Kilas balik beberapa hari sebelum konser tunggal Chiara.
Aaren duduk di sebuah ruangan di hotelnya, memperhatikan dokumen keuangan dan data transaksi yang masuk melalui departemen sponsor. Ia mencurigai satu nama yang muncul berulang kali dalam laporan dengan nama, Liam. Teman lamanya yang menjadi sponsor utama konser Chiara. Aneh, karena dana yang mengalir dari akun Liam tampak tidak biasa, beberapa berasal dari rekening perusahaan yang berkaitan dengan Luna Damian.
Insting bisnis dan perlindungan terhadap Chiara membuat Aaren bertindak cepat. Ia memanggil Kevin, tangan kanannya yang setia dan memerintahkan investigasi menyeluruh terhadap aliran dana dan keterlibatan pihak luar.
“Luna tidak akan bertindak tanpa motif. Jika dia masuk dalam skema ini, pasti ada jebakan,” ujar Aaren dengan nada tajam.
Dua hari kemudian, Kevin datang membawa berita penting.
“Pak Aaren, kami menemukan sesuatu. Ini salinan percakapan email antara Luna dan Sasha Elvani. Mereka berdua menggunakan nama samaran, tapi IP address mereka terlacak.”
Aaren membaca isi email tersebut.
“Pastikan cello Chiara diubah sebelum pertunjukan, cukup gores kecil pada senar A-nya. Tidak akan langsung rusak, tapi akan melengking kacau di tengah lagu terakhir. Rasa malu itu akan menghancurkannya.”
“Liam tidak tahu apapun. Biarkan dia tetap merasa sebagai pahlawan sponsor.”
Mata Aaren menyipit tajam. Rahangnya mengeras.
“Segera amankan peralatan musik Chiara. Uji secara menyeluruh. Ganti semua komponennya tanpa sepengetahuannya. Aku tak mau dia panik.”
Kevin mengangguk. “Sudah kami lakukan, Pak. Namun, Sasha Elvani sudah masuk ke area latihan pribadi Chiara kemarin sore sebelum kita ganti alatnya.”
Aaren mengepalkan tangannya. Ia langsung memanggil kepala keamanan konser dan memberi instruksi untuk meningkatkan pengawasan. “Pasang pengawasan tersembunyi di belakang panggung dan ruang ganti. Rekam segalanya. Aku ingin mereka tertangkap basah jika mencoba sekali lagi.”
Satu hari sebelum konser.
Aaren menemui Liam secara pribadi di sebuah kafe kecil di pusat kota Paris. Tanpa menuduh langsung, Aaren menyampaikan informasi samar yang cukup mengguncang.
“Liam, sahabatku. Kau yakin kau tidak sedang diperalat seseorang? Aku tahu niatmu baik, tapi ada jejak transaksi dari pihak Luna ke dalam proyek konser ini.”
Liam terdiam. “Itu tidak mungkin. Aku. Aku hanya ingin mendukung Chiara karena musiknya luar biasa.”
“Aku yakin niatmu murni, tapi tolong, jangan ikut campur lagi dalam logistiknya. Serahkan sisanya padaku.”
Liam mengangguk dengan wajah bingung tapi percaya pada Aaren.
Malam sebelum konser.
Di tengah pengawasan ketat, kamera tersembunyi merekam saat seorang teknisi mencoba menukar busur cello Chiara di ruang penyimpanan. Segera saja, kepala keamanan menangkapnya. Pria itu adalah asisten pribadi Sasha yang menyusup dengan ID palsu.
Saat berita penangkapan itu sampai ke tangan Luna dan Sasha, mereka langsung menarik diri dari lokasi. Namun, Aaren sudah punya cukup bukti untuk menghancurkan rencana mereka.
Pagi hari sebelum konser.
Aaren memutuskan untuk tidak memberi tahu Chiara agar ia bisa tampil dengan hati yang tenang. Ia hanya mengatakan, “mainkan dengan hatimu dan kalau pun ada yang mencoba menjatuhkanmu, mereka sudah terlambat.”
Chiara menatapnya bingung ,tapi ketika melihat senyum tenang Aaren, ia merasa cukup.
Malam itu, Chiara pun memukau dunia.
Kembali ke Indonesia.
Aaren duduk di ruang kerjanya malam itu, menatap foto lama yang baru saja ia temukan. Potret buram dari tahun-tahun silam, memperlihatkan seorang pria dengan senyum tenang dan anak kecil yang memeluknya erat. Anak itu jelas sekali, itu adalah Chiara dan pria dewasa di foto tersebut tak lain dari Dario Evolet, maestro cello dunia yang menghilang secara misterius dua puluh tahun lalu.
Aaren menghubungi seseorang dari tim investigasinya.
“Selidiki semua tentang Dario Evolet. Mulai dari konser terakhirnya, kabar kehilangannya, hingga latar belakang keluarganya. Temukan juga hubungan apa pun antara dia dan Luna Damian.”
Keesokan harinya, Kevin datang dengan kabar mengejutkan.
“Dario Evolet adalah ayah kandung Chiara. Ia menghilang saat Chiara masih berusia empat tahun. Dalam dokumen lama, tercatat bahwa Dario adalah kekasih rahasia dari seorang sosialita muda dan sosialita itu adalah.”
Kevin menatap Aaren tajam. “Ibu kandung Luna Damian.”
Aaren terdiam. Nafasnya tercekat.
“Jadi Luna dan Chiara?”
“Saudara tiri beda ibu. Mereka berasal dari ayah yang sama.”
Sementara itu di tempat lain, Luna menghantam meja marmer di hadapannya dengan marah.
“Sasha kau gagal dan Aaren berhasil mematahkan langkah kita sebelum konser itu dimulai.”
Ia berbalik ke arah Sasha yang berdiri dengan ekspresi kesal. “Kita harus ubah taktik. Kali ini, kita tidak menyerangnya lewat panggung atau reputasi. Kita akan menyerang identitas dan masa lalu Chiara sendiri.”
Sasha menyeringai, “Kita mulai dari kabar lama tentang Dario Evolet. Dunia belum tahu siapa anak kandung Dario sebenarnya. Kalau kita bisa merekayasa data yang ada, kita bisa menyebarkan narasi bahwa Chiara adalah anak haram dari hubungan gelap dan memutarbalikkan fakta, bahwa dia menggunakan nama Dario demi popularitas.”
Luna mengangguk dingin. “Saat Chiara berada di titik tertingginya, kita jatuhkan dia dengan narasi aib. Dunia seni benci manipulasi darah.”
“Lalu Aaren?”
Luna tersenyum tipis. “Aku akan buat dia ragu pada Chiara. Akan kutunjukkan bukti palus bahwa Chiara hanya mendekati Aaren karena tahu siapa ayahnya dan ingin menggunakan Baron Corp untuk balas dendam.”
Sementara itu, Chiara sedang bersama Lauren dan Aaren di studio barunya yang kini menjadi tempat ia melatih timnya.
Saat Aaren menatap Chiara dengan lembut, ia menggenggam tangan wanita itu dan berkata pelan, “Aku tahu tentang Dario Evolet.”
Chiara terdiam. “Dari mana?”
“Foto lama itu dan penyelidikan kami. Dia ayah kandungmu, bukan?”
Chiara mengangguk perlahan, matanya mulai berkaca. “Aku baru tahu itu belum lama ini. Dulu nenekku menyimpannya rapat. Aku tidak tahu ke mana dia menghilang. Menurut kabar yang beredar, dia menghilang dalam sebuah kecelakaan di Italia. Aku hanya sering mendengar bahwa dia adalah seorang pemain cello terhebat di dunia dan aku mewarisi keahlian itu darinya.”
Aaren menarik napas dalam. “Kau tahu, Luna Damian adalah saudara tirimu.”
Chiara membeku. Dia tak percaya.
"Tidak mungkin!"
Di layar laptop Luna, terdapat satu email tak biasa.
Dari nama yang tak dikenal, V.
“Luna, aku tahu siapa sebenarnya Chiara, tapi kamu harus membayar lebih jika ingin aku membawa dia ke masa lalu yang tak pernah dia ingat. Bersiaplah. Dunia akan tahu bahwa dia bukan pahlawan di atas panggung, tapi anak dari seorang pengkhianat seni.”
Luna menyeringai. “Bagus, V. Kita buka panggung baru. Kali ini, tak akan ada standing ovation.”