Dinikahi Paman Manta - Menghindar - Bab 2

Penulis Nuvola
10 September 2025

Satu tamparan mendarat di pipi Emma.

“Apa yang kamu lakukan?!” seru Iris dengan panik. “Berani sekali kamu memukul anakku?” murka Iris yang maju hendak membalas perlakukan Lily.

“Apa yang lakukan!” suara tegas itu menghentikan langkah Iris dan membuat Lily menoleh ke belakang. Agung menatap tajam ke arah mereka.

“Mas, lihatlah Lily baru saja menampar Emma,” ucap Iris segera yang menunjukkan pipi Emma.

Lily tidak takut dengan apa yang akan ayahnya lakukan, dia siap jika sang ayah akan membela adik dan mama tirinya itu.

“Lily, masuk kamar. Ayah akan minta bibi membawa makanan ke kamar, sejak kemarin kamu belum juga makan. Masuk dan istirahat,” tutur Agung yang membuat Iris shock.

Lily tanpa berkata melewati Iris dan Emma untuk masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintu dengan membantingnya.

“Mas, apa yang kamu lakukan. Apa kamu tidak melihat pipi Emma? Dan lihatlah dia berani membanting pintu di depanku.”

“Aku rasa yang Emma dapatkan tidak seberapa dibanding apa yang telah dia lakukan,” ucap Agung dengan nada rendah dan langsung meninggalkan Emma dan Iris yang mematung.

Emma menghentakkan kakinya, dia tampak kesal dengan reaksi Agung yang tidak sesuai ekspektasinya. “Ma, kenapa Ayah seperti itu?” rengek Emma yang tidak terima. “Lalu bagaimana nasibku?”

“Kamu tenang saja, pernikahanmu dengan Rafael pasti akan terjadi.Tak hanya Lily yang akan menjadi menantu keluarga Bamantara, tapi kamu juga akan menjadi menantu mereka. Dan pastinya anak kamu yang akan mewarisi seluruh harta Bamantara,” ucap Iris dengan penuh percaya diri membuat mata Emma berbinar.

“Wanita tidak bisa hamil itu pantas jika menikah dengan pria tua,” terdengar kekehan setelah Emma mengatakannya.

Lily yang ada di dalam kamar bisa mendengar mereka, dadanya kini terasa begitu menyesakkan. Seberapa lama pun dia menangis rasa sesak itu tak kunjung mereda. Lily hanya bisa duduk diam dengan memeluk foto mendiang Ibunya.

Gadis berumur dua puluh satu tahun itu sudah lama kehilangan kasih sayang seorang ibu. Sania, ibu Lily meninggal saat Lily berusia tujuh tahun dan saat Lily berusia sepuluh tahun, ayahnya menikah dengan Iris. Emma bukanlah anak Agung. Dia anak Iris dari suami pertamanya.

Awalnya Lily berpikir setelah ayahnya menikah maka kasih sayangnya akan lengkap. Namun nyatanya Iris tidak pernah menyayangi Lily dan Emma selalu menganggap Lily sebagai saingannya.

Tok tok tok

Suara ketukan membuat Lily menghapus air matanya, dia meletakan foto ibunya dan bangkit dari duduknya. Ketika membuka pintu, terlihat Bibi Nila yang berdiri dengan membawa makanan.

“Nona, ini makanannya. Tuan berpesan agar Nona Lily makan dan Tuan juga mengatakan bahwa nanti malam Nyonya Diana akan kemari.”

Helaan nafas langsung terdengar dari Lily, dia dengan malas mengambil nampan berisi makanan itu dari tangan Bibi Nila.


Di ruang tamu yang megah, Nyonya Diana duduk dengan anggun bersama dengan Agam Bamantara. Wajahnya yang matang dan berwibawa tidak memperlihatkan tanda-tanda penuaan seperti yang sering diisukan. Agam, dengan tubuhnya yang tinggi dan postur yang tampan, jelas lebih menarik daripada Rafael seperti yang sering dibicarakan orang. Pria itu memiliki aura yang dingin dan jarang berbicara, namun hari ini mereka berdua hadir dengan tujuan yang serius, yaitu membahas pernikahan dengan Lily.

Agung, ayah Lily, menyambut mereka dengan senyum yang tegang. “Tunggu sebentar, saya akan memanggil Lily,” ucap Agung yang kemudian bangkit dari duduknya.

Agung berjalan menuju kamar putrinya, dia mengetuk kamar itu. “Lily, Nyonya Diana dan Agam sudah datang, keluarlah,” ucap Agung tetapi tak ada jawaban dari Lily.

Agung akhirnya membuka pintu kamar Lily, namun yang ditemukannya hanya kehampaan. Lily tidak ada di tempatnya. Hati Agung berdegup kencang, rasa paniknya memuncak saat dia menyadari bahwa Lily telah kabur dari rumah.

“Bagaimana bisa dia kabur?” gumam Agung yang mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lily. Namun beberapa kali dia mencoba, ponsel Lily tidak aktif.

Agung akhirnya kembali ke ruang tamu, wajah Agung pucat pasi. Dia menghadap Nyonya Diana dan Agam, lalu dengan suara yang bergetar, dia memohon maaf. "Maaf, Nyonya Diana, Agam... Lily... dia... dia kabur dari rumah," ucap Agung dengan nada suara yang hampir tak terdengar.

Nyonya Diana menatap Agung dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, sementara Agam hanya diam. Suasana menjadi tegang dan hening. Iris terlihat menyilangkan kakinya dengan anggun, menyipitkan matanya ke arah suaminya. "Benar-benar tidak tahu malu, kabur dari rumah saat semuanya sudah dipersiapkan. Apa yang dipikirkan Lily?" ucap Iris dengan nada mencemooh.

Diana, dengan wajah yang lebih tenang, menyesap tehnya sebelum menjawab, "Lily baru saja patah hati. Mungkin dia membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri."

"Itu bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Dia seharusnya memikirkan keluarga dan reputasi yang akan rusak karena ulahnya itu," ketus Iris.

Emma, yang duduk tak jauh dari mereka, menggigit bibirnya dengan kesal. Dia tidak suka cara Nenek Diana selalu membela Lily. "Seharusnya Ayah tidak terlalu memanjakannya, itu membuatnya semakin menjadi-jadi," kata Emma, menyembunyikan rasa irinya.

Diana hanya menghela napas, tidak ingin perdebatan ini berlanjut lebih jauh. "Aku rasa reputasi keluarga menjadi jelek bukan karena Lily,” ucap Diana yang beralih menatap Emma.

Iris menggerutu dalam hati, tidak puas dengan sikap Diana yang menyindir Emma. Mereka lalu membicarakan tanggal pernikahan antara Lily dan Agam meskipun tanpa kehadiran Lily. Karena bagaimana pun pernikahan itu harus terjadi.

Lily berlari cepat di trotoar, langkahnya terasa ringan namun hatinya berat. Setiap detakan jantungnya seperti mengingatkan dia pada pengkhianatan yang Rafael lakukan. Kecewa dan marah membakar dadanya, dan sekarang dengan mudah mereka memaksa Lily untuk menikah dengan Agam, paman Rafael. Sehingga kini ia tidak ragu untuk melangkah pergi dari semua yang menyakitkan.

Lily duduk di kursi taman, taman itu kini telah sepi. Langit malam ini tak banyak dihiasi bintang, Lily menatap ke atas untuk menahan air matanya agar tidak kembali jatuh. Namun, bagaimana pun dia berusaha air mata itu tetap kembali menetes.

Lily menundukkan kepalanya, tangisnya pun pecah. Gadis itu begitu besar mencintai Rafael, hingga pengkhianatan yang dia terima kini begitu besar menggoreskan luka.

“Lily,” panggil seseorang yang kini berdiri di depan dirinya.

Sepasang sepatu pria terlihat di depan mata Lily membuat gadis itu mendongak untuk menatap wajah pria di depan dirinya. Lily langsung bangkit untuk pergi, namun Rafael segera menahan tangannya.

“Lepas!” seru Lily yang kini menatap Rafael dengan penuh kebencian.

“Aku minta maaf Lily, tapi aku benar-benar mencintaimu. Tolong beri aku kesempatan satu kali lagi,” ucap Rafael memohon.

“Aku tidak ingin melihatmu, Rafael!”

“Lily aku mohon. Ini semua bisa diperbaiki,” Rafael berkata seolah semua ini mudah baginya.

Lily berhenti memberontak dia lalu menatap ke arah Rafael. “Kamu tidak tahu bagaimana hancurnya aku, Rafael!” teriak Lily. “Lepaskan tanganku,” sambung Lily dengan suara rendah.

“Aku tahu aku telah menyakitimu, jadi tolong berikan aku kesempatan untuk menebus semua ini.”

Lily tak ingin mendengar ucapan Rafael, dia kembali berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rafael. Hingga tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Lily dari genggaman Rafael. Rafael terkejut dengan kehadiran Agam sehingga dengan mudah Agam menarik tangan Lily.

“Om tidak usah ikut campur, ini urusanku dengan tunanganku!” tegas Rafael.

“Tapi sayangnya dia bukan lagi tunanganmu, dia calon istriku,” Agam berkata dengan penuh penegasan.

Perkataan Agam membuat Lily terkejut, karena ini pertama kalinya Lily bertemu dengan sosok Agam.

“Lily tidak mungkin mau menikah dengan Om, dia begitu mencintaiku.”

“Kamu begitu percaya diri, Rafael!” ucap Lily. “Aku menerima perjodohan itu,” sambungnya dengan menatap Rafael.

“Jangan bercanda Lily, aku tahu kamu mengatakan ini hanya karena tengah sakit hati. Kembalilah kepadaku, sayang.”

Lily merasa muak dengan ucapan Rafael, pria itu selalu merasa hebat seakan semua orang begitu memujanya. Tanpa mengatakan apapun Lily tiba-tiba berjinjit, dia mencium Agam membuat Rafael terkejut. Satu tamparan mendarat di pipi Emma.

“Apa yang kamu lakukan?!” seru Iris dengan panik. “Berani sekali kamu memukul anakku?” murka Iris yang maju hendak membalas perlakukan Lily.

“Apa yang lakukan!” suara tegas itu menghentikan langkah Iris dan membuat Lily menoleh ke belakang. Agung menatap tajam ke arah mereka.

“Mas, lihatlah Lily baru saja menampar Emma,” ucap Iris segera yang menunjukkan pipi Emma.

Lily tidak takut dengan apa yang akan ayahnya lakukan, dia siap jika sang ayah akan membela adik dan mama tirinya itu.

“Lily, masuk kamar. Ayah akan minta bibi membawa makanan ke kamar, sejak kemarin kamu belum juga makan. Masuk dan istirahat,” tutur Agung yang membuat Iris shock.

Lily tanpa berkata melewati Iris dan Emma untuk masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintu dengan membantingnya.

“Mas, apa yang kamu lakukan. Apa kamu tidak melihat pipi Emma? Dan lihatlah dia berani membanting pintu di depanku.”

“Aku rasa yang Emma dapatkan tidak seberapa dibanding apa yang telah dia lakukan,” ucap Agung dengan nada rendah dan langsung meninggalkan Emma dan Iris yang mematung.

Emma menghentakkan kakinya, dia tampak kesal dengan reaksi Agung yang tidak sesuai ekspektasinya. “Ma, kenapa Ayah seperti itu?” rengek Emma yang tidak terima. “Lalu bagaimana nasibku?”

“Kamu tenang saja, pernikahanmu dengan Rafael pasti akan terjadi.Tak hanya Lily yang akan menjadi menantu keluarga Bamantara, tapi kamu juga akan menjadi menantu mereka. Dan pastinya anak kamu yang akan mewarisi seluruh harta Bamantara,” ucap Iris dengan penuh percaya diri membuat mata Emma berbinar.

“Wanita tidak bisa hamil itu pantas jika menikah dengan pria tua,” terdengar kekehan setelah Emma mengatakannya.

Lily yang ada di dalam kamar bisa mendengar mereka, dadanya kini terasa begitu menyesakkan. Seberapa lama pun dia menangis rasa sesak itu tak kunjung mereda. Lily hanya bisa duduk diam dengan memeluk foto mendiang Ibunya.

Gadis berumur dua puluh satu tahun itu sudah lama kehilangan kasih sayang seorang ibu. Sania, ibu Lily meninggal saat Lily berusia tujuh tahun dan saat Lily berusia sepuluh tahun, ayahnya menikah dengan Iris. Emma bukanlah anak Agung. Dia anak Iris dari suami pertamanya.

Awalnya Lily berpikir setelah ayahnya menikah maka kasih sayangnya akan lengkap. Namun nyatanya Iris tidak pernah menyayangi Lily dan Emma selalu menganggap Lily sebagai saingannya.

Tok tok tok

Suara ketukan membuat Lily menghapus air matanya, dia meletakan foto ibunya dan bangkit dari duduknya. Ketika membuka pintu, terlihat Bibi Nila yang berdiri dengan membawa makanan.

“Nona, ini makanannya. Tuan berpesan agar Nona Lily makan dan Tuan juga mengatakan bahwa nanti malam Nyonya Diana akan kemari.”

Helaan nafas langsung terdengar dari Lily, dia dengan malas mengambil nampan berisi makanan itu dari tangan Bibi Nila.


Di ruang tamu yang megah, Nyonya Diana duduk dengan anggun bersama dengan Agam Bamantara. Wajahnya yang matang dan berwibawa tidak memperlihatkan tanda-tanda penuaan seperti yang sering diisukan. Agam, dengan tubuhnya yang tinggi dan postur yang tampan, jelas lebih menarik daripada Rafael seperti yang sering dibicarakan orang. Pria itu memiliki aura yang dingin dan jarang berbicara, namun hari ini mereka berdua hadir dengan tujuan yang serius, yaitu membahas pernikahan dengan Lily.

Agung, ayah Lily, menyambut mereka dengan senyum yang tegang. “Tunggu sebentar, saya akan memanggil Lily,” ucap Agung yang kemudian bangkit dari duduknya.

Agung berjalan menuju kamar putrinya, dia mengetuk kamar itu. “Lily, Nyonya Diana dan Agam sudah datang, keluarlah,” ucap Agung tetapi tak ada jawaban dari Lily.

Agung akhirnya membuka pintu kamar Lily, namun yang ditemukannya hanya kehampaan. Lily tidak ada di tempatnya. Hati Agung berdegup kencang, rasa paniknya memuncak saat dia menyadari bahwa Lily telah kabur dari rumah.

“Bagaimana bisa dia kabur?” gumam Agung yang mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lily. Namun beberapa kali dia mencoba, ponsel Lily tidak aktif.

Agung akhirnya kembali ke ruang tamu, wajah Agung pucat pasi. Dia menghadap Nyonya Diana dan Agam, lalu dengan suara yang bergetar, dia memohon maaf. "Maaf, Nyonya Diana, Agam... Lily... dia... dia kabur dari rumah," ucap Agung dengan nada suara yang hampir tak terdengar.

Nyonya Diana menatap Agung dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, sementara Agam hanya diam. Suasana menjadi tegang dan hening. Iris terlihat menyilangkan kakinya dengan anggun, menyipitkan matanya ke arah suaminya. "Benar-benar tidak tahu malu, kabur dari rumah saat semuanya sudah dipersiapkan. Apa yang dipikirkan Lily?" ucap Iris dengan nada mencemooh.

Diana, dengan wajah yang lebih tenang, menyesap tehnya sebelum menjawab, "Lily baru saja patah hati. Mungkin dia membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri."

"Itu bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Dia seharusnya memikirkan keluarga dan reputasi yang akan rusak karena ulahnya itu," ketus Iris.

Emma, yang duduk tak jauh dari mereka, menggigit bibirnya dengan kesal. Dia tidak suka cara Nenek Diana selalu membela Lily. "Seharusnya Ayah tidak terlalu memanjakannya, itu membuatnya semakin menjadi-jadi," kata Emma, menyembunyikan rasa irinya.

Diana hanya menghela napas, tidak ingin perdebatan ini berlanjut lebih jauh. "Aku rasa reputasi keluarga menjadi jelek bukan karena Lily,” ucap Diana yang beralih menatap Emma.

Iris menggerutu dalam hati, tidak puas dengan sikap Diana yang menyindir Emma. Mereka lalu membicarakan tanggal pernikahan antara Lily dan Agam meskipun tanpa kehadiran Lily. Karena bagaimana pun pernikahan itu harus terjadi.

Lily berlari cepat di trotoar, langkahnya terasa ringan namun hatinya berat. Setiap detakan jantungnya seperti mengingatkan dia pada pengkhianatan yang Rafael lakukan. Kecewa dan marah membakar dadanya, dan sekarang dengan mudah mereka memaksa Lily untuk menikah dengan Agam, paman Rafael. Sehingga kini ia tidak ragu untuk melangkah pergi dari semua yang menyakitkan.

Lily duduk di kursi taman, taman itu kini telah sepi. Langit malam ini tak banyak dihiasi bintang, Lily menatap ke atas untuk menahan air matanya agar tidak kembali jatuh. Namun, bagaimana pun dia berusaha air mata itu tetap kembali menetes.

Lily menundukkan kepalanya, tangisnya pun pecah. Gadis itu begitu besar mencintai Rafael, hingga pengkhianatan yang dia terima kini begitu besar menggoreskan luka.

“Lily,” panggil seseorang yang kini berdiri di depan dirinya.

Sepasang sepatu pria terlihat di depan mata Lily membuat gadis itu mendongak untuk menatap wajah pria di depan dirinya. Lily langsung bangkit untuk pergi, namun Rafael segera menahan tangannya.

“Lepas!” seru Lily yang kini menatap Rafael dengan penuh kebencian.

“Aku minta maaf Lily, tapi aku benar-benar mencintaimu. Tolong beri aku kesempatan satu kali lagi,” ucap Rafael memohon.

“Aku tidak ingin melihatmu, Rafael!”

“Lily aku mohon. Ini semua bisa diperbaiki,” Rafael berkata seolah semua ini mudah baginya.

Lily berhenti memberontak dia lalu menatap ke arah Rafael. “Kamu tidak tahu bagaimana hancurnya aku, Rafael!” teriak Lily. “Lepaskan tanganku,” sambung Lily dengan suara rendah.

“Aku tahu aku telah menyakitimu, jadi tolong berikan aku kesempatan untuk menebus semua ini.”

Lily tak ingin mendengar ucapan Rafael, dia kembali berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rafael. Hingga tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Lily dari genggaman Rafael. Rafael terkejut dengan kehadiran Agam sehingga dengan mudah Agam menarik tangan Lily.

“Om tidak usah ikut campur, ini urusanku dengan tunanganku!” tegas Rafael.

“Tapi sayangnya dia bukan lagi tunanganmu, dia calon istriku,” Agam berkata dengan penuh penegasan.

Perkataan Agam membuat Lily terkejut, karena ini pertama kalinya Lily bertemu dengan sosok Agam.

“Lily tidak mungkin mau menikah dengan Om, dia begitu mencintaiku.”

“Kamu begitu percaya diri, Rafael!” ucap Lily. “Aku menerima perjodohan itu,” sambungnya dengan menatap Rafael.

“Jangan bercanda Lily, aku tahu kamu mengatakan ini hanya karena tengah sakit hati. Kembalilah kepadaku, sayang.”

Lily merasa muak dengan ucapan Rafael, pria itu selalu merasa hebat seakan semua orang begitu memujanya. Tanpa mengatakan apapun Lily tiba-tiba berjinjit, dia mencium Agam membuat Rafael terkejut.