“Bos, mereka menuju ke dealer.”
Suara laki-laki itu terdengar serak, jelas menahan napas karena menghindari ketahuan. Ia bersembunyi di balik deretan mobil di parkiran, matanya tak lepas dari Gar dan Queen yang baru turun dari mobil.
“Bagus,” suara perempuan di telepon menjawab pelan namun penuh daya tekan. “Kirim bukti itu ke aku. Semua. Jangan ada yang kurang.”
Laki-laki itu menelan ludah, buru-buru mengangkat kamera ponselnya dan memotret momen Gar mempersilakan Queen masuk ke dealer.
Di seberang telepon, terdengar napas berat yang familiar. Amara.
Pengakuan jujur Gar membuat Amara mengutus orang untuk menguntit Gar dan Queen.
Amara: “Rekam terus. Aku mau tahu apa yang mereka lakukan di dalam. Kalau dia beli apa pun untuk cewek itu, itu bukti emas.”
Mata-mata: “Baik, Bu Amara.”
Telepon terputus. Amara menyandarkan tubuhnya ke kursi, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang menunjukkan ketidaksabaran.
Mama Ratih dan Nenek akan selalu menyudutkan Gar sebagai suami yang gagal. Selalu memanjakan Amara. Dan Amara sadar, semua ini hanya tinggal menunggu bukti untuk membuat gar terlihat paling bersalah.
Sementara itu, di lapangan, mata-mata Amara mengikuti Gar dan Queen memasuki dealer.
Dealer itu bukan dealer sembarangan, itu dealer kenalan Gar sendiri, tempat Gar sering memperbaiki motor dan memiliki relasi baik. Karena itu pegawai di sana langsung menyambut mereka dengan ramah.
Dari luar kaca, mata-mata itu memotret lagi.
Gar tersenyum kecil ke Queen. Queen terlihat kagum, memegang brosur motor. Sementara itu, klik. klik. klik. Setiap gerak mereka masuk dalam galeri bukti Amara.
Laki-laki itu mengirim foto-foto terekam dalam hitungan detik.
Amara melihatnya satu per satu.
Tatapannya mengecil.
“Bagus, Gar,” gumamnya, senyumnya miring penuh kepuasan. “Terus lakukan kebodohanmu.”
Ia menggenggam ponselnya erat.
“Sampai saatnya tiba, semua orang akan tahu siapa yang mengkhianati siapa.” Begitu Gar, Queen, dan Deko melangkah masuk ke dealer, seorang pria langsung menghampiri.
Dia adalah Raga, kenalan lama Gar yang bekerja sebagai supervisor di dealer tersebut.
“Wah, Tuan Gar!” seru Raga sambil menjabat tangan Gar. “Tumben mampir. Ada angin apa,”
Kalimatnya terputus begitu matanya menangkap sosok Queen yang berdiri sedikit di belakang Gar.
Raga membeku sesaat. Mata pria itu jelas-jelas menatap Queen dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan.
Tidak vulgar, tidak kurang ajar, lebih seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak ia duga.
“Eh… siapa… ini?” tanya Raga dengan suara yang tiba-tiba mengecil, seolah takut salah ngomong.
Queen tersenyum kecil, mengangkat tangan malu-malu. “Halo.”
Raga menatap Queen, lalu Gar, lalu kembali ke Queen. Jelas sekali dia mencoba menyusun logika di kepalanya.
“Ini,” Gar berkata santai, namun matanya menajam ke arah Raga, “orang yang mau kubelikan motor.”
Raga mengangguk terlalu cepat. “Oh! O-oh iya, iya! Ba baik… tentu… tentu saja.”
Deko sampai harus menahan tawa melihat bagaimana Raga mendadak gugup.
Raga mengusap tengkuknya. “Maaf, Mbak, saya cuma… uh… jarang lihat tamu yang secantik Anda datang ke sini.” Ia tersenyum kikuk.
Queen tersipu sedikit. “Ah bisa aja, Mas.”
Gar tanpa sadar melirik ke Queen lalu ke Raga, memberikan tatapan kecil “jaga sikapmu”.
Raga langsung berdiri tegap. “Baik! Saya tunjukkan motor-motor terbaik kami!”
Deko hanya menggeleng pelan, berbisik rendah ke Gar, “Kayaknya bukan cuma Tuan yang kaget lihat kecantikannya.”
Gar mendecak kecil namun sudut bibirnya terangkat antara kesal dan bangga.
Queen tidak sadar sama sekali. Ia sibuk berlari kecil menuju deretan motor sambil berseru ceria.
“Mas! Yang merah tadi! Yang itu cakep banget!”
Raga yang masih terpukau langsung mengejar. “Baik, Mbak! Saya jelaskan semuanya!”
Dan Gar hanya menonton dari belakang dengan tatapan yang jelas menunjukkan satu hal, dia tidak suka pria lain memandangi Queen terlalu lama.
Saat Queen ingin melihat motor berwarna merah, matanya justru menangkap sesuatu di sudut ruangan. Sebuah motor matic warna pink pastel mengkilap, lucu, dan begitu feminin hingga langsung menarik perhatian.
Tanpa berpikir panjang, Queen memekik kecil dan berlari ke arah motor itu.
“Eh, Queen!” Gar refleks ikut berlari karena mengira Queen kabur lagi.
Raga dan Deko yang melihat majikan mereka mendadak sprint otomatis ikut panik dan berlari juga, hingga pegawai dealer menatap mereka bertiga seperti rombongan yang habis dikejar anjing.
Queen berhenti tepat di depan motor itu, matanya berbinar-binar.
“Wah! Aku mau motor yang ini!” Ia menepuk-nepuk joknya dengan ekspresi gemas.
Gar berhenti di sampingnya, masih ngos-ngosan karena lari tidak elegan barusan.
“Oke, aku ambil yang ini,” ucap Gar cepat lebih cepat dari napasnya yang belum stabil.
Karena jujur saja, ia malu luar biasa. Ia tadi lari seperti orang panik hanya untuk menyadari bahwa Queen bukan kabur, tapi jatuh cinta pada motor pink pastel.
“Motor ini antar langsung ke perusahaanku. Jangan sampai lecet.”
“Baik, Tuan Gar.” Raga membungkuk hormat sebelum mengurus pengiriman motor tersebut.
Queen hampir melompat saking girangnya ketika tahu semua surat motor itu atas nama dirinya sendiri. Tangannya tak berhenti mengelus-elus map berisi berkas, seakan takut itu hanya mimpi.
Begitu masuk ke dalam mobil, Queen duduk sambil memeluk tasnya dan senyum-senyum sendiri tanpa bisa ditahan. Pipinya sampai memerah.
Gar mencuri pandang beberapa kali. Melihat Queen bahagia seperti itu, entah kenapa membuat dada Gar terasa hangat. Ada kepuasan aneh bukan sombong, lebih seperti senang bisa membuat seseorang yang ia pedulikan tersenyum.
Deko membuka suara dari kursi depan.
“Tuan, kita langsung pulang atau jadi pergi beli HP?” tanyanya, penasaran ke mana majikan mereka akan membawa Queen berikutnya.
Gar menjawab tanpa keraguan sedikit pun, bahkan terlalu cepat.
“Kita beli HP dulu.”
Queen menoleh cepat, matanya membesar tak percaya. “Beneran?” ujarnya pelan.
Gar hanya menatap ke depan. “Tadi aku bilang mau beliin HP, ya aku beliin.”
Queen tercekat. Ia tak tahu harus senang, takut, atau bingung. Motor saja sudah di luar dugaan sekarang HP?
Di samping Queen, Gar tetap mempertahankan ekspresi datarnya padahal di dalam, ia kembali merasakan hal yang sama: Queen bahagia, dirinya ikut bahagia.
Sementara di luar, dari kejauhan, seseorang diam-diam mengangkat kamera dan mengambil foto mobil Gar yang mulai melaju.
Amara menerima foto itu detik berikutnya.
Sementara itu, Queen yang sedang tenggelam dalam kebahagiaan sampai lupa dunia mendadak tersentak ketika ponselnya berbunyi keras.
Drrt drrt drrt…
Queen menunduk, melihat layar ponselnya.
Abang.
Bersambung