“Baru pulang?”
Sedikit berjingkat, Ezra tetap menarik pintu utama sampai menutup. Aurora sedikit memiringkan kepala, dengan sebelah tangan memegang cangkir keramik hitam. Aroma earl grey menguar pekat, tampaknya baru saja diseduh.
“Seperti yang kau lihat. Kenapa kau belum tidur?” Tak langsung pulang setelah menemui Celeste, Ezra berkeliaran sampai malam di sekitar mansion milik Bastien untuk mencari tahu tentang Elias.
Pria tua itu tidak mengizinkannya mendekat selama misi belum selesai. Sementara ia harus memastikan apakah adiknya itu telah mengonsumsi obatnya dengan baik atau tidak. Ucapan Bastien tidak bisa dipegang.
“Menunggu Kael pulang.” Aurora menjawab dengan nada gelisah.
Alis Ezra bertaut. “Bukankah dia bilang akan segera pulang?”
Aurora berbalik, melangkah menuju ruang makan. Gerakannya gugup, wajahnya berkali-kali mengernyit samar. “Itulah yang sedang kupertanyakan. Kenapa dia belum pulang?”
“Sudah coba menghubunginya lagi?” tanya Ezra.
“Setiap satu jam sekali.” Suara Aurora terdengar putus asa. “Tapi tidak ada satu pun panggilanku yang diangkat.”
Ezra mengernyit, gerakannya perlahan—ikut duduk di sebelah Aurora. “Asistennya juga tidak bisa dihubungi?”
Aurora menggeleng. “Luther juga tidak menjawab teleponku. Aku khawatir ada masalah yang terjadi pada mereka.”
Ezra menarik tubuhnya, bersandar di kursi makan. Alisnya bertaut samar. Mungkinkah ada kaitannya dengan Bastien? Ia mengetahui pasti jika pria tua itu memang berniat untuk mencelakai Aurora dan Kael.
Sial. Situasi ini membuatnya tidak tenang. Meskipun ia tidak suka dengan Kael, tapi perasaan bersalah tetap ada jika sampai terjadi sesuatu dengannya—terlebih jika itu adalah ulah dari Bastien. Ia berdecak pelan, sangat lirih sampai Aurora tak mendengarnya.
“Mau mencarinya atau menunggunya?” tanya Ezra.
Aurora meletakkan cangkir tehnya perlahan. “Kucoba telepon sekali lagi. Kalau tidak diangkat, aku akan mencarinya.”
“Sidik jari yang yang ada di file folder itu terbukti adalah milik Bastien Vireaux.” Rudolf, pengacara Kael menjelaskan.
Rahang Kael mengetat. Sorotnya menyipit tajam. Meskipun telah menebaknya dari awal, tapi setelah mendengar langsung hasil pemeriksaan forensik yang dilakukan diam-diam, ternyata tidak juga membuatnya tenang.
“Kita bisa memproses perkaranya kalau Tuan berkenan.” Rudolf melanjutkan.
Kael menunduk, menatap ujung sepatu kulitnya. Keningnya mengerut dalam, sementara sorot matanya tajam dan semakin menggelap. Detik selanjutnya, pandanganya kembali mengarah tegas pada Rudolf. “Simpan dulu buktinya, aku masih memerlukan dia bebas untuk mencari sesuatu yang lebih besar.”
Rudolf mengangguk, menuruti ucapan sang tuan besar. “Baik, saya akan menyimpannya dengan aman. Salinan hasil pemeriksaan telah saya kirimkan pada e-mail Anda.”
Anggukan pelan dari Kael menandakan pembicaraan mereka malam ini telah usai. “Terima kasih kerja samanya, Rudolf.”
Rudolf menunduk cepat, sedikit membungkuk sebelum berbalik menuju pintu ruangan kerja Kael di gedung utama Vireaux Group. Luther mengantarnya dengan gestur santai dan obrolan ringan tentang rencana malam apa yang akan dilakukan Rudolf, sementara Kael menyandarkan kepalanya—menatap langit-langit. Janjinya untuk pulang sebelum makan malam telah dilanggar. Masalah tentang pria yang telah dieksekusi oleh Bastien waktu itu menimbulkan keresahan dalam internal perusahaan.
Karyawan biasa yang seharusnya tak memahami seluk beluk Vireaux Group, mendapat desas-desus mengenai bagian gelap dalam perusahaan yang dikendalikan olehnya. Dan Kael yakin, itu adalah upaya Bastien untuk mencuci tangannya.
Jika semua orang mengenal dirinya sebagai dalang dari banyaknya kejadian janggal yang membuat Vireaux Group menjadi satu-satunya kerajaan bisnis terbesar di Norvalen, tentu saja para investor akan menarik sahamnya.
Tidak ada yang berani untuk menyuruh pimpinan berdarah dingin untuk turun dari tahta. Hanya membuat sang pimpinan itu tak memiliki dukungan lah yang akan menjatuhkannya. Dan itu adalah skenario Bastien untuk Kael.
“Mobil sudah siap, jika Anda memutuskan untuk pulang sekarang.” Luther kembali, berdiri di sisi sofa yang tengah diduduki Kael.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi selain membongkar kejahatan Bastien.” Kael menegakkan badannya. “Pastikan saja para karyawan tetap menjalankan tugasnya dengan benar agar tidak merugikan omset perusahaan. Perintahkan tim IT untuk siaga menghapus artikel buruk tentang berita miring perusahaan.” Suara Kael tetap tegas meski kepalanya berdenyut.
“Bagaimana dengan para investor? Ada ancang-ancang mereka menarik sahamnya karena berita itu.” Luther membuka kembali tabletnya, lalu menunjukkan obrolan dari pemegang saham yang berhasil ia dapatkan.
Kael membacanya semuanya, seringai tipis tertarik di salah satu sudut bibir. “Biarkan saja. Jangan halangi para investor ketika mereka berniat menarik sahamnya. Biarkan Bastien pusing dengan ulahnya sendiri. Dia berniat menjatuhkan namaku dengan isu itu, tapi dia lupa bahwa hal itu juga akan berpengaruh pada hancur tidaknya perusahaan.”
“Dia pikir Anda akan berusaha untuk menyelamatkan perusahaan dengan cara apa pun.” Luther menerima kembali tablet kecil itu. “Seperti yang selama ini Anda lakukan.”
Kael tertawa, semakin lepas. Ketika ia berdiri, tangannya menyibak rambut depannya. “Dia lupa jika aku tidak gila dengan posisi ini. Aku mempertahankan posisiku hanya agar dia tidak mengacau terlalu dalam. Tapi kalau dia mulai bermain kotor seperti ini, aku pun tidak akan memikirkan lagi nasib para karyawan yang ada di sini. Biarkan dia membakar lahannya. Prioritasku hanya keselamatan Aurora.”
Luther mengangguk. “Anda sudah berada di jalan yang tepat. Bastien tidak bisa dilawan dengan gertakan. Tindakan nyata adalah satu-satunya yang mampu menghancurkan egonya.”
Seringai Kael kembali tertarik. “Dan aku sedang memasaknya dengan perlahan, Luther.”
“Bagaimana? Kau mau mencarinya atau tidak?” Ezra kembali bertanya setelah mengganti bajunya sebentar di kamar.
Aurora berdiri, mendorong cangkir hitamnya ke tengah meja. “Ok, ayo kita cari Kael.”
Belum sempat Aurora melangkah ke kamar untuk bersiap, pintu utama rumah terbuka. Kedua pasang mata itu menoleh serentak. Kael dengan santai masuk ke dalam rumah dengan pandangan heran.
“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” tanyanya.
Aurora mengerutkan kening, matanya menyipit. Ezra tahu situasi ini tidak bagus, ia memilih untuk duduk di sofa, sebisa mungkin tidak membuat keributan.
“KAEL VIREAUX!” sentak Aurora, dengan tatapan dingin yang hampir dilupakan oleh pria itu.
Kael menoleh cepat pada Ezra, melempar kode untuk memberinya petunjuk kenapa Aurora marah padanya. Namun Ezra pura-pura tidak melihat, membuat Kael mengumpat pelan.
“PONSELMU HILANG??” Aurora berkacak pinggang, matanya mendelik.
Kael segera merogoh saku coat-nya, mengambil benda itu dan memperlihatkan pada Aurora—dengan bodohnya. “Ada, kenapa?”
“HAH!!” sentak Aurora.
Tanpa sadar, Kael mundur selangkah. Ia tidak memahami kenapa Aurora begitu marah padanya.
“Sayang, bisa jelaskan kenapa kau sampai marah seperti ini? Aku bingung kalau kau hanya berteriak tanpa mengatakan apa yang terjadi? Apa Ezra mengganggumu?” Kael melirik sinis pada Ezra.
“Jangan libatkan Ezra!! Dia bahkan sudah berniat baik untuk membantuku mencarimu!!” Aurora kembali berseru, kali ini hampir menangis.
Ezra mengangkat tangannya ketika Kael menoleh lagi padanya. Dan detik berikutnya, baru pria kaku itu menyadari kesalahannya.
“Oh, shit!” gumam Kael. Tangannya mengepal, menyadari kebodohannya.
“Sekarang kau tahu apa salahmu?!” Aurora semakin mendekat. “Setidaknya kalau kau tidak bisa pulang cepat, hubungi aku atau angkat telepon dariku!!”
Kael melihat cepat pada layar ponselnya. Belasan panggilan tak terjawab datang dari Aurora. Ia lupa menonaktifkan mode silent setelah meeting sore tadi.
“Sayang,” ucap Kael, sambil meraih kedua tangan Aurora. “Aku mengaku salah, maafkan aku.”
Ezra terkikik di tempatnya, Kael langsung melirik tajam.
“Dalam situasi seperti ini, kau tahu bahwa komunikasi itu adalah hal yang penting, kan?” Suara Aurora pelan, sedikit bergetar.
Kael mengangguk, dan segera merengkuh tubuh Aurora ke pelukannya. “Maafkan aku, lain kali aku tidak akan lupa me-nonaktif-kan mode silent setelah meeting.”
“Jangan pernah berjanji untuk hal yang selalu saja kau langgar, Kael!”
“Hanya dua kali, Rora,” sanggah Kael, tanpa bermaksud untuk membuat Aurora semakin murka.
“Aku tidak peduli! Dua kali nantinya bisa menjadi tiga sampai lima kali!” sentak Aurora, yang kini telah melepas paksa pelukan Kael dan berjalan cepat menuju kamar utama.
Kael memilih diam dan kembali meminta maaf. Langkahnya cepat menyusul Aurora ke dalam kamar, sementara Ezra hanya berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya.
“Sial, kenapa juga aku harus terjebak dalam drama rumah tangga mereka,” gerutunya.