
Sorak-sorai menggema saat Chiara memainkan nada terakhir dengan sempurna. Penonton berdiri. Standing ovation yang berlangsung lebih dari dua menit. Bahkan, beberapa media menjuluki malam itu sebagai “reinkarnasi jiwa musik di tangan Chiara Evolet.”
Di balik sorotan.
Luna menatap panggung dari balkon privat. Rahangnya mengeras, giginya bergemelutuk.
“Seharusnya dia gagal. Seharusnya konser ini berantakan!” geramnya.
Sasha Elvani yang duduk di sampingnya hanya tersenyum miring. “Kau terlalu terburu-buru, Luna. Kita belum kalah. Kita hanya perlu mengubah strategi.”
“Apa maksudmu?” tanya Luna tajam.
Sasha mengeluarkan tablet dan menunjukkan data statistik penjualan konser dan pencarian daring yang meningkat tajam untuk nama “Chiara Evolet.”
“Biarkan dia melambung lebih tinggi. Semakin tinggi ia terbang, semakin keras jatuhnya nanti.”
Luna menatap sahabat liciknya itu, lalu tersenyum kecil. “Lalu kita yang akan merobek sayapnya.”
Keesokan paginya, Hotel Ritz, Paris.
Chiara bangun dengan mata sembab, bukan karena sedih, melainkan karena malam sebelumnya begitu emosional. Ia belum pernah merasakan kebanggaan sebesar itu, tidak hanya sebagai musisi, tetapi sebagai ibu dan perempuan yang bertahan dari badai kehidupan.
Aaren masuk ke kamar dengan nampan sarapan. “Madame Evolet, sudah waktunya kau menyadari bahwa dunia sedang jatuh cinta padamu.”
Chiara tertawa kecil. “Aku hanya bermain cello, Aaren.”
“Tidak, kamu menghidupkan musik. Kamu membuat orang menangis karena haru. Itu lebih dari sekadar bermain.”
Mereka bertukar pandang, ada sinyal yang tak terucap. Lalu Lauren masuk tiba-tiba, membawa seikat balon bertuliskan “I love you, Mommy!”
Mereka bertiga pun tertawa bahagia. Untuk sesaat, semuanya terasa sempurna.
Namun, Di sebuah sudut gelap Paris, Sasha bertemu dengan seseorang yang wajahnya tertutup masker. Ia memberikan sebuah amplop tebal berisi dokumen-dokumen yang mencurigakan.
“Target selanjutnya, masa lalu Chiara. Buka luka lamanya. Hancurkan dari dalam.” Tertulis dari Luna Damian di dalam surat itu.
Sasha menatap nama yang tertulis di dalam berkas itu. Dario Evolet, ayahnya Chiara.
Ayah kandung Chiara yang selama ini dikira telah meninggal karena sebuah kecelakaan besar di negara Italia setelah kematian ibunya Chiara di tahun pertama.