Drama

Bab 7 — Api Kecil yang Menyulut Amarah Besar

03 December 2025

Senja turun pelan, mengubah pasar Pedran menjadi lautan cahaya temaram. Lampu minyak bergoyang tertiup angin, menciptakan bayangan panjang yang menari di atas batu-batu jalan. Setelah bangsawan Rouverian itu pergi, suasana seolah kembali normal… namun Cloris tahu, keheningan itu hanya penutup tipis bagi badai yang sedang tumbuh.

Ia membantu Garren merapikan lapak. Tangan ayah angkatnya gemetar sedikit, entah karena dingin atau karena perdebatan dengan bangsawan tadi.

“Cloris… kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?” suara Garren pecah di antara denting perkakas dagang.

Cloris berhenti melipat sehelai kain. “Aku memastikan kita tidak diinjak lebih dalam, Ayah.”

Garren menggeleng. “Keluarga Rouverian bukan pedagang biasa. Mereka menguasai hampir separuh jalur distribusi kain di Pedran. Kalau mereka mau, mereka bisa membuat kita tidak punya tempat berdagang.”

Cloris menatapnya lembut, tapi matanya tetap setegas baja. “Dan jika kita biarkan mereka memperlakukan kita seperti sampah, itu akan memberi mereka alasan untuk terus melakukannya.”

“Tetap saja…” Garren menghela napas. “Mereka bisa mengirim prajurit kota untuk memeriksa izin kita. Mereka bisa menaikkan pajak khusus. Mereka bisa—”

Cloris menepuk tangan ayahnya, menenangkan. “Percayalah padaku.”

Garren terdiam. Ia selalu mempercayai wanita ini—gadis yang diselamatkannya bertahun-tahun lalu, yang tumbuh menjadi wanita cerdas namun penuh dinding tebal di sekeliling hatinya. Cloris bukan hanya putri angkatnya; ia adalah alasan Garren bertahan di tengah dunia yang tak kenal ampun.

Namun bahkan Garren tidak bisa menyingkirkan rasa takut yang bergetar menyelinap di tulangnya.


Ketika semua barang selesai dibereskan, mereka berjalan pulang melewati lorong-lorong Pedran yang mulai kosong. Suara langkah kuda dan roda kereta bangsawan bergema dari kejauhan, sementara pemilik kedai menggulung tenda mereka satu per satu.

Cloris memandangi punggung ayahnya yang sedikit bungkuk. Ada hal yang ingin ia katakan sejak siang, tapi ia menahannya—menunggu waktu yang tepat.

Dan waktu itu akhirnya tiba ketika mereka sampai di depan rumah kayu kecil mereka. Garren membuka pintu dan menyalakan lampu minyak.

“Duduklah,” kata Cloris.

Garren menurut, meski wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Cloris jarang berbicara dengan nada seserius itu kecuali ada hal penting—sangat penting.

Cloris duduk di hadapannya. “Ayah… bangsawan tadi. Dia tidak hanya marah karena harga.”

Garren mengangguk perlahan, wajahnya berat. “Ya. Dia marah karena kau tidak tunduk. Mereka tidak suka dikalahkan oleh orang yang menurut mereka lebih rendah.”

“Tidak hanya itu.” Cloris menghela napas, mencoba menyusun kata-kata yang tidak memancing kecemasan berlebihan. “Tadi siang, sebelum kita bicara soal harga, dia menatapku seperti sedang menilai nilai barang—bukan kain, tapi aku.”

Garren menegang. “Cloris…”

“Dia tidak mengenaliku,” lanjut Cloris cepat. “Ini bukan tentang masa lalu. Tapi dia melihatku sebagai sesuatu untuk diuji—atau dipatahkan.”

Garren berdiri, berjalan mondar-mandir, tekanan di wajahnya semakin dalam. “Mereka ini… keluarga angkuh yang terbiasa mendapatkan segalanya hanya dengan menunjuk. Jika mereka menginginkan sesuatu… atau seseorang… sulit menebak apa yang akan mereka lakukan.”

Cloris menatap lampu minyak yang berkedip. “Itulah yang membuatku harus hati-hati. Dan itulah sebabnya aku tidak bisa menunjukkan kelemahan.”

Garren menghentikan langkahnya. “Kau tidak sendirian. Aku akan—“

“Tidak,” potong Cloris lembut namun tegas. “Ayah telah melakukan lebih dari cukup. Aku yang harus menghadapi ini.”

Untuk beberapa detik, yang terdengar hanya suara kayu rumah yang berderit diterpa angin malam.

Akhirnya Garren menghela napas panjang. “Kalau begitu… apa rencanamu?”

Cloris tersenyum tipis. “Aku akan melakukan apa yang selalu aku lakukan: menatap mereka sebagai setara. Dan membuat mereka mengerti bahwa kita bukan pedagang yang bisa mereka calik seenaknya.”

Masih ada ketakutan di mata Garren, tapi ia mengangguk. “Kalau itu jalan yang kau pilih… aku akan berada di belakangmu.”

Cloris menundukkan kepalanya sedikit. Dukungan itu berarti lebih daripada seribu perlindungan.


Esok paginya, pasar Pedran kembali ramai. Udara dingin hampir terhapus oleh hiruk-pikuk pedagang yang memanggil, pembeli yang menawar, dan kereta barang yang berlalu-lalang. Namun begitu Cloris dan Garren tiba di lapak mereka, mereka melihat sesuatu yang tidak biasa.

Di depan lapak, sekelompok pria berseragam kota berdiri. Baju kulit hitam, lambang Pedran di dada kiri, dan pedang pendek di pinggang.

Petugas pengawas pasar.

Garren menelan ludah. “Ini… ini pasti karena kemarin.”

Cloris tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan tenang.

Pria yang tampaknya pemimpin rombongan itu membuka gulungan kertas. “Kami menerima laporan bahwa pedagang Garren menggunakan bahan berkualitas rendah namun menjual dengan harga premium.”

Garren membelalak. “Itu—itu bohong! Kain kami selalu—”

Cloris mengangkat tangan, menghentikan ayahnya. “Siapa yang memberi laporan?”

“Tidak perlu kami sebutkan,” kata pengawas itu datar. Tapi Cloris bisa melihat secercah senyum kecil—senyum seseorang yang menikmati perintah bangsawan.

Keluarga Rouverian.

Tentu saja.

Pengawas itu melanjutkan, “Kami akan memeriksa seluruh barang dagangan kalian. Jika ditemukan pelanggaran, kalian bisa dikenai denda hingga… tiga belas koin emas.”

Garren hampir jatuh terduduk. “Tiga belas?! Itu… itu lebih dari keuntungan sebulan!”

Cloris menatap pengawas itu tanpa berkedip. “Silakan periksa. Kami tidak takut.”

Pengawas itu mengangkat dagu, menyindir. “Keberanian tidak akan menyelamatkanmu jika kami menemukan cacat.”

Cloris mendekat, suaranya tenang namun tajam. “Dan integritas tidak akan menyelamatkan Anda jika Anda ketahuan memalsukan laporan.”

Pengawas itu terdiam sepersekian detik—ketegangan itu kecil, tapi Cloris menangkapnya.

Lantas pemeriksaan dimulai. Mereka membuka gulungan kain, menggosok seratnya, memeriksa aroma rempah, menakar beratnya, bahkan memakai kaca pembesar kecil.

Cloris berdiri tegak, mengawasi setiap gerakan.

Setelah hampir satu jam, pengawas itu menutup catatannya.

“Tidak ada pelanggaran.”

Nada frustrasi melewati suara itu.

Cloris mengangkat alis. “Sepertinya laporan yang Anda terima… kurang akurat.”

Pengawas itu mengerutkan kening, tapi tidak bisa membantah. Ia hanya mendengus dan memberi isyarat pada bawahannya untuk pergi.

Ketika mereka pergi, Garren akhirnya bisa bernapas lega.

“Cloris… kau benar. Mereka mencoba menjebak kita.”

Cloris menatap arah para petugas itu menghilang. “Dan itu berarti mereka belum selesai.”

Karena keluarga Rouverian tidak pernah berhenti setelah gagal sekali. Mereka akan mencari celah berikutnya—baik melalui pajak, licik, atau kekuasaan.

Cloris mengepalkan tangan.

Jika mereka ingin perang dagang… maka Cloris siap melawannya.

Bahkan jika seluruh Pedran harus menjadi saksinya.