Drama

Sosiopat - Kekosongan Yang Menyeramkan - Bab 13

Penulis Ichan
02 December 2025

Kekosongan Yang Menyeramkan

Malam itu, hujan baru saja reda. Sisa rintik masih menetes dari ujung atap minimarket ketika Alina menutup apron kerjanya dan keluar dari pintu belakang. Udara lembap menyentuh pipinya terasa dingin. Namun, menenangkan, setidaknya bagi orang normal. Bagi Alina, dingin itu seperti ruang kosong di dalam dirinya, ruang yang tidak pernah benar-benar terisi apa pun.

Ia berjalan menuju halte kecil di depan, menunggu bus yang biasanya melewati jalur rumahnya. Sudah tiga hari sejak kejadian pria mabuk itu dan tak ada satu pun kabar dari pihak kepolisian. Tak akan ada, Alina sangat paham sebab ia tidak memberi kesempatan siapa pun untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada CCTV. Tidak ada saksi. Tidak ada korban yang punya cukup nyawa untuk melapor.

Ia menahan senyumnya.

Bus datang lambat, remnya berdecit, pintu menggeser kasar. Alina naik dengan santai dan duduk dekat jendela. Di kepalanya hanya ada satu hal: menemukan paman yang telah membunuh ibunya. Semakin hari, keinginannya bukan lagi sekadar dendam. Itu sudah menjadi obsesi yang menempel seperti parasit di dalam tubuhnya yang menginangi setiap detik hidupnya.

Begitu bus menurunkannya di pinggir jalan yang sepi, ia bersiap menyeberang ketika terdengar derap langkah dari belakang.

Bukan langkah cepat. Bukan pula langkah biasa, tapi langkah seseorang yang percaya diri atau terbiasa membuat orang lain menoleh.

Alina menahan gerak. Dari sudut matanya ia bisa melihat seorang pria tinggi mendekat, mengenakan jas hitam elegan yang tidak cocok dengan lingkungan kumuh tempat ia turun barusan. Lelaki itu tampan, sangat tampan dengan rahang tegas dan rambut hitam rapi, terlalu rapi.

Ia berhenti beberapa langkah dari Alina.

“Nona Alina, ya?”

Alina menoleh, alisnya meninggi. “Kamu siapa?”

Lelaki itu tersenyum kecil. Senyum tenang, bersih, tapi ada sesuatu di baliknya, ketidakjujuran yang samar. “Namaku Dirga Mahendra. Aku sering mampir ke minimarket tempatmu bekerja. Kau mungkin tidak sadar, tapi aku memperhatikan cara kerjamu. Cekatan, cepat dan tidak panik menghadapi pelanggan berbahaya.”

Alina membeku sejenak. Jadi orang ini memperhatikannya?

Beberapa orang mungkin akan merasa takut, tapi Alina?

Tidak. Perhatian seperti itu hanya membuatnya merasa satu: tertantang.

“Apa maumu?” tanyanya datar.

Dirga menyelipkan tangannya ke saku celana, tatapannya mengamati Alina seolah sedang menilai barang dagangan. “Aku ingin menawari pekerjaan di perusahaan milikku. Perusahaan ekspor impor dan konsultan investasi. Kau akan dibayar jauh lebih tinggi dari minimarket itu.”

“Kenapa aku?” tanya Alina.

“Karena aku suka pekerja yang tidak banyak bicara dan tidak banyak bertanya,” jawab Dirga tanpa ragu.

Itu jawaban yang paling jujur yang pernah Alina dengar dari seseorang.

Ia menyeringai kecil. “Apa yang membuatmu yakin aku mau?”

“Kau terlihat seperti seseorang yang ingin keluar dari tempat itu,” balas Dirga, menatap sekeliling lingkungan gelap yang muram. “Dengan kemampuanmu, kau akan tenggelam sia-sia kalau bertahan di sana.”

Alina menurunkan pandangan, pura-pura memikirkan tawaran itu. Padahal, sejak laki-laki itu muncul, ia sudah tahu apa jawabannya.

Kesempatan itu muncul terlalu cepat. Terlalu mudah. Namun, justru karena itu, ia semakin tertarik. Orang kaya datang menghampiri dari kegelapan? Itu aneh, tapi Alina bukan gadis naïf yang takut dimanfaatkan.

Ia tersenyum tipis. “Kau tidak takut aku menipumu?”

Dirga tertawa pelan. “Aku lebih kuat dari itu.”

Kalimat itu membuat Alina semakin ingin melihat apakah ia benar-benar sekuat yang ia klaim dan bukan hanya itu saja, uang yang ditawarkan pria sepertinya bisa menjadi jalan untuk melacak keberadaan pamannya. Ia butuh akses. Ia butuh kekuasaan. Ia butuh posisi yang lebih tinggi dari sekadar pegawai minimarket.

“Kapan aku mulai?” Alina bertanya.

“Besok. Aku akan mengirimkan alamat kantor dan posisi yang akan kau isi.” Dirga menyodorkan kartu namanya. “Jangan kecewakan aku.”

Saat pria itu pergi, langkahnya tegap dan tenang, Alina memandang punggungnya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan, campuran minat, kecurigaan dan rencana-rencana kecil yang mulai menetas.


Keesokan harinya.

Arkanza datang ke rumah Alina pagi-pagi buta. Rambutnya berantakan dan wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tidak pernah reda sejak kejadian penabrakan itu.

“Jadi kau menerima tawaran pria itu?” tanyanya tanpa basa-basi.

Alina yang sedang mengikat rambut hanya mengangguk kecil.

“Lin, aku tidak yakin orang itu benar-benar ingin membantumu. Kamu bahkan tidak mengenalnya. Bisa saja dia penipu, human trafficking atau entah apa, apapun itu!”

Alina memutar bola mata. “Kau berpikir terlalu jauh.”

“Tidak,” Arkanza menatapnya dengan tatapan serius yang jarang ia tunjukkan. “Aku merasa ada yang salah. Kamu, kamu tidak melihat caranya memandangmu? Seperti dia menyembunyikan sesuatu.”

“Semua orang menyembunyikan sesuatu, Kan.” Alina meraih tas kecilnya lalu menatap Arkanza dengan tatapan yang lembut, palsu, tapi sangat meyakinkan. “Tapi justru itu gunanya aku. Aku bisa membaca niat orang. Dia butuh aku. Dan aku butuh uangnya.”

Arkanza menghela napas panjang, putus asa. “Kau tidak harus melakukan ini sendirian.”

“Kau tidak mengerti,” jawab Alina pelan. “Aku harus punya cukup kekuatan untuk menemukan pamanku. Dan pria itu kemungkinan besar bisa membantuku, secara tidak langsung.”

“Dia bisa memanfaatkanmu,” desis Arkanza.

Alina menatapnya lama. “Atau aku yang akan memanfaatkan dia.”

Arkanza terdiam. Dalam hati kecilnya ia tahu, Alina bukan gadis yang perlu dilindungi. Ia adalah badai yang sedang menunggu waktu untuk meledakkan segalanya, tapi rasa cintanya membuatnya tetap berada di sisi gadis itu, meski ia tahu ia terseret ke tempat gelap yang tidak bisa ia pahami.

“Kalau begitu aku ikut mengantarmu,” katanya akhirnya.

“Tidak perlu,” tolak Alina tegas. “Kau punya kuliah dan kerja paruh waktu. Jangan rumitkan.”

“Alina!”

“Kan,” Alina menatapnya dengan lembut, menyentuh pipinya. “Percayalah padaku.”

Itu cukup untuk membuat Arkanza bergeming. Bahkan meski intuisi sehatnya berteriak menolak, rasa cintanya membuatnya buta.


Sesampainya di perusahaan Dirga.

Gedung itu megah, kaca hitam tinggi menjulang, lobi mewah dengan marmer putih dan pencahayaan hangat. Alina melangkah masuk tanpa rasa kagum sedikit pun, padahal pegawai lain memandang tempat itu seperti istana modern.

Dirga menunggunya di lantai 27, kantor pribadi dengan dinding kaca besar yang memberikan pemandangan kota.

“Selamat datang,” katanya sambil mengamati Alina dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Alina tidak terganggu sedikit pun. “Jadi posisi apa yang kau berikan padaku?”

“Aku ingin kau berada di divisi administrasi proyek, tapi laporan dan arsip tertentu hanya akan diberikan padamu. Kau akan memegang beberapa data sensitif.”

“Terlalu berisiko untuk pegawai baru.” Alina mengangkat alis.

Dirga tersenyum samar. “Aku tidak memberikan pekerjaan itu karena kau pegawai baru. Aku memberikannya karena kau berbeda.”

Berbeda.

Kata itu membuat Alina menahan senyum. Ia mengikuti Dirga menuju ruangannya, diperkenalkan kepada beberapa staf, lalu dipandu oleh sekretaris pribadi.

Lingkungannya tampak profesional, tapi Alina sudah belajar dari kecil bagaimana mengenali pola-pola kecil dari orang-orang bermasker elok. Dan di tempat ini, semua orang memakai masker.

Ia menyukai itu karena orang-orang bertopeng biasanya mudah dimanipulasi.

Ia bekerja cepat, mencatat, menandai dan mempelajari sistem perusahaan itu. Di sela-sela pekerjaannya, ia sesekali memperhatikan Dirga dari jauh. Cara pria itu berbicara, cara ia memandang karyawan, cara ia tersenyum pada investor, semuanya rapi, terstruktur, tapi tidak pernah benar-benar hangat.

Yang artinya ia juga menyembunyikan sesuatu. Alina bahkan semakin tertarik.


Malam pertama setelah bekerja.

Alina pulang lebih malam dari biasanya. Dirga sempat menawarkan sopir, tapi ia menolak dengan halus, ia tidak suka dikendalikan. Ia berjalan menuju halte bus, mengirim pesan singkat pada Arkanza bahwa ia pulang terlambat.

Arkanza membalas dengan pesan penuh kekhawatiran.

“Mau ku jemput?”

Alina tidak langsung membalas. Ia menatap layar ponsel lama sebelum mengetik. “Tidak usah. Aku baik-baik saja.”

Meskipun Arkanza tidak tenang dengan jawaban itu, ia tidak memaksa.

Saat Alina turun dari bus, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti sejenak.

Sebuah mobil hitam diparkir tidak jauh dari tempat turunnya. Mobil yang sama yang ia lihat beberapa jam lalu saat jam istirahat.

Ia merasa seseorang mengikutinya, tapi Alina tidak mempercepat langkah.

Tidak berhenti. Tidak menengok, karena ia tahu jika seseorang memburunya, rasa takut adalah makanan bagi mereka, tapi yang terjadi selanjutnya justru membuat bibir Alina perlahan tersenyum tipis.

Sosok pria yang keluar dari mobil itu bukan orang asing. Dia adalah Dirga.

“Kau mengikuti aku?” tanya Alina ketika pria itu mendekat.

“Aku memastikan kau pulang dengan selamat,” jawabnya tenang. “Daerah sini tidak aman.”

“Aku bisa menjaga diri.”

“Aku tidak ragu soal itu.” Dirga menatap matanya dengan dalam. “Tapi orang yang bisa menjaga diri biasanya juga menjadi target.”

Alina menahan degup halus yang muncul bukan karena takut, tapi karena tantangan baru yang mulai terasa begitu menyenangkan.

“Kalau begitu berhentilah mengikutiku,” katanya dingin sambil berbalik.

Dirga tidak membalas. Tak ada langkah menyusul, tapi Alina tahu pria itu tidak akan berhenti dan itu justru membuat semuanya semakin menarik.


Setibanya di rumah.

Arkanza sudah menunggu di depan pagar, wajahnya tampak lega sekaligus muram saat melihat Alina turun dari ujung gang.

“Kau terlihat lelah,” katanya.

“Sedikit.”

“Aku masih tidak percaya kau menerima tawaran itu.”

“Aku sudah bilang, aku bisa mengurus diriku sendiri.”

Arkanza mendekat, menatap plester di kepala Alina. “Aku takut kehilanganmu.”

Alina terdiam sejenak. Ada sedikit rasa, bukan rasa bersalah, tapi sesuatu yang mirip. Namun ia menutupinya dengan senyum tipis.

“Kau tidak akan kehilangan aku,” katanya. “Selama kau tetap berada di sisiku.”

Arkanza tidak menyadari bahwa kalimat itu bukan janji, tapi perintah.


Malam itu, ketika Alina masuk ke kamarnya, ia duduk di tepi tempat tidur sambil mengeluarkan kartu nama Dirga dari saku.

Ia menatapnya lama. Kemudian ia tersenyum.

“Dengan uangmu,” gumamnya pelan, “aku akan menemukan manusia terkutuk itu.”

Namun, jauh di dalam dirinya, ada suara lain yang berbisik dan mungkin, kau juga bisa menjadi permainan berikutnya. Dirga.