Drama

Bab 6 — Nama yang Terkubur, Takdir yang Terbit

03 December 2025

Angin pagi menyibak tirai kain lusuh yang menggantung di jendela kecil rumah itu. Cahaya keemasan menerobos masuk, menari di atas meja kayu tempat tumpukan gulungan kain dan buku catatan dagang terserak tak teratur. Di sudut ruangan, seorang wanita muda dengan rambut hitam kecokelatan tengah mengikat rambutnya dengan gerakan cepat dan efisien, seperti seseorang yang telah terbiasa hidup tanpa waktu terbuang.

Dia adalah Cloris—nama yang lahir dari arang dan abu, menggantikan nama asli yang telah dipendam bersama masa lalu. Namun tak ada yang benar-benar hilang; beberapa luka terlalu dalam untuk hilang, beberapa kenangan terlalu tajam untuk dilupakan.

Cloris menarik napas panjang. Udara pagi kota Pedran masih sama: segar namun menggigilkan tulang, seperti kota itu sendiri—indah dari jauh, dingin ketika disentuh. Ia meraih mantel bulu tipis dan keluar melalui pintu kayu yang berderit.

Di halaman depan, ayah angkatnya, Garren, tengah memeriksa keranjang berisi kain wol dan rempah. Lelaki itu sudah berusia setengah baya, tubuhnya kekar namun pundaknya memikul beban yang tak terlihat. Beban menjadi rakyat kelas rendah di kota di mana kasta menentukan harga hidup seseorang.

“Kau bangun lebih cepat dari biasanya,” ujar Garren tanpa menoleh, suaranya berat namun hangat.

“Aku tak tidur nyenyak semalam,” jawab Cloris singkat. “Hari ini kita harus memastikan pesanan bangsawan Ruverian tidak tertunda. Petugas gerbang biasanya mencari alasan untuk mempersulit kita.”

Garren mendesah, sebuah suara yang sayup-sayup berisi kelelahan bertahun-tahun. “Mereka hanya menjalankan perintah.”

Cloris tersenyum miring. Ia tahu ayahnya terlalu baik untuk marah, terlalu lembut untuk menyimpan dendam. Namun dunia bukanlah tempat yang ramah bagi orang baik seperti Garren. “Itu bukan alasan untuk memperlakukanmu seperti sampah,” katanya lembut.

Alis Garren sedikit terangkat. “Dan itu bukan alasan bagimu untuk membuat masalah, Cloris.”

Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil satu keranjang dan mulai memeriksa isinya. Diam adalah perselisihan mereka yang paling sering—diam di mana Garren berharap Cloris menerima perlakuan dunia apa adanya, sedangkan Cloris diam-diam merencanakan cara untuk melawan ketidakadilan yang sudah terlalu lama dibiarkan.

Mereka berjalan menuju pasar pusat, melewati lorong-lorong batu yang masih basah oleh embun. Beberapa pedagang sudah membuka lapak, sementara sebagian lagi masih menata barang dagangan. Suara ayam berkokok bercampur dengan percikan air dari sumur umum, menciptakan harmoni pagi khas Pedran.

Namun Cloris tidak pernah benar-benar merasa rumah di kota ini.

Bagaimanapun keras ia mencoba, darah kerajaan masih mengalir dalam dirinya—sesuatu yang tak boleh diketahui siapa pun. Bertahun-tahun lalu, ketika badai menghantam negara selatan dan istana mencari-cari dirinya, ia hanyalah gadis ketakutan yang berlindung di balik jerami. Garren menemukannya tak sadarkan diri di gudang pedagang tua dan merawatnya tanpa pernah bertanya siapa dia sebelumnya.

Ia ingat bagaimana Garren dan istrinya—yang telah meninggal beberapa tahun lalu—menawarkan kehangatan yang tak pernah ia bayangkan akan ia dapatkan lagi. Mereka memberinya nama baru untuk melindungi dirinya, dan ia menerima nama itu seperti menerima hidup baru.

Namun hidup baru membawa luka baru.

“Berhenti di sini,” ujar Cloris pelan ketika mereka tiba di gerbang pasar. Dua penjaga berdiri di sana, wajah mereka menyipit saat melihat Garren.

Penjaga pertama, seorang pria berambut pirang kusam, mengangkat dagunya. “Kau lagi,” katanya dengan nada meremehkan. “Apa kau sudah punya izin masuk? Atau kau mau masuk tanpa membayar biaya tambahan?”

“Biaya tambahan?” Cloris menyela dengan senyum tajam. “Lucu. Minggu lalu kalian menyebutnya biaya keamanan. Minggu sebelumnya disebut biaya pembersihan. Minggu ini apa lagi? Biaya napas?”

Garren berdehem keras. “Cloris…”

Namun penjaga itu justru mendekat, menatap Cloris dari ujung kepala hingga kaki. “Kau bicara banyak untuk wanita kelas rendah.”

Cloris balas menatap tanpa takut. Tatapannya dingin—dingin yang lahir dari malam-malam panjang di bawah jerami, dingin yang lahir dari pengkhianatan darah daging sendiri. “Dan kau bicara terlalu sedikit untuk seseorang yang hanya bisa bekerja dengan memeras rakyat.”

Penjaga itu mengepalkan tangan. Suasana menegang.

Namun sebelum ia sempat bertindak, penjaga kedua—yang lebih muda dan tampak lebih waspada—menyentuh lengannya. “Sudah cukup, Ren. Kau tahu pedagang Garren jujur. Kita tak butuh masalah dengan pengawas pagi ini.”

Ren menggeram, namun mundur selangkah.

Penjaga muda itu kemudian menatap Cloris. “Maafkan dia. Silakan masuk.”

Garren segera menarik Cloris menjauh sebelum ia memulai pertengkaran baru. “Kau tak harus melakukan itu,” gumamnya ketika mereka telah cukup jauh.

“Jika aku tidak melakukannya, Ayah akan terus diperlakukan seperti binatang buruan,” balas Cloris tanpa menyesal. “Dan aku tidak akan membiarkan itu.”

Garren tertawa kecil, meski jelas kekhawatiran masih menempel di wajahnya. “Kau terlalu mirip… seseorang yang kukenal,” katanya samar.

Cloris tidak menanggapi. Ia takut jika ia berbicara, kebenaran akan keluar—kebenaran tentang nama asli yang telah ia kubur: Puteri Anne pewaris dari Kerajaan Andelwhise.

Seorang wanita berpakaian mahal mendekati lapak mereka. Jubah biru lautnya menjuntai anggun menyapu lantai batu, dan bros emas berbentuk burung phoenix menempel di dadanya—lambang keluarga Rouverian, bangsawan yang terkenal kaya… dan sama terkenalnya karena kesombongannya.

“Jadi ini,” katanya tanpa salam, tanpa senyum, “kain yang kalian kirim sebagai sampel untuk keluarga Rouverian?”

Garren segera menunduk hormat. “Benar, Nyonya. Kami membawa persediaan sesuai pesanan. Bila ada kekurangan—”

“Kekurangan?” Wanita itu tertawa pendek, meremehkan. “Kain kalian selalu memiliki kekurangan.”

Cloris menegang namun tetap diam. Ia tahu gaya bicara seperti itu—gaya orang yang merasa dunia adalah karpet yang digelar di bawah kakinya.

Wanita itu meraih sehelai kain dari keranjang dan mengangkatnya tinggi-tinggi, seolah sedang memeriksa barang curian. “Seratnya tak sehalus bulan lalu.”

Garren menelan ludah. “Kami menggunakan wol dari pemasok yang sama, Nyonya. Mungkin—”

“Mungkin?” tatap bangsawan itu tajam. “Kau pikir keluarga Rouverian membayar untuk ‘mungkin’? Kami membayar untuk sempurna.”

Cloris maju setengah langkah. “Jika Nyonya menghendaki kualitas yang lebih halus, kami bisa menyediakan versi premium. Namun harganya juga berbeda.”

Wanita itu mendelik. “Berbeda? Kau pikir aku tidak mampu membayar?”

Cloris tersenyum tipis. “Saya tidak pernah meragukan kemampuan Nyonya. Saya hanya menjelaskan fakta.”

Garren menatap Cloris cemas, tapi Cloris tidak mundur. Bangsawan itu menatapnya dari atas sampai bawah, lalu mencibir.

“Kau berani sekali bicara denganku seperti itu. Seorang pedagang rendahan… perempuan pula.” Ia mendekat, suara rendah dan menusuk. “Kau harusnya bersyukur keluargaku masih mau membeli dari kalian.”

Cloris balas menatap, tidak berkedip. “Dan Nyonya harusnya bersyukur kami tidak menurunkan standar meski sering diperlakukan seperti ini.”

Wanita itu terdiam sesaat—terkejut ada pedagang yang berani membalas. Lalu wajahnya mengeras.

“Kalau begitu,” katanya dingin, “aku minta potongan harga. 40%. Dan kau akan mengirimkan 30 kain tambahan tanpa biaya. Anggap itu kompensasi atas sikap kurang ajarmu.”

Garren hampir tersedak. “Nyonya… itu—itu kerugian besar bagi kami. Kami—”

“Saya menolak.” Suara Cloris memotong dengan tegas, tenang, namun berbahaya.

Bangsawan itu memicingkan mata. “Apa?”

“Kami tidak memberi potongan untuk ancaman,” ujar Cloris. “Dan kami tidak mengirimkan barang tambahan tanpa alasan.”

“Kau… menolak?” Wanita itu seakan tidak percaya. “Kau menolak keluarga Rouverian?”

“Jika Nyonya ingin memutus kontrak,” Cloris mengangkat bahu seolah itu bukan ancaman besar, “kami bisa menjual kepada rumah bangsawan lain. Barang kami tidak akan kekurangan peminat.”

Wajah wanita itu memerah menahan amarah. Ia menatap Cloris lama, mencoba menekan, mendominasi, memaksa—namun Cloris tidak bergeming.

Akhirnya, wanita bangsawan itu mendengus kasar. “Aku akan mengingat ini.” Ia meraih gulungan kain premium yang berada paling kanan. “Bungkus ini. Dan kirim sisanya besok. Tanpa potongan.”

Cloris menunduk tipis. “Dengan senang hati, Nyonya.”

Wanita itu berbalik dan pergi, meninggalkan aroma parfum tajam dan udara yang tegang.

Garren menghela napas panjang—seperti baru saja lolos dari hewan buas. “Cloris… kau hampir membuat kita bangkrut!”

Cloris tersenyum kecil. “Tidak, Ayah. Orang seperti dia hanya menggertak. Jika kita tunduk sekali, dia akan memeras setiap minggu.”

Garren memijat pelipisnya. “Aku tidak tahu apakah kau sangat cerdas… atau sangat berani.”

“Mungkin keduanya,” jawab Cloris pelan.

Namun saat ia menatap punggung bangsawan itu yang menjauh, Cloris tahu satu hal: Konflik dengan keluarga Rouverian baru saja dimulai—dan bangsawan angkuh itu tidak akan diam begitu saja.