BAYANG-BAYANG PERINGATAN
Malam itu, rumah sempit yang Arkanza dan Alina tempati terasa begitu sunyi. Hanya suara hujan tipis yang mengetuk atap seng, menciptakan ritme yang tak pernah benar-benar nyaman. Alina baru saja pulang dari kantor Dirga, wajahnya tetap tenang meski pikirannya dipenuhi rencana yang terus ia susun.
Saat ia menggantungkan tasnya, Arkanza tiba-tiba berdiri dari sofa. Wajahnya muram. Namun, sorot matanya penuh ketakutan yang ia berusaha simpan rapat-rapat.
“Lina,” panggil Arkanza perlahan.
Alina menoleh, salah satu alisnya terangkat tipis. “Kenapa?”
Arkanza tidak segera menjawab. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Alina. Kedekatannya membuat Alina bisa melihat betapa cemasnya pria itu, mata gelap yang tampak lelah, napasnya tidak stabil, dan jemarinya yang mengepal seperti menahan rasa takut.
“Aku ingin kamu berhenti kerja di perusahaan Dirga,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah. “Tolong. Berhenti.”
Alina mengamati wajah Arkanza dengan tenang. “Kenapa?”
“Kamu tahu kenapa.” Arkanza menelan ludah. “Aku tidak percaya orang itu. Dia terlalu cepat mendekatimu. Terlalu cepat memanjakan kamu. Itu tidak normal, Lina. Tidak aman.”
Alina tersenyum lembut, senyuman yang sering ia gunakan untuk melemahkan orang-orang.
“Arkanza,” ucapnya lirih, “aku sudah bilang. Aku butuh ini.”
“Bukan dengan cara begini.”
“Cara lain tidak akan memberiku kesempatan,” jawab Alina dingin namun tidak meninggikan suara.
Arkanza memejamkan mata, frustasi.
“Alina, aku takut sesuatu terjadi sama kamu. Kamu sudah cukup terluka selama ini. Kamu tidak perlu lagi masuk ke dunia orang-orang berbahaya.”
Alina hendak menjawab, tetapi Arkanza tiba-tiba memegang pipinya. Gerakannya cepat, seolah ia takut Alina akan mundur jika ia ragu sedetik saja.
“Lina, ” suaranya serak, “aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu hancur.”
Sebelum Alina sempat berpikir, Arkanza mencondongkan tubuh dan mencium bibirnya. Ciuman itu tidak kasar, tidak memaksa, tetapi penuh ketakutan, sebuah ketakutan kehilangan.
Alina tidak menepisnya.
Ada bagian dalam dirinya yang terasa, aneh. Hangat. Terprovokasi. Namun, ia bukan gadis yang akan larut dalam kasih sayang. Ia bukan lagi orang yang bisa dicairkan oleh sentuhan lembut atau kepedulian sederhana.
Ketika Arkanza melepaskan ciuman itu, napasnya terengah. “Tolong,” bisiknya, “aku cuma mau kamu aman.”
Alina mengangkat tangannya, menyentuh pipi Arkanza, gerakannya lembut, tapi dingin seperti air hujan.
“Aku mengerti kekhawatiranmu,” katanya pelan. “Tapi aku tidak akan berhenti. Kamu harus percaya aku.”
“Percaya kalau kamu sedang masuk ke sarang orang berbahaya?” Arkanza menahan suaranya agar tidak pecah. “Aku tidak mau kamu terluka lagi.”
“Kalau kamu cinta aku,” Alina menatapnya lurus, “kamu harus terima pilihanku.”
Arkanza terdiam. Alina menarik napas panjang, melewati pria itu, dan masuk ke kamarnya.
Pintu tertutup peland an di tengah keheningan itu, Arkanza menyadari sesuatu, bahwa cinta bisa menyelamatkan orang, tapi cinta juga bisa memusnahkan dan ia tak bisa menghentikan dirinya jatuh lebih dalam ke jurang Alina.
Keesokan harinya, kantor Dirga dipenuhi suasana sibuk seperti biasa. Karyawan masuk- keluar ruang rapat, telepon berdering, dan suara printer tidak berhenti sama sekali. Namun, di tengah hiruk pikuk itu, ada aura aneh yang mengendap, seolah sesuatu besar akan terjadi.
Alina masuk dengan langkah datar seperti biasa, mengenakan blouse putih sederhana dan rok hitam. Semua mata memperhatikannya, seperti hari-hari sebelumnya. Ada rasa iri. Ada rasa cemas. Ada rasa tidak suka. Alina tahu semuanya, tapi tidak peduli.
Saat ia hendak duduk, asistennya tiba-tiba datang tergesa-gesa.
“Bu Alina! Pak Dirga meminta Ibu segera ke ruangannya.”
Nada suaranya terdengar gugup. Bahkan terlalu gugup.
Alina tidak mengubah ekspresi. “Baik.”
Ia berjalan menyusuri koridor. Di tiap langkah, beberapa karyawan memandanginya dengan rasa ingin tahu yang tak bisa mereka sembunyikan. Bahkan Tiara, yang berdiri di depan pintu ruang rapat, tampak menatapnya dengan rasa curiga bercampur ketidaksenangan.
Namun, Alina hanya tersenyum padanya sebelum membuka pintu ruang Dirga. Begitu masuk, ia baru menyadari sesuatu.
Ruang kerja Dirga telah dihias sederhana. Tidak terlalu mencolok, hanya bunga mawar putih di meja dan sebuah kotak hitam kecil terletak di dekat laptop.
Dirga berdiri dengan raut wajah tegang namun penuh harap.
“Alina,” ucapnya pelan.
“Ya, Pak?”
“Aku ingin bicara. Duduklah.”
Alina duduk tanpa berkata apa-apa. Ia sudah menebak apa yang akan terjadi, tapi ia membiarkannya mengalir, seperti aktor yang menunggu adegan berikutnya.
Dirga meraih kotak kecil itu, membuka tutupnya. Di dalamnya ada cincin berlian yang terlalu megah untuk sebuah lamaran sederhana.
Alina tidak menunjukkan keterkejutan apa pun.
Dirga menatap mata Alina dengan tatapan yang nyaris putus asa. “Alina, aku tidak bisa menunda lagi. Aku ingin kamu menjadi istriku.”
Ia berlutut.
Alina mendengar bisikan kaget dari luar pintu. Beberapa karyawan mungkin mengintip. Tiara mungkin salah satunya, tapi Alina tidak peduli.
Dirga melanjutkan, suaranya bergetar penuh ketulusan yang menyedihkan.
“Aku jamin kamu tidak akan kekurangan apa pun. Aku akan lindungi kamu. Aku akan berikan semua yang aku punya kalau kamu mau menikah denganku.”
Alina memandangnya lama. Seolah sedang menimbang. Seolah sedang memutuskan sesuatu yang berat. Padahal keputusannya sudah dibuat jauh sebelum ia membuka pintu tadi.
“Baik,” jawab Alina lembut.
Dirga terdiam seolah tidak percaya apa yang ia dengar. “Kamu setuju?”
Alina mengangguk kecil. “Saya bersedia.”
Dirga menutup mata, seperti seseorang yang baru saja diselamatkan dari tenggelam. Ia berdiri dan memeluk Alina tanpa pikir panjang. Pelukan itu hangat, penuh rasa dan terlalu tulus.
Terlalu polos.
Terlalu mudah dimanfaatkan.
“Aku janji membuat kamu bahagia,” bisik Dirga.
Alina membalas pelukan itu juga dengan hangat. Namun, matanya kosong. Kebahagiaan? Tidak pernah masuk dalam rencana hidupnya.
Yang ia butuhkan adalah kekuasaan.
Uang.
Nama besar Dirga dan yang terpenting akses lebih luas untuk mencari pamannya, pembunuh ibunya.
Cinta tidak pernah masuk dalam persamaan. Sosiopat tidak membutuhkan cinta. Mereka membutuhkan tujuan.
Kabar lamaran itu menyebar seperti angin ribut. Seluruh perusahaan berguncang. Karyawan berbisik-bisik di lorong, memandangi Alina seperti seseorang yang tiba-tiba melompat puluhan tangga ke atas.
Tiara adalah yang paling terlihat terpukul. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras dan ia bahkan tidak bicara apapun ketika bertemu Alina di pantry.
Hanya tatapan. Tatapan dingin penuh kebencian. Alina tersenyum kecil sebelum keluar.
Dirga menghabiskan seluruh hari dengan wajah berseri-seri, memberikan instruksi kepada tim untuk mempersiapkan pesta kecil malam ini.
Sementara Alina, ia hanya memikirkan satu hal. emakin dekat aku, semakin mudah aku menghabisi semua penghalang.
Malam itu, setelah semua euforia kantor selesai, Alina pulang dengan perasaan tenang. Ia membuka pintu rumah, menemukan Arkanza duduk di lantai ruang tamu sambil menatap kosong ke arah pintu.
Ia langsung tahu.
Kabar itu sudah sampai di telinga Arkanza.
Arkanza berdiri perlahan. Wajahnya tidak marah, justru sangat sedih, seolah seseorang baru merobek bagian dalam dirinya.
“Lina,” suaranya patah. “Kamu beneran sudah terima lamaran Dirga?”
Alina melepas jaket kerjanya. “Ya.”
Arkanza tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, tawa patah hati.
“Kamu tahu itu gila, kan?”
Alina tidak menjawab.
“Kamu tidak cinta dia,” lanjut Arkanza, suaranya retak. “Kamu cuma memanfaatkan dia. Kamu bermain api. Itu berbahaya.”
Alina berjalan melewati Arkanza, menuju meja dapur. “Aku sudah bilang. Ini pilihanku.”
“Lina.” Arkanza menghampirinya, memegang lengannya. “Aku, aku yang mencintai kamu.”
“Dan aku menghargainya,” jawab Alina datar. “Tapi cinta tidak akan membawa aku ke mana pun.”
“Kamu mau menjadi milik orang yang kamu tidak cinta?”
“Aku tidak peduli soal cinta.”
Arkanza terdiam, luka itu semakin dalam.
“Lina, tolong. Aku mohon.” Napasnya berat. “Keluar dari perusahaan itu sebelum semuanya terlambat.”
Alina menatap Arkanza lama.
“Tidak.” Satu kata itu saja sudah cukup untuk menghancurkan sisa harapan Arkanza.
Ia menunduk. “Kamu akan terluka.”
“Aku sudah terluka sejak kecil,” jawab Alina lembut namun dingin. “Dan aku masih hidup. Jadi, jangan khawatirkan aku.”
Arkanza menatapnya lagi, kali ini dengan rasa takut. Bukan takut pada Dirga, tapi takut pada Alina itu sendiri.
Alina yang kini berubah menjadi seseorang yang bahkan ia sendiri tidak bisa kenali atau hentikan dan ia sadar. Cintanya lah yang menyeretnya ke dalam kegelapan yang Alina buat.
Sementara di kamar, Alina duduk di tepi ranjang. Ia membuka kotak cincin yang diberikan Dirga. Berlian itu berkilau, pantulan lampunya menari di dinding kamar yang kecil.
Alina menatap cincin itu tanpa emosi.
“Semua ini akan membawaku ke arah yang tepat,” bisiknya.
Ia memejamkan mata. Bayangan pamannya, senyum bengisnya begitu saja terlintas dalam kepalanya.
“Aku akan menemukanmu,” kata Alina lirih, dingin seperti es. “Dan saat itu tiba, semuanya akan berakhir.”
Ia tersenyum tipis. Pernikahan hanyalah langkah berikutnya dan permainan baru segera dimulai.