Drama

One Night One Lie - Berita Angin Yang Menyesakan - Bab 17

Penulis Ichan
03 December 2025

Angin musim gugur berhembus dingin dari utara. Namun, tidak sedingin rencana yang sedang disusun oleh Luna Damian dan sekutunya, Sasha Elvani. Kegagalan mereka menghentikan konser Chiara telah mempermalukan mereka secara global. Namun, Luna tahu, jika seseorang ingin menjatuhkan seseorang secara total, mereka harus menyerang akar identitasnya.


Di sebuah apartemen tersembunyi di distrik ke 13 Paris, Luna duduk di depan layar komputer, ditemani Sasha. Mereka menatap dokumen digital yang baru saja dikirim oleh kontak mereka di Napoli, seorang mantan staf arsip sipil yang korup, Maurizio Farella.

“Ini dia,” ucap Sasha pelan. “Surat kelahiran dari tahun 2003. Nama Chiara Evolet. Orang tua tak tercatat. Kelahiran di Napoli.”

Luna menyeringai. “Kita punya yang ini.” Ia membuka dokumen lain, sebuah surat kematian ibu kandung Chiara yang sebenarnya, ditandatangani oleh rumah sakit swasta yang dimiliki oleh keluarga Luna dulu di Roma. “Jika kita bisa menanamkan keraguan bahwa Chiara bukan anak Dario Evolet. Kita bisa membuat publik berpikir dia pembohong dan oportunis.”

Sasha menambahkan, “Bahkan bisa menggugatnya atas pemalsuan identitas jika dokumen itu diviralkan.”

Mereka membuat satu narasi Chiara bukan anak sah Dario, melainkan anak angkat dari istri pertamanya yang sudah meninggal. Luna menyusun kronologi dengan sangat meyakinkan, menyewa tim cyber PR gelap untuk menyebarkannya secara perlahan di forum dan media sosial.


Dimualinya sebuah propaganda di media.

Keesokan harinya, akun anonim menyebarkan potongan video dari wawancara Chiara terdahulu, lalu disandingkan dengan dokumen kelahiran palsu itu. Artikel-artikel clickbait bermunculan.

“Siapa sebenarnya Chiara Evolet? Anak maestro atau penipu?!”

“Konser pura-pura itu ternyata memiliki sebuah fakta baru yang mengungkap latar belakang gelap sang cello diva.”

Tak hanya itu, Luna menggandeng seorang jurnalis ambisius bernama Matteo Scura, yang pernah dikecewakan Chiara saat menolak diwawancara eksklusif. Matteo diberi akses untuk semua bukti yang telah dimanipulasi oleh Luna.

Dalam wawancaranya di salah satu podcast investigatif, Matteo berkata, “Kita semua menyukai kisah putri yatim piatu yang menjadi bintang, tapi bagaimana jika dia sendiri yang menciptakan narasi itu untuk mencuri panggung dari anak sah Maestro Evolet yang sebenarnya, Luna Damian?”

Kampanye itu bekerja. Beberapa pendukung Chiara mulai ragu. Sponsor baru yang akan mendanai konser berikutnya dari Jepang menunda keputusan mereka. Tawaran dari Berlin dan Sydney disimpan sementara.

Chiara mulai menerima pesan-pesan yang menyakitkan di media sosial. Bahkan penggemar setianya bertanya di kolom komentar. “Jika kamu memang anak Maestro Dario Evolet, buktikan. Jangan hanya main cello.”

Aaren geram. Ia meninju meja kaca di ruang kerjan hingga pecah. “Mereka berani menyentuh masa lalu istrimu hanya karena dia terlalu bersinar,” ujar pengacara Clarisse saat itu. Namun, Chiara tetap diam. Ada luka lama yang mulai terbuka. Dia mulai mempertanyakan, apakah benar semua ini bisa dipalsukan? Apakah ayahnya menyembunyikan sesuatu?


Di sebuah restoran tersembunyi di Milan, Luna bertemu langsung dengan Matteo Scura.

“Kau tidak akan rugi. Setelah ini, aku akan pastikan kau menjadi jurnalis paling dicari di Eropa,” bisik Luna.

Matteo hanya menyeringai, lalu mengeluarkan ponsel. “Kau akan memastikan bahwa aku satu-satunya yang tahu isi surat warisan Dario Evolet, bukan?”

Luna menegang sejenak. “Itu belum saatnya dibuka.”

“Tapi kau tahu siapa yang ditulis Dario sebagai pewaris musik dan yayasannya, bukan?”

Luna hanya tersenyum tipis. “Kau tahu, Matteo, jika itu Chiara, maka aku kehilangan semuanya.”


Malam itu, di kediaman mereka di Paris, Chiara menerima kiriman dari Italia. Sebuah amplop cokelat tua dari pengacara Giovanni Lamberti.

Aaren yang membukanya lebih dulu, menatap isi surat itu dengan dahi berkerut. "Apa isinya?” tanya Chiara cemas.

Aaren menyerahkan surat itu dengan tangan gemetar. “Ini, bukan hanya tentang kamu, tapi juga tentang Luna dan sebuah warisan musik yang belum pernah dipublikasikan selama dua puluh tahun.”

Chiara membuka lipatan surat itu perlahan. Matanya membulat, napasnya tercekat. Di dalamnya tertulis. "Saya menyimpan satu partitur terakhir Maestro Evolet. Dia menulis dua nama di sampulnya. Satu, Chiara Evolet. Dua."

Chiara menutup surat itu dengan cepat. “Tidak mungkin."


Malam di Paris terasa lebih dingin dari biasanya. Dirinya memutuskan untuk tidak dulu kembali ke Indonesia demi masalahnya ini selesai. Dia tak peduli meski musim semi telah menggeliat perlahan, dia tahu cuaca ini kurang cocok dengannya.

Di langit bertabur bintang. Namun, hati Chiara penuh gemuruh. Ia duduk bersandar di jendela kamar, memandangi amplop cokelat tua itu di meja. Surat warisan dari Maestro Dario Evolet, ayah yang baru ia temui kembali setelah dua dekade kehilangan arah.

Aaren duduk di sampingnya, mengenakan pakaian rumahan berwarna abu lembut. Ia memegang partitur berdebu yang dikirim bersamaan dengan surat dari pengacara Giovanni. Kertasnya tua, tapi tinta tulisan tangan di sampulnya masih kuat dan jelas. “Simfoni Dua Jiwa, untuk Chiara dan L.”

L, hanya inisial itu yang tertulis. Tak ada nama lengkap, tapu bagi Chiara, satu huruf itu telah membangkitkan badai yang baru.

“Luna,” ucapnya lirih, nyaris seperti gumaman doa yang pahit.

Aaren mengangguk pelan. “Itu sangat mungkin. Dario menulis simfoni ini untuk kalian berdua.”

Chiara bangkit berdiri, matanya tajam. “Jika ini yang ada dalam surat wasiat musik Dario, berarti aku dan Luna memang ditakdirkan bukan hanya sebagai saudara, tapi juga sebagai dua ujung nada dari simfoni yang belum pernah dimainkan di dunia ini.”


Keesokan paginya, Chiara dan Aaren mendatangi Giovanni Lamberti di sebuah kantor hukum klasik di distrik Latin. Giovanni, pria tua berkacamata bundar, menyerahkan salinan resmi surat wasiat Dario.

“Maestro Evolet tidak hanya meninggalkan simfoni. Ia menunjuk dua pewaris musikal, anak-anak kandungnya. Keduanya wajib memainkan simfoni dua jiwa di atas panggung yang sama. Hanya itu yang akan membuka akses ke yayasan musik miliknya di seluruh Eropa.”

Chiara tercekat. “Jadi, aku harus tampil bersama Luna?”

Giovanni mengangguk. “Itulah permintaan terakhir Maestro.”


Sementara itu, di tempat lain, Luna menerima kabar itu dari Sasha. Tangannya meremas gelas anggurnya hingga pecah. “Dua pewaris? Dia menyamakan aku dengan dia? Tidak akan kubiarkan.”


Malam menjelang cepat saat mereka kembali ke rumah. Chiara lelah, pikirannya kalut. Namun, Aaren tahu bahwa wanita yang ia cintai sedang diambang kelelahan emosional.

Di balkon kamar mereka dengan cahaya lampu Paris mengintip dari kejauhan, Aaren memeluk Chiara dari belakang. Lengan hangatnya menyelimuti tubuh mungil itu, membuat Chiara menutup mata dan bersandar pada dada Aaren.

“Kalau kamu mau menyerah, aku akan tetap bersamamu,” bisik Aaren.

“Aku hanya takut, musik yang kucintai akan berubah menjadi medan perang,” jawab Chiara pelan.

Aaren membalik tubuhnya, menatap mata Chiara yang sayu. Ia mengecup kening istrinya lembut. “Kalau begitu, biar kita ubah panggung itu jadi tempat kamu bersinar bukan bertarung.”

“Kalau aku gagal?”

“Maka kita gagal bersama, tapi setidaknya, kamu tak sendiri.”

Dalam diam, Chiara mencium bibir Aaren. Lembut, tulus dan dalam sekejap seolah badai itu mereda dalam pelukannya. Mereka berdansa pelan di balkon, hanya berdua dengan alunan lembut cello rekaman lama Dario Evolet di speaker tua di sudut ruangan.

Malam itu, setelah Aaren tertidur, Chiara kembali membuka partitur yang ditulis Dario. Ia menggeser lembar demi lembar, hingga menemukan catatan tangan kecil di balik halaman terakhir.

“Simfoni ini tak akan lengkap tanpa kesatuan, tapi hanya satu yang akan menjadi penerus jalur utama.”

Di bawahnya, tertulis kata samar dengan tinta yang hampir luntur. “Hanya yang memilih cinta, bukan ambisi.”

Chiara menatap tulisan itu lama. Napasnya tercekat.

Di layar ponselnya, masuk notifikasi sebuah email dari organisasi musik internasional yang akan menggelar konser penghormatan untuk Maestro Dario di Wina, Austria. Mereka pun meminta Chiara dan Luna tampil bersama.


Di tempat lain, Sasha membuka rekaman baru, sebuah video manipulatif berdurasi 12 menit yang tampaknya mampu menghancurkan kredibilitas Chiara secara total. Ia menyeringai.

“Kamu boleh punya surat warisan, Chiara. Tapi aku dan Luna punya dunia maya.”