Drama

One Night One Lie - Skandal Dana Konser - Bab 16

Penulis Ichan
03 December 2025

Dua hari setelah konser harmonia sang saudari yang mengguncang dunia seni klasik Eropa, sebuah badai diam-diam menghampiri Chiara dan Aaren. Tepuk tangan dan pujian berubah menjadi bisikan-bisikan curiga. Media yang kemarin membanggakan kini mulai menyisipkan nada tajam dalam setiap narasi mereka. Berita-berita bermunculan, di media Eropa.

"Skandal Dana Konser, Chiara Evolet dan Sponsor Misterius"

"Suami-CEO dan Uang Bayangan di Balik Kesuksesan Harmonia"

"Benarkah Konser Itu Dibangun dengan Uang Kotor?"

Judul-judul itu memenuhi laman berita online dan layar televisi. Semuanya bersumber dari satu rekaman video anonim berdurasi 48 detik yang dikirim ke tujuh kantor media besar di Eropa dan Amerika.

Dalam video itu, tampak seorang pria mengenakan mantel panjang hitam menyerahkan koper besar berwarna perak kepada seorang pria lainnya di dalam ruangan bergaya arsitektur Parisian klasik.

Dialog dalam rekaman terdengar samar, tetapi bagian pentingnya sangat jelas, “Ini dana utama untuk konser. Pastikan semuanya terlihat legal. Jangan sampai nama Aaren Baron terseret.”

Nama itu, Aaren Baron menjadi bahan utama media menghantam kredibilitas konser Chiara. Video itu seolah menjadi bukti kuat bahwa konser yang diagungkan sebagai lambang kebangkitan musik klasik, ternyata ditopang oleh transaksi yang mencurigakan.


Di kediaman Aaren, Indonesia.

Chiara menatap layar tablet dengan tangan gemetar. Rekaman itu diputar berulang kali, sementara Aaren berdiri membelakanginya, rahangnya mengeras.

“Siapa orang itu?” bisik Chiara, suaranya serak.

“Pria yang menerima koper itu, aku kenal dia,” kata Aaren akhirnya. “Namanya Matteo Rousseau. Dia mantan penasihat keuangan salah satu perusahaan afiliasi Baron Group di Prancis. Aku pecat tiga tahun lalu karena manipulasi dana.”

Chiara menoleh cepat. “Kau pikir ini jebakan dari dia?”

Aaren mengangguk pelan. “Bukan cuma dia, tapi ini pasti kerjaan Luna dan Sasha. Mereka tahu betul siapa yang bisa mereka mainkan di belakang layar dan mereka tahu, jika reputasi kita hancur di Paris, maka segalanya ikut tumbang.”

Chiara menghela napas, matanya mulai basah. “Jadi mereka tidak menyerang dari atas panggung, tapu dari bawah. Dari tempat yang kita tak bisa lihat.”

Aaren menghampirinya, menggenggam tangan Chiara erat. “Kita akan bersihkan semua ini, tapi untuk itu, aku perlu kau percaya padaku sepenuhnya.”

Chiara menatap suaminya, matanya bulat dan mantap. “Selama aku hidup, aku akan selalu berdiri di sisimu, tapi kali ini, izinkan aku ikut bertarung. Ini bukan hanya soal konserku, ini soal siapa aku.”


Liam, yang awalnya tidak tahu-menahu tentang permainan kotor Luna, kini mulai mencium ada yang janggal. Ia menelusuri data perusahaan sponsor konser Chiara dan menemukan bahwa salah satu pendonornya adalah yayasan fiktif yang didirikan hanya beberapa bulan sebelum konser diumumkan.

“Yayasan Eterna Melodia?” tanya Liam dalam hati. “Pendirinya anonim. Transfer masuk dari akun Swiss dan alamat terdaftar di gedung kosong?”

Ia mencetak semua bukti dan menemui Aaren di kantor pusat Baron Group cabang Paris.

“Kau harus lihat ini. Semua mengarah pada satu pola. Penyamaran, aliran dana dan nama Chiara sengaja dicatut dalam dokumen-dokumen legal yang sudah direkayasa.”

Aaren memeriksa setiap lembaran dengan tatapan tajam. “Ini bukan sekadar ingin menjatuhkan nama Chiara. Mereka ingin menghancurkan bisnis kita juga karena jika aku terlihat menyalahgunakan dana, maka Baron Group bisa kehilangan banyak mitra di Eropa.”


Konfrontasi rahasia di galeri seni.

Beberapa jam kemudian, Aaren mengatur pertemuan diam-diam dengan teman lamanya, pemilik galeri seni terkenal yang ternyata adalah orang yang merekomendasikan yayasan fiktif itu pada panitia konser.

Dalam percakapan yang direkam secara legal oleh tim pengacara Aaren, terungkap bahwa Sasha Elvani dan Luna Damian yang memerintahkan pembentukan yayasan tersebut dan menggunakan nama Aaren sebagai umpan agar tidak dicurigai.

Bukti kuat. Sekarang Aaren dan timnya siap melakukan langkah hukum dan konfrontasi publik.


Di sisi lain. Di Paris, Sasha duduk bersama seorang wanita misterius yang baru muncul, Mirella De Vries, seorang PR dan pakar pencitraan yang terkenal bengis di dunia media Eropa.

“Chiara mungkin berhasil membuat konsernya meledak, tapi kita punya rencana jangka panjang,” ujar Mirella sambil menyusun tumpukan dokumen baru.

Di layar laptopnya, terdapat folder bertuliskan, project silencing the cello.

Sasha menyeringai. “Kita mulai dari masa lalunya di Italia. Karena terkadang, bukan masa kini yang membunuh seseorang, tapi rahasia yang dikubur terlalu dalam.”


Langit Paris dipenuhi warna kelabu pagi itu, seakan mencerminkan suasana hati Aaren Baron dan Chiara Evolet. Dunia telah melihat rekaman yang menjatuhkan kredibilitas konser mereka. Namun, dunia belum tahu bahwa mereka telah bersiap membalas dengan bukti yang tak bisa dibantah dan dengan kekuatan hukum di pihak mereka.


Konferensi Pers di Musée de la Musique.

Aula utama Musée de la Musique dipenuhi para jurnalis dari media internasional. Di depan mereka berdiri Aaren dan Chiara, didampingi pengacara pribadi Aaren, Mevrouw Clarisse Denard, ahli hukum ternama di Uni Eropa.

Chiara berdiri tenang. Kali ini, dia tidak hanya menjadi musisi yang diserang. Dia menjadi simbol perlawanan terhadap fitnah. "Selama ini, saya memilih diam karena berpikir dunia seni cukup murni untuk tidak disentuh politik, kekuasaan dan kebencian, tapi saya salah. Saya dan suami saya dituduh menyalahgunakan dana. Hari ini, kami hadir untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya bermain di belakang layar,” ucap Chiara lantang.

Clarisse menampilkan bukti di layar besar. Bukti transaksi fiktif dari Yayasan Eterna Melodia.

Identitas asli pendiri yayasan. Sasha Elvani, menggunakan nama samaran, Elise Vermillion.

Rekaman pembicaraan Mirella De Vries dan Sasha tentang rencana penyusupan yayasan untuk menjatuhkan konser.

Aaren menambahkan, “Baron Group telah mengaudit seluruh aliran dana konser ini dan laporan independen dari firma internasional Erlington Fox menunjukkan bahwa tidak ada pelanggaran. Tuduhan itu palsu dan tindakan ini telah melukai integritas keluarga saya dan istri saya.”


Sore harinya, Clarisse mengumumkan secara resmi gugatan hukum terhadap Sasha Elvani atas pencemaran nama baik dan penipuan identitas. Terhadap Mirella De Vries atas peretasan dan penyebaran rekaman yang dimanipulasi dan terhadap Yayasan Eterna Melodia atas pemalsuan dokumen dan pencucian uang.

Proses hukum dimulai di Pengadilan Tinggi Paris dengan investigasi lintas negara. Europol turut serta karena transaksi mencurigakan terjadi di lebih dari dua negara.

Sementara itu, surat larangan perjalanan travel ban dikeluarkan untuk Sasha dan Mirella.


Bersamaan dengan langkah hukum, dukungan untuk Chiara meluap.

Maestro dari Vienna Philharmonic dan Berlin Symphony mengunggah video dukungan untuk Chiara.

Sejumlah musisi muda di seluruh Eropa melakukan flashmob bertema, justice for Chiara. Beberapa tagar bermunculan. Chiara was framed menjadi trending di berbagai platform media sosial selama dua hari berturut-turut.

Chiara meneteskan air mata saat membaca surat dari seorang remaja autis yang menonton konsernya di Paris dan menyebut, “musik Chiara membuatku bisa tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam sebulan.”

Aaren menggenggam tangannya. “Kita tidak sendirian.”

Namun, dalam kegelapan, Luna dan Sasha belum menyerah.

Malam itu, seseorang mengirimkan email anonim kepada jurnalis investigasi. Lampiran dalam email itu adalah dokumen pengadilan lama dari Italia, dokumen adopsi tidak resmi seorang anak perempuan dari Napoli, tahun 2006. Nama yang tertera? Chiara Evolet.

Luna membaca itu dengan mata menyala. “Jika kita bisa mempertanyakan siapa sebenarnya Chiara, maka semua hal yang ia klaim akan goyah.”

Sasha menyeringai. “Aren’t you curious, Luna? Jika kau dan dia memang saudari, lalu siapa yang sebenarnya anak kandung Dario Evolet?”


Beberapa jam kemudian, Chiara menerima surat dari pengacara lama keluarga Evolet di Italia. Isinya, “Chiara, kedatanganmu ke Italia membuka luka lama. Ada dokumen yang tak pernah kuberikan padamu. Jika kau siap menerima kebenaran, temui aku di Napoli, hari Minggu pukul 10 pagi. Giovanni Lamberti.”

Chiara menatap Aaren. “Aku harus pergi ke Italia.”

Aaren menggenggam tangannya erat. “Kalau begitu, aku ikut.”