PERMAINAN ALINA BERIKUTNYA DIMULAI
Ruang kerja Dirga sore itu dipenuhi cahaya keemasan dari matahari senja yang menembus tirai tipis. Bayangannya jatuh panjang ke lantai marmer, menciptakan siluet yang elegan namun dingin seperti karakter pemilik ruang itu. Di balik pintu yang sedikit terbuka, langkah Alina terhenti senyap. Ia tidak berniat menguping, tetapi suara Tiara meninggi, memecah keheningan lantai eksekutif yang biasanya sunyi.
“Aku serius, Kak. Kau terlalu gegabah memberikan proyek sebesar itu pada dia.”
Suara Tiara terdengar penuh tekanan, dicampur rasa tidak suka yang tidak ia sembunyikan sedikit pun.
Alina mencondongkan tubuh sedikit, cukup untuk memastikan setiap kata masuk ke kepalanya dengan jelas.
“Apa kau tahu siapa dia sebenarnya? Tidak punya pengalaman. Tidak punya latar belakang pendidikan memadai. Dia bahkan sebelumnya cuma.”
“Tiara." Nada Dirga menegur.
Namun, adiknya tidak berhenti. “Kau luluh karena apa? Karena wajahnya? Karena dia berbeda dari perempuan-perempuan oportunis yang biasa mendekatimu? Justru itu mengerikan! Tipe perempuan seperti itu lebih berbahaya. Kakak tahu, kan? Dia bisa saja.”
“Cukup.” Dirga memotong tajam, tapi Tiara tidak peduli.
“Kau tidak tahu apa yang dia sembunyikan. Orang seperti dia, perempuan miskin yang tiba-tiba masuk ke lingkaran orang kaya itu berbahaya, Kak. Mereka akan melakukan apa pun. Mereka tak punya rasa malu untuk memanjat naik.”
Senyuman Alina merekah perlahan. Senyum yang halus namun sama dinginnya seperti suara pisau yang diseret di atas kaca. Ia tidak tersinggung, tidak mungkin. Justru ia merasa penasaran. Lucu bagaimana manusia berbicara jujur ketika mereka merasa dominan. Lebih lucu lagi bagaimana orang yang paling keras merasa paling aman, padahal mereka adalah sasaran termudah.
Tiara baru saja menandai dirinya sebagai bidak berikutnya.
“Aku hanya bilang,” lanjut Tiara, napasnya berat. “Jangan sampai perusahaan keluarga rusak karena satu perempuan asing.”
Dirga diam lama sebelum membalas, “Aku punya alasan mempercayainya, Tiara. Dia berbeda.”
Alina mendengar langkah kaki Tiara mendekat. Ia segera mendorong pintu perlahan, masuk seolah tidak tahu apa-apa.
“Permisi, Pak Dirga." Alina mengetuk pelan, membuat Tiara tersentak.
“Oh,” Tiara tersenyum tipis, senyum palsu yang dirias kesopanan. “Kau sudah di sini rupanya.”
Alina membalas senyum itu. “Maaf, saya tidak ingin mengganggu. Saya datang untuk menyerahkan revisi konsep proyek.”
Dirga bangkit, menerima map dari tangannya. “Terima kasih, Alina. Kau selalu cepat.”
Selalu cepat. Selalu cekatan. Selalu sempurna. Kata-kata itu jatuh seperti garam ke luka Tiara. Tatapan adiknya meruncing.
“Cepat bukan berarti benar,” gumam Tiara pelan tapi cukup keras untuk didengar.
Dirga menghela napas. “Tiara!”
Namun, Alina tidak memberi kesempatan. Ia menatap Tiara lembut, terlalu lembut.
“Saya mengerti, Kak Tiara.”
Ia sengaja menggunakan sapaan akrab, meski Tiara jelas tidak menyukainya.
“Kalau Kak Tiara merasa saya belum layak, saya akan berusaha lebih keras. Saya tidak ingin membebani siapa pun.”
Tiara mendengus, “Kau bicara seolah kau tak pernah membuat rencana apa-apa. Padahal orang sepolos dirimu biasanya yang paling pandai memutarbalikkan keadaan.”
Alina hanya tersenyum.
Dirga menatap adiknya, jelas semakin kesal. “Tiara, berhenti.”
“Kenapa harus berhenti? Karena kau suka dia?” Tiara memicingkan mata. “Atau karena dia sudah berhasil membuatmu buta?”
Dirga terdiam.
Tiara tersenyum puas, lalu mengambil tasnya dan keluar sambil membanting pintu sedikit. Suara itu menggema lama di dalam ruangan.
Alina tetap berdiri, wajahnya tenang, tubuhnya tegak. Namun, dalam hatinya, roda roda rencana mulai berputar.
Perlahan. Teratur. Mematikan.
Hari-hari berikutnya, Alina tetap bekerja seperti biasa. Selalu tepat waktu, selalu rapi, selalu menunjukkan performa yang nyaris sempurna. Dirga semakin terkesan. Para manajer lain pun mulai menaruh rasa hormat, bahkan sedikit takut melihat betapa cepatnya ia belajar.
Sementara itu, Tiara mulai menunjukkan ketidaksabaran.
“Aku tahu ada sesuatu yang salah dengan perempuan itu,” gumamnya di ruang coworking suatu siang.
Beberapa rekan kerjanya mengangguk, tidak berani menentang Tiara, seorang putri direktur dan calon pewaris perusahaan.
“Aku ingin bukti,” Tiara menekankan. “Bukti bahwa dia bukan orang yang bisa dipercaya.”
Alina mendengar itu dari lorong. Ia tidak perlu melihat wajah mereka. Ia tahu ekspresi penghinaan, ketidakpercayaan dan kecemburuan itu terlalu familiar.
Ia menyeringai.
Retak kecil itu sudah muncul. Ia hanya perlu memperlebarnya.
Malam hari.
Lampu apartemen mewah Tiara menyala lembut. Ia duduk di sofa dengan laptop terbuka, meninjau beberapa laporan keuangan. Tiba-tiba layar komputernya berkedip. Notifikasi aneh muncul tanpa pengirim.
"ADA HAL YANG KAU LEWATKAN."
Tiara mengerutkan kening. Ia mengabaikannya. Detik berikutnya, seluruh lampu di apartemennya mati.
“Eh, apa?”
Kegelapan yang pekat. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Tiara meraba ponselnya dengan tangan gemetar. Namun, sebelum ia sempat menyalakan senter, lampu-lampu menyala kembali dan TV menyala otomatis.
Layar menunjukkan rekaman CCTV lobby, dirinya sendiri ketika keluar kantor tadi sore. Di bawahnya tertera satu kalimat:
"AKU MELIHAT SEMUA PERGERAKANMU".
Tiara tercekat. “Siapa yang melakukan ini?!”
Namun, TV tiba-tiba mati lagi. Lalu menyala. Lalu mati. Berkali-kali. Seperti seseorang sedang bermain dengan saklar dari kejauhan. Tiara berlari ke pintu, memeriksa lubang intip. Koridor gelap. Senyap. Tidak ada siapa pun.
Ia menutup pintu buru-buru, tubuhnya bergetar.
Ia tidak tahu bahwa seseorang telah kloning akses CCTV gedung sejak beberapa hari lalu. Ia tidak tahu seseorang telah menyalin pola akses elektrik unitnya. Ia tidak tahu bahwa seseorang bahkan sudah tahu passcode pintunya dan seseorang itu bukan orang jahat biasa.
Itu Alina.
Bukan karena ia ahli teknologi, bukan. Ia hanya tahu cara memanfaatkan orang. Termasuk teknisi gedung yang ia rangkul dengan beberapa lembar uang dan senyuman samar.
Tiara datang terlambat ke kantor esoknya. Rambutnya acak, lingkar mata menghitam. Dirga memandangnya khawatir.
“Kau sakit?”
Tiara menggeleng cepat. “Ada seseorang yang mengacaukan apartemenku. CCTV-ku diretas. Lampu berkedip-kedip. TV menyala sendiri. Aku, aku tidak bisa tidur.”
Dirga terkejut. “Apa kau sudah hubungi keamanan gedung?”
“Sudah! Mereka bilang tidak ada tanda-tanda peretasan dan saat klarifikasi, rekaman CCTV semalam hilang.” Tiara tersengal.
Dirga mengusap wajahnya. “Aku akan bantu menyelidiki.”
Alina yang sedang lewat di depan ruangan melirik sekilas.
Tiara yang melihatnya langsung menunjuk. “Lihat! Dia itu. Dia pasti terlibat!”
Dirga mengernyit. “Tiara, jangan ngawur.”
“Aku tahu dia! Dia pasti ingin menjatuhkanku supaya Kakak lebih mempercayainya!”
Alina hanya tersenyum sopan. “Saya tidak tahu apa yang Kak Tiara bicarakan. Saya bahkan sedang lembur semalam.”
Dirga menatap adiknya. “Itu tuduhan serius.”
Tiara berteriak, “Kau tidak lihat? DIA ITU BUKAN ORANG BAIK!”
Semua karyawan menoleh. Tiara kehilangan kendali dan di tengah keributan itu, Alina berdiri tenang seperti air danau yang tidak bergerak.
“Kalau Kak Tiara ingin saya diperiksa, saya bersedia,” ujarnya lembut. “Saya tidak takut pada kebenaran.”
Karena ia tahu: kebenaran yang orang pikir mereka cari adalah versi yang paling memuaskan ego dan ego Tiara sedang menjerat dirinya sendiri.
Malam kedua.
Tiara memutuskan tidur lebih awal. Namun menjelang pukul dua dini hari, ponselnya bergetar terus-menerus. Puluhan pesan masuk.
Semua dari nomor random. Semua berisi foto dirinya. Berjalan. Masuk kantor. Keluar apartemen. Berbicara dengan teman. Bahkan foto ia tidur, diambil dari jendela apartemennya.
“Tidak, tidak mungkin.” Ia menjerit, melempar ponsel. Suaranya menggema keras, membuat tetangga menggedor dinding, menyuruhnya diam.
Tiara terengah. Tubuhnya menggigil. Ia menutup wajah dengan tangan.
“Aku gila, aku pasti gila.”
Tidak. Ia tidak gila.
Ia dihancurkan.
Perlahan.
Metodis.
Menyenangkan.
Setiap pesan itu dikirimkan menggunakan aplikasi otomatis. Alina tidak perlu melakukan apa pun malam itu selain tidur nyenyak.
Itu seni yang ia pelajari, menghancurkan orang tanpa perlu menyentuhnya.
Suatu pagi berkabut, Tiara pergi ke kantor dengan mata kosong. Ia menyetir seperti robot. Namun, rem mobilnya mendadak blong ketika ia sampai di lampu merah. Ia panik, memutar setir dan mobil meluncur tak terkendali ke arah jalan yang lebih padat.
Teriakan orang-orang bersahut-sahutan. Tiara menginjak pedal sekuat tenaga, percuma. Mobil menabrak trotoar, terpental, lalu menghantam sisi mobil lain. Kacanya pecah. Tiara terguncang keras, tubuhnya terlempar ke samping.
Suara dentuman keras mengacaukan pagi itu.
Ketika ambulans tiba, Tiara masih sadar, tapi shock berat. Bibirnya bergetar, matanya liar seperti hewan yang dikejar pemburu.
“Ada ada yang ingin membunuhku,” ia terisak lirih. “Dia, dia ingin aku mati.”
Saat dibawa, matanya menangkap sosok yang berdiri sejauh beberapa meter.
Alina.
Berdiri di trotoar. Seragam kerja rapi. Rambut terikat bersih. Ekspresi datar. Seakan hanya menonton kecelakaan biasa. Tidak ada rasa terkejut. Tidak ada iba. Tidak ada simpati.
Hanya senyum kecil. Senyum tipis yang hanya Tiara yang melihat dan itu cukup membuatnya menjerit histeris.
Di rumah sakit, ketika Dirga datang, ia memeluk adiknya yang menangis tanpa suara.
“Ada…yang ingin membunuhku, Kak.” Tiara terisak. “Aku tahu itu dia. Aku tahu.”
Dirga menatap Alina yang berdiri di depan pintu, menunduk sopan.
“Alina,” panggil Dirga.
Alina mengangguk kecil. “Saya ikut sedih mendengar kondisi Kak Tiara. Jika ada yang bisa saya bantu, saya siap.” Itu terdengar seperti kalimat yang menjerat.
Dirga, dalam kebutaan emosinya, justru semakin percaya.
“Aku butuh orang yang bisa kupercaya,” katanya lirih pada Alina. “Dan itu kamu.”
Di balik sorot lembut mata Alina, ada sesuatu yang bergerak.
Gelap.
Licin.
Mematikan.
Permainan berikutnya dimulai dan Tiara hanyalah salah satu nada dari simfoni panjang yang akan dimainkan Alina.